Volunteer — Anchor
Sisa hujan semalaman masih membuat seluruh jalanan basah dan lembab. Rintik sendu masih mendaratkan diri sebelum berhenti sepenuhnya…
Volunteer — Anchor

a Series by Eth
Sisa hujan semalaman masih membuat seluruh jalanan basah dan lembab. Rintik sendu masih mendaratkan diri sebelum berhenti sepenuhnya ketika matahari menampakkan diri.
Udara dingin tak terasa begitu menusuk pagi itu, dibandingkan hari-hari sebelumnya. Namun, antisipasi setiap penghuni kota itu tetap terlaksana dengan mengenakan pakaian yang cukup hangat demi menghindari ketidakpastian cuaca.
Suara langlah kaki dicampur beberapa percakapan singkat memenuhi seisi kota. Semua tengah bergegas memulai aktivitas.
Toko-toko di sepanjang jalan sudah dibuka, beberapa kendaraan umum dan pribadi berlalu lalang meskipun rata-rata masyarakat setempat lebih memilih untuk berjalan kaki di setiap pinggir jalan.
“Tring!”
Bel pintu toko roti berdenting di atas kepala Isla Amora ketika ia mendorong masuk pintu masuk.
“Oh, Isla! What’s your choice this morning?”
Namanya Dianna, pemilik toko roti yang masih cukup muda di mata Isla. Cukup mengenal Isla dengan baik, lantarannya ia sering membeli roti di pagi hari sebelum memulai harinya sepenuhnya.
“The usual, please.”
“Got it!”
Roti bagel dengan potongan ham dan keju slice yang dipadupadankan dengan selada dan tomat merah segar adalah favorit Isla. Cukup membuatnya bertenaga hingga siang hari.
Dianna membungkus roti bagel hangat miliknya dengan pembungkus kertas, hafal bahwa pembelinya pasti akan langsung menyantap roti itu sambil berjalan ke arah tujuan.
“Here you go, the usual.”
Dianna menyerahkan pesanan, Isla menyerahkan sejumlah uang pas sebagai bayaran.
“Thank you.”
“My pleasure! I’ll see you next morning?”
“I hope so.”
“Alright, have a nice day!”
“Have a nice day, Dianna.”
Bel pintu kembali berdenting ketika Isla menarik pintu tersebut sebelum kembali melangkahkan kedua tungkainya.
Sesuai dugaan Dianna, Isla mulai menyantap roti bagelnya sembari berjalan. Roti itu habis tepat ketika ia tiba di stasiun kereta.
Tiket dibeli, jadwal kereta dibaca.
Lima menit berlalu sebelum kereta yang ditunggu tiba. Isla melangkah masuk ketika gerbong kereta itu terbuka.
Ia mulai mencari tempat duduk sambil menarik kopernya. Seisi gerbong seharusnya tau bahwa ia akan menetap dalam kurun waktu yang cukup lama.
Kereta itu mulai melaju beberapa menit setelahnya, siap menghantar seluruh penumpang ke stasiun pemberhentian.
Sekitar 15 menit kemudian, kereta berhenti melaju tepat di stasiun pemberhentian perempuan itu.
Segera ia berdiri dan berjalan keluar gerbong sebelum melintas melewati lautan manusia sekitar stasiun. Dua menit ia habiskan hanya untuk berjalan keluar dari stasiun itu.
Di sinilah tujuan Isla hari ini dan selama beberapa waktu ke depan, pinggiran kota. Lebih hijau dan lebih sejuk.
Ia kembali melangkah, mengikuti arah peta digital ponselnya sambil menggiring koper.
Angin sepoi-sepoi terus menyapanya, membuat surainya terhembus terus-menerus selama beberapa saat.
Butuh sekitar 8 menit hingga akhirnya Isla tiba di tempat tujuan sekaligus tempatnya singgah sementara, panti asuhan.
Sebelumnya, ia membaca poster yang ditempel dipinggir jalan. Poster itu berisi pencarian sukarelawan untuk membantu panti tersebut selama beberapa hari.
Pihak panti akan menyediakan tempat singgah, makanan teratur, dan kebutuhan sehari-hari lainnya selagi menjadi sukarelawan di sana.
Pihak panti membuka lowongan tersebut karena beberapa pengurus di sana tengah mengambil cuti kerja, sehingga pengurus lain menjadi kesulitan.
Isla yang kebetulan baru lulus berkuliah beberapa waktu yang lalu langsung mencoba menghubungi pihak panti dan langsung diterima dengan baik. Sebelum mulai mencemplungkan diri di dunia kerja, setidaknya ia ingin mencoba beberapa hal yang belum pernah ia lakukan selama hidupnya.
Maka di sinilah Isla.
Panti itu cukup besar dan terlihat layak tinggal. Hamparan rumput hijau membentang di bagian belakang panti, beberapa rumah berdiri di sekitaran sana.
