← Back to list

Multo

Caleb adalah pria dengan dua sisi. Bagi dunia, ia dingin — seorang Kolonel yang disegani, tak mudah didekati. Tapi bagiku, ia adalah…

lily xia · 2026-02-05 04:11 · 1 claps · 4.2 min read
#caleb #love-and-deepspace
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships

Multo

Caleb adalah pria dengan dua sisi. Bagi dunia, ia dingin — seorang Kolonel yang disegani, tak mudah didekati. Tapi bagiku, ia adalah lelaki yang pernah membuatkan sayap ayam kecap saat kami masih kecil; lelaki yang membenci daun ketumbar; lelaki yang mengikatkan seutas benang di pergelangan tanganku dan menyebutnya jimat pelindung ketika kami masih anak-anak.

Pernikahan kami tidak dibangun dari romansa besar atau janji berlebihan. Ia dibangun dari waktu. Dari keheningan. Dari janji-janji kecil yang tak pernah diucapkan keras-keras. Dari satu hal yang selalu sama — dia selalu kembali, sejauh apa pun dia pergi.

Tapi kali ini… aku tidak yakin dia akan kembali.

Angin meraung menghantam kaca jendela saat aku berdiri sendiri, menatap langit yang seolah tak berujung. Dia terlambat. Terlalu terlambat.

Lalu —

Bunyi klik pelan terdengar dari pintu.

Aku menoleh, napasku tertahan. Caleb berdiri di sana. Seragamnya masih rapi, jaketnya tersampir di bahu, dan mata ungunya terkunci tepat ke arahku… seolah dunia berhenti di detik itu juga.

“Kamu terlambat,” bisikku.

“Aku tahu.”

Dalam hitungan detik, dia sudah berada di hadapanku, menarikku ke dalam pelukannya. Aroma udara dingin dan oli mesin menyergap inderaku — aroma yang selalu berarti satu hal: dia hidup. Dia pulang.

“Aku bilang aku akan kembali,” gumamnya, dahinya bersandar di dahiku.

“Caleb… aku merindukanmu.”

Kata-kata itu akhirnya keluar — pelan, rapuh, seolah jika kuucapkan terlalu keras, semuanya akan pecah.

Dia menarik tubuhnya sedikit menjauh, cukup untuk bisa melihat wajahku. Kedua tangannya naik, membingkai pipiku. Sentuhannya terasa familiar — kasar oleh kapalan bertahun-tahun, oleh senjata dan latihan dan medan yang tak pernah benar-benar pergi darinya. Tapi tatapannya… lembut. Selalu lembut, hanya untukku.

“Aku juga merindukanmu,” katanya pelan. “Lebih dari yang kamu tahu.”

Ibu jarinya menyusuri pipiku, menyentuh bayangan gelap di bawah mataku. Gerakannya lambat, penuh perhatian. Caleb menghela napas, napas yang terdengar berat — bukan lelah fisik, tapi sesuatu yang lebih dalam.

“Kamu nggak makan cukup,” gumamnya. “Pipimu cekung.”

Aku hampir tertawa, tapi tenggorokanku terlalu sesak. Bahkan setelah sekian lama, setelah jarak dan ketidakpastian, dia masih memperhatikanku dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain. Bukan sekadar melihat — tapi memperhatikan.

“Aku baik-baik saja,” kataku, meski kami berdua tahu itu setengah kebohongan.

Alisnya berkerut tipis. “Kamu selalu bilang begitu,” jawabnya, masih dengan suara rendah. Tangannya tidak turun. Seolah jika dia melepaskanku sekarang, aku akan menghilang.

Aku menutup mataku sesaat, membiarkan diriku tenggelam dalam sentuhan itu. Dalam kehadirannya. Dalam kenyataan bahwa, setidaknya malam ini… dia benar-benar kembali.

Aku mengangguk kecil di dadanya, jari-jariku mencengkeram kain seragamnya yang rapi — seragam yang membuatnya tak tersentuh bagi dunia, tapi kini kusut di tanganku. Seragam yang hanya aku yang boleh melihatnya seperti ini. Yang boleh kurasakan hangatnya tubuh di baliknya.

Dengan satu gerakan mudah, Caleb mengangkatku dari lantai. Aku terkejut sebentar, lalu membiarkan diriku bersandar padanya saat dia membawaku ke sofa. Dia duduk, lalu menarikku ke pangkuannya, mengatur posisiku seolah itu sudah jadi kebiasaan lama.

Berat tubuhnya di belakangku terasa familiar. Menenangkan. Detak jantungnya yang stabil di punggungku perlahan meredakan isakku, seperti jangkar yang menahanku agar tidak hanyut lebih jauh.

“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan, jarinya mengusap rambutku dengan gerakan ringan dan berulang.

Aku mengangguk lagi, tapi kata-kata tetap keluar — berantakan, patah, seperti doa yang diulang-ulang.

