Paradoks Netralitas Bahasa dalam Bayangan Totaliter
Marxisme da Problem Ilmu Bahasa: Joseph V. Stalin
Paradoks Netralitas Bahasa dalam Bayangan Totaliter

Marxisme da Problem Ilmu Bahasa: Joseph V. Stalin
Judul: Marxisme dan Problem Ilmu Bahasa Penulis: Joseph V. Stalin Penerjemah: Nor Cholish Penerbit: Tanda Baca, Yogyakarta Tahun Terbit: 2018 Tebal: 81 Halaman ISBN: 9786025226007
Tahun 1950, tahun ketika bayangan Perang Dingin mulai menyelimuti Moskwa, Stalin mengeluarkan risalah yang mengguncang dunia linguistik Soviet. Dengan otoritasnya sebagai “teoretikus partai”, ia menyatakan bahwa bahasa adalah “alat netral yang tak berkelas, seperti halnya ‘jalan raya’ yang dilalui semua kendaraan tanpa diskriminasi” (Stalin 2021:14). Pernyataan ini terdengar aneh keluar dari mulut otokrat yang selama dua dekade membangun rezimnya dengan mengontrol kata per kata. Bagaimana mungkin diktator yang memerintahkan penghapusan istilah “Trotskyis” dari kamus politik bisa tiba-tiba menjadi juru bicara netralitas linguistik? Inilah paradoks yang membuka peti mati dialektika materialis.
Perdebatan ini bermula dari pertarungan Stalin melawan Nikolai Marr — sang pionir linguistik Soviet yang gigih dan bersikukuh membuktikan bahwa bahasa adalah produk determinisme kelas. Bagi Marr, kata-kata berubah seiring revolusi sosial, seperti bahasa “proletar” yang akan menggantikan bahasa “borjuis”. Tapi Stalin mengecam teori ini sebagai “Marxisme-Vulgar”, dan dengan pedang dekret politiknya, ia memenggal kepala Marrisme di depan publik intelektual USSR. Di balik topeng debat akademis, tersembunyi krisis epistemologis: dapatkah materialisme historis — yang dirancang untuk menganalisis moda produksi — menjelaskan realitas simbolis seperti bahasa?
Di sinilah letak aporia Stalin: sambil menyembelih teori Marr dengan nama Marxisme, ia justru mengubur dialektika ‘bahasa-materi’. Dengan mereduksi bahasa menjadi sekadar “jalan raya”, Stalin membekukannya dalam kubangan materialisme vulgar — sebuah pengkhianatan terhadap prinsip dasar Marx bahwa “kesadaran dibentuk oleh praktik material” (Marx dan Engels 2016). Klaim netralitasnya bukan solusi teoretis, melainkan senjata hegemoni: mitos yang menyembunyikan kenyataan bahwa setiap kata di Soviet telah menjadi medan perang ideologis. Risalah ini adalah batu nisan bagi projek materialis: monumen kegagalan memahami bahwa bahasa bukan cermin realitas, tapi palu yang menempa realitas itu sendiri.
Netralitas Bahasa ala Stalin: Materialisme sebagai Kubangan Reduksionis
Stalin membangun teorinya di atas tiga pilar yang ratah. Pertama, metafora “jalan raya” yang masyhur itu: bahwabahasa disebutnya sebagai alat produksi netral yang melayani borjuis dan proletar secara sama rata. Klaim ini terdengar elegan, tetapi justru membuang jauh-jauh dialektika (hlm. 14). Bakhtin (1981) membongkar kekeliruannya dengan menunjukkan bahwa ‘jalan raya’ bukan ruang kosong — justru ia dibangun oleh insinyur dengan logika kelasnya, dijaga polisi bersenjata, dan hanya boleh dilalui pemegang izin. Bahasa pun demikian: setiap kata adalah medan pertempuran tempat borjuasi dan proletar berebut makna (Hirschkop 1999:271). Di posisi inilah Stalin jatuh dalam reduksionisme vulgar: ia mengubah bahasa dari praktik material-hidup menjadi benda mati yang pasif.
