← Back to list

Gangguan Waham Menetap

Reza Adetya Tama S.Psi

Reza Adetya Tama S.Psi · 2021-06-10 06:52 · 0 claps · 5.2 min read
#psikoterapi #psikologi #gangguan-mental #delusi
Open on Medium ↗

Gangguan Waham Menetap

Reza Adetya Tama S.Psi

Dalam panduan diagnosa gangguan kejiwaan, Gangguan Waham Menetap (GWM) ini masuk dalam golongan psikotik (satu rumpun dengan skizoprenia). Berbeda dari skizoprenia, fitur utama dari GWM adalah waham (delusi : gangguan pada pikiran dan perasaan), dan bukan halusinasi (yaitu ilusi pada penglihatan, pendengaran maupun perasaan pada tubuh).

1. Apakah Gangguan Waham Menetap Itu?

Apakah waham atau delusi itu? Waham adalah gangguan isi pikiran berupa keyakinan atau pikiran yang salah, tidak realistis , dan sangat diyakini oleh seseorang, sehingga tidak dapat dikoreksi atau digoyahkan. Padahal, pikiran dan keyakinan tersebut tidak memiliki dasar faktual sama sekali. Waham atau delusi itu ibarat kisah imajinasi yang hanya ada dalam pikiran pengidapnya, namun betul-betul diyakininya sebagai sebuah kenyataan. Sedangkan Gangguan Waham Menetap (GWM) adalah salah satu bentuk gangguan mental dan perilaku yang masuk dalam jenis gangguan psikotik, dengan fitur utamanya adalah adanya waham, dan telah berlangsung terus-menerus setidaknya lebih dari satu bulan. Hal ini terjadi pada diri seseorang bukan disebabkan karena penggunaan narkotika secara, efek pengobatan, dan zat-zat adiktif lainnya (secara langsung).

Adanya waham akan memicu interpretasi yang salah dari pengidapnya atas berbagai situasi yang ada di sekitarnya, termasuk sikap, perilaku, ekspresi, dan perkataan orang lain. Oleh pengidap GWM, perilaku biasa dan wajar dari seseorang, bisa diartikan secara berlebihan, misal sebagai ekspresi cinta, suka, perhatian, atau sebaliknya, kebencian dan permusuhan. Jelas misinterpretasi tersebut akan memicu sikap dan perilaku yang salah pula dari pengidap GWM kepada orang lain, yang pada akhirnya memicu ketidaknyamanan bahkan konflik dengan orang lain.

Umumnya waham yang muncul disertai dengan afek (perasaan) yang kuat terhadap wahamnya, serta kewaspadaan yang berlebihan. Mereka cenderung oversensitif terhadap sikap meragukan dan penolakan dari orang lain atas pikiran-pikiran wahamnya tersebut. Mereka bisa sangat marah, ofensif dan memusuhi orang lain yang mencoba mematahkan opini-opininya. Tak perlu sampai sejauh itu, bahkan mereka bisa marah hanya karena tidak berkenan dengan ekspresi, sikap atau respon biasa yang ditampilkan orang lain ketika mereka sedang mengungkapkan pikiran-pikiran wahamnya kepada orang tersebut.

Sesungguhnya, pengidap psikotik, baik GWM maupun skizoprenia sama-sama mengalami waham. Bedanya adalah, pada GWM, waham adalah fitur utama, sedangkan pada skizoprenia, waham adalah fitur sekundernya. Demikian juga, isi tema waham pengidap GWM dan skizoprenia juga berbeda. Pengdap skizoprenia memiliki waham dengan tema bizarre, sedangkan pengidap GWM bersifat non-bizarre. Bizarre adalah tema-tema waham yang bersifat aneh atau tidak wajar/ajaib. Ia hampir mustahil ada dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, seorang yang merasa bahwa di dalam kepalanya ada orang lain yang mengatur dan mengontrol dirinya. Atau, ia merasa bahwa setiap orang di jalan bisa membaca apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya.