“Ms. Amora?”
Isla spontan menoleh ketika namanya dipanggil, mendapati seorang perempuan yang tampaknya berumur 40-an tahun berdiri di depan gerbang masuk.
“Yes, that’s me.”
“Welcome! Pleasure to meet you. I’m Sophie, the owner of this orphanage.”
Isla tersenyum sopan dan mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Sophie dengan hangat.
“It’s such an honor to meet you, Sophie.”
“Oh, dear… please, come and follow me.”
Isla mengangguk, berjalan masuk sambil menggiring kopernya di belakang. Semakin dalam ia melangkah, semakin asri suasana sekitarnya.
Panti itu benar-benar layal tinggal. Bersih, luas, sejuk, dan terurus.
Beberapa anak yang bermain di halaman depan menoleh ketika mendapati seseorang yang tak pernah mereka lihat.
Isla membalas tatapan mereka dan memberikan lambaian kecil yang langsung dibalas dengan antusias oleh mereka, beberapa di antaranya tampak malu-malu.
Sophie yang menangkap interaksi itu langsung memperkenalkan mereka kepadanya.
“This is Anne, Matthew, Daniel, Drake, and Claire.”
“Hello…” sapa Isla hati-hati.
Kelima anak-anak itu tersenyum lebar ketika di sapa dan langsung membalas menyapa penuh kegirangan.
“Everyone, this is Ms. Amora. She’ll be with us for a while until the other sisters come back with us again.”
“Just Isla, please.”
“Isla? What a beautiful name!” saut Drake.
“Thank you, Drake.”
“I-sa?” ulang Matthew yang tampaknya masih terlalu muda untuk berbicara dengan sempurna.
“It’s Isla. I-S-L-A.”
“Uh… Ila?”
“Isla.”
“Ila!”
Isla tertawa pasrah saat Matthew bersikeras menyebutnya sebagai Ila, bukan Isla.
“Alright, Ila.”
Matthew langsung berbinar, menyangka bahwa dirinya berhasil menyebut nama perempuan di depannya dengan benar.
“Ila!”
“Alright, everyone. Me and Ila will meet the other. You guys can have your little fun again.”
“Bye, Ila!”
“Bye!”
Demi menyesuaikan para pembaca, selanjutnya seluruh dialog akan ditulis dengan Bahasa Indonesia. Namun, tolong tetap ingat bahwa mereka berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Akan tetapi, author akan tetap memasukkan dialog Bahasa Inggris di setiap kesempatan agar lebih sesuai di beberapa bagian.
Thank you, happy reading.
Sophie dan Isla kembali melanjutkan langkah mereka, menyapa pengurus lain dan penghuni panti lainnya sebelum kedua pandangan Isla jatuh pada seorang pemuda yang tampak seumuran dengannya.
Pemuda itu sedang duduk di kursi panjang yang menghadap ke arah hamparan rumput hijau. Rambut hitamnya tertiup angin, Ia tampak tenang meskipun menyimpan bayangan.
Kaus putih yang ia kenakan membuatnya tampak damai dan lembut di pandangan Isla.
“Yang itu pengurus panti juga?” tanya Isla
“Bukan. Dia juga penghuni panti seperti yang lainnya. Namanya Yehezkiel, paling tua diantara anak-anak di sini.”
“Sudah lama di sini?”
“3 bulan. Kami menemukannya saat tengah mengunjungi rumah sakit kota untuk membawa Matthew ke dokter. Yehezkiel tidak memiliki orang tua dan keluarga di sini. Sebelumnya, ia diasuh oleh keluarga yang tidak bertanggung jawab.”
“Tidak bertanggung jawab?”
““Kami sempat meminta bantuan beberapa pihak untuk melihat riwayat asuhnya. Hasilnya, Yehezkiel banyak dilempar ke berbagai keluarga, tidak pernah benar-benar menetap terlalu lama.”
“Separah itu?”
Sophie mengangguk, “Dokter sempat mendiagnosis bahwa ia mengalami gangguan bicara sementara karena terlalu banyak trauma masa lalu.”
“Trauma apa?”
“Kami juga kurang tau. Yehezkiel selalu menutup diri dan menyendiri. Tidak suka didekati atau diajak bicara, bahkan kami tidak pernah mendengarnya berbicara satu kata pun. Tetapi ia adalah pemuda baik hati. Ia suka membantu anak-anak lain ketika kesulitan. Mungkin kalian seumuran.”
Isla mulai menyusun baju dan beberapa barang pribadinya di kamar yang telah disediakan oleh Sophie untuk ia tinggali selama beberapa waktu ke depan.
Ketika jam makan siang mulai tiba, pintu kamarnya diketuk pelan sebelum terbuka, menampilkan salah satu pengurus panti lainnya yang bernama Emma.
Emma adalah perempuan yang perhatian, 10 tahun lebih tua dari Isla. Mereka sempat berkenalan saat Sophie memperkenalkannya kepada pengurus panti lainnya.
“Hi, Isla. Ingin membantu menyiapkan makan siang kepada penghuni panti?”
“Iya, boleh.”
Emma dan Isla mulai berjalan berdampingan menuju ruang makan panti.
Ruagan itu luas dan tertata rapi. Beberapa menu telah diletakkan di meja makan panjang ruangan. Kursi-kursi telah ditarik, piring-piring dan peralatan makan telah diletakkan di atas meja.
Sophie menoleh ketika mendapati mereka berjalan masuk ke ruang makan.
“Isla! Emma! Tepat waktu. Tolong bantu kami membawa beberapa makanan ini ke meja makan.”
Sepanjang waktu, Emma selalu mendampingi Isla agar ia tidak kebingungan. Mengarahkan dan membantu membawa makanan ke meja makan, memanggil seluruh penghuni panti untuk mulai berkumpul dan makan bersama di ruang makan.
Mereka sempat mengobrol sambil berjalan menyusur panti untuk memanggil seluruh penghuni. Berbagai hal mereka bahas, mengundang senyum dan tawa dari keduanya.
Sampai akhirnya, Emma berhenti di salah satu kamar yang pintunya terbuka. Penghuni di dalamnya tidak ada, membuat Isla bertanya, “Perlu dicari?”
Emma menggeleng sambil tersenyum kepadanya, “Tidak perlu, penghuninya tidak akan senang.”
“Begitu?”
Emma mengangguk, “Nanti tolong kamu antarkan saja makanannya ke sini ya, Isla?”
Isla mengangguk, menerima tugas tersebut.
Mereka berjalan kembali ke ruang makanan. Seluruh penghuni panti telah duduk bersama, membuat seisi ruangan penuh.
Penghuni panti itu terdiri dari balita, anak-anak, dan remaja. Membuat Isla mengetahui bahwa sepertinya Yehezkiel lah satu-satunya pemuda yang berusia cukup diwasa di antara penghuni lainnya.
Mereka mulai makan bersama di meja panjang ruangan itu, saling berbagi hidangan dan tawa bahagia di sela-selanya. Suasana meja makan siang itu berhasil menghangatkan hati Isla dan seluruh orang di dalamnya.
“Isla!” panggil Emma ketika Isla sedang merapikan meja makan sejak sesi makan siang telah selesai.
“Ya?”
Emma menghampirinya dengan sebuah kotak makan dan sebotol air mineral di kedua tangan.
“Ini, tolong antarkan ke ruangan yang tadi ya.”
Isla mengangguk dan menerima kotak makan dan botol air itu sebelum berjalan keluar menuju ruangan yang sebelumnya tak diketahui siapa dan di mana penghuni ruangan itu.
Kali ini pintu kamar tersebut telah tertutup, membuat Isla yakin bahwa penghuninya telah kembali untuk beristirahat kembali.
Dengan hati-hati, Isla mengetuk pintu tersebut. Setelah dirasa tidak ada suara yang mempersilakannya masuk, maka dengan lebih hati-hati Isla menarik tungkai pintu itu, mendorong masuk secara perlahan.
Ketika pintu itu terbuka sedikit, Isla tak mendapati siapapun di dalamnya sebelum akhirnya dengan sedikit keberanian ia buka pintu itu lebih jauh.
Dirinya mematung ketika mendapati seorang pemuda yang sempat ia lihat dari jauh kini tengah duduk di kursi ruangan dan balik menatapnya dengan pandangan terjaga, seakan sedang menyiapkan diri jika seseorang di depannya ingin melakukan sesuatu kepadanya.
Selama beberapa waktu, Isla berdiri di depan pintu. Kotak makan dan botol minum masih dipegang erat menggunakan kedua tangan. Tak ada yang menyapa duluan, tak ada yang memutuskan tatapan sebelum akhirnya dengan hati-hati Isla masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Hai…?” sapa Isla dengan hati-hati, namun yang disapa tak bergeming atau bergerak sedikitpun.
Isla akhirnya dengan hati-hati meletakkan kotak makan dan botol minum itu di atas meja kecil samping kasur.
Awalnya, Isla hendak langsung keluar ketika ia memutar balikkan tubuhnya. Namun, ia berhenti di tengah langkah dan kembali memutarkan badannya, mendapati pemuda itu masih setia memandangnya.
Dengan ragu dan kikuk, Isla mengeluarkan selembar kertas dan pena yang telah ia bawa di saku celana sejak pagi untuk berjaga-jaga mencatat jadwal keretanya.
