← Back to list

Kenapa Orang Lemah Justru Merundung?

Chapter #302 — Menulis Satu Halaman, 3 Juni 2026

Riza Putranto in Lentera Literasi · 2026-06-04 05:25 · 285 claps · 2.5 min read
#lentera-literasi #refleksi #refleksi-diri #bullying #psikologi
Open on Medium ↗

Kenapa Orang Lemah Justru Merundung?

Chapter #302 — Menulis Satu Halaman, 3 Juni 2026

Photo by Chris Sabor on Unsplash

Photo by Chris Sabor on Unsplash

Kenapa merundung?

Ketika mendengar kata “perundungan”, jangan-jangan kita membayangkan sosok yang kuat menekan yang lemah. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah, karena dalam beberapa kasus terjadi demikian.

Namun jika kita mencoba memahami kembali, pelaku perundungan justru bukan orang yang benar-benar kuat, baik secara fisik atau psikis.

Mereka tampak dominan di luar, tetapi sebetulnya “rapuh” di dalam. Mereka terlihat berani, namun sesungguhnya sedang bersembunyi dari ketakutan mereka sendiri.

Sebuah ironi yang sering luput kita lihat.

Saya berani mengatakan bahwa tidak sedikit tindakan merundung lahir dari kelemahan, bukan kekuatan.

Mekanisme psikologis ini serupa dengan kenapa orang yang salah atau tahu dirinya salah akan berteriak terlebih dahulu sebelum orang lain berteriak padanya. Sebuah bentuk pertahanan diri agar dia tidak tampak salah.

Menurut saya, kita bisa agree to disagree, bahwa orang yang benar-benar kuat biasanya tidak membutuhkan “korban” untuk merasa berharga.

Dia tidak perlu merendahkan orang lain untuk meninggikan dirinya. Dia tidak harus membuat orang lain kecil agar dirinya terlihat besar.

Kekuatan yang sehat cenderung melahirkan ketenangan, sedangkan kelemahan yang tidak terselesaikan sering kali mencari pelampiasan.

Semakin merundung, semakin rapuh?

Riset psikologi menunjukkan bahwa perilaku agresif sering berkaitan dengan rasa tidak aman (insecurity), harga diri yang rapuh, pengalaman penolakan, atau kebutuhan besar untuk mendapatkan pengakuan. Meski hal ini sering dialami individu manusia di usia remajanya namun perilaku ini bisa terbawa hingga seseorang dewasa.

Ketika seseorang tidak mampu mengelola rasa tidak nyaman dalam dirinya, ia kadang mencoba memindahkan beban itu kepada orang lain. Cara paling cepat adalah membuat orang lain merasa lebih buruk daripada dirinya.

Karena itu, merundung sering kali bukan tentang korban. Bagi saya, merundung lebih banyak berbicara tentang kondisi batin pelakunya.

Mereka yang merasa tidak cukup pintar mungkin mengejek teman yang berprestasi. Mereka yang diam-diam merasa tidak menarik penampilan dirinya mungkin gemar mengomentari penampilan orang lain. Mereka yang merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya mungkin berusaha mengendalikan orang-orang di sekitarnya melalui intimidasi. Mereka yang memimpin perusahaan dan takut akan kondisi perushaaan sedang tidak baik-baik saja mungkin akan mencoba merundung anak buahnya dalam setiap pertemuan untuk menutupi ketidakmampuannya.

Mereka sedang mencari sesuatu yang hilang dalam dirinya sendiri. Sayangnya semakin mereka melakukan perundungan, semakin hilang “jati dirinya”.

Jika kita analogikan sebagai sebuah bangunan, fondasinya retak. Dari luar, bangunan itu mungkin terlihat megah. Perundungan diibaratkan bangunan ditopang penyangga buatan tambahan. Lama-lama bangunan tersebut akan rubuh dengan sendirinya. Penyangga hanya menambah waktu sebelum rubuh.

Begitu pula sebagian pelaku perundungan. Mereka membutuhkan tepuk tangan kelompok, rasa takut dari orang lain, atau posisi dominan untuk mempertahankan citra dirinya.

Namun suatu hari, akan ada orang yang “stand up” against them atau mereka jatuh dengan sendirinya.

Meski mereka lemah, merundung tetap salah.

Tentu saja, memahami akar kelemahan ini bukan berarti membenarkan perundungan. Setidaknya ini menurut pemahaman saya.

Korban tetap mengalami luka yang nyata, baik secara emosional maupun psikologis. Penjelasan bukanlah pembenaran. Namun memahami mengapa seseorang merundung membantu kita melihat masalah dengan lebih jernih.

Saya melihat perundungan seperti apapun bentuknya sebagai sesuatu yang tidak selayaknya dilakukan sesama manusia.

Tahukah kamu? Kebencian sering terdengar begitu berisik.

Sebaliknya, kekuatan sejati sering kali tenang. Dia tidak sibuk membuktikan diri. Dia tidak haus validasi. Dia tidak membutuhkan panggung yang dibangun dari penderitaan orang lain.

Kita semua sebagai manusia tugasnya sebenarnya hanya satu. Ukuran kekuatan kita bukanlah seberapa banyak orang yang bisa kita taklukkan.

Ukurannya adalah seberapa baik kita mampu menghadapi ketakutan, luka, dan kekurangannya sendiri tanpa harus menjadikan orang lain sebagai sasaran.

Indahnya dunia jika setiap individu manusia memahami ini. Akar kebencian berasal dari individu, menular kepada populasi dan menjadi pembenaran untuk duduk di atas penderitaan orang lain.

Saya tidak suka itu. Semoga kamu juga tidak suka.

fin.-


메타데이터
post_id
1d46161eb9d9
slug
kenapa-orang-lemah-justru-merundu-1d46161eb9d9
url
https://medium.com/lentera-literasi/kenapa-orang-lemah-justru-merundu-1d46161eb9d9
canonical_url
https://medium.com/lentera-literasi/kenapa-orang-lemah-justru-merundu-1d46161eb9d9
author_url
https://medium.com/@rizaputranto
status
ok
fetched_at
2026-06-13 09:11:36