← Back to list

#4: Hujan dan Skripsian

Pin

desertverse · 2026-04-30 00:14 · 0 claps · 2.9 min read
#fanfic #fanfiction #alternative-universe #nakamoto-yuta #angst
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space ✍️ · Writing & Creative

#4: Hujan dan Skripsian

Pin

Pin

Jogja di musim penghujan seolah punya sihir untuk memperlambat waktu. Sore itu, selasar perpustakaan kampus yang dingin dipenuhi oleh aroma kertas tua dan bau tanah basah dari luar. Naura duduk bersila di lantai, kepalanya terasa mau pecah karena tumpukan jurnal yang revisinya sudah mencapai angka yang malas ia hitung. Matanya mulai panas, dan setetes air mata jatuh tepat di atas paragraf abstraknya.

“Ra, jangan nangis di sini. Nanti dikira penunggu perpus lagi dapat jatah revisi,” suara rendah itu muncul dari samping.

Nino duduk di sana, meletakkan buku sketsanya. Ia memperhatikan Naura yang sudah berantakan — rambut yang diikat asal-asalan dengan pensil, dan mata yang merah. Tanpa banyak bicara, Nino menggeser duduknya hingga bahu mereka bersentuhan. Tidak ada pelukan drama, hanya pundak yang kokoh dan hangat yang sengaja ia berikan sebagai sandaran.

“Mas… eh, No. Aku capek. Aku mau pulang aja ke Bandung,” bisik Naura, menyembunyikan wajah di balik lipatan tangannya.

Nino menarik napas panjang, tangannya bergerak ragu sejenak sebelum akhirnya mendarat di atas kepala Naura, mengusapnya pelan. “Kalau kamu pulang, nanti siapa yang nemenin aku bagi dua nasi kucing? Siapa yang bakal geserin potongan ayam ke mangkukku?”

Naura mendongak, matanya basah. Jarak mereka begitu dekat. Di bawah cahaya lampu selasar yang remang karena cuaca mendung, Naura bisa melihat setiap detail di mata Nino — keraguan, kelelahan, tapi juga ada binar yang begitu tulus.

“Ra,” panggil Nino pelan, suaranya hampir hilang ditelan suara hujan. “Aku nggak punya apa-apa sekarang. Aku nggak bisa janjiin kamu makan di restoran mewah atau jalan-jalan naik mobil bagus. Tapi kalau kamu mau, kita jalani bareng-bareng. Aku sayang kamu, Ra. Lebih dari sekadar teman makan mie ayam.”

Hening. Hanya ada suara hujan yang makin menderu. Naura tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan kepalanya ke bahu Nino. Di sana, di antara aroma kopi dari jaket Nino dan dinginnya lantai perpustakaan, mereka berbagi ciuman pertama. Itu bukan ciuman yang sempurna seperti di film. Ada rasa gugup, rasa asin dari air mata Naura, tapi terasa sangat nyata. Seolah-olah mereka sedang menandatangani kontrak untuk saling menjaga di tengah dunia yang mulai terasa berat.

Beberapa bulan kemudian, fase pelangi itu mulai dibayang-bayangi oleh awan mendung. Nino yang sedang mengejar target skripsi sekaligus mencari uang tambahan dari proyek video, mulai sering kehilangan waktu tidurnya. Sementara Naura, mulai merasa diabaikan.

Di kamar kos Nino yang berantakan dengan kabel dan tumpukan buku, suasana terasa tegang.

“No, kamu janji mau temenin aku ke toko buku buat cari referensi!” suara Naura meninggi, ia berasa di ambang pintu sementara Nino masih terpaku di depan layar laptopnya.

“Ra, bentar. Video klien ini harus dikirim malam ini. Kita butuh uangnya buat bayar servis motor yang kemarin mogok, kan?” balas Nino tanpa menoleh. Nada suaranya tajam karena lelah.

“Tapi bukan berarti kamu bisa lupain janji, kan? Aku nunggu dua jam di depan fakultas!”

“Kamu egois, Ra! Kamu pikir aku kerja lembur begini buat siapa? Aku juga capek!” Nino membanting mouse-nya ke meja. Bunyinya memekakkan telinga.

Hening yang menyakitkan segera menyergap. Naura tertegun, baru pertama kali ini Nino membentaknya. Di atas lantai kamar kos yang sempit, dua mangkuk mie instan yang tadi Naura buatkan sebagai kejutan sudah mendingin, mienya sudah mengembang dan tak lagi menggugah selera.

Naura mengambil tasnya, matanya berkaca-kaca. Ia hendak keluar, tapi Nino bergerak cepat. Laki-laki itu menarik pergelangan tangan Naura, lalu memeluknya dari belakang dengan erat. Napas Nino memburu, bahunya bergetar.

“Maaf… maafin aku, Ra. Aku beneran capek banget,” bisik Nino, membenamkan wajahnya di ceruk leher Naura. “Jangan pergi. Jangan pulang pas kita lagi marah begini.”

Naura berbalik, melihat wajah Nino yang tampak sangat menyesal. Kemarahan Naura luruh. Mereka akhirnya duduk di lantai beralaskan karpet tipis, menghadapi dua mangkuk mie instan dingin itu.

“Ini mienya udah ngembang banget, No,” gumam Naura sambil mencoba menyuap satu sendok.

Nino terkekeh kecil, menarik mangkuk Naura ke dekatnya. “Nggak apa-apa. Masih enak kalau makannya sama kamu. Nanti kalau aku sudah sukses, aku janji nggak akan ada lagi mie dingin di antara kita.”

Mereka tertawa pelan, saling menyuapi di tengah kelelahan yang luar biasa. Saat itu mereka merasa sangat kuat. Mereka merasa cinta mereka sanggup mengalahkan mie instan yang dingin sekalipun. Mereka belum tahu, bahwa suatu hari nanti, mie instan dingin itu tidak akan lagi terasa enak untuk dinikmati.


메타데이터
post_id
1ba13edb6725
slug
4-hujan-dan-skripsian-1ba13edb6725
url
https://medium.com/@desertverse/4-hujan-dan-skripsian-1ba13edb6725
canonical_url
https://medium.com/@desertverse/4-hujan-dan-skripsian-1ba13edb6725
author_url
https://medium.com/@desertverse
status
ok
fetched_at
2026-07-19 04:46:19