ini bukan rumah.
kapan ya terakhir kali raga mampir ke rumah masa kecilnya itu?
ini bukan rumah.

kapan ya terakhir kali raga mampir ke rumah masa kecilnya itu?
gagap suara satpam di posnya tatkala raga membuka jendela mobilnya menjelaskan betapa deras pergolakan batin yang terjadi dalam diri pekerja di rumah kakeknya itu. diancam untuk tidak menerima kehadiran raga sama sekali bukan hal yang mustahil terjadi, namun sejauh raga mengenal kakeknya yang tak pernah memihak pada siapapun, seberapa besar keinginan keluarganya untuk tak menerimanya kembali di rumah ini takkan pernah disetujui. kepala keluarga di mansion ini belum berganti, pun hari ini raga hadir bukan sebagai tamu siapapun di bangunan megah mansion tempatnya tumbuh dahulu.
bendera-bendera partai masih didirikan penuh percaya diri walau yang menyambut raga saat ia dipanggil untuk menemui orang tuanya usai acara debat publik kemarin tak lain adalah hawa suram yang pekat menyeruak memenuhi ruangan. dari intonasi bicara dan diamnya sang ayah beberapa kali dalam menjawab dan menimpali kalimat lawan politiknya, raga sudah teramat yakin akan goyahnya jiwa pria yang raga yakin akan terus mencoba mencalonkan diri kapanpun ada kesempatan usai kekalahannya. beberapa pekerja yang biasanya akan mengambil alih mobilnya untuk dirawat dilewatinya begitu saja, raga sudah teramat sadar diri untuk tak kembali sebagai seorang anak dari kepala keluarga lain yang posisinya tak lebih tinggi dari kakeknya. tujuannya adalah paviliun di bagian ujung, tempat dimana kakak tersayangnya tinggal memisahkan diri dari keluarga utama.
ada beberapa pekerja yang bergegas menghampirinya tatkala raga memarkirkan mobilnya di samping mobil yunan yang telah dipersiapkan, kemungkinan akan digunakan bekerja setelah ini. raga melirik arlojinya untuk mengetahui bahwa ia tak terlambat untuk mengganggu jam makan pagi kakaknya mengingat ada agenda lain yang perlu ia datangi setelah ini, dan seperti sebelumnya ia lewati begitu saja para pekerja di rumah itu yang menawarkan berbagai bantuan selayaknya yang sudah mereka lakukan selama mengabdi pada keluarga ini.
yang membukakan pintu setelah raga mengetuk adalah sosok kakak dari naka yang entah bagaimana raut wajahnya terpasang kini, tak bicara apapun saat mereka berhadapan dan raga hanya tersenyum tipis sebelum berkata, “kak miguel ada?” begitu formal seolah mereka tak pernah berurusan maupun berkonflik sama sekali. yunan mundur untuk membukakan pintu lebih luas, menjawab seadanya, “ada, masih siap-siap.”
“oke. gue tunggu di dalem nggak apa-apa kan? bentar aja — “
“RAGA!!” teriakan menggelegar dari arah kamar utama membuat keduanya seketika menoleh, di ambang pintu miguel berdiri dengan amarah memuncak menjadi-jadi. sementara yunan menghela nafas berat dan mengusap wajahnya sendiri, raga tersenyum lebar sebab sudah sejak lama ia bertemu dengan kakaknya ini.
“kak miguel? duh kangen banget gue — “
walau raga tak berharap diberi pelukan hangat, lemparan ponsel mahal miguel yang berhasil dihindarinya tak masuk dalam prediksinya. diikuti dengan lemparan-lemparan benda lainnya, kunci mobil, vas bunga, satu persatu buku di meja — apapun yang bisa miguel jangkau, terlempar mengudara tersasar menuju raga yang sebisanya menghindar, reaksi yang berbeda total dengan yunan yang kesal sendiri memunguti barang-barang yang berjatuhan. selain vas bunga yang pecah dan ponsel yang paling tidak mengalami retak, yunan berseru mencoba menghentikan amukan miguel demi menyudahi kerusakan-kerusakan yang tak diperlukan.
miguel mendecak, menyeret tubuhnya menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi yang ada. menu-menu sarapan sudah tersedia di meja, pelayan dari mansion utama pasti mengantarnya kemari mengingat secara khusus miguel menolak untuk bergabung dengan kakek mereka dan keluarganya makan bersama di meja makan utama. penampilan miguel belum sempurna, belum selesai ia berpakaian sehingga dasi tampak belum benar terpasang di kerah kemejanya. raga dudukkan tubuhnya di kursi sebelah miguel, menghadap langsung pada kakaknya yang tak henti-hentinya menghela nafas berat. khawatirnya pasti sama besarnya dengan yang dirasakan oleh naka, raga tersenyum simpul, maju untuk menautkan ikatan dasi di kerah miguel sembari mencari waktu yang tepat untuk mengajak kakaknya berbicara.
