← Back to list

The Rope We Tried to Hold, Even After It Burned Us

Rian menatap Nanda yang sejak tadi hanya tenggelam dalam layar tipis di tangannya. Cahaya ponsel memantul di wajahnya — dingin, redup…

thepocketofbluu · 2025-12-03 04:38 · 0 claps · 2.5 min read
#romance #love #burned #relationships #short-story
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 💑 · Relationships

The Rope We Tried to Hold, Even After It Burned Us

Rian menatap Nanda yang sejak tadi hanya tenggelam dalam layar tipis di tangannya. Cahaya ponsel memantul di wajahnya — dingin, redup, seolah tak menyisakan ruang untuknya lagi.

“Nan… kamu akhir-akhir ini merasa ada yang aneh?” tanya Rian pelan, seperti seseorang yang takut jawaban yang ia duga memang benar.

“Gaada. Nggak ada yang aneh. Emang kenapa?” jawab Nanda tanpa mengalihkan pandangannya, suaranya hambar, hanya setipis perhatian yang ia beri.

Rian menelan napas yang terasa berat. “Kamu nggak ngerasa aneh sama hubungan kita, Nan?”

“Kamu kenapa sih tiba-tiba bahas beginian?” suara Nanda meninggi sedikit. “Aku nyaman kok kayak gini. Nggak ada yang salah, nggak ada yang berubah.”

Rian tersenyum pahit, senyum yang menyimpan luka. “Nggak ada yang berubah? Nan… kamu bukan Nanda yang dulu. Kamu sekarang dingin. Cuek. Kayak udah nggak peduli lagi sama aku… sama kita.”

Kata-kata itu akhirnya membuat Nanda berhenti. Ponsel itu ia turunkan perlahan, seolah berat, seolah ia harus menghadapi sesuatu yang sudah terlalu lama ia hindari.

Tatapannya menembus Rian dalam, tajam — seperti seseorang yang sedang mencari alasan untuk bertahan tapi sudah terlalu lelah untuk terus berjuang.

“‘Nggak peduli.… ya?” ucap Nanda pelan, bibirnya membentuk senyum tipis yang lebih mirip luka daripada ekspresi.

“Aku cuek. Aku dingin. Kamu pikir itu muncul tiba-tiba?” Ia menarik napas panjang, suaranya mulai bergetar. “Kamu yang ngelakuin kesalahan. Tapi aku yang kamu salahin.”

Rian menunduk, namun Nanda terus bicara.

“Kamu selingkuh, Rian…” ucapnya jujur, suara itu pecah tapi tetap tegar.

“Kamu yang pergi ke pelukan orang lain. Terus kamu maksa aku balik padahal aku belum sembuh. Belum pulih sepenuhnya dari yang kamu hancurin.”

Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya mati-matian.

“Kamu maksain aku kembali… seolah nggak terjadi sesuatu. Seolah luka itu cuma hal kecil yang bisa kutinggalkan di pintu rumah,” lanjutnya, napasnya terputus-putus.

Setelah kata-kata itu, ruang di antara mereka terasa lebih luas. Setiap kalimat dari Nanda menciptakan jarak baru — jarak yang tak lagi bisa dijembatani.

Rian ingin bicara, tapi suaranya terasa menolak keluar.

“Nanda… aku cuma — ”

“Jangan.” Potongan itu lembut, tapi tegas. “Aku udah terlalu sering dengar ‘aku cuma…’ dari kamu. Ujungnya selalu sama. Kamu yang balik, aku yang belajar menelan sakit.”

Rian terdiam. Ia menggenggam kedua telapak tangannya — seakan sadar tangan Nanda tidak lagi ingin digenggam olehnya.

“Aku masih sayang sama kamu, Nan,” ucap Rian dengan suara yang hampir patah.

Nanda tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang bukan lagi permulaan, tapi tanda bahwa semuanya sudah mencapai ujungnya.

“Aku juga pernah,” katanya pelan. “Tapi rasa sayang itu pelan-pelan mati waktu aku nunggu kamu yang nggak pulang-pulang.”

Rian memejamkan mata, menahan sesak yang mengalir seperti gelombang.

“Kita bisa coba lagi kalau kamu mau,” suaranya bergetar. “Aku bakal berubah. Beneran berubah.”

Nanda menggeleng — perlahan, sangat perlahan. Namun cukup untuk mematahkan sisa harapan yang Rian genggam.

“Aku udah capek, Rian…” suaranya pecah tanpa ia inginkan. “Cinta itu nggak berhenti karena aku mau. Tapi kadang cinta berhenti sendiri ketika terlalu sering disia-siakan.”

Udara di sekitar mereka terasa tipis. Bahkan napas pun terdengar seperti beban.

“Berarti…sekarang…?” tanya Rian, meski ia tahu jawabannya.

“Ini bukan aku pergi,” ujar Nanda. “Kamu yang membuat aku berhenti tinggal.”

Hening. Hening yang tidak menunggu jawaban, melainkan menutup pintu yang sudah lama retak.

Nanda mengambil ponselnya — benda yang sejak awal jadi pelarian dari rasa sakitnya. Ia berdiri, menatap Rian untuk terakhir kalinya.

“Aku harap suatu hari kamu sadar…” Suaranya bergetar halus. “…bahwa hati yang kamu patahin hari ini, adalah satu-satunya hati yang benar-benar milih kamu tanpa ragu.”

Rian ingin menahan pergelangan tangannya, ingin meminta satu detik lagi… satu kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang sudah runtuh. Tapi ia tahu: itu hanya ego. Dan hubungan yang tinggal hanya ego, bukan cinta lagi.

Nanda melangkah pergi. Tanpa menoleh.

Tanpa tanda akan kembali.

Dan untuk pertama kalinya, Rian merasakan kekosongan yang tak sekadar hilang… tetapi hilangnya dirinya sendiri — karena satu-satunya tempat ia pulang, baru saja memilih untuk tidak menunggu lagi.


메타데이터
post_id
1a1eb23fc13d
slug
the-rope-we-tried-to-hold-even-after-it-burned-us-1a1eb23fc13d
url
https://medium.com/@dindalailliningtyasss/the-rope-we-tried-to-hold-even-after-it-burned-us-1a1eb23fc13d
canonical_url
https://medium.com/@dindalailliningtyasss/the-rope-we-tried-to-hold-even-after-it-burned-us-1a1eb23fc13d
author_url
https://medium.com/@dindalailliningtyasss
status
ok
fetched_at
2026-07-14 15:10:18