← Back to list

Pernikahan Dini dan Tantangan Kesetaraan Gender

Pernikahan dini masih menjadi persoalan sosial yang kompleks dan berkelanjutan, khususnya bagi anak perempuan. Praktik ini tidak hanya…

SDGS 5.3 · 2026-01-18 08:59 · 0 claps · 4.4 min read
#pernikahan-dini #sdg5 #kesetaraan-gender
Open on Medium ↗

Pernikahan Dini dan Tantangan Kesetaraan Gender

Ilustrasi oleh Kompasiana.com

Ilustrasi oleh Kompasiana.com

Pernikahan dini masih menjadi persoalan sosial yang kompleks dan berkelanjutan, khususnya bagi anak perempuan. Praktik ini tidak hanya berkaitan dengan faktor usia, tetapi juga menyentuh isu yang lebih luas seperti ketimpangan gender, akses pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, serta kuatnya norma sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kurang setara.

Dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin 5 tentang kesetaraan gender, pernikahan dini dipandang sebagai salah satu bentuk praktik yang menghambat pemenuhan hak perempuan dan anak. Dampaknya meluas dan real, mulai dari terputusnya pendidikan, meningkatnya risiko kesehatan reproduksi, hingga terbatasnya partisipasi perempuan dalam ruang sosial dan ekonomi.

Tulisan ini membahas isu pernikahan dini dengan merujuk pada hasil wawancara dengan narasumber, sebagai upaya untuk memahami bagaimana praktik ini masih berlangsung di masyarakat serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai pernikahan dini sebagai isu struktural, bukan semata keputusan individual.

Wawancara dengan Narasumber 1

Wawancara dengan Narasumber 1

Narasumber 1: Menurut narasumber pertama, pernikahan dini bukan hanya soal cinta atau status, tapi soal tanggung jawab jangka panjang yang menuntut kematangan emosional dan kesiapan hidup. Di usia muda, seseorang masih dalam proses membangun masa depan dan mengenal diri sendiri. Maka, melangkah ke jenjang pernikahan dianggap terlalu terburu-buru dan berisiko, terutama karena banyak anak muda belum siap secara mental maupun ekonomi. Ia menyoroti bahwa tekanan mental dan beban finansial sering kali muncul setelah menikah muda, apalagi jika masih bergantung pada orang tua.

Dari pengalamannya, banyak teman di sekitarnya yang menikah dini karena faktor budaya, tekanan keluarga, atau kondisi tertentu. Namun, setelah menikah, mereka justru merasa kehilangan ruang untuk berkembang. Beberapa mengalami konflik rumah tangga, merasa terjebak, bahkan menyesali keputusan mereka. Ia juga menekankan bahwa budaya pernikahan dini sering kali berakar dari rendahnya pendidikan dan kondisi ekonomi yang sulit. Perempuan menjadi kelompok paling rentan karena minimnya edukasi dan tekanan untuk mencari jaminan hidup melalui pernikahan. Untungnya, di lingkungannya kini, pernikahan dini mulai ditinggalkan karena meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dan masa muda yang bermakna.

Wawancara dengan Narasumber 2

Wawancara dengan Narasumber 2

Narasumber 2: Narasumber kedua menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak setuju dengan pernikahan dini. Alasannya sederhana namun penting: kebanyakan anak muda belum siap secara mental maupun materi. Menikah bukan hanya soal hidup bersama, tapi juga soal kesiapan menghadapi tantangan hidup yang nyata. Tanpa kesiapan itu, pernikahan bisa menjadi beban, bukan kebahagiaan.Meski tidak memiliki pengalaman pribadi, ia melihat beberapa orang di sekitarnya yang menikah muda mengalami tekanan, bahkan frustasi. Meskipun ada juga yang merasa senang, namun secara umum, faktor-faktor seperti keluarga dan lingkungan, terutama akibat pergaulan bebas, sering menjadi pemicu utama. Ia bersyukur bahwa di lingkungannya sekarang, praktik pernikahan dini sudah tidak ada lagi. Kesadaran akan pentingnya kesiapan hidup tampaknya mulai tumbuh di kalangan anak muda.