“sesusah itu buat angkat telfon? jari lo nggak bisa dipake buat ketik balesan chat-chat gue kemaren? ada kali ratusan chat gue nggak ada yang lo bales, nomer lo nggak aktif — gila ya? bisa-bisanya lo nekat banget kayak kemaren?” mata miguel berkaca-kaca, raga tak menjawabnya. tangannya menarik pergelangan tangan miguel dimana bagian ujung lengan kemeja yang miguel kenakan belum terpasang dengan benar, raga kemudian memasangkannya.
“kemaren lo ketemu bokap sama nyokap lo?”
“ketemu kok.”
“muka lo masih utuh, berarti nggak dikeroyok? kan ada badai juga pasti?”
raga tersenyum, tangan miguel kemudian ia genggam. “untungnya sih kemaren opa juga ada, jadi nggak bakal berani mereka ngeroyok gue. nggak tau kalau besok — “
“raga!”
“gue nggak bisa biarin orang kayak papa jadi pemimpin kak, dia nggak layak sama sekali. yah, walaupun orang yang gue dukung kemarin juga nggak lebih baik sebenernya, tapi gue harus tahan papa buat nggak naik. ada beberapa hal yang harus dia beresin, gue nggak mau kalau dia sibuk ngurus kota justru tanggung jawab dia jadi nggak terpenuhi.”
“tanggung jawab yang mana?”
raga mengedarkan pandangannya untuk kemudian menyadari bahwa hanya ada mereka berdua saja di paviliun itu, yunan sudah pergi untuk memberi mereka ruang bicara dari hati ke hati. kemudian raga berbalik menatap miguel lagi, sepasang mata cokelat pekat dari kakak tersayang yang ketulusannya tak perlu diragukan lagi, tak ada yang lebih menenangkan dibanding memandangi wajah yang bisa ia pelajari tiap lekuknya. raga mengulum senyum sebagai respon dari miguel yang menantikan jawaban pasti. menghela nafas, “nanti lo bakal tau sendiri, buat sekarang biar gue urus yang bisa gue urus dulu.”
“ga,”
“nggak bakal ada apapun yang terjadi ke gue kak — ya bisa aja sih gue mati sebelum rencana gue bisa dieksekusi, tapi apapun pilihan mereka kedepan gue udah siapin solusi-solusinya. lo tenang aja, gue pastiin kita semuanya aman.” raga meremat lembut tangan miguel dalam genggamannya, “lo juga, nggak perlu khawatir soal badai, orang itu gue juga yang bakal beresin entar. satu-satu, ya? masuk ke politik tuh ribetnya luar biasa, nggak bisa gue bantu mereka kemarin terus cabut gitu aja, gue bahkan nggak bisa langsung ketemu sama naka. habis ini gue masih harus ikut beberapa rapatnya mereka.”
“ga,” ia pandangi lagi sorot mata miguel yang genggam beribu asa tertuju padanya, “jaga diri baik-baik ya? jangan cuma ngandelin diri lo sendiri, andelin gue juga. jangan ngilang-ngilang kayak kemaren, angkat kalo gue telfon, bales kalo gue chat. jangan cuma bales chatnya naka terus!”
“yah, kalau naka kan prioritas kak — “
“emang gue enggak?!”
ada tawa yang terberai hingga meluluhkan wajah kesal miguel, kakaknya itu tersenyum, maju memeluk adiknya yang balas mendekapnya erat. satu kecupan dari raga ia benamkan di pucuk kepala miguel, raga mengusap bahu kakaknya sesaat sebelum pamit, “nanti gue kabarin lagi.” dan miguel mengangguk, sekali lagi meminta raga untuk menjaga dirinya baik-baik.
meninggalkan meja makan dengan hidangan yang sudah dingin, ruang tengah yang berantakan sebab sisa-sisa pecahan vas belum sempat di bereskan. ada yunan yang duduk di bangku gazebo dengan sebatang rokok terselip di jarinya kala raga keluar dari paviliun itu, raga mengambil langkah panjang tak mau repot-repot berbasa-basi dengannya sebab hilangnya fungsi merekam wajah membuatnya tak dapat mengetahui tindakan macam apa yang akan terjadi terhadapnya dari sosok suami kakaknya ini.
