Apakah Semua Tarekat Menyimpang?
Sejumlah tarekat besar dalam sejarah Islam tidak didirikan langsung oleh tokoh yang namanya dijadikan nama tarekat, di antaranya adalah…
Apakah Semua Tarekat Menyimpang?

Devotees Bowing at Sufi’s Grave in Delhi (flickr.com)
Sejumlah tarekat besar dalam sejarah Islam tidak didirikan langsung oleh tokoh yang namanya dijadikan nama tarekat, di antaranya adalah tarekat Qadiriyah.
Dari Figur ke Institusi
Tarekat Qadiriyah menggunakan nama Abdul Qadir al-Jilani (wafat 1166 M), seorang ulama besar di Baghdad yang dikenal dengan kezuhudannya.
Ibn Taymiyyah dalam komentarnya terhadap karya Abdul Qadir al-Jilani, yakni Futuh al-Ghayb, menyatakan bahwa ajaran al-Jilani tentang tauhid dan ibadah sesuai dengan prinsip Ahlus Sunnah.
Ibn Taymiyyah dalam Majmu al-Fatawa juga mengakui adanya karamah dari Allah untuk orang-orang saleh. Namun, ia menekankan bahwa karamah tidak boleh dijadikan dasar hukum atau pengganti syariat.
Abdul Qadir al-Jilani sendiri tidak pernah menyatakan mendirikan tarekat Qadiriyah. Struktur tarekat, rantai baiat, dan formula wirid dibakukan oleh murid-murid dan generasi sesudahnya.
Fenomena ini dalam kajian sosiologi disebut Rutinisasi Karisma, yakni otoritas karismatik yang semula bergantung pada figur kemudian dilembagakan menjadi aturan rutin agar bertahan setelah figur wafat.
Konsep Rutinisasi Karisma dibahas oleh Max Weber (1864–1920) dalam karyanya Wirtschaft und Gesellschaft (Economy and Society).
Abdul Qadir al-Jilani memiliki karisma kuat sehingga banyak orang tertarik menjadi murid. Setelah al-Jilani wafat, murid-murid yang terhimpun terancam bubar karena sumber karisma tidak lagi ada.
Karena itu, para murid melakukan suatu proses yang dalam perspektif sosiologi Weberian disebut Rutinisasi Karisma, yakni upaya mengubah karisma pribadi menjadi sistem yang dapat diwariskan.
Bentuknya berupa kodifikasi ajaran serta penyusunan ritual dan struktur otoritas (hierarki mursyid). Pada fase inilah tarekat terbentuk, yang lalu menciptakan silsilah, baiat, dan aturan wirid.
Para murid mengubah karisma al-Jilani menjadi tradisi, ritual kolektif, identitas kelompok, dan bahkan berkembang menjadi legenda. Saat ini, makamnya di Baghdad telah menjadi pusat tabarruk internasional.

Bangunan makam Abdul Qadir al-Jilani di Baghdad, Irak (wikipedia)
Banyak praktik tarekat Qadiriyyah yang tidak berasal dari al-Jilani, seperti zikir berjamaah ritmis, pembacaan manaqib, tawassul kepadanya, dan mencari keberkahan (tabarruk) di makamnya.
Karena itu, Rutinisasi Karisma mengubah lingkaran pengajaran seorang tokoh menjadi institusi tarekat yang mapan, sekaligus melahirkan kultus individu (pemujaan tokoh) dan ritual tanpa dalil (bid‘ah).
Deviasi Kumulatif
Rutinisasi Karisma seorang tokoh menjadi institusi tarekat telah mengakibatkan akumulasi deviasi seiring bertambahnya waktu, kemapanan, dan ketersebaran lintas wilayah.
Seperti tarekat Syadziliyah yang menggunakan nama Abu al-Hasan al-Syadzili (wafat 1258 M). Abu al-Hasan al-Syadzili dikenal menyusun sejumlah wirid, di antaranya adalah Hizb al-Baḥr.
Anggota tarekat Syadziliyah meyakini bahwa wirid-wirid tersebut bukan sekadar doa, melainkan wirid berkaramah yang menjadi sumber perlindungan, ketenangan, dan pertolongan ilahi.
Dalam literatur Syadziliyah (Durrat al-Asrar wa Tuḥfat al-Abrar) disebutkan: “Seandainya Hizb al-Baḥr ada pada penduduk Baghdad, niscaya Tatar tidak akan menaklukkan kota itu.”
Anggota tarekat Syadziliyah menerima Hizb al-Baḥr melalui proses resmi tarekat, yaitu baiat dan ijazah dari mursyid. Wirid ini dibaca dengan jadwal rutin dan tata cara tertentu.
Padahal, pembacaan wirid secara berjamaah dan ritmis, serta meyakininya memiliki kekuatan khusus dan fadhilah luar biasa, merupakan suatu deviasi (penyimpangan).
Wirid yang disusun oleh seorang ulama, jika berupa doa atau zikir umum yang tidak bertentangan dengan syariat, boleh diamalkan sebagai doa pribadi, tetapi tidak boleh dijadikan ritual yang mengikat.
Abu al-Hasan al-Syadzili sendiri tidak pernah menyatakan mendirikan tarekat Syadziliyah. Struktur tarekat ini, beserta banyak ritualnya, berkembang melalui murid-murid dan generasi sesudahnya.
Seiring berjalannya waktu, anggota tarekat Syadziliyah bahkan membaca doa yang berisi permohonan bantuan kepada Abu al-Hasan al-Syadzili, seperti ucapan “Ya Syadzili madad” (“Wahai Syadzili, bantulah”).
Walaupun demikian, dalam satu tarekat yang sama dapat terjadi perbedaan praktik atau amalan di tingkat cabang atau wilayah tertentu.
Hal ini antara lain disebabkan karakter tarekat yang lebih menekankan dimensi batin, sehingga mereka bersikap fleksibel dan terbuka untuk menyerap ritual fisik atau tradisi lokal.
Contoh tarekat yang sangat dipengaruhi tradisi lokal adalah Chishtiyah, yang menggunakan nama Moinuddin Chishti (wafat 1236 M). Tradisi India tampak dari penggunaan musik Qawwali dalam ritualnya.
Tarekat Chishtiyah juga dikenal dengan kultus makam (dargah culture) serta peringatan hari wafatnya Moinuddin Chishti yang disebut festival ʿurs.
Pembaruan dalam Dunia Tarekat
Tarekat Naqsyabandiyah menggunakan nama Bahauddin Naqsyaband (wafat 1389 M). Akan tetapi, penamaan formal tarekat ini baru berkembang setelah wafatnya Bahauddin Naqsyaband.
Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat ini memiliki ciri kultus makam dan loyalitas ketat kepada mursyid (guru). Mursyid diyakini mengetahui batin murid dan mampu membimbing dari jarak jauh.
Namun, dari tarekat ini juga muncul mujaddid (pembaru agama) yang memurnikan kembali ajaran Islam, yakni Ahmad Sirhindi (1564–1624 M).
Ahmad Sirhindi menulis surat kepada para pejabat dan ulama untuk mengkritik sinkretisme agama Sultan Mughal, Akbar. Lihat sinkretisme Akbar dalam Mengapa Zaman Keemasan Islam Berakhir?
Dalam surat-suratnya (Maktubat), Ahmad Sirhindi pun mengkritik praktik bid‘ah dalam tarekat, termasuk kultus wali dan doktrin waḥdat al-wujud. Ia menekankan bahwa tasawuf harus tunduk pada syariat.
Murid-murid Sirhindi menyebarkan ajarannya sampai ke luar Jazirah India, yaitu ke Asia Tengah, Kekhalifahan Utsmani, hingga Asia Tenggara.
Setelah ia wafat, cabang Naqsyabandiyah yang mengikuti ajarannya dikenal sebagai Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah. Akan tetapi, Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah pada masa kini juga tidak lepas dari kritik.
Di antaranya adalah praktik rabithah, yakni menghadirkan bayangan guru dalam hati saat zikir. Praktik ini tidak memiliki dalil, dan berpotensi mengarah ke perantara spiritual yang dapat merusak tauhid.
Bahkan, makam Ahmad Sirhindi saat ini menjadi tempat tabarruk bagi banyak pengikut tasawuf. Makam ini pun menjadi pusat peringatan tahunan wafatnya Ahmad Sirhindi.

Bangunan makam Ahmad Sirhindi di Sirhind, India (wikipedia)
Kultus Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah terhadap Ahmad Sirhindi muncul setelah ia wafat, sebagaimana kultus tarekat Qadiriyah terhadap Abdul Qadir al-Jilani.
Sementara itu, di tarekat Qadiriyah pun muncul mujaddid, yakni Usman bin Fodio (1754–1817 M). Ia adalah seorang ulama, penulis, dan pemimpin politik yang lahir di wilayah yang kini termasuk Nigeria.
Usman mengkritik para penguasa Hausa yang menjalankan praktik sinkretisme. Ia juga mengkritik penyimpangan tarekat sufi, meskipun ia sendiri merupakan anggota tarekat Qadiriyah.
Ia menolak praktik bid‘ah dalam zikir dan ritual, termasuk pengagungan berlebihan terhadap para syekh (pemimpin tarekat). Ia juga memimpin jihad yang melahirkan Kekhalifahan Sokoto (1804–1903 M).
Usman bin Fodio dan keluarganya menghasilkan banyak karya ilmiah yang hingga kini masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam di Nigeria dan Afrika Barat.
Namun, sampai wafatnya Usman bin Fodio, tarekat Qadiriyah di Afrika Barat tetap mempraktikkan wirid khusus, kultus syekh dan wali, serta beberapa pengaruh sinkretisme lokal.
Selain Usman bin Fodio, mujaddid yang muncul dari Afrika adalah Muhammad bin Ali al-Sanusi (1787–1859 M), yang lahir di Aljazair.
Ia meneladani semangat tajdid (pembaruan) gurunya, Ahmad ibn Idris al-Fasi (1760–1837 M), seorang ulama asal Maroko yang memiliki latar belakang sebagai syekh tarekat Syadziliyah.
Ahmad ibn Idris al-Fasi menyerukan pemurnian Islam dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mempelajari hadis secara serius, serta menolak fanatisme mazhab dan kultus syekh.
Muhammad bin Ali al-Sanusi mengembangkan ajaran gurunya menjadi tarekat Sanusiyah, yang pada generasi berikutnya berperan penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme Italia di Libya.
Secara historis, tarekat Sanusiyah relatif lebih sederhana dibanding tarekat lain dalam hal ritual. Namun, mereka tetap memiliki baiat dan wirid khusus, serta otoritas mursyid sebagai pembimbing spiritual.
Melacak Akar Penyimpangan Tarekat
Banyak tarekat lahir dari upaya para murid dan generasi penerus untuk mempertahankan warisan kebaikan seorang tokoh karismatik setelah ia wafat.
Namun, kultus individu terhadap tokoh tersebut menjadi awal penyimpangan dalam tarekat sufi, sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi Nuh (lihat Sejarah Politeisme).
Kultus individu telah melahirkan praktik tawassul dan tabarruk pada makam atau peninggalannya, termasuk keyakinan atas keutamaan wirid khusus yang dikaitkan dengan sang tokoh.
Kultus ini juga tampak dalam perayaan hari wafat, pembacaan manaqib (kisah hidup), serta klaim karamah yang berlebihan.
Kultus ini dijaga melalui struktur tarekat, baiat, dan silsilah yang menjadi identitas kelompok, lalu melahirkan hierarki mursyid dan kultus syekh.
Oleh karena itu, tarekat yang menerapkan baiat, wirid khusus, serta hierarki dengan otoritas spiritual berlebihan pada syekh atau mursyid memiliki kerentanan terhadap kultus individu.
Selain itu, penyimpangan tarekat sufi terjadi ketika mereka meyakini adanya ilmu batin. Ajaran batiniah cenderung mencari kesamaan dimensi batin dengan ajaran lain sehingga membuka jalan bagi sinkretisme.
Kultus individu dan ajaran batiniah juga yang memicu kesesatan Syiah. Di antara cabang Syiah yang sangat batiniah adalah Ismailiyah.
Pada dasarnya, kultus individu tidak hanya terjadi dalam tarekat atau organisasi sufi. Setiap komunitas dapat terjerumus ke dalam kultus individu jika menganggap pemimpinnya selalu benar.
Hal ini juga berlaku pada komunitas yang disatukan melalui manhaj atau metode; apabila mereka mendahulukan pendapat tokoh meski bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu menjadi awal dari kultus individu.
Wallahu A’lam
메타데이터
- post_id
- 1c7aae4ea047
- slug
- apakah-semua-tarekat-menyimpang-1c7aae4ea047
- url
- https://islampedia.id/apakah-semua-tarekat-menyimpang-1c7aae4ea047
- canonical_url
- https://islampedia.id/apakah-semua-tarekat-menyimpang-1c7aae4ea047
- author_url
- https://medium.com/@wiji-aljawi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 15:33:18