Pengangguran yang Berkecukupan
Pengangguran yang Berkecukupan

Saya bertemu dia di warung kopi. Lagi. Masih di kursi yang sama, dengan buku di tangan dan kopi di depannya yang mengepul pelan seperti tidak ada urusan dengan dunia.
Saya ingat dulu waktu masih mahasiswa, dia juga begini. Saya kira wakt itu dia sedang melewati fase. Ternyata tidak. Dia bukan sedang melewati fase. Dia sedang membangun gaya hidup. Dan rupanya, pembangunan itu sudah selesai dengan sangat memuaskan.
Karena tidak tahu harus memulai percakapan dari mana, saya tanyalah pertanyaan yang paling malas dipikir tapi paling sering diucapkan oleh orang Indonesia ketika bertemu kawan lama.
“Kerja di mana sekarang?”
Dia menjawab santai, tanpa drama, tanpa basa-basi, tanpa bahkan repot-repot mengangkat mukanya dari buku.
“Masih pengangguran.”
Saya mengangguk. Pura-pura biasa saja. Padahal di dalam kepala saya sedang ada rapat kecil membahas apakah saya perlu ikut prihatin, ikut tertawa, atau langsung pesan kopi dan camelan supaya tangan saya ada kerjaan.
Tapi saya penasaran. Maka saya ulik. Pelan-pelan. Dengan hati-hati. Seperti membuka lapak pedagang yang tulisannya “Boleh Lihat-Lihat” — saya lihat-lihat dulu, siapa tahu ada yang menarik.
Dan ternyata memang ada.
Pagi hari, dia mengantar anak ke sekolah. Lalu ngopi. Lalu baca buku. Siang jemput anak. Sore jemput istri yang bekerja sebagai guru. Malamnya — ini bagian yang paling dramatis — dia menggoreng kerupuk. Kerupuk mentah yang ia datangkan dari Jawa Timur, ia goreng sendiri di dapur, ia kemas sendiri dengan tangan yang sama yang tadi membalik halaman buku, lalu ia titipkan ke warung-warung kecil sekitar.
“Tunggu,” kata saya. “Itu bukan pengangguran. Itu wirausaha.”
“Ah, jangan lebay,” jawabnya. “Itu cuma jualan kerupuk.”
“Tapi kamu produksi sendiri, distribusi sendiri — “
“Dan makannya juga sendiri kalau nggak laku,” potongnya, sambil menyeruput kopinya dengan tenang.
Lalu dia bicara. Dan kalimatnya menghantam saya dengan kecepatan yang tidak saya antisipasi, seperti pintu kaca yang tidak kelihatan di mall.
“Pekerjaan boleh apa saja, bro. Asal halal. Asal tidak mengganggu waktu ngopi, waktu baca buku, dan kebutuhan keluarga.”
Saya terdiam.
“Tidak apa-apa dianggap pengangguran,” lanjutnya. “Yang penting, pengangguran yang berkecukupan.”
Saya terdiam lebih lama.
Di luar warung, motor-motor lewat dengan terburu-buru. Di dalam, kami duduk. Dia melanjutkan membaca bukunya. Saya melanjutkan tidak tahu harus ngomong apa.
Ini yang lucu dari kita semua — dari kita yang rajin, rajin berkantor, rajin absen, rajin rapat, rajin kirim laporan, rajin terlihat sibukk meski kadang yang dikerjakan adalah menggulir media sosial dengan ekspresi serius supaya kelihatan sedang menganalisa sesuatu:
Kita punya definisi kerja yang sangat sempit.
Kerja itu harus berkantor. Harus ada seragam atau setidaknya kemeja yang dimasukkan. Harus ada jam masuk yang kalau terlambat ada konsekuensinya. Harus ada atasan yang bisa dikeluhkan di group keluarga. Harus ada slip gaji yang bisa difoto, meski angkanya tidak perlu ditunjukkan.
Di luar itu, kita curigai. Kita pertanyakan. Kita mintai pertanggungjawaban.
Padahal teman saya itu setiap harinya menggoreng kerupuk, mengantar-jemput anak, menemani istri, membaca buku, dan membangun — dengan sangat sabar dan sangat konsisten — sebuah kehidupan yang tidak banyak orang berhasil membangunnya meski sudah bekerja keras bertahun-tahun.
Sebenarnya kita ini sedang berlomba menuju garis finish yang tidak jelas di mana. Yang jelas harus lari. Yang jelas harus kelihatan ngos-ngosan. Karena kalau tidak ngos-ngosan, dianggap tidak serius.
Teman saya tidak ikut lomba itu. Dia duduk di pinggir lintasan, ngopi, baca buku, dan sesekali melambaikan tangan ke peserta yang lewat.
Dan yang paling menjengkelkan: dia kelihatan bahagia.
Sungguh tidak sopan.
Saya pulang dengan dua hal.
Pertama, sebungkus kerupuknya yang saya beli — karena kasihan, awalnya. Tapi ternyata enak. Sangat enak. Bukan murni karena rasanya, tapi tahu perjalanan kerupuk itu higga sampai di mulut. Lalu saya pun pesan untuk dijual di warung tempat saya bekerja.
Kedua, sebuah kalimat yang sampai sekarang masih saya pikirkan: Yang penting, pengangguran yang berkecukupan.
Karena ternyata cukup itu bukan soal jumlah. Cukup itu soal tahu kapan berhenti mengejar. Dan teman saya itu sudah berhenti mengejar — bukan karena menyerah, tapi karena dia sudah sampai.
Sementara saya — yang bekerja ini, entah sudah sampai di mana.
Mulia itu bukan soal seberapa tinggi jabatanmu. Mulia itu soal seberapa jujur caramu menghidupi hari. Dan kalau kerupuk goreng yang dikemas dengan tangan sendiri, dititipkan ke warung tetangga, bisa menghidupi keluarga dengan berkecukupan — maka itu bukan pengangguran.
Itu keberhasilan yang susah distory medsoskan.
메타데이터
- post_id
- 19754c28bd63
- slug
- pengangguran-yang-berkecukupan-19754c28bd63
- url
- https://medium.com/@roesdysh_12164/pengangguran-yang-berkecukupan-19754c28bd63
- canonical_url
- https://medium.com/@roesdysh_12164/pengangguran-yang-berkecukupan-19754c28bd63
- author_url
- https://medium.com/@roesdysh_12164
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29