Pilar kedua — klaim “Ketakberkelasan Bahasa” — yang lebih problematis lagi. Stalin (1950) berargumen bahwa bahasa Rusia pra-1917 digunakan bersama oleh buruh dan kapitalis “tanpa perbedaan kelas” (hlm. 22). Padahal, sejarah Soviet membantahnya secara telak: pasca-Revolusi Oktober, Partai Bolshevik menciptakan Newspeak revolusioner seperti “soviet”, “kolkhoz”, dan “comrade” — kosakata yang menjadi senjata hegemonik untuk membentuk ulang kesadaran massa (Brandist 2005:83). Ironisnya, rezim Stalin sendiri membuktikan ‘ketidaknetralan bahasa’ melalui sensor brutal: kata “Trotskyis” dihapus dari kamus politik pada 1930-an bukan karena evolusi linguistik, melainkan eksekusi simbolik atas musuh kekuasaan (Hirschkop 1999:171) Bagaimana mungkin bahasa disebut netral ketika penguasa menentukan mana kata yang boleh hidup dan mana yang harus mati?
Pilar ketiga — Evolusionisme Linguistik — mengandung kontradiksi paling telanjang. Stalin menegaskan bahwa bahasa berubah secara bertahap, bukan melalui revolusi (hlm. 28). Tapi Revolusi 1917 justru memicu gempa linguistik: sapaan “gospodin” (tuan) digantikan “tovarishch” (kawan), gelar “tsar” dibuang ke tong sampah sejarah, dan istilah “borjuasi” berubah dari ‘sebutan kelas’ menjadi kata ‘makian’ (Brandist 2005:73). Perubahan radikal ini bukan evolusi, melainkan ‘revolusi wacana’ yang membongkar kepalsuan teori Stalin. Jameson (1972) melihat ketakutan di balik doktrin ini: penolakan revolusi linguistik adalah metafora hasrat Stalin membekukan sejarah — mimpi buruk ortodoksi yang membunuh dialektika (hlm. 41).
Politik Dekrit: Netralitas sebagai Senjata Hegemoni
Ketika Stalin membantai teori Marr pada 1950, ia tidak sedang berdebat sebagai ilmuwan — ia mengeksekusi sebagai algojo politik. Nikolai Marr, sang linguis revolusioner yang mati sepuluh tahun sebelumnya, dituduh melakukan “vulgarisasi Marxisme” karena tetap bersikukuh bahwa bahasa adalah produk perjuangan kelas. Stalin menyembelih mayat Marr kedua kali: lewat dekret, ia menghapus teori “bahasa proletar” dari panggung sejarah intelektual Soviet. Tapi di balik retorika pembenaran ilmiah, tersembunyi operasi kekuasaan yang lebih kejam: klaim netralitas bahasa adalah topeng untuk monopoli makna oleh partai.
Pollock (2006) membedah mekanisme ini bahwa: pemusnahan Marrisme bukan kesalahan epistemologis, melainkan pembersihan ideologis. Stalin membutuhkan mitos netralitas untuk mengukuhkan Partai sebagai penafsir tunggal realitas (hlm. 92). Ironisnya, saat Stalin menulis bahwa bahasa melayani semua kelas secara adil, rezimnya memaksakan Newspeak melalui sensor, propaganda, dan kamus resmi partai. Kata “demokrasi” direduksi menjadi “demokrasi soviet”, “kebebasan” dikurung dalam makna “ketaatan pada partai” — hegemoni linguistik yang membungkam dialektika (Smith 2012:118).
Inilah paradoks hegemonik: penguasa yang mendaku netral justru paling ganas menguasai medan makna (Gramsci 1992:56). Stalin membangun penjara bahasa dengan dua kunci:
- Pemiskinan Kosakata: Menghapus kata-kata seperti “pemogokan” atau “eksploitasi” dari wacana public;
- Pemaksaan Semantik: Memelintir makna “revolusi” menjadi ritual kepatuhan birokratis.
Di balik topeng “jalan raya netral”, tersembunyi jalan tol berbayar — hanya kendaraan partai yang boleh lewat.
Dialektika Bahasa-Materi: Kuburan bagi Materialisme Historis
Di puncak kekuasaannya, Stalin tanpa sadar menggali kuburan bagi materialisme historis. Klaimnya bahwa bahasa adalah basis-struktur netral bukan solusi teoretis, melainkan tanda kebangkrutan dialektika. Di sini tersembunyi dikotomi palsu yang membunuh Marxisme: bahasa dipaksa memilih antara menjadi alat produksi mati atau sistem ideologis idealis. Vološinov telah memperingatkan bahwa bahasa adalah materialitas simbolik — tanda hidup yang menjadi medan perjuangan kelas (hlm. 23).
