Rupa Indah Pendar Bintang di Antara Dingin Angin Malam
“Eh mbak, coba lihat ke atas. Ada bintang, tuh. Tumben bintangnya kelihatan ya, mbak. Padahal kalau lagi angin gini, langitnya sering…
Rupa Indah Pendar Bintang di Antara Dingin Angin Malam
“Eh mbak, coba lihat ke atas. Ada bintang, tuh. Tumben bintangnya kelihatan ya, mbak. Padahal kalau lagi angin gini, langitnya sering ketutupan awan hitam.”

- Neo1024 -
Sebuah kalimat di atas terlontar dari Bapak penjaga hik saat aku sedang menangisi lelahku setelah bekerja larut malam.
Aku seorang driver makanan online dan sudah bekerja sekitar setahun. Suatu hari setelah kuliah, aku tetap bekerja meski sedang lelah setelah aktivitas perkuliahan dari pagi sampai sore. Tetapi saat itu aku merasa baik-baik saja untuk tetap bekerja.
Malam itu aku menerima beberapa pesanan seperti biasa. Saat hendak mematikan aplikasi, masuk satu pesanan, lalu disusul pesanan lain sehingga aku harus menjalankan double order. Dalam aplikasi ojol, driver tidak bisa memilih pelanggan atau jumlah pesanan yang diterima karena semuanya diatur oleh sistem.
Pelanggan pertama tidak bermasalah, tetapi pelanggan kedua barulah cukup rewel. Aku sudah menjelaskan bahwa pesanan pertama harus diselesaikan lebih dulu karena urutannya ditentukan sistem. Namun, ia tetap marah. Ia mengaku menggunakan layanan prioritas dan terus menelepon serta mengirim pesan, meminta pesanannya diantar terlebih dahulu. Aku tidak bisa memenuhi permintaannya karena hal itu justru akan membuatku melanggar aturan aplikasi.
Setelah pesanan pertama selesai, aku menuju alamatnya. Sepanjang perjalanan, ia terus ngomel melalui fitur pesan di aplikasi, mempertanyakan apakah aku benar-benar sedang menuju lokasinya karena menurutnya titik di peta tidak bergerak. Sesampainya di sana, ia kembali memprotes keterlambatan pesanannya. Aku hanya bisa meminta maaf dan menjelaskan bahwa seluruh urutan pengantaran sudah ditentukan sistem aplikasi. Sebagai driver, kami tidak memiliki kendali untuk memilih pesanan mana yang harus diantar lebih dulu. Dia tidak bisa menerima alasan apapun. Bahkan, dia hampir tidak membayar pesanannya.
Suasana hatiku menjadi buruk di tengah malam ini. Akhirnya dia tetap membayarku setelah aku memohon dan minta maaf berkali-kali. Tepat setelah aku naik dan menyalakan motorku, aku mendengar suara tangisan anak kecil dari dalam rumahnya. Yap, cukup kencang sehingga aku yang berada di luar pagar dapat mendengarnya dengan jelas. Aku terdiam beberapa saat sampai akhirnya berpikir; oh, mungkin dia sedang lelah dengan apa yang terjadi di dalam rumahnya. Walau aku berpikir begitu, itu tetap tidak bisa menampik rasa tak enak yang menjejak di hatiku.
Aku berjalan menyusuri jalanan Slamet Riyadi dengan perasaan ingin menangis. Padahal aku juga lelah, namun apakah aku tetap harus mengalami semua ini setelah semua penatku? Aku memutuskan berhenti di sebuah hik untuk mengisi perutku yang kelupaan kuberi asupan dari sepulang kuliah.
Aku sendirian di sana sebagai pembeli. Kupesan segelas teh hangat dan semangkok soto bening khas Solo. Bapak penjaganya lumayan berumur. Kupandangi jajanan yang masih banyak tersaji di gerobaknya. Bapak bilang, penyiapan soto dan tehnya agak sedikit lama, karena tangan kanan bapaknya sakit, jadi tidak bisa bergerak cepat. Aku hanya mengiyakan apa yang ia katakan.
Beberapa kali kuurungkan niatku untuk bertanya perihal sakitnya, namun seringnya kuurungkan. Tapi aku berakhir tetap menanyakannya, apa sebab tangan bapak sakit? Dia bilang kalau dia baru saja jatuh kemarin dari sepedanya saat pulang dari masjid. Ada seorang anak kecil sepertinya sedang bermain dengan kawan-kawannya dan berlari menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Berakhir menyambar Bapak yang bersepeda untuk pulangnya. Anak itu kabur, sepertinya dia takut dengan Bapak karena memanggil bocah itu. Padahal Bapak hanya ingin bertanya apakah dia terluka, mengabaikan keadaannya sendiri yang memang jelas sakit.
Kemudian aku bertanya; apakah Bapak sudah periksa? dan; mengapa tidak istirahat saja jika memang masih sakit? Bapak bilang tidak memiliki uang yang cukup untuk pergi berobat, juga istrinya sedang sakit di rumah, susah jalan katanya. Nanti kalau tidak bekerja, Bapak tidak punya uang. Nanti kalau bapak berobat, uang untuk obat istrinya tidak akan cukup. Katanya lagi; halah, mbak, wong gini tok ae aku yo sek kuat. Aku diparingi urip yo sek Alhamdulillah marang Gusti Allah, mbak.