“bentar!” namun jika ditahan seperti ini, raga tak memiliki pilihan selain berhenti. jarak gazebo dengan tempatnya berdiri tak benar-benar dekat sebenarnya, terhalangi oleh sungai kecil yang dibuat mengelilingi taman tempat ikan-ikan koi peliharaan kakeknya berenang-renang bebas. yunan menghampirinya usai mematikan rokoknya, tangannya ia kantongi begitu mereka berhadapan. mustahil lelaki itu menanyakan keadaannya usai berperang dengan keluarganya sendiri, apalagi meminta maaf untuk yang sudah terjadi di hari kelulusan tempo hari.
belum sempat sepatah kata terlontar padanya, beberapa pekerja di taman dekat paviliun mendistraksi yunan yang kemudian memanggil salah satu dari mereka, meminta tolong agar membereskan pecahan vas di dalam sebab ia belum sempat melakukannya. hal yang kemudian membuat raga tak dapat menahan seringainya timbul, iseng ia bertanya, “duh pak yunan, tadinya masih nggak enakan nyuruh-nyuruh orang sekarang udah terbiasa ya?”
“bacot lo.” dengkusan yunan membuatnya tersenyum puas, jika naka melihatnya menggodai yunan begini pasti si cantik akan marah, misi raga yang paling berat adalah menjadi akur dengan lelaki yang sudah kepalang benci padanya ini.
“mau apa sih? gue sibuk nih, kalo sampe sudi manggil-manggil gue gini berarti yang mau lo omongin penting kan?”
“emang penting, kalo nggak penting mana sudi gue ngomong sama lo.” yunan terdiam sejenak, “mau gue benci banget sama lo, lo tetep adeknya mugel. dia khawatir banget sama lo gegara lo bikin masalah kayak kemaren. gue gatau urusan lo apa, kepentingan lo apa, tapi jangan sampe bikin mugel khawatir kayak gini lagi.”
“halah, lo kali yang khawatirin gue, yun?”
“mau lo mati juga gue nggak perduli. intinya jangan bikin masalah yang bikin mugel stress lagi.”
mustinya pembicaraan diantara mereka sudah berakhir di sini, namun dengan yunan yang masih berdiri di hadapannya kini membuat raga bersabar sebentar menunggu kiranya kalimat macam apa lagi yang akan dilontarkannya padanya. peringatan untuk tak dekat-dekat dengan naka lagi? atau dukungan emosional yang tiba-tiba muncul usai tertular miguel yang sebegitunya mengkhawatirkannya?
“lo — beneran nggak bisa liat muka orang?” adalah yang terlontar dari yunan setelah diamnya untuk beberapa lama. raga tak langsung bereaksi, mengetahui yunan tahu akan kekurangannya ini membuatnya dapat menarik asumsi bahwa miguel di belakangnya sudah berusaha semampunya membantunya agar yunan sedikit lebih bersimpati padanya, berbagai hal mungkin sudah diupayakan termasuk dengan membocorkan hal yang selama ini raga simpan setengah mati.
namun sepertinya tak masalah, raga mengulum senyum, mengangguk tanpa ragu. “iya, gue nggak bisa liat muka lo dan semua orang selama ini.”
“tapi naka bisa?” raga mengangguk, memasang wajah tak acuh seolah tak menggantungkan harapan apapun terhadap pria di hadapannya ini. yunan terdiam lagi, entah pergolakan batin macam apa yang merasukinya, raga memilih berbalik meninggalkannya begitu saja.
“gue tetep nggak kasih izin buat lo deketin adek gue.”
duh, naka. permintaanmu sulit sekali dipenuhi.
raga berbalik, menyeringai pada yunan yang masih berdiri di belakangnya.
“gue nggak pernah ngerasa butuh izin lo buat deketin naka.” jika saja mereka tak tengah berada di kediaman keluarga tanubrata, raga yakin seribu persen yunan pasti sudah menerjangnya untuk kemudian menghadiahkan satu atau dua bogem di wajahnya.
pria itu mati-matian meredam sendiri amarahnya, menendang udara dan berjalan dengan jengkel setengah mati masuk ke dalam paviliun yang ditinggalinya. raga tertawa puas, kali ini melambaikan tangannya kecil pada beberapa pekerja yang menghampirinya menawarkan bantuan. hari ini baru dimulai, suasana hatinya bagus sekali. cukup menyelesaikan hari ini, jika selesai lebih cepat maka ia akan mampir ke rumah naka untuk menagih ciuman-ciuman yang sudah dijanjikan si cantik kemarin, lalu merealisasi janji kencan di esok hari.
di perjalanan menuju gerbang utama mansion, seseorang yang tak asing di ingatannya berdiri tak jauh dari bangunan utama, cukup jelas terlihat jika ia melintas dari sana. itu badai kakaknya, berdiri mengantongi dua tangan memaksanya untuk berhenti untuk menyapa — bukannya apa, bahkan jika raga hendak lewat begitu saja, gerbang di depan sana mungkin takkan terbuka tanpa kehendak tuan muda penghasil masalah paling ahli di keluarga nomor dua setelah ayahnya.
cengkeraman tangan badai pada kaca pintu mobilnya menyadarkan raga bahwa lelaki itu tak datang dengan damai, gemuruh di dalam kepalanya bahkan dapat terbaca, dendam yang menumpuk membawa badai untuk tak bisa sekadar beramah-tamah menghadap adik kandungnya.
“anak nggak tau malu masih punya nyali buat pulang ke rumah? lo mau langsung cabut gitu aja habis bikin masalah?”
raga mengendikan bahu, “gue nggak ada niatan buat pulang. gue cuma punya kepentingan sama kak miguel, gue nggak punya pilihan selain dateng ke sini karena kak miguel tinggal di sini.”
“dari dulu lo emang ada buat bikin repot gue ya, ga? dari kecil kerjaan lo nyusahin gue terus. lo tau nggak hasil dari tindakan lo kemaren? berani-beraninya nantang papa padahal lo nggak bakal jadi apa-apa kalo bukan anak papa!”
“sorry deh kalo adanya gue bikin lo kerepotan terus, bentar lagi gue bakal mutusin hubungan sama keluarga lo jadi lo puas-puasin aja — “
“menurut lo cuma lo di sini yang punya rencana?” sedikitpun raga tak berniat untuk berlama-lama meladeni kakaknya ini, ia menatap malas badai yang tangannya tampak gemetar seolah berniat mencengkeram kaca mobilnya hingga hancur tak bersisa. “menurut lo cuma lo di sini yang pintar? yang bisa bikin rencana orang lain gagal? gue juga bisa ngabisin lo, gue abisin muka songong lo! jangan pernah mikir kalo gue, papa sama mama bakal diem aja setelah kelakuan kurang ajar lo kemaren ya ga!”
“sure. gue tunggu — kebetulan habis ini gue ada rapat sama calon walikota kita jadi bisa minggir sekarang? kalo kelamaan lo pegang bisa-bisa gue harus mampir ke carwash dan makin telat.”
badai tergelak mendengarnya, tertawa terbahak-bahak. ia mengangkat kedua tangannya menjauhkan dirinya dari mobil raga, tak menyisakan apapun dan bahkan memberikan isyarat bagi satpam di posnya untuk membukakan gerbang.
samar saat kaca pintu mobilnya mulai terangkat, suara teriakan badai merambat masuk ke dalam rungunya, “tunggu aja ga, kalo harus hancur kita bakal hancur sama-sama! gue bakal jadi orang pertama yang ngeludahin muka lo pas lo mohon-mohon buat balik ke keluarga kita! tunggu aja, ga!”
“nggak ada yang bakal mohon-mohon buat balik ke sana,” raga mendecak, meremat roda kemudi mobilnya dengan kepala memanas. dan bahkan jika keluarganya merangkai rencana-rencana kotor untuk menggagalkan tujuannya, terlalu banyak plan yang sudah raga siapkan sehingga ia takkan kehabisan akal untuk mencapai kemenangan kesekian kalinya.
dan bahkan jika tubuhnya dipeluk terlebih dahulu oleh kematian alih-alih kemenangan, kehancuran keluarganya akan terlebih dahulu mengudara sebelum api neraka menyambut ujung kuku kakinya. memang benar kata naka, mustinya ia tak terlalu banyak berjanji padanya. strategi demi strategi yang dieksekusi satu persatu mendekatkan raga dengan sabit malaikat maut yang kini melingkar dekat dengan nadinya.
sudut bibirnya tertarik, raga tertawa di tengah hening mobilnya yang melaju membelah jalanan aspal kota. seumur hidup yang singkat dimana raga tak henti-hentinya menantang kematian sebab tak ada hal yang sepadan dari hidup yang dijalaninya, dan hanya dengan hadirnya satu malaikat yang membuatnya bertekuk lutut hingga nekat membangun keberanian mengibarkan bendera perang dengan keluarga yang selama ini mengendalikannya bak boneka. untuk pertama kalinya, raga takut jika kematian datang lebih cepat dari pernikahan yang teramat ia idam-idamkan.
메타데이터
- post_id
- 197e43efbc31
- slug
- ini-bukan-rumah-197e43efbc31
- url
- https://medium.com/@kuiniverse/ini-bukan-rumah-197e43efbc31
- canonical_url
- https://medium.com/@kuiniverse/ini-bukan-rumah-197e43efbc31
- author_url
- https://medium.com/@kuiniverse
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 16:47:00