← Back to list

Donat dan Kue Bantal

Pagi itu, teh jawa mengepul di cangkir. Manis, hangat.

Dani Ramdani · 2025-08-25 17:25 · 0 claps · 2.9 min read
#ibn-sina #avicenna #esensi #aksiden
Open on Medium ↗

Donat dan Kue Bantal

Pagi itu, teh jawa mengepul di cangkir. Manis, hangat.

Di meja, delapan kue terhampar: donat dengan lubang di tengah, kue bantal dengan tubuh padat mengembang.

Keduanya lahir dari adonan yang sama. Substansi satu, bentuk berbeda.

Istri saya tersenyum, “Jangan habiskan kue bantalnya. Kakak makan donat saja.”

Sepele memang, tapi entah mengapa saya langsung teringat Ibn Sina. Kitab al-Najat. Tentang esensi dan aksiden.

Tentang apa yang membuat sesuatu “menjadi dirinya sendiri” dan apa yang sekadar tempelan, yang bisa ada atau tiada tanpa mengubah inti.

Apakah lubang pada donat itu esensi? Jelas bukan. Donat tetaplah kue meski tanpa lubang.

Tapi tanpa lubang, bukankah ia menjelma kue bantal?

Maka, apa pembeda keduanya? Bentuk. Rupa. Aksiden. Bukan substansi.

Begitu pula manusia. Apakah berbeda dari binatang karena aksiden? Ibn Sina bilang: tidak. “Ke-manusia-an” tak bisa dipahami tanpa mendahului “ke-hewan-an.”

Manusia adalah hewan, tapi hewan yang dengan akal, bahasa, dan imajinasi menjadi lebih dari sekadar hewan.

Di meja sarapan itu, saya merasa sedang menguji batas kata-kata.

Donat dan kue bantal sama adonannya, tapi kita rayakan perbedaan dengan memberi nama.

Sama halnya dengan manusia dan hewan. Ibn Sina menegaskan: tak mungkin mengerti manusia tanpa mengakui bahwa ia bagian dari hewan.

Tapi istri saya hanya nyengir. “Ah, kamu ribet sekali.”

Mungkin benar. Filsafat kadang terdengar seperti membicarakan hal remeh dengan cara yang rumit.

Tapi bukankah hidup memang menuntut kita sesekali mengganggu hal-hal sederhana?

Saya menggigit donat. Gula menempel di jari, dan kepala saya melayang ke sepuluh kategori Aristoteles yang dipinjam Ibn Sina: substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, posisi, kepemilikan, tindakan, pasif.

Seperti daftar kue di etalase: ada yang berdiri sendiri, ada yang cuma tempelan. Ada yang bisa hilang tanpa mengubah inti, ada yang jika dicabut, segalanya runtuh.

Apakah gula di atas donat itu substansi? Tidak. Ia hanya aksiden.

Hilangkan gula, donat tetap donat.

Sama halnya dengan warna putih pada baju, atau panas pada api.

Lalu, bagaimana dengan kehangatan teh jawa di pagi itu? Apakah ia sekadar aksiden dari suasana? Atau justru substansi yang membuat momen itu terasa berbeda?

Ibn Sina mungkin menjawab: aksiden. Teh bisa diganti kopi, pagi tetaplah pagi.

Substansi tetaplah waktu yang mengalir. Tapi saya ragu. Kadang aksiden justru menyingkap esensi.

Lubang pada donat itu aksiden, tapi justru di situlah identitasnya dikenali. Kita bisa bercanda: donat adalah kue yang berlubang.

Pertanyaan pun muncul: apakah esensi selalu tersembunyi di balik aksiden, atau justru tampil melalui aksiden?

Saya menatap kue bantal. Bulat lonjong, gemuk, tanpa lubang. Lebih mengenyangkan.

Donat, meski manis, punya ruang kosong di tengahnya. Apakah ruang kosong itu sekadar ketiadaan? Ataukah bagian dari makna?

Begitulah hidup. Kita sering membedakan manusia bukan dari substansinya, melainkan dari aksiden yang melekat: jabatan, status, pakaian.

Padahal semua itu bisa lenyap tanpa mengubah inti.

Tapi, tanpa aksiden, bagaimana kita saling mengenali?

Seorang ayah, misalnya, hanya bermakna karena ada anak. Relasi itulah aksiden yang melekat. Tanpanya, kata “ayah” kehilangan arti.

Saya menyesap teh yang mulai dingin. Ibn Sina pernah bilang, aksiden bisa datang dan pergi. Duduk, berdiri, panas, dingin, semua bisa berubah.

Tapi esensi? Ia menetap. Manusia tetap manusia, entah berjalan, berlari, atau terbaring.

Namun, benarkah begitu? Bagaimana dengan manusia yang kehilangan akal? Apakah ia tetap manusia penuh, atau hanya tubuh yang bernapas?

Di sinilah filsafat berubah jadi kegelisahan.

Kita mencari inti, tapi hidup terus-menerus melarutkan kita dalam aksiden.

Kita menginginkan yang tetap, tapi yang kita temui selalu berubah, bahkan dalam hal kecil seperti kue di meja.

Donat dan kue bantal. Sama adonan, berbeda rupa.

Dan siapa yang bisa menyangkal, aksidenlah yang membuat kita memilih?

Istri saya lebih suka kue bantal, saya lebih suka donat. Dari aksiden itulah percakapan kecil di meja menjadi hangat.

Saya teringat kalimat Ibn Sina: “Tidak ada kejamakan kecuali ada kesatuan di dalamnya.”

Ia menulis itu tentang benda-benda alami. Tapi bukankah juga berlaku bagi manusia, bagi hidup?

Donat dan kue bantal berbeda, tapi kita tahu keduanya lahir dari satu adonan. Seperti kita, dengan segala perbedaan, tetap bagian dari substansi yang sama.

Dan mungkin itulah sebabnya kita terus mencari.

Di antara gula yang menempel di bibir, di antara senyum sederhana pasangan, di antara filsafat yang berliku.

Pertanyaannya tetap sama: Apa yang benar-benar membuat sesuatu menjadi dirinya sendiri?

Substansi yang tersembunyi, atau aksiden yang kita rayakan setiap hari?


메타데이터
post_id
1a664a561a51
slug
donat-dan-kue-bantal-1a664a561a51
url
https://medium.com/@dani-ramdani/donat-dan-kue-bantal-1a664a561a51
canonical_url
https://medium.com/@dani-ramdani/donat-dan-kue-bantal-1a664a561a51
author_url
https://medium.com/@dani-ramdani
status
ok
fetched_at
2026-07-17 23:41:04