← Back to list

Liturgi Mata Yang Tak Berkedip

"Di mana istirahat menjadi hukuman, dan mengingat adalah kutukan."

Seeders · 2026-05-16 02:39 · 0 claps · 4.3 min read
#short-story #literary-fiction #psychological-fiction #renungan #sastra-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Liturgi Mata Yang Tak Berkedip

Jam dinding di dinding seberang tidak berdetak. Ia hanya menggerogoti waktu, mengunyah detik demi detik hingga tersisa ampas keheningan yang kental.

Pukul 01:17. Angka-angka merah itu bukan penunjuk waktu, melainkan vonis.

Aku berbaring telentang. Selimut terasa seperti lapisan tanah basah yang baru digali, berat dan lembap, menekan dada hingga nafasku menjadi barang pinjaman. Langit-langit kamar bukanlah plester putih; ia adalah layar bioskop rusak yang memaksa memutar ulang film-film yang tidak pernah aku minta untuk ditonton.

Aku bukan malaikat. Aku bukan hakim. Aku hanyalah wadah pembuangan bagi kotoran-kotoran emosional orang lain yang mereka ludahkan sembarangan di siang hari, dan yang kini, di malam hari, merayap kembali masuk melalui pori-pori kulitku.

Siang tadi, dunia berfungsi dengan efisiensi mesin yang berminyak darah.

Di minimarket, udara berbau plastik terbakar dan diskon palsu. Seorang kasir perempuan, mungkin berusia dua puluh tahun, berdiri di balik konter. Matanya kosong, seperti dua lubang hitam yang telah lama menyerap semua cahaya harapan. Saat seorang pelanggan marah-marah karena kuponnya tidak berlaku, gadis itu tidak membantah. Ia hanya menunduk.

Namun, aku melihatnya. Di balik meja kasir, di antara tumpukan struk belanja yang kusut, jari-jarinya mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih, lalu kebiruan. Air matanya tidak jatuh. Air matanya menguap di dalam tenggorokannya, menjadi asam lambung, menjadi bisul diam-diam di perutnya. Orang-orang di antrean belakang hanya melihat punggung gadis itu. Mereka melihat efisiensi. Aku melihat sebuah pemakaman kecil yang sedang berlangsung di dalam rongga dadanya.

Aku tidak melakukan apa-apa. Aku membayar barangku, mengambil kembalian, dan pergi. Kekecutanku terasa manis di lidah, seperti gula pasir yang larut dalam kopi pahit. Aku merasa jijik pada diriku sendiri, dan rasa jijik itu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa lebih hidup daripada mereka.

Pukul 02:43. Kamar tidurku mulai menyusut. Dinding-dindingnya mendekat, bernapas.

Gambaran berikutnya muncul tanpa permisi. Halte bus di persimpangan jalan. Hujan gerimis yang tidak cukup deras untuk membersihkan kota, tapi cukup untuk membuat segalanya tampak kotor dan licin.

Seorang lelaki tua, dengan jas hujan plastik transparan yang sobek di bagian siku, berdiri menggigil. Seorang pemuda berlari melewatinya, bahu pemuda itu menghantam lengan lelaki tua itu dengan keras. Bukan kecelakaan. Itu adalah ketidaksabaran yang disengaja.

“Minggir, Kakek! Jangan jadi batu sandungan!”

Suara itu masih bergema di gendang telingaku, tajam seperti pecahan kaca. Lelane tua itu tidak jatuh. Ia hanya terhuyung. Tangannya—tangan dengan kulit setipis kertas bekas, penuh bercak usia dan urat-urat yang menonjol seperti akar pohon kering—gemetar hebat. Ia mencoba memegang tiang halte untuk menyeimbangkan diri, tetapi getaran itu tidak berhenti. Getaran itu menjalar dari tangannya, ke bahunya, ke tulang rusuknya, hingga ke matanya yang berkaca-kaca.

Aku berdiri lima meter darinya. Aku melihat gemetar itu. Aku melihat bagaimana martabat seorang manusia bisa hancur hanya karena satu sentuhan bahu yang arogan. Dan aku? Aku tetap diam. Kakiku tertanam di aspal, seolah-olah akar-akar ketakutan telah tumbuh dari sol sepatuku. Aku memilih untuk menjadi penonton. Karena menjadi penonton itu aman. Menjadi penonton itu “tidak melakukan apa-apa.”

Tapi sekarang, di tempat tidur ini, kebersihan itu terasa seperti nanah.

Pukul 04:12. Batas antara aku dan mereka telah hilang.

Retakan di langit-langit kamar berubah menjadi garis-garis wajah kasir yang menahan tangis. Suara dengungan lemari es berubah menjadi deru napas lelaki tua yang tercekik amarah. Seekor kucing liar yang kemarin sore kutendang karena ia menghalangi jalanku saat aku terburu-buru—kini duduk di ujung kakiku. Bulunya basah, matanya menyala hijau dalam kegelapan, menatapku dengan tuduhan yang sunyi.

“Kau pikir kau peduli?”

Suara itu bukan dari luar. Itu suaraku sendiri, dari masa lalu, ketika seseorang pernah menampar wajahnya dengan kata-kata itu. “Kau tidak peduli. Kau hanya menikmati rasa superioritasmu karena bisa melihat penderitaan orang lain sementara mereka buta. Kau merasa suci karena kau menderita bersama mereka dalam kepalamu, padahal tubuhmu tetap hangat dan kenyang.”

Kalimat itu benar. Itulah kekotoran yang paling menjijikkan. Aku tidak menyimpan ingatan-ingatan ini karena aku baik hati. Aku menyimpannya karena aku kecanduan pada rasa sakit orang lain. Rasa sakit merekalah yang mengisi kekosongan di dalam diriku yang hampa. Aku adalah vampir emosional yang kelaparan, dan insomnia adalah lapar yang tak pernah puas.

Guillermo Rosales pernah menulis tentang orang-orang yang hancur oleh kenyataan telanjang. Aku adalah salah satunya. Aku hancur bukan karena tragedi besar, tapi karena akumulasi dari ribuan kejahatan kecil yang diabaikan dunia. Dan aku membiarkannya. Aku membiarkan diriku menjadi tempat sampah bagi dosa-dosa kecil umat manusia.

Pukul 05:58. Subuh.

Cahaya pertama menerobos masuk melalui celah jendela, tipis dan pucat, seperti pisau bedah yang membelah kegelapan kamar. Debu-debu menari di dalam sinar itu, indah dan mengerikan.

Aku tidak tidur. Tidur adalah kemewahan bagi mereka yang bisa melupakan. Tidur adalah anugerah bagi mereka yang percaya bahwa dunia ini baik-baik saja. Aku tidak memiliki kemewahan itu. Aku dikutuk untuk mengingat.

Perlahan, aku duduk di tepi tempat tidur. Tulang-belulangku berbunyi, protes terhadap beban yang tidak terlihat. Air mata adalah bentuk pelepasan, dan aku tidak berhak untuk melepaskan apa pun. Aku harus menanggungnya. Ini adalah salibku.

Aku bangkit. Kakiku menyentuh lantai dingin. Aku berjalan ke cermin. Wajah di sana pucat, mata cekung dengan lingkaran hitam yang dalam seperti sumur tanpa dasar. Tapi di dalam mata itu, ada sesuatu yang menyala. Sebuah kesadaran yang tajam dan dingin.

Aku akan keluar. Aku akan mengenakan kemeja, mengikat sepatu, dan langkah keluar ke dunia yang sama. Aku akan melihat kasir lain yang menangis diam-diam. Aku akan melihat tangan lain yang gemetar. Aku akan melihat kucing lain yang tersingkir.

Dan aku akan mencatatnya semua. Bukan untuk mengubah dunia. Dunia tidak butuh diubah; dunia butuh disaksikan. Dan selama aku masih terjaga, selama aku masih merasakan jijik dan sakit ini, maka kemanusiaan belum sepenuhnya mati. Itu adalah satu-satunya harapan yang tersisa: bahwa ada setidaknya satu orang yang tidak bisa menutup matanya.

Aku membuka pintu. Udara pagi masuk, membawa bau asap kendaraan dan janji akan kekerasan baru.

Aku tersenyum tipis. Senyum yang tidak ramah.

Aku siap untuk dihukum lagi hari ini.

… Tonton versi video di YouTube: https://youtube.com/@lighterio


메타데이터
post_id
1a7f512dd008
slug
liturgi-mata-yang-tidak-berkedip-1a7f512dd008
url
https://medium.com/@seeders/liturgi-mata-yang-tidak-berkedip-1a7f512dd008
canonical_url
https://medium.com/@seeders/liturgi-mata-yang-tidak-berkedip-1a7f512dd008
author_url
https://medium.com/@seeders
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13