← Back to list

Persaksian Terbesar, Sudahkah Diwujudkan?

Ini pembeda antara muslim dengan kafir. Bukan sekedar perkataan, tetapi persaksian terbesar.

~ menulis · 2023-10-06 02:24 · 0 claps · 5.4 min read
#syahadat #islam #kafir #tauhid #khutbah
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Persaksian Terbesar, Sudahkah Diwujudkan?

Ini pembeda antara muslim dengan kafir. Bukan sekedar perkataan, tetapi persaksian terbesar.

*Dengarkan Audio 📻 untuk mendengarkan audio, buka di chrome atau web browser lainnya Ikuti di Telegram ✈️*

Khutbah Pertama

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللَّهُمَّ صَل عَلى مُحَمَّدٍ، وعَلى آل مُحَمَّدٍ، كَما صَلَّيْتَ عَلى إبْراهِيمَ، وعَلى آل إبْراهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أما بعد ,فإن خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ محدثاتُها وكلَّ محدثة بدعة وكل بدعةٍ ضلالةٌ و كل ضلالة في النار

Khutbah Pertama

Jama’ah jum’at a’azzanii wa a’azzakumullahu.

Urgensi Persaksian

Persaksian adalah hal penting. Mempersaksikan sebuah hal, atau memberikan pengakuan terhadap suatu kondisi.

Persaksian itu bertingkat-tingkat kedudukannya. Ada yang biasa, ada yang penting, ada yang lebih penting, ada yang terpenting.

Di antara hal yang menjadikan persaksian itu bertambah tingkat urgensi/ kepentingannya/ kedudukannya, adalah pihak yang melakukan persaksian.

Seorang anak kecil bisa memberikan persaksian, namun persaksian seorang dewasa tentu lebih mempunyai kedudukan yang tinggi daripada persaksian seorang anak kecil.

Seorang staf di sebuah kantor bisa memberikan persaksian, namun persaksian yang diberikan oleh kepala kantor tersebut tentu lebih dianggap penting.

Demikian pula kesaksian rakyat biasa, tentu berbeda dengan persaksian seorang kepala daerah. Dan persaksian kepala daerah dibanding persaksian kepala negara, tentu kita tahu jawabannya, akan lebih penting persaksian seorang kepala negara.

Demikianlah, persaksian itu bertingkat-tingkat, semakin tinggi kedudukan pihak yang bersaksi, semakin tinggi kekuatan dan urgensi persaksian tersebut.

Persaksian Terbesar

Maka bagaimana jika yang memberikan persaksian adalah pihak yang mempunyai kedudukan tertinggi. Dzat yang memiliki kekuasaan mutlak. Pencipta dan penguasa alam semesta ini.

Bagaimana jika yang memberikan persaksian itu adalah Allah, Rabbul Alamin?

Allah ﷻ berfirman

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ

Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia… [Ali Imran : 18]

Adakah persaksian yang lebih besar dari ini?

Inilah persaksian terbesar. Bersama dengan satu persaksian lagi Yang merupakan pelengkapnya. Tidak akan sempurna yang pertama, kecuali dengan yang kedua. Demikian pula sebaliknya, tidak akan sempurna yang kedua, kecuali dengan yang pertama.

Yaitu persaksian kita atas diri Nabi ﷺ. Bahwa beliau adalah hamba utusanNya.

Itu yang kita kenal dengan istilah: dua syahadat; syahadatain.

Pembeda Muslim dengan Kafir

Dua persaksian tersebut adalah pintu untuk masuk ke dalam agama yang mulia ini. Sebagai pembeda, mana muslim dan mana kafir.

Istilah muslim dan kafir adalah istilah syar’i. Istilah yang Allah gunakan dalam kitabnya Istilah yang nabi gunakan dalam sabda-sabdanya.

Karena memang demikianlah kenyataan yang ada. Manusia ada dua kelompok besar. Ada yang muslim dan ada yang kafir.

Ada yang meyakini Allah sebagai tuhannya, dan tunduk serta taat terhadap perintahNya. Ada yang meyakini bahwa tuhannya adalah dewa ini, dewa itu, pihak ini dan pihak itu, kemudian memberikan ketundukan dan ketaatan terhadap pihak tersebut. Dan ada juga yang meyakini bahwa Allah tuhannya, tetapi juga meyakini adanya sesembahan-sesembahan yang lain.

Inilah kondisi manusia, terbagi menjadi 2 kelompok besar, muslim dan kafir.

Maka pintu masuk yang akan menjadi pembeda antara muslim dengan kafir, ada pada dua persaksian tersebut.

Hal ini sebagaimana kalimat pertama yang Nabi ﷺ sabdakan ketika beliau ditanya, apa itu Islam? Beliau menjawab

الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Jama’ah sekalian, a’azzakumullahu mari kita sejenak mencermati dua persaksian ini.

Persaksian Pertama

Persaksian pertama, yaitu kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ yang artinya adalah tidak ada pihak yang berhak untuk disembah dengan benar kecuali Allah.

Ini makna yang benar ketika kita mengatakan kalimat tersebut.

Jika hanya dikatakan tidak ada tuhan selain Allah, maka terjemahan ini tidak benar.

Karena pada kenyataannya ada banyak tuhan-tuhan, sesembahan yang disembah manusia. Ada yang menyembah Isa. Ada yang menyembah Uzair. Ada yang menyembah kubur. Dan semua sesembahan itu tidak benar, tidak berhak diberikan persembahan.