Aku terdiam. Soto bening panas dan teh hangat itu kemudian tersaji di depanku. Sesudah menyajikan makanan itu, bapak duduk di kursi seberangku. Kami duduk berhadap-hadapan. Bapak bertanya-tanya tentang pekerjaanku, apa statusku, dan lain sebagainya. Kubilang aku mahasiswi yang juga seorang ojol. Ia bertanya, apa aku tidak lelah atau tidak takut? Karena aku perempuan dan bekerja di malam hari setelah seharian berkuliah. Kukatakan bahwasanya aku berani dan tidak apa-apa. Lagipula aku sedang luang malam itu, makanya aku pergi bekerja.
Bapak mengangguk pelan. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya tetap hangat. Obrolan kami berlanjut setelah itu.
“Ya semua orang sedang berusaha, Mbak,” katanya sambil menepuk-nepuk lututnya sendiri. “Ada yang bekerja untuk anak, bekerja untuk orang tua, kerja untuk sekolah, atau bahkan kerja untuk hidup. Ga ada yang mudah, Mbak.”
Aku hanya menatap mangkuk soto di depanku. Uapnya naik perlahan, membuat kacamataku berembun dan pandanganku buram.
“Kadang aku mikir,” lanjut Bapak, “barangkali orang yang suka marah-marah itu sedang memiliki masalahnya sendiri. Orang yang sedang senang pun belum tentu hidupnya enak. Makanya kalau ketemu orang lain, sebaiknya saling mengerti saja.”
Entah mengapa, kalimat itu seperti menyentuh sesuatu yang sejak tadi kutahan. Dadaku terasa sesak. Aku menunduk, menggenggam sendok erat-erat. Tanpa sempat kutahan lagi, air mataku jatuh. Aku malu. Aku bahkan tidak mengenal Bapak ini. Namun malam itu rasanya aku sudah terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja.
“Loh, Mbak, kenapa nangis?’ tanya Bapak itu.
Kuceritakan apa yang kualami tadi padanya. Sedang Bapak mendengarkan semua ceritaku tanpa menyela. Ia mendongakkan kepalanya setelah aku selesai berbicara.
“Mungkin buat dia itu cuma makanan yang telat beberapa menit. Tapi buat saya…” aku mengusap mata, “rasanya seperti semua beban hari ini ditumpuk jadi satu.”
Bapak mengangguk pelan. Kemudian berkata, “nah, itu yang sering dilupakan orang.”
Aku mengangkat kepala.
“Setiap orang punya lelahnya sendiri-sendiri,” lanjutnya. “Tapi seharusnya lelah itu tidak boleh dilampiaskan ke orang lain. Tiap orang kan membawa lelahnya masing-masing.”
Ia tersenyum tipis.
“Kalau pelanggan itu lagi kesal, ya mestinya tidak melampiaskan ke Mbak. Kalau Bapak sakit tangan begini terus marah-marah ke pembeli, ya tidak betul. Kalau Mbak capek terus bentak temen-temen Mbak, ya ga bener juga.”
Aku terdiam mendengarkannya.
“Kadang manusia lupa kalau orang di depannya itu juga manusia,” katanya. “Padahal yang nganter makanan itu manusia. Yang masak makanan itu manusia. Yang jualan di pinggir jalan ini juga manusia. Semuanya sama-sama sedang berusaha hidup.”
“Jadi, Mbak,” kata Bapak sambil berdiri perlahan, “jangan terlalu lama menyimpan omongan orang yang bahkan tidak tahu perjuanganmu. Dengarkan kalau memang ada yang perlu diperbaiki. Tapi kalau itu cuma kemarahan yang dilempar sembarangan, ya biarkan berhenti di Mbak. Jangan dibawa pulang, jangan diberikan ke orang lain lagi.”
Aku mengangguk pelan. Sejenak aku merasa malam itu menjadi lebih tenang setelah itu.
“Karena kalau semua orang meneruskan rasa sakitnya ke orang berikutnya, dunia ini isinya cuma orang-orang yang saling melukai.”
Bapak tersenyum lagi.
“Tapi kalau ada satu orang saja yang memilih berhenti, memilih memahami, memilih memaafkan, rantainya putus di situ.”
Aku menatap wajahnya yang mulai dipenuhi kerutan usia. Tangan kanannya masih tampak kaku saat mengusir lalat-lalat yang berterbangan di atas jajanannya. Hidupnya jelas tidak lebih ringan dariku. Bahkan mungkin jauh lebih berat. Namun dari mulut orang yang menanggung begitu banyak kesulitan itu, tidak keluar satu pun keluhan. Aku heran bagaimana akhirnya ia bisa memeluk ikhlasnya sampai bisa mengatakan hal-hal yang sarat makna padaku ini di tengah malam.
Bapak itu menengok ke atas langit dan berkata padaku untuk sebaiknya lihat bintang saja. Bintangnya bagus, padahal ini anginnya sedang dingin, katanya. Sayang bintang secantik itu tidak dinikmati, barangkali sedihku reda setelah menikmati bintang itu.
Aku menengadah ke atas. Betulan indah. Boleh jadi aku disuruh menyingkap hal-hal kecil nan indah yang mampu menampik sedih yang menyelimuti hatiku. Dan untuk pertama kalinya sejak pelanggan itu memarahiku, aku merasa baik-baik saja.
메타데이터
- post_id
- 1b413bca54f9
- slug
- rupa-indah-pendar-bintang-di-antara-dingin-angin-malam-1b413bca54f9
- url
- https://medium.com/@neo.1024/rupa-indah-pendar-bintang-di-antara-dingin-angin-malam-1b413bca54f9
- canonical_url
- https://medium.com/@neo.1024/rupa-indah-pendar-bintang-di-antara-dingin-angin-malam-1b413bca54f9
- author_url
- https://medium.com/@neo.1024
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 12:17:11