First Look.
First Look.

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Soraya sampai di tempat ayahnya melatih para atlet-atlet itu sekitar 20 menit setelah maminya meminta tolong kepadanya, setelah ia turun dari mobil, ia menatap gedung yang selalu menjadi mimpi buruk baginya.
sekarang aku harus kemana.. pikirnya, karena sedari tadi ia hanya berdiam diri di depan gedung yang besar itu. karena ia benar-benar tidak tahu dimana ayahnya berada, tapi daripada ia terlihat seperti anak hilang, Soraya memutuskan untuk masuk.
benar dugaannya, gedung ini di penuhi oleh bau keringat dan pukulan samsak yang terdengar jelas dari pendengarannya.
tidak mengambil pusing, Soraya segera mencari ayahnya dan berharap agar bisa cepat pulang.
setelah mencari selama 5 menit, akhirnya ia bertemu oleh muka yang sangat familiar baginya. itu ayahnya. syukurlah, dia bisa cepat cepat pergi dari sini.
“ayah!” ia berteriak kecil sambil menghampiri ayahnya yang sedang fokus memantau anak didiknya. ayahnya segera menoleh dan menemukan Soraya berlari kecil padanya.
“loh adek? kamu ngapain disini, sayang? mami kemana?” ayahnya yang sedang berkacak pinggang dan fokus tiba tiba kaget menatap anak semata wayangnya itu menghampirinya, karena Soraya itu paling ogah kalau harus mendatangi gym tempat ayahnya melatih.
Soraya memutar bola mata malas, memberikan ayahnya bekal bikinan maminya dengan cepat namun hati-hati. “mami ada urusan, katanya buru-buru jadinya adek yang anterin. nih! bekel ayah noh ketinggalan!” Soraya melengkungkan bibir dan menghentakkan kaki kecil, merasa di repotkan oleh ayahnya.
ayahnya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, “makasih, adek sayang.” hanya tertawa kecil melihat kelakuan Soraya-nya yang sedang kesal atas kelalaiannya.
Soraya melihat anak didik ayahnya yang ada beberapa sedang fokus memukul samsak, dan ada beberapa yang sedang push-up. sampai matanya menangkap seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengannya, anak laki-laki itu sedang membaluti tangannya dengan handwrap yang dikhususkan untuk atlet tinju.
ganteng. hanya itu yang bisa Soraya pikirkan saat melihatnya, selama ini ia tidak tau bahwa anak didik ayahnya sangat ganteng. kenapa tidak dari dulu saja Soraya melihatnya? mungkin karena penyesalan selalu datang diakhir, mereka bilang.
Soraya harus mendapatkan nomornya, itu yang dari tadi berputar di pikirannya. karena ia tidak bohong, murid ayahnya ini sangat ganteng. melebihi teman teman model yang ia punya, kalau boleh jujur.
karena dia sangat tertarik dengan laki-laki itu, ia memutuskan untuk bertanya kepada ayahnya yang habis menaruh bekal yang Soraya antarkan di atas tempat duduk. “ayah, itu yang paling ujung namanya siapa?” ia bertanya sembari menunjuk sekilas laki-laki yang mendapatkan perhatiannya sedari tadi.
“yang itu?” ayahnya menoleh pelan dan bergerak untuk menunjuk laki-laki yang Soraya maksud. “namanya Kaysan, seingat ayah kalau gak salah dia satu sekolah deh sama adek, di SMAN 74.” ia berucap dengan santai.
“loh iyakah!?” Soraya terkejut. karena hampir 2 tahun dia bersekolah di SMA nya yang sekarang, dan ia tidak pernah bertemu ataupun kenal dengan yang namanya Kaysan.
dan kemudian dia kembali berucap, “adek disini dulu ya, pak Jokonya lagi makan” bohongnya kepada ayah, padahal pak Joko sedang menunggu di mobil sambil bermain hp. tapi apa boleh buat, ini kesempatan emas bagi Soraya.
“sok lah kalau kamu betah. ayah lanjut melatih ya.” tanpa menunggu respons Soraya, ayahnya itu kembali menghampiri anak didiknya yang ia beri istirahat selama 10 menit saja, lalu meminta mereka untuk berkumpul dan memberi beberapa perintah.
setelah 1 jam Soraya menunggu dan duduk di bangku, akhirnya para atlet-atlet itu dibiarkan istirahat oleh ayahnya yang terhormat. sedari tadi ia ragu, memikirkan, samperin gak ya, samperin gak ya.. terlalu hilang dalam pikirannya sendiri, sampai sampai ia tidak sadar bahwa orang yang sedari tadi ia pikirkan, Kaysan, sedang berjalan melewatinya.
tanpa pikir panjang, Soraya langsung bangkit dari duduk dan menghampiri Kaysan sambil berlari kecil. “hai! namamu Kaysan ya? kenalin, aku Soraya!” sambil mengulurkan tangannya kepada Kaysan dan memasang senyum yang tidak biasanya bisa di tolak.
“oh. perlu apa?” Kaysan hanya menjawab dengan dingin, dia terlihat acuh tidak acuh terhadap pria kecil yang sekarang ada di hadapannya. Kaysan melirik ke Soraya, tidak ada senyum, atau sapaan hangat. Kaysan hanya diam disitu, menunggu Soraya menyelesaikan kalimatnya.
Soraya dengan cepat menarik tangannya, karena sumpah! Kaysan bahkan tidak peduli dengan Soraya yang ingin menjabat tangan. Soraya benar benar merasa di abaikan! melihat Kaysan yang menunggu, Soraya kembali berucap “aku mau minta nomor kamu boleh-”
ia belum selesai menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba Kaysan pergi nyelonong begitu saja. tidak mengatakan sepatah kata apapun setelah Soraya menanyakan nomor hp nya, Soraya terkejut, ia tidak menyangka kalau akan diabaikan total.
dia memutarkan badannya, melihat Kaysan yang tadi meninggalkannya sekarang sedang merapihkan tasnya. “loh? KOK AKU DI DIEMIN GITU AJA SIH… ISH!” Soraya berteriak kecil dan menghentakkan kakinya.
ia merasa di permalukan oleh Kaysan, untung tidak ada yang melihat. dengan cepat ia berjalan untuk mengambil barang bawaannya dan menelpon pak Joko untuk pulang, lalu ia pergi dengan rasa kesal karena tidak mendapatkan nomor hp dari anak murid ayahnya yang ganteng itu.
메타데이터
- post_id
- 1bfa2fef2671
- slug
- first-look-1bfa2fef2671
- url
- https://medium.com/@ddeliccate/first-look-1bfa2fef2671
- canonical_url
- https://medium.com/@ddeliccate/first-look-1bfa2fef2671
- author_url
- https://medium.com/@ddeliccate
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-02 22:51:16