Isla mendekatkan diri ke dinding terdekat, menulis sesuatu di atas kertas kosong dengan bantuan dinding sebagai permukaan datar, membuat pemuda yang masih setia menatapnya sedikit kebingungan melihatnya.
Setelah selesai, Isla berbalik sepenuhnya menghadap lelaki di depannya dengan jarak yang cukup dekat, namun tetap aman. Ia mulai menaikkan kertasnya agar sejajar dengan pandangan lelaki itu.

Lelaki itu tertegun ketika membacanya, tak menyangka ada orang yang ingin merepotkan dirinya sendiri demi berkomunikasi dengannya. Tak enak hati, lelaki itu akhirnya menganggukkan sedikit kepalanya kepada perempuan di depannya.
Isla yang mendapatkan balasan dari lelaki itu langsung merasa lega dan segera membalikkan kertas itu, kembali menulis sesuatu. Setelahnya, ia meletakkan kertas itu di atas meja bersamaan dengan penanya.

Lelaki itu menatap kertas itu lama, peka bahwa perempuan di depannya berharap ia mau menulis balasan.
Setelah berpikir selama beberapa saat, ia akhirnya mengambil pena dan menuliskan jawaban sebelum kembali meletakkan pena itu.

Isla lega bukan main ketika dibalas dan dengan segera Ia balas.







Isla segera berjalan dan membawa botol minum dari meja kecil samping kasur ke Yehezkiel. Dengan hati-hati, ia membukakan tutupnya sebelum menyerahkannya kepada pemuda itu. Botol itu diterima perlahan oleh Yehezkiel sebelum diminum olehnya.
Isla kembali menerima botol itu dan meletakkannya di atas meja sebelum ia kembali dengan membawa kotak makan yang telah ia buka tutupnya. Ia serahkan langsung kepada lelaki di depannya.
Namun, Yehezkiel hanya menatap kotak makan itu lama tanpa ekspresi sebelum melihat kedua tangan Isla yang tetap menggenggam kotak makan itu, seakan-akan perempuan itu sedang menjaga sesuatu yang berharga.
Isla yang melihat hal tersebut menafsirkan bahwa mungkin Yehezkiel tak ingin makan sendiri. Akhirnya, ia menarik kursi di samping sang lelaki dan memposisikannya agar duduk berhadapan sebelum meletakkan kotak makan itu di pangkuannya.
Ia mulai menyendokkan makanan itu dan membawanya ke depan bibir Yehezkiel, sedangkan lelaki di hadapannya sedikit terkejut dan mematung di tempat dengan pandangan yang tertuju pada sendok di depan bibirnya sebelum menaikkan pandangan, bertemu tatapan wanita di depannya yang menunggu dengan penuh sabar dan antisipasi.
Setelah beberapa saat, akhirnya Yehezkiel membuka mulut dan menerima suapan tersebut.
Tak pernah terbayangkan bahwa dirinya akan menerima perlakuan tersebut, lantaran ia tak pernah menerima afeksi sedemikian rupa sebelumnya, tak juga perhatian penuh kasih nan sabar.
Ia kunyah makanan itu dengan perlahan sambil menatap perempuan di hadapannya yang sudah mulai kembali menyendokkan makanan.
Ketika Isla mendapati makanan tersebut telah ditelan habis oleh pemuda di hadapannya, ia kembali menyuapi makanan tersebut dengan hati-hati.
Yehezkiel tak menolak atau menjauhkan diri sedikitpun. Kali ini, ia langsung membuka mulut.
Sepanjang waktu, ia selalu mengunyah sambari menatap perempuan di hadapannya tanpa ekspresi. Memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Diam-diam, ia bahkan menghitung berapa banyak bulu mata yang dimiliki perempuan itu.
Tapi satu hal yang tidak Yehezkiel sedari adalah matanya yang tak pernah berhenti menatap lembut sang perempuan meskipun makanannya telah habis sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya pula, makanan panti menghadirkan rasa di lidahnya.
Pengurus panti lainnya senang bukan kepalang ketika mendapati bahwa kotak makan Yehezkiel habis tanpa tersisa untuk pertama kalinya, tak tau bagaimana persepsi keliru Isla mampu merayu hati sang pria.
Dalam diam, Yehezkiel tengah menatap kursi yang sempat ditempati Isla sambil mengingat kembali jumlah bulu mata perempuan itu di benaknya, hendak melanjutkan hitungan di kesempatan lain.
메타데이터
- post_id
- 18a6b2e6cdc5
- slug
- volunteer-anchor-18a6b2e6cdc5
- url
- https://medium.com/@ethdlnburgh/volunteer-anchor-18a6b2e6cdc5
- canonical_url
- https://medium.com/@ethdlnburgh/volunteer-anchor-18a6b2e6cdc5
- author_url
- https://medium.com/@ethdlnburgh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 20:42:47