POCONG HOREG
Semesta lahir dari suara. HOREG HOREG HOREG!
POCONG HOREG
Semesta lahir dari suara. HOREG HOREG HOREG!
“Asololeee!”
BIG BANG!
Ajagijig Boom! Boom!
Yang teruruk di bawah tanah sebaiknya tetap di sana.

Menggelegar. Berdentum. Jantung dibuatnya mau meledak. Datang normal, pulang budeg.
Ajagijig Boom! Boom!
“Asolole asoy!”
Jedag jedug jedag jedug GLERRRR!
“Nyesek tapi asyik, lur!”
“Pake G, NYESEGG.”
“GERRR!”
“Dan begitulah, fenomena budaya komunal Sound Horeg tidak lagi cuma menggemparkan, tapi MENGGEMPAKAN.”
“Yak benar, Master Zeus bisa mengalahkan gempa,” kata salah satu operator sekaligus kreator yang bangga sama hasil karyanya. Sebut dia Karmadi.
Tanah berguncang mengikuti dentuman lagu remix pop dangdut. Di tengah jalan, para penampil jogetnya seperti terhuyung-huyung. Genteng-genteng rumah ikut goyang, lepas dari sangkarnya. Yang punya rumah marah, tapi pasrah. Kegiatan komunal ini tak bisa dibendung. Mau protes juga percuma.
“Kenapa Master Zeus?”
“Karena menggelegar. Hahahaha,” jawab Karmadi.
Waktu mulutnya menganga karena tawa bangga, ada yang menimpuk pakai teletong (baca: kotoran) sapi. Karmadi langsung melepeh-lepeh panik. Si pewarta langsung kabur, takut kena lemparan juga.
“Asuuu!” Karmadi murka. Dia bertatapan sama si pelaku, yang jelas terlihat dari antara kerumunan warga yang menonton di pinggir jalan di luar tali batas, tangannya berlumuran teletong sapi. Karmadi menuding keras.
“Aku ada bayi!” seru pelaku pelempar teletong sapi.
Apa pun alasannya, tindakan melempar teletong sapi sampai nyelip ke gigi sangat tidak bisa diterima Karmadi. Alih-alih mengecilkan atau segera lewat dari depan rumah warga itu, Karmadi malah mengeraskan volume sound horegnya. “Master Zeus murka!” gelegarnya.
Kini bukan lagi sekadar gempa di tanah, langit juga ikut bergetar. Dan bisa saja, Zeus betulan di istana di balik awan, kena serangan jantung.
Pelempar teletong sapi murka kuadrat, tapi segera diamankan oleh simpatisan sound horeg. Dia diajak pergi jauh-jauh dari kampung itu. Dicarikan hotel untuk menginap. Murkanya mereda, karena dapat fasilitas sarapan enak, tak seperti sarapan yang dia siapkan buat anak-anaknya sehari-hari.
Pelan tapi pasti, jedag-jedug tanpa henti, akhirnya Sound Horeg Master Zeus, yang ornamennya banyak petir dan potongan gambar dewa Thor pakai muka Chris Hemsworth, yang kalau dilihat dari jauh seperti mobil pickup lagi ditunggangi Thor raksasa, tiba di alun-alun kampung Ajagijig.
“Ini dia menu utamanya. BATTLE SOUND HOREG!”
Kalau tadi karnaval di jalan mengantar satu tim saja sudah menggempakan, kini di alun-alun, yang mendadak jadi ladang pertempuran dua set tumpukan sound system menggajah, bayangkan seperti apa goncangannya. Kalau ada monas di sini mungkin dia akan runtuh.
Karmadi berdiri di atas kepala mobil pickup. Setelannya seperti rockstar. Dia bawa perlengkapan DJ portable bersamanya.
Alun-alun penuh oleh lautan ragam manusia, segala usia. Ada yang nekat bawa bayi ke acara itu. Busett!
Tepuk tangan lautan manusia itu sampai tak terdengar karena dentuman bass memenuhi udara. Karmadi mengangkat binokularnya, melihat lawan Master Zeus di seberang lapangan alun-alun.
“Prabu Horeg siap melumat anda!” seru master operator tim horeg lawannya Karmadi. Hiasan mereka punya elemen mahkota kerajaan kawin dengan layar-layar led yang memutar pola-pola psikedelik. “Dengarkan titah Prabu!”
“FIGHT!!!!”
GELEGARRRRR……
BOOM BOOM BOOM AJIGIJIG…
STECU STECUUU….
OH MY GODDDDD… NO PLEASE GOD, NOOOOO!!!
BOOMBAYAAHHH
BLEKI IN YOUR AREA!!
BOOM BOOM BOOM BOMBOMBOMBOOOMMM
SHRIIIIIIKKKKKKNGWUINGNGWUING
DENGAR SUARA OJAN~~
MAKKK UDAH MAKKK~~~
KALAU MEMANG COCOK AYOK GRUDUK KUA~~
OW WOW WO… CUCAKROWOWW~~~
ANT TAKE ANT TAKE ