Sowan Dan Politik Apakah Sebuah Keberkahan Atau Menang Pencalonan?
Oleh: M Athaya Adiwinarta
Sowan Dan Politik Apakah Sebuah Keberkahan Atau Menang Pencalonan?
Oleh: M Athaya Adiwinarta

Source google
Dalam konteks budaya Jawa, sowan merujuk pada aktivitas mengunjungi atau bersilaturahmi kepada individu-individu yang dianggap alim, seperti kyai, guru, atau orang yang lebih tua. Melalui sowan, kita biasanya berharap untuk menerima nasihat atau pesan yang baik yang dapat membimbing kita menuju jalan yang lebih baik, serta mendapatkan dukungan moral dari sang Kyai.
Makna sowan itu sendiri sangat luas dan memiliki nilai keagamaan yang tinggi, karena praktik ini berakar pada nilai-nilai ajaran yang kuat dan berkaitan erat dengan etika serta moral, seperti sikap rendah hati (ta’dzim) dan upaya membangun silaturahmi. Selain itu, terdapat juga konsep barokah atau berkah, yang dalam kalangan santri sering diartikan sebagai peningkatan kebaikan, atau ziyadatul khair.
Namun, ada juga sejumlah orang yang menyalahartikan makna sowan, padahal pemahaman tentang sowan itu sendiri sangat sakral dalam praktiknya. Sowan kadang-kadang dijadikan sebagai alat dalam komodifikasi agama, yaitu proses di mana aspek-aspek yang berkaitan dengan agama diubah menjadi produk yang dapat diperjualbelikan. Secara umum, ini adalah proses di mana praktik, atau ajaran keagamaan diperlakukan sebagai barang yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan non agama, terutama untuk kepentingan material atau politik. Fenomena ini menjadi menarik untuk dianalisis dalam konteks agama, karena terdapat pertentangan antara nilai moral yang terkandung dalam sowan dan label komersialisasi agama itu sendiri.
Persimpangan penting antara sowan politik dan komodifikasi agama terjadi ketika praktik ini digunakan sebagai alat. Dalam konteks politik, ini terlihat melalui penggunaan narasi keagamaan, penyalahgunaan simbol dan atribut agama, serta pemanfaatan tokoh agama sebagai “endorse” politik. Kunjungan politisi ke tokoh agama, seperti sowan ke pondok pesantren, dapat menjadi jembatan bagi politisi untuk mengkomodifikasi agama. Jika kunjungan tersebut secara berlebihan diekspos untuk tujuan pencitraan politik misalnya, foto foto yang menonjolkan kedekatan dengan kyai terkemuka, atau narasi yang menekankan “restu” spiritual tanpa konteks bisa jadi merupakan bentuk komodifikasi, ataupun adanya keberpihakan karena mengikuti kesamaan ormas yang dianut.
Tokoh agama yang menerima sowan juga sering menghadapi dilema moral, antara menjaga kepercayaan sosial dan tuntutan politik praktis yang berpotensi mengurangi keberpihakan mereka. Dampak dari komodifikasi agama ini sangat signifikan. Pertama, nilai-nilai keagamaan terancam mengalami degradasi dan menjadi dangkal, di mana agama tidak lagi dianggap sebagai pedoman hidup, melainkan hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik. Kedua, komodifikasi agama melalui sowan merupakan ancaman serius bagi demokrasi yang sehat karena dapat mendorong politik identitas yang sempit, memicu polarisasi sosial, dan melemahkan rasionalitas dalam proses politik.
Salah satu kenyataannya ada beberapa oknum yang menyalahgunakan istilah sowan tersebut, salah satunya seperti yang saya temui di sebuah Pondok Pesantren di daerah Bantul, dimana pada saat itu sedang beberapa bulan lagi menuju pemilihan presiden tahun 2024, dimana hal itu pasti banyak politisi berlomba lomba mencari sebanyak mungkin suara, di mana hal ini menjadi salah satu legitimasi dan validasi dari khalayak banyak. Dengan adanya citra seorang kyai yang terkenal di mata masyarakat, pasti dapat membangun pengaruh besar terhadap suara yang dihasilkan. Selain itu, ini juga membangun legitimasi bahwa seorang politisi akan dianggap baik ketika melakukan sowan, karena sowan sendiri sudah dianggap sebagai kegiatan yang sakral dan memiliki aspek spiritual yang tinggi.
Dengan pola pikir yang sudah mengakar dalam kognitif masyarakat tentang orientasi sowan, mereka menganggap bahwa kehadiran seorang politisi yang melakukan sowan akan menciptakan citra publik yang positif. Moment pemilu tahun 2024 kemarin juga menambah wawasan di mata masyarakat lain, dan dengan adanya media sosial yang terus berkembang, berita seperti ini menyebar dengan cepat, yang kemungkinan akan meningkatkan keterlibatan di setiap platform yang ada. Di sisi lain, sowan juga merupakan interpretasi tentang makna tawadu’ yang berkaitan dengan sikap rendah hati dan penghormatan terhadap orang yang lebih tinggi, serta menekan superioritas dari orang yang melakukan sowan itu sendiri. Nilai ideal dari sowan adalah meminta doa dan petunjuk untuk kelancaran segala urusan, termasuk dalam karir berpolitik. Hal ini juga mempengaruhi asumsi masyarakat bahwa seorang politisi yang melakukan sowan dan memiliki kesamaan dengan ormas di daerah mereka pasti akan membawa kebaikan dalam pemerintahan ke depannya, sesuai dengan kepercayaan terkait ajaran ormas tersebut.
Dengan cara berpikir seperti ini, kita akan menafikan bahwa tidak semua citra positif akan terwujud sesuai dengan asumsi yang beredar di masyarakat. Terkadang, sowan yang terjadi hanya berfungsi sebagai pembentuk opini baru dan merupakan salah satu produk dari komodifikasi agama. Yang kemudian, makna sowan malah menjadi acuan untuk mencari suara, bukan untuk mencari berkah dan ridho dari Kyai. Akibatnya, frekuensi kunjungan atau sowan seperti ini sering kali hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu dan tidak konsisten. Kunjungan yang intens biasanya hanya berlangsung ketika ada kepentingan politik yang ingin dipenuhi, dan setelah itu, interaksi menjadi jarang.
Hal ini menimbulkan kecurigaan yang kuat bahwa sowan semacam ini tidak lagi mencerminkan tujuan mulia dari tradisi sowan itu sendiri, melainkan lebih didorong oleh kepentingan pribadi atau komunal tertentu. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua fenomena tersebut bisa di generalisir bahwa semua itu merupakan komersialisasi agama, namun pentingnya mengingat bahwa semua itu tergantung niat dan tujuan, entah untuk sebuah keberkahan, atau komoditas keagamaan
메타데이터
- post_id
- 1b5b4e9c030e
- slug
- sowan-dan-politik-apakah-sebuah-keberkahan-atau-menang-pencalonan-1b5b4e9c030e
- url
- https://medium.com/@syahadatpondok20/sowan-dan-politik-apakah-sebuah-keberkahan-atau-menang-pencalonan-1b5b4e9c030e
- canonical_url
- https://medium.com/@syahadatpondok20/sowan-dan-politik-apakah-sebuah-keberkahan-atau-menang-pencalonan-1b5b4e9c030e
- author_url
- https://medium.com/@syahadatpondok20
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31