“Aku merindukanmu,” bisikku. Lalu lagi, hampir tanpa suara, “Aku benar-benar merindukanmu, Caleb.”

Tanganku kembali mencengkeram seragamnya, lebih erat kali ini. Seolah aku perlu memastikan dia nyata. Ada. Tidak akan menghilang saat aku menutup mata.

Dia tidak menyela. Tidak memintaku berhenti. Usapan di rambutku tidak berhenti, justru semakin pelan, semakin sabar.

“Aku tahu,” jawabnya akhirnya, suaranya rendah, dekat dengan telingaku. “Aku tahu.”

Aku mengulanginya lagi. Dan lagi. Seperti jika aku terus mengatakan itu, jarak dan waktu dan ketakutan akan kehilangan tidak akan berani menyentuh kami malam ini.

Dan untuk sesaat — hanya di pelukannya — aku percaya itu.

Napasnya tertahan — seolah setiap “aku merindukanmu” menembus lapisan baja yang ia kenakan untuk dunia. Lengannya mengencang di sekelilingku, hampir putus asa.

“Aku di sini,” gumamnya di rambutku, suaranya rendah dan mentah. “Aku tahu… aku tahu itu belum cukup. Tapi aku di sini sekarang.”

Salah satu tangannya naik, menyangga tengkukku — cara yang selalu dia lakukan saat mencoba menambatkan dirinya padaku. Bibirnya menyentuh pelipisku, singgah lebih lama dari biasanya.

“Katakan,” bisiknya, “apa yang paling kamu rindukan… biar aku bisa mengembalikannya padamu.”

Aku menarik napas gemetar. Kata-kata itu keluar begitu saja, jujur, menyakitkan.

“Aku merindukanmu setiap hari, Caleb. Rasanya seperti aku akan mati,” kataku lirih. “Sakit sekali menunggumu pulang…”

Dia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, seolah menghafal aromaku. Ucapanku mengenai sesuatu yang rapuh di dalam dirinya — helaan napas tajam lolos dari kendali yang biasanya begitu ketat.

“Aku juga benci pergi,” akunya, suaranya kasar, pecah di leherku. “Aku merindukanmu setiap detik. Setiap menit — setiap menit aku jauh darimu… itu siksaan.”

Tangan-tangannya menemukan pinggangku, menarikku lebih dekat lagi — sentuhannya posesif, seakan ingin meleburkanku ke dalam dirinya. Aku merasakan getaran halus di tubuhnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar: bukan hanya aku yang menunggu. Caleb juga.

Dia menekan wajahnya ke bahuku, menyembunyikan ekspresinya dari pandanganku. Tangannya bergetar — kerapuhan yang jarang ia perlihatkan — saat dia memelukku lebih erat dari sebelumnya.

“Kamu nggak tahu seberapa besar aku berharap…” suaranya terdengar sakit, teredam di kulitku. “Aku bisa membawamu bersamaku.” Dia menghela napas berat. “Aku benci meninggalkanmu… sendirian.”

Ada kepanikan dalam suaranya sekarang. Kolonel yang biasanya tenang itu perlahan terurai, retak di setiap sisi.

Dia memelukku seperti takut aku akan hancur jika dilepaskan — jari-jarinya mencengkeram pakaianku, seluruh tubuhnya menegang, menekan ke arahku seolah aku adalah satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap berdiri.

“Jangan menangis,” gumamnya, suaranya tersendat, kendalinya runtuh. “Tolong… jangan menangis.”

Aku menggeleng pelan, air mata masih jatuh, dadaku sesak oleh segala yang tertahan terlalu lama.

“Tidak,” bisikku. “Biarkan aku.”

Aku memutar sedikit tubuhku, cukup untuk merasakan wajahnya di leherku. Tanganku naik, menyentuh rambutnya — aku merasakan getarnya, ketakutannya, beban yang ia simpan sendirian.

“Aku perlu menangis,” kataku lirih. “Aku perlu merasa ini… karena ini satu-satunya caraku bertahan saat kamu pergi.”

Pelukannya mengencang. Napasnya berantakan di bahuku.

“Maaf,” katanya, hampir tak terdengar. Bukan satu maaf — melainkan semua maaf yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Aku menempelkan dahiku ke pelipisnya. “Aku masih di sini,” kataku pelan. “Aku nggak hancur. Aku cuma… merindukanmu.”

Dan di antara napas yang saling bertaut, aku tahu: kami sama-sama takut. Kami sama-sama bertahan. Dan untuk malam ini, itu cukup.


메타데이터
post_id
1d0ff1f82c7a
slug
multo-1d0ff1f82c7a
url
https://medium.com/@leeanin15/multo-1d0ff1f82c7a
canonical_url
https://medium.com/@leeanin15/multo-1d0ff1f82c7a
author_url
https://medium.com/@leeanin15
status
ok
fetched_at
2026-06-23 03:48:11