“The Power of Storytelling”: Menjaga Adab dan Makna Narasi (1)
Manusia dan Narasi
“The Power of Storytelling”: Menjaga Adab dan Makna Narasi (1)

Sumber: Wikimedia Commons ( Een Koranschool op Java)
Manusia dan Narasi
Dalam era digital, angka, data, dan statistik dapat menjadi tumpuan utama dalam berbagai lini kehidupan. Tapi sadar atau tidak, semua itu tidak berarti tanpa ada narasi yang menafsirkan angka-angka itu kemudian memberinya makna. Bahkan, dari masa belia hingga dewasa, manusia tidak akan pernah lepas dari narasi-narasi. Terutama di masa kecil, kita disuguhkan berbagai narasi dari cerita rakyat, mitos, hingga kisah-kisah fiktif.
Saat manusia mulai memasuki masa remajanya, narasi yang diterima berubah bentuk menjadi narasi ideologi, gaya hidup, dan narasi watak sebuah kelompok (suku bangsa, misalnya). Narasi itu tetap ada dan terdengar di telinga manusia dewasa kemudian yang berbentuk sebagai narasi-narasi politik yang digaungkan oleh penguasa maupun oposisinya. Saat tua kelak, manusia juga akan mendengarkan narasi tentang kehidupan dan mereka juga akan andil menjadi bagian dari pembuat narasi.
Maka benar saja jika Kurt Ranke di sekitar tahun 1967 mengatakan bahwa manusia bukan hanya sebagai “homo sapiens” (makhluk yang bijak), tetapi juga “homo narrans”, yaitu makhluk yang bercerita (Ranke, 1981). Pasalnya, memang manusia tidak akan terlepas dari berbagai narasi yang terus terbentuk dan juga akan membentuk dirinya.
Dari berbagai narasi yang muncul dan tenggelam, tumbuh dan layu, subur di kata dan sepi dalam tutur, ada satu narasi besar yang harus menjadi pegangan manusia. Narasi itu biasanya dituturkan oleh budayawan Jawa dengan kalimat “sangkan paraning dumadi”, atau dalam Islam dengan kalimat yang berbunyi “man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu”. Ini adalah narasi besar yang harus dipegang oleh manusia di mana pun dan kapan pun serta harus terus dituturkan lintas generasi.
Narasi dan Worldview
Narasi besar seperti sangkan paraning dumadi bukanlah sebuah kalimat sederhana. Kalimat ini membawa sebuah makna tertentu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Roland Barthes, sebuah bahasa itu menunjuk kepada makna tertentu (Barthes, 1986). Setiap bahasa ataupun kata tidak akan pernah berdiri sendiri, ia akan selalu menandai sebuah eksistensi lain. Misalnya kata “segitiga” merujuk kepada tiga garis yang saling bertumpu dan membentuk sudut tertentu.
Sebuah perumpamaan yang sangat apik dirancang oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ia mengumpamakan bahasa ibarat penunjuk jalan di persimpangan jalan. Kata “Jakarta” di penunjuk arah tidak berdiri menunjuk dirinya sendiri, melainkan ia menunjuk sebuah ibu kota di arah yang ditunjuk oleh rambu lalu lintas (Al-Attas, 2014). Maka akan sangat aneh jika kita melihat papan penunjuk arah dan kita menyimpulkan bahwa tulisan yang tertulis hanyalah sebuah kata tanpa makna.
Dalam setiap narasi yang terus dituturkan, narasi selalu membawa sebuah ide tertentu sebagaimana bahasa memiliki makna tertentu. Contohnya adalah narasi budaya Jawa “Sangkan Paraning Dumadi” di atas. Kalimat ini tersebar luas dalam naskah-naskah budaya Jawa. Kalimat itu membawa ide besar tentang hidup manusia secara paripurna dari awal mula kejadian hingga akhir perjalanan kehidupan (Kholis, 2018). Kata “sangkan” merujuk kepada asal jati diri manusia. Kemudian, kata “paran” memiliki makna tujuan, arah, dan petunjuk arah perjalanan. Sedangkan kata “dumadi” bermakna menjadi manusia sempurna.
Jika ditelisik, kalimat di atas merujuk pada kata kunci yang memiliki konsep yang terstruktur. Kata sangkan menunjukkan pentingnya memahami diri sebagai hakikat manusia. Dalam hal ini, diri (ruh) manusia memiliki peran yang paling penting karena dengan mengenalinya seseorang akan mengetahui tentang pencipta dan tujuan dirinya menjadi ada. Konsep ini sangat selaras dengan konsep nafs dalam diskursus tasawuf yang berfokus pada mengenali diri dan melatih nafs ke arah kesempurnaan. Demikianlah pertalian antara narasi dan worldview yang sangat bersinggungan eratnya. Sehingga, penuturan atas pemahaman-pemahaman ini menjadi penting sekali dan besar pengaruhnya terhadap penanaman worldview karena makna berada di sisi tersembunyi dalam sebuah narasi.
Referensi:
Al-Attas, S. M. N. (2014). Prolegomena to the Metaphysics of Islām: An Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islam. UTM Press.
Barthes, R. (1986). Elements of Semiology. Hill and Wang.
Kholis, N. (2018). ILMU MAKRIFAT JAWA SANGKAN PARANING DUMADI: Eksplorasi Sufistik Konsep Mengenal Diri dalam Pustaka Islam Kejawen Kunci Swarga Miftahul Djanati. CV. Nata Karya.
Ranke, K. (1981). Problem of Categories in Folk Prose (Carl, Penerj.). 14(1), 1–17.
메타데이터
- post_id
- 1ca83d22b0a8
- slug
- the-power-of-storytelling-menjaga-adab-dan-makna-narasi-1-1ca83d22b0a8
- url
- https://medium.com/@husnulaffan/the-power-of-storytelling-menjaga-adab-dan-makna-narasi-1-1ca83d22b0a8
- canonical_url
- https://medium.com/@husnulaffan/the-power-of-storytelling-menjaga-adab-dan-makna-narasi-1-1ca83d22b0a8
- author_url
- https://medium.com/@husnulaffan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 05:19:05