Bolehkah Menjadi Waria?
Pernahkah kamu berpura-pura baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang hancur? Atau tersenyum di depan orang lain, padahal hati sedang…
Bolehkah Menjadi Waria?
Pernahkah kamu berpura-pura baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang hancur? Atau tersenyum di depan orang lain, padahal hati sedang berantakan? Kalau iya, mungkin selama ini kamu sedang memainkan sebuah peran tanpa sadar. Menariknya, hal seperti itu bukan hanya terjadi di kehidupan nyata, tetapi juga menjadi inti cerita dalam film Lovely Man.

Cr: Cultura
Film ini mengisahkan pertemuan antara Cahaya dengan ayahnya, Ipuy, setelah bertahun-tahun berpisah. Yang mengejutkan, sosok ayah yang selama ini ia cari ternyata hidup sebagai seorang waria dan bekerja di jalanan Jakarta. Sepanjang film, kita melihat Ipuy tampil begitu percaya diri. Ia banyak bercanda, seolah tidak peduli dengan cibiran orang lain, bahkan terlihat sangat kuat menghadapi kerasnya hidup. Namun, benarkah itu dirinya yang sebenarnya? Ataukah semua itu hanyalah sebuah “peran” yang ia mainkan agar tetap bisa bertahan hidup?
Di sinilah pemikiran Erving Goffman terasa begitu relevan. Menurut Goffman, kehidupan sosial ibarat sebuah panggung. Setiap hari kita memainkan peran tertentu agar bisa diterima oleh lingkungan. Di depan publik (front stage), kita menunjukkan versi diri yang dianggap pantas oleh masyarakat. Namun ketika berada di ruang yang lebih pribadi (back stage), topeng itu perlahan dilepas dan sisi diri yang sebenarnya mulai terlihat. Menariknya, hal ini tidak hanya terjadi pada Ipuy. Hampir semua orang pernah melakukannya. Ada yang tersenyum di tempat kerja meskipun sedang menghadapi masalah keluarga. Ada yang terlihat percaya diri di media sosial, padahal diam-diam sedang kehilangan arah. Kita semua, dalam kadar yang berbeda, pernah memainkan peran agar tetap bisa menjalani hidup.
Hal itulah yang membuat tokoh Ipuy begitu manusiawi. Di jalanan Jakarta, ia tampak keras, jenaka, bahkan seolah kebal terhadap hinaan orang lain. Namun ketika hanya berdua dengan Cahaya, anak yang telah lama ia tinggalkan, perlahan pertunjukan itu runtuh. Yang muncul bukan lagi sosok waria yang berusaha terlihat kuat, melainkan seorang ayah yang dipenuhi rasa bersalah, penyesalan, dan ketakutan karena mungkin tidak lagi pantas disebut sebagai orang tua. Momen-momen seperti ini menunjukkan bahwa identitas yang kita lihat di ruang publik belum tentu mencerminkan seluruh diri seseorang. Ada luka yang sengaja disembunyikan, bukan karena ingin menipu orang lain, tetapi karena dunia sering kali tidak memberi ruang bagi orang untuk menunjukkan kelemahannya.
Lovely Man bukan sekadar kisah tentang seorang waria, melainkan kisah tentang manusia yang terus bernegosiasi dengan identitasnya. Goffman membantu kita memahami bahwa setiap orang memiliki panggungnya masing-masing dan setiap panggung menuntut peran yang berbeda. Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan setelah film ini selesai bukan lagi, “Bolehkah menjadi waria?”, melainkan “Berapa banyak topeng yang selama ini kita pakai agar bisa diterima oleh orang lain?” Bisa jadi, yang membedakan kita dengan Ipuy bukanlah kenyataan bahwa ia memakai topeng, melainkan jenis topeng apa yang kita pilih untuk dikenakan setiap hari?
메타데이터
- post_id
- 1d2ba6dd396f
- slug
- bolehkah-menjadi-waria-1d2ba6dd396f
- url
- https://medium.com/@fannkirya/bolehkah-menjadi-waria-1d2ba6dd396f
- canonical_url
- https://medium.com/@fannkirya/bolehkah-menjadi-waria-1d2ba6dd396f
- author_url
- https://medium.com/@fannkirya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-05 05:36:13