← Back to list

Kepada Para Penjarah Tubuh

Sebab yang Kau Rampas Tak Pernah Hanya Kulit dan Daging

T2005 · 2026-06-08 09:27 · 0 claps · 2.2 min read
#sexual-assault #hope
Open on Medium ↗

Kepada Para Penjarah Tubuh

Sebab yang Kau Rampas Tak Pernah Hanya Kulit dan Daging

Sungguh menjijikkan melihat wajah-wajah yang dipoles bak penghuni surga. Mereka mempertontonkan kebaikan, menyebarkan senyum, dan berjalan seolah tak pernah mencela. Bangga akan budi yang telah lama kehilangan bentuknya.

Bukankah sejak kecil kita diajarkan bahwa diri adalah intan yang harus dijaga? Bahwa tubuh ini adalah rumah yang tak boleh sembarang disentuh, dan anak-anak seharusnya dibesarkan dengan rasa aman.

Lantas, sejak kapan itu menjadi alasan untuk menggerogoti tubuh dan kesucian orang lain?

Tentu tidak ada manusia berbudi yang akan mengiyakan hal demikian. Hanya mereka yang menganggap hasrat dan kehendaknya lebih tinggi daripada kemanusiaan sesamanya.

Aku teringat saat hak atas tubuh ini direnggut. Direnggut oleh mereka yang berlabel keluarga, berlaga sebagai pelindung, tetapi busuk buahnya.

Pernahkah terlintas di benak mereka bahwa perbuatan itu tak berhenti pada hari ketika semuanya terjadi?

Bahwa yang mereka renggut bukan hanya tubuh, tetapi juga rasa aman, keberanian, dan kepercayaan. Dan yang tersisa hanyalah seseorang yang perlahan belajar hidup di dalam sangkar pikirannya sendiri.

Sementara si buas menyeringai di luar sana, hidup seolah tak pernah terjadi apa-apa. Mungkin memang tak pernah mereka pikirkan. Atau mungkin mereka sadar, tetapi kepuasan mereka lebih tinggi daripada nurani.

Aku bertanya-tanya, apakah suatu hari si buas akan menelan racunnya sendiri? Apakah suatu hari ia akan tercekik oleh kebusukan yang selama ini dipeliharanya?

Inginku berteriak kepada mereka.

Bukan, kalian bukan makhluk tak berotak.

Kalian tahu.

Kalian sadar.

Kalian memilih.

Dan itulah yang membuat kalian lebih mengerikan.

Ingin kuteriakkan bahwa tubuh dan jiwa ini tak akan pernah lupa. Bahwa luka yang kalian tinggalkan tak pernah benar-benar menutup, dan setiap malam yang sunyi masih menyimpan gema dari apa yang kalian lakukan.

Dan jangan pernah berharap maaf akan datang semudah kalian meminta dunia untuk diam.

Sebab yang menyesakkan bukan hanya tangan yang merampas. Ada mereka yang memilih menutup mata, ada mereka yang menunjuk korban dan bertanya mengapa ia diam, dan ada mereka yang menyuruh melupakan demi menjaga nama baik.

Mereka yang memilih bungkam adalah kebusukan yang tumbuh di pohon yang sama. Jika kalian adalah buah busuknya, maka mereka adalah akar yang memilih memberi makan kebusukan itu.

Hari ini mungkin suaraku hanya terdengar seperti gonggongan anjing kelaparan. Hari ini mungkin amarah ini masih terkurung dalam dada.

Namun jangan pernah mengira badai telah reda hanya karena langit tampak tenang. Luka memiliki caranya sendiri untuk mengingat, dan keadilan memiliki jalannya sendiri untuk menemukan mereka yang berlari.

Aku tidak mencari belas kasihan. Aku tidak mencari pembenaran.

Aku menunggu hari ketika setiap tangan yang merampas dipaksa berhadapan dengan bayangannya sendiri. Hari ketika setiap kebusukan kehilangan tempat untuk bersembunyi. Hari ketika tubuh-tubuh yang pernah dijarah tak lagi dipaksa bungkam.

Sebab yang kalian rampas tak pernah hanya kulit dan daging.

Kalian mencoba merampas hidup seseorang.

Dan untuk itu, aku berharap dunia tak pernah memberi kalian tempat untuk bersembunyi.

Originally published at https://th2005.substack.com.


메타데이터
post_id
19d1022985bc
slug
kepada-para-penjarah-tubuh-19d1022985bc
url
https://medium.com/@th2005/kepada-para-penjarah-tubuh-19d1022985bc
canonical_url
https://medium.com/@th2005/kepada-para-penjarah-tubuh-19d1022985bc
author_url
https://medium.com/@th2005
status
ok
fetched_at
2026-06-12 07:40:50