Wawancara dengan Narasumber 3

Wawancara dengan Narasumber 3

Narasumber 3: Bagi narasumber ketiga, pernikahan dini menyimpan banyak risiko dari sisi kesehatan, mental, hingga ekonomi. Ia tidak setuju dengan praktik ini karena melihat langsung dampaknya pada temannya sendiri. Teman tersebut harus putus sekolah karena hamil di luar nikah, lalu menikah muda. Kini, ia sudah memiliki anak berusia tiga tahun, suaminya bekerja sebagai kurir, dan ia sendiri berjualan camilan di rumah. Namun, kehidupan mereka tidak mudah. Ia sering mengeluh soal kebutuhan pokok yang sulit dipenuhi, bahkan untuk sekadar membeli beras.Kisah ini menjadi cermin bahwa keputusan menikah dini sering kali bukan karena kesiapan, tapi karena keterpaksaan. Dalam kasus temannya, pergaulan bebas dan kurangnya edukasi menjadi pemicu utama. Namun, narasumber ini juga melihat adanya perubahan positif. Di lingkungannya, pernikahan dini sudah mulai jarang terjadi. Anak-anak muda kini lebih sadar bahwa menikah muda bukan solusi, melainkan awal dari tantangan yang lebih besar jika tidak dibarengi dengan kesiapan yang matang.

Wawancara dengan Narasumber 4

Wawancara dengan Narasumber 4

Narasumber 4: Dari Pernikahan ke Penyesalan Narasumber keempat juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pernikahan dini. Ia menilai bahwa banyak kasus pernikahan dini justru berujung pada penderitaan. Salah satu contoh nyata adalah temannya yang menikah muda karena hamil di luar nikah. Kini, mereka memiliki banyak anak, namun sayangnya, sebagian anak tersebut justru tidak terurus dengan baik. Kondisi ekonomi keluarga itu pun masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Menurutnya, pernikahan dini bukanlah solusi, melainkan awal dari masalah baru jika dilakukan tanpa kesiapan. Ia melihat bahwa keputusan menikah muda sering kali diambil karena tekanan sosial, bukan karena kemauan yang matang. Namun, ia juga merasa optimis karena di lingkungannya sekarang, kasus pernikahan dini sudah tidak ada lagi. Kesadaran masyarakat mulai tumbuh, bahwa masa muda seharusnya digunakan untuk belajar, berkembang, dan membangun masa depan yang lebih baik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan keempat narasumber, dapat disimpulkan bahwa seluruh narasumber menyatakan ketidaksetujuannya terhadap praktik pernikahan dini. Pernikahan di usia muda dinilai terlalu terburu-buru dan berisiko karena sebagian besar individu belum siap secara mental, emosional, maupun ekonomi. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa pernikahan dini sering kali terjadi bukan atas dasar kesiapan, melainkan karena tekanan budaya, keluarga, kondisi ekonomi, atau kehamilan di luar nikah.

Dampak dari pernikahan dini yang disampaikan narasumber juga cenderung negatif, seperti putus sekolah, kesulitan ekonomi, tekanan mental, konflik rumah tangga, hingga penyesalan di kemudian hari. Perempuan menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena keterbatasan akses pendidikan dan kuatnya tekanan sosial. Meski demikian, para narasumber melihat adanya perubahan positif, di mana kesadaran masyarakat mulai meningkat dan praktik pernikahan dini perlahan ditinggalkan.

Pernikahan dini bukan sekadar persoalan pilihan individu, tetapi masalah sosial yang berkaitan erat dengan kesetaraan gender, pendidikan, dan kesejahteraan hidup. Oleh karena itu, diperlukan peran bersama dari keluarga, lingkungan, dan institusi pendidikan untuk memperkuat edukasi, khususnya terkait kesehatan reproduksi dan perencanaan masa depan.

Harapannya, semakin banyak anak muda yang berani menunda pernikahan demi kesiapan hidup yang lebih matang. Dengan meningkatnya kesadaran ini, praktik pernikahan dini tidak lagi dinormalisasi, sehingga tujuan SDGs 5 tentang kesetaraan gender dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

UAS Komunikasi Global ED KELOMPOK 4

Dosen Pengampu: Denik Iswardani Witarti, S.I.P, M.Si, Ph.D.

ANGGOTA KELOMPOK: 1.Kaniya Putri Andini (2471502159) 2.Zarina Andriani Sefa (2471501680) 3.Sri DinaWati (2471502142)


메타데이터
post_id
1c2c3ea3d6be
slug
pernikahan-dini-dan-tantangan-kesetaraan-gender-1c2c3ea3d6be
url
https://medium.com/@sdgs90890/pernikahan-dini-dan-tantangan-kesetaraan-gender-1c2c3ea3d6be
canonical_url
https://medium.com/@sdgs90890/pernikahan-dini-dan-tantangan-kesetaraan-gender-1c2c3ea3d6be
author_url
https://medium.com/@sdgs90890
status
ok
fetched_at
2026-07-13 08:21:40