Sedangkan non-bizarre adalah waham dengan tema-tema yang wajar (sangat mungkin bisa terjadi dalam kehidupan nyata). Sebagai contoh, seorang yang merasa dicintai orang lain, dikejar-kejar, dibicarakan, akan disakiti, merasa memiliki anak, diguna-guna, merasa menjadi anak seorang tokoh besar, memiliki kekuasaan, kekayaan, dsb, padahal kenyataannya tidak ada sama sekali. Maka tak heran, seorang pengidap GWM dengan kemampuan persuasi yang cukup baik akan mudah meyakinkan orang lain bahwa wahamnya adalah nyata, terutama kepada yang belum mengenalnya. Mengapa? Karena tema-tema wahamnya memang realistis, wajar, dan ada dalam kehidupa sehari-hari. Terlebih jika waham tersebut disampaikan dengan bahasa yang runtut dan alur cerita yang logis. Apakah pengidap GWM tersebut berbohong? Tentu saja tidak (atau tidak sepenuhnya), karena apa yang mereka ceritakan adalah sesuatu yang sangat mereka yakini.

Secara umum, pengidap GWM masih bisa bersosialisasi dan berfungsi dengan baik dalam kehidupan kesehariannya, selama mereka tidak membahas tentang waham-wahamnya kepada orang lain. Tidak seperti pengidap gangguan psikotik yang lain (seperti skizoprenia) seorang pengidap GWM bisa berpenampilan dan berprilaku secara baik dan wajar, bahkan masih bisa bekerja dengan baik pada bidang-bidang tertentu.

2. Ciri Diagnostik Pengidap GWM

A. Dominasi Waham/Delusi

  • Memiliki pemikiran dan keyakinan yang kuat dan terus-menerus tentang suatu hal, namun tidak memiliki dasar faktual sama-sekali.
  • Bahkan ketika telah ditunjukkan kepadanya bahwa apa yang ia pikirkan dan yakini tersebut tidak memiliki dasar faktual sama sekali, ia tetap kekeh meyakininnya.
  • Hal tersebut cenderung membuatnya sering salah dalam mengiterpretasikan berbagai realitas yang ada di sekitarnya (salah paham), termasuk pikiran, perasaan, perkataan, sikap dan perilaku orang lain. Sikap biasa dan sewajarnya dari seseorang bisa diartikan sebagai perhatian, cinta, bahkan sebaliknya ancaman dan permusuhan.
  • Jika terkait dengan pikiran dan keyakinan, maka ia menjadi cenderung over sensitif dan tak bisa diajak bercanda.
  • Ada kecenderungan untuk memaksa orang lain meyakini kebenaran ide dan keyakinannya tersebut (bahkan seringkali marah jika ia merasa diragukan atau diremehkan)
  • Ia cenderung marah dan memusuhi seseorang yang bersikap kontradiktif kepada pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Membantah opininnya bisa dianggap sebagai sikap bermusuhan.

B. Tema waham/delusi bersifat Non-Bizarre : memiliki tema-tema waham yang bersifat wajar dan masih terkait dengan kehidupan sehari-hari, seperti percintaan, permusuhan, status sosial, kuasa, dsb.

C. Berbeda dengan pengidap psikotik lainnya, secara umum, pengidap GWM mampu berinteraksi soaial secara wajar, baik dari sikap, perbuatan maupun penampilan, tentu saja selama ia tidak mengekspresikan pikiran-pikiran wahamnya kepada orang lain.

D. Mungkinkah pengidap GWM mengalami halusinasi? Ya, mungkin saja. Berbeda dengan tema halusinasi pengidap skizoprenia yang relatif acak dan aneh (bizarre), tema halusinasi pengidap GWM biasanya bersifat non-bizzare, dan masih sejalan dengan tema-tema dalam pikiran dan keyakinannya. Sebagai contoh, jika ia merasa ada orang yang selalu mengawasinya, maka ia akan melihat seakan-akan ada orang yang sedang membuntutinya, padahal tidak ada. Atau, melihat instrumen di tiang listrik sebagai kamera pengintai yang sedang mengawasinya (Berbeda dengan tema halusinasi pengidap skizoprenia yang biasanya kacau dan acak).