Oleh karena itu kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ini harus dimaknai dengan makna yang benar, yaitu tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah.

Rukun لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Untuk mewujudkan kalimat tersebut dengan benar, harus memenuhi dua rukunnya.

Sebagaimana shalat, rukun-rukunnya harus dipenuhi. Jika tidak, shalatnya tidak benar. Maka syahadat pun harus dipenuhi rukun-rukunnya. Jika tidak, syahadatnya pun tidak benar

Pertama, nafi; meniadakan seluruh sesembahan dan wajib mengingkari semua sesembahan selain Allah.

Kedua, itsbat; menetapkan hanya Allah-lah yang berhak diberikan peribadahan dan memenuhi semua konsekuensi penetapan tersebut.

Kesimpulan

Tidak ada sekutu dalam peribadahan, sebagaimana tidak ada sekutu dalam kepemilikan.

Adakah yang mencipatakan, memiliki, dan mengurusi, bumi, langit serta seluruh makhluk ini selain Allah?

Jika tidak ada — dan memang tidak ada, maka hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah tanpa dipersekutukan sedikitpun.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم

Khutbah Kedua

الحمدلله حمداً كثيرًا طيباً مباركاً فيه كما يُحب ربي ويرضي

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللَّهُمَّ صَل عَلى مُحَمَّدٍ، وعَلى آل مُحَمَّدٍ، كَما صَلَّيْتَ عَلى إبْراهِيمَ، وعَلى آل إبْراهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Jama’ah a’azzakumullahu.

Persaksian Kedua

Persaksian kedua yang menjadi penyempurna persaksian pertama adalah kalimat

وَأَنَّ مُحَمَّدًا عبده رَسُولُه

Nabi ﷺ adalah hamba dan utusan Allah.

Hamba

Beliau adalah hamba. Kita meyakini bahwa beliau manusia biasa. Beliau hamba, beliau manusia, yang tidak naik derajatnya melebihi kondisi manusia biasa. Tidak naik derajatnya sampai memiliki sifat-sifat ketuhanan.

Sehingga beliau tidak berhak diberikan peribadahan, karena memang bukan tuhan, dan tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan. Beliau hanya manusia biasa.

Pembawa Risalah

Dan bersamaan dengan itu, beliau adalah rasul. Sang pembawa risalah tuhan. Yang melalui beliaulah risalah itu diturunkan dari langit kepada kita, jin dan manusia.

Hanya melalui beliau sajalah pintu risalah itu. Tidak ada pintu selain beliau.

Makna Syahadat Rasul

Persaksian ini harus dipahami dengan benar agar tidak hanya menjadi formalitas, tetapi menjadi sebuah persaksian yang diwujudkan konsekuensinya.

Makna persaksian tersebut mencakup empat hal.

  1. Menta’ati apa yang beliau perintahkan.
  2. Membenarkan apa yang beliau kabarkan.
  3. Menjauhi apa yang beliau tegur dan larang.
  4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

Maka hendaknya kita selalu berusaha mentaati perintah Nabi ﷺ, meskipun mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita.

Selalu membenarkan kabar yang beliau sampaikan. Baik itu masa lalu maupun masa depan. Meskipun mungkin ada yang belum dapat kita pahami secara akal.

Selalu berusaha menjauhi apapun yang beliau larang. Karena beliau adalah Nabi yang sangat penyayang. Beliau tidak ingin umatnya salah dan tertimpa keburukan.

Dan selalu semangat dalam mengikuti setiap tuntunan dari beliau. Meyakini bahwa ajaran ini telah beliau sampaikan seluruhnya secara sempurna. Tidak ada yang tertinggal, sehingga tidak perlu lagi membuat-buat tata cara baru dalam beribadah.

Kesimpulan

Inilah dua persaksian terbesar yang harus kita wujudkan dalam kehidupan. Yang menjadi pembeda antara muslim dengan kafir.

Persaksian yang mengandung dua rukun. Pertama, keikhlasan. Hanya beribadah kepada Allah dan tidak pada selainNya. Kedua, mutaba’ah. Hanya beribadah dengan apa yang Nabi syariatkan tanpa membuat hal baru yang tidak pernah dicontohkan.

Dua rukun yang hendaknya kita perjuangkan sepanjang kehidupan kita. Dengan harapan semoga kita bisa mengakhiri kehidupan tetap di atas keislaman. Di atas keyakinan yang benar dan agama yang lurus.

Demikian, semoga bermanfaat.

Doa

اللَّهُمَّ صَل عَلى مُحَمَّدٍ، وعَلى آل مُحَمَّدٍ، كَما صَلَّيْتَ عَلى إبْراهِيمَ، وعَلى آل إبْراهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُم كَمَا رَبَّونَا صِغَارًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله رب العالمين

Referensi


메타데이터
post_id
1abca155dafa
slug
persaksian-terbesar-sudahkah-diwujudkan-1abca155dafa
url
https://medium.com/@fawaid/persaksian-terbesar-sudahkah-diwujudkan-1abca155dafa
canonical_url
https://medium.com/@fawaid/persaksian-terbesar-sudahkah-diwujudkan-1abca155dafa
author_url
https://medium.com/@fawaid
status
ok
fetched_at
2026-08-26 10:57:38