Pada akhirnya ketegangan ini membelah tradisi intelektual Marxis. Di satu sisi Althusser mencemoh reduksionisme Stalin: dengan menyatakan bahwa ‘bahasa netral’, tapi justru ia lupa bahwa melalui “netralitas” lah ideologi negara bekerja paling halus. Bahasa bukan jalan raya — ia polisi lalu lintas yang menyamar (hlm. 55). Sementara Gramsci menunjukkan akar masalah: bahwa Stalin gagal melihat hegemoni yang terlahir dari pergulatan makna dalam bahasa sehari-hari. Mengontrol kata “buruh” lebih penting daripada mengontrol pabrik (hlm. 49).
Pukulan telak datang dari Bakhtin: bahwa setiap kata selalu beraromakan kelas. Ketika buruh menyebut “kerja”, ia menyimpan letusan makna kemarahan, yangberbeda dengan bos yang menyebut “kerja” sebagai keuntungan. Menyamar menjadi ‘netral’ ialah pengkhianatan atas dialektika (Hirschkop 1999:163). Di sinilah tragedi risalah Stalin: sambil mengaku setia pada materialisme, yang sekaligus juga ia membunuh materialitas bahasa — praktik konkret tempat relasi produksi direproduksi melalui pertarungan tanda dan makna.
Bahasa sebagai Medan Perang yang Terampas
Risalah linguistik Stalin berdiri bagai nisan di pekuburan dialektika. Bukan karena kesalahan politis semata, melainkan karena membekukan api materialisme historis menjadi dogma. Di akhir hayatnya, Stalin mungkin lupa bahwa tugas filsuf bukan hanya menafsirkan dunia, melainkan mengubahnya. Namun bagaimana dunia bisa diubah jika bahasanya dikurung dalam mitos netralitas?
Pertanyaan terakhir yang bakal diajukan: bisakah materialisme historis bertahan tanpa mengakui bahwa setiap kata adalah medan perang kelas? Jika Stalin hidup hari ini, ia akan melihat jawabnya dalam tiap titik perjuangan: dari feminis yang merebut kata “tubuh” dari cengkeraman patriarki, hingga buruh yang mengubah “kerentanan” menjadi senjata perlawanan. Di sana, di rimba bahasa yang tak pernah netral, materialisme menemukan kembali denyut nadinya.
Bahasa bukan cermin realitas — ia palu yang menempa realitas baru. Dan palu itu tak pernah netral.
Lebih luasnya mengenai situasi perdebatan antara Stalin vs Marr bisa dibaca ulasannya Alexey V. Nikandrov tentang “Stalin vs. Marr: A Mysterious Battle of Soviet Linguistics in the Early 1950s”
Daftar Bacaan:
Althusser, Louis. 2015. Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara: Catatan-Catatan Investigasi. disunting oleh C. H. Pontoh. IndoPROGRESS.
Brandist, Craig. 2005. “Marxism and the Philosophy of Language in Russia in the 1920s and 1930s.” Historical Materialism 13(1):63–84. doi:10.1163/1569206053620906.
Gramsci, Antonio. 1992. The Prison Notebooks of Antonio Gramsci. 11 ed. New York: International Publishers.
Hirschkop, Ken. 1999. Mikhail Bakhtin: An Aesthetic for Democracy. Oxford: Oxford University Press.
Jameson, Fredric. 2020. The Prison-House of Language: A Critical Account of Structuralism and Russian Formalism. Princeton University Press.
Marx, Karl, dan Friedrich Engels. 2016. The German Ideology. Vol. I. Updated edition. 1st International Publishers edition. disunting oleh C. J. Arthur. New York: International Publishers.
Pollock, Ethan. 2006. Stalin and the Soviet Science Wars. Princeton Oxford: Princeton University Press.
Smith, Michael G. 2012. Language and Power in the Creation of the USSR, 1917–1953. Berlin: De Gruyter.
Stalin, Joseph. 2018. Marxisme dan Problem Ilmu Bahasa. Cetakan pertama. Yogyakarta: Tanda Baca.
Stalin, Joseph. 2021. Marxism and Problems of Linguistics. lulu.com.
Voloshinov, V. N. 1986. Marxism and the Philosophy of Language. Cambridge, Mass: Harvard University Press.
메타데이터
- post_id
- 18675cf2bb22
- slug
- paradoks-netralitas-bahasa-dalam-bayangan-totaliter-18675cf2bb22
- url
- https://medium.com/@ramdino/paradoks-netralitas-bahasa-dalam-bayangan-totaliter-18675cf2bb22
- canonical_url
- https://medium.com/@ramdino/paradoks-netralitas-bahasa-dalam-bayangan-totaliter-18675cf2bb22
- author_url
- https://medium.com/@ramdino
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 04:09:58