Surat Pengrajin Mimpi Kepada Dunia
Kepada Yang Terhormat, Dunia
Surat Pengrajin Mimpi Kepada Dunia
Kepada Yang Terhormat, Dunia
Tidak menyangka saya baru akan menulis ini saat perjalanan Surabaya ke Maumere, menjalankan KKN. Tidak ada sinyal, membuat portal kecil jahanam itu (gawai) mati, mengembalikan separo kesadaran saya dan teman-teman tim KKN kembali. Hanya pada saat ketenangan menjelma saya menulis ini. Well here it goes…
Jujur-ly kalian yang membaca postingan saya cukup menyadari di beberapa tahun ini saya tidak posting apa-apa, sepulangnya dari Jerman. Maka izinkanlah untuk kini saya untuk berkeluh kesah dengan penuh drama! Benci, dendam, dengki, menyekap saya. Bungkam. Mungkin cukup klise jika saya mengatakan bahwa hingga sampai sekarang “kita masih terjajah”. Memang dan benar kita terjajah dan dari program research tandem dengan suatu instansi di Freiburg Jerman tertamparlah saya sekencang-kencangnya dengan realitas itu. Terbungkamlah saya untuk menahan rasa sakit luka tamparan yang melebar itu. Nanah keluar dari arus pertanyaan-pertanyaan yang mustahil ditutup, terinfeksilah kini saya dengan kaingintahuan.
Mengapa kemeja dan dasi adalah pakaian resmi, sedangkan koteka tidak? Kenapa bahasa inggris menjadi banch mark intelektualitas seseorang? Kenapa modernitas harus dilihat dari infrastruktur gedung-gedung yang tinggi, mencakar langit, dan tersekat-sekat? Kenapa tulisan bengongan-bengongan orang Indonesia tidak bisa dibilang filsafat yang padahal Nietschze, beliau hanya bengong dan mengomel atas kegagalan kuliahnya, di suatu gubuk di padang rumput swiss, menulis dan kemudian jadi filsuf. Kenapa sebegitu sulitnya kita melegitimasi kata “menurut saya”? Begitu sulitnya untuk mempertanggungjawabkan pendapat kita sendiri. Mempertanggungjawabkan realitas imaji yang diri setiap orang Indonesia miliki yang seharusnya, utopisnya dapat berapartisipasi dengan diskursus dunia, imajinasi dunia ini yang realitasnya masih terjerat oleh kolonialisme.
Muluk-muluk ya? Pokoknya gini aja. Dari perjalanan tersebut, saya diberi anugrah rasa benci, dendam, dengki, yang membuktikan kepada diri saya bahwa dunia modern ini belum modern-modern amet. Kita masih hidup di zaman pewayangan dulu dimana sebenarnya Rahwana selama ini tidak tertimbun oleh gunung yang katanya pernah dihimpit oleh Anoman. Rahwana mungkin hanya lelah membuat gara-gara dan kini masih keliaran entah ke mana, karena itu tidak menutup kemungkinan malapetaka tidak akan menjelma dalam waktu dekat ini. Perang Alengka, perang yang disebabkan hanya karena soal percintaan monyet antar segelintir individu yang tak guna, namun harus melibatkan dan merepotkan segala makhluk jagad raya masih dapat terjadi di zaman yang paling maju ini dengan rahwana-rahwana dan Rama-Rama bentukan baru… Akan tetapi kini menjadi seorang vanguardian menurut saya sangatlah melelahkan, melelahkan jika ingin “merubah dunia ini menjadi lebih baik” — “ihh geli!”… Wong dunia ini hanya ruang tunggu menuju alam yang kekal itu kan? Seperti ruang tunggu rumah sakit yang redup, dingin, dan tidak hidup itu, seram pula jika mengingat ruang penungguan itu adalah tempat di mana orang berduka dan meneteskan air mata atas peninggalan seseorang kekasihnya atau tangisan pertama bayi atas terkejutnya melihat dunia yang mengerikan, rindu ingin kembali ke alam rahim yang hangat dan nyaman. Akan tetapi apa boleh buat! Jika… Jika saya mengatakan apa boleh buat! Jika penasaran, jika greget penasaran untuk merubahnya, penasaran apa yang akan terjadi jika bisa benar-benar merubah tatanan jagad /diskursus dunia yang terkolonialisasi ini! Dengan imajinasi saya, makhluk eksotis dari dunia ketiga ini!
Apa boleh buat, Jika diskursus dunia adalah kanvas abstrak yang dikaryakan oleh ribuan pemikir orang Barat, maka dengan cinta saya ingin berpartisipasi di dalam karya itu. Saya akan menggoreskan garis baru dengan imajinasi yang sungguh milik saya. Karena, saya adalah pengrajin mimpi!
Imagine, Aqilur
2025
메타데이터
- post_id
- 19a2ce1ca1f2
- slug
- surat-pengrajin-mimpi-kepada-dunia-19a2ce1ca1f2
- url
- https://medium.com/@aqilur04/surat-pengrajin-mimpi-kepada-dunia-19a2ce1ca1f2
- canonical_url
- https://medium.com/@aqilur04/surat-pengrajin-mimpi-kepada-dunia-19a2ce1ca1f2
- author_url
- https://medium.com/@aqilur04
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 03:48:46