E. Hal diatas telah berlangsung secara berturut-turut selama lebih dari tiga bulan.

F. Munculnya gejala tidak disebabkan oleh narkotika dan zat-zat lainnya

G. Waham bukan diakibatkan oleh gangguan psikotik yang lain seperti skizoprenia.

3. Tipe-tipe GWM

  1. Tipe Erotomania : Seorang yang merasa dicintai, atau diberi harapan cinta oleh seseorang (padahal tidak, dan bahkan tidak ada indikasi ke arah itu sama sekali). Meskipun demikian, ia merasa sangat yakin bahwa seseorang benar-benar mencintainya. Setiap perilaku dari obyek cintanya akan diartikan sebagai isyarat cinta padanya.
  2. Tipe Kebesaran (Grandiose) : pasien percaya bahwa dirinya mempunyai nilai, kekuatan, kekuasaan, kemampuan, atau identitas yang tinggi. Ia merasa sebagai individu istimewa yang berbeda dari orang lain, karena memiliki bakat, kemampuan atau anugrah-anugrah lainnya, yang tak dimiliki orang lain. Banyak pemimpin sekte sesat adalah pengidap GWM tipe kebesaran ini.
  3. Tipe Paranoid : Perasaan bahwa ada orang yang akan menyakitinya, mengguna-gunannya, menguntitnya, membunuhnya, atau sekedar membicarakan (menggunjingnya) di belakangnya. Intinya, selalu mencurigai akan adanya rencana jahat dari orang lain kepada dirinya.
  4. Tipe Cemburu : Selalu bersikap curiga bahwa pasangannya tidak setia, selingkuh dan berkhianat di belakangnya. Ia selalu mencari, dan bahkan selalu menemukan pemebenaran-pembenaran atas keyakinannya tersebut. Setiap sikap, perilaku dan perkataan dari pasangannya seakan-akan menguatkan tuduhan-tuduhannya tersebut.
  5. Waham Somatik : Selalu merasa ada bagian tubuhnya yang sakit, atau selalu merasa bahwa dirinya mengidap penyakit tertentu (padahal diagnosa dokter menunjukkan bahwa ia sehat).
  6. Tipe Campuran : Kombinasi dari berbagai tipe di atas.

4. Faktor Penyebab Gangguan Waham Menetap (GWM)

Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab terjadinya GWM, yaitu:

  • Faktor Genetis : diduga ada hubungan antara faktor keturunan tarhadap terjadinya GMW. Dalam banyak kasus, soerang pengidap GMW memiliki anggota keluarga di atasnya yang mengidap gangguan kejiwaan juga.
  • Faktor Biologis : ada masalah pada fungsi-fungsi di beberapa bagian otak atau hormonal.
  • Faktor Psikososial : hasil relasi antara individu dengan lingkungan yang tidak mendukung, yang berdampak negatif pada kondisi psikologisnya dalam jangka panjang. Sebagai contoh adalah pengalaman traumatis di masa lalu (korban bullying, kekerasan, pelecahan, dsb); efek pola asuh orang tua yang abusive (penuh dengan kekerasan, baik verbal maupun non-verbal) maupun neglectful (pengabaian), dsb.

메타데이터
post_id
1867f5983f8a
slug
gangguan-waham-menetap-1867f5983f8a
url
https://medium.com/@sasmaya2012/gangguan-waham-menetap-1867f5983f8a
canonical_url
https://medium.com/@sasmaya2012/gangguan-waham-menetap-1867f5983f8a
author_url
https://medium.com/@sasmaya2012
status
ok
fetched_at
2026-07-28 06:17:56