Puisi Kecerdasan Buatan
Sore, suara adzan maghrib hampir bersautan dimana puji-pujian lebih dulu dikumandangkan dari satu langgar, dua langgar bahkan hampir…
Puisi Kecerdasan Buatan
Sore, suara adzan maghrib hampir bersautan dimana puji-pujian lebih dulu dikumandangkan dari satu langgar, dua langgar bahkan hampir keseluruhan langgar. Bukannya bergegas mengambil sarung, kopiah lalu lari ke langgar malah mencatat sesuatu yang tak penting.
Bagaimana manusia akhirnya menulis puisi dengan kecerdasan buatan? Memasukkan perintah ke Gemini, Chat GPT dan masih banyak lainnya. Lalu puisi itu dikirimkan kepada orang yang sedang kamu jatuh cintai. Puisi yang dibuat dengan kecerdasan buatan untuk orang yang dicintai apakah menjadi kata-kata cinta buatan?
Sayang di pipimu yang merona merah, seperti pagi kususuri jalanan berlatar pohon-pohon kelapa. Dimana sawah menjadi horizon yang jelas, kabut menghamburkan cahaya matahari persis rona merah pipimu saat ini
Sepenggal puisi di atas bukan ciptaan kecerdasan buatan. Sekali lagi bukan.

Generate AI hasil puisi di atas
Mungkin, kecerdasan buatan akan membuat puisi yang lebih bagus. Tetapi bagaimana rasanya menulis yang bertaut di jiwa berbantuan kecerdasan buatan? Bukan hanya soal tata bahasa, mungkinkah rasa yang manusia tuliskan dapat dituliskan oleh kecerdasan buatan?
Semoga generasi saat ini, mampu menuliskan puisi tanpa kecerdasan buatan. Betul-betul mengolah kata dari hasil olah pikir dan olah rasanya sendiri. Ataukah kini ada rasa buatan? Tabik.
메타데이터
- post_id
- 1ce07ab2e983
- slug
- puisi-kecerdasan-buatan-1ce07ab2e983
- url
- https://medium.com/@otimtamo/puisi-kecerdasan-buatan-1ce07ab2e983
- canonical_url
- https://medium.com/@otimtamo/puisi-kecerdasan-buatan-1ce07ab2e983
- author_url
- https://medium.com/@otimtamo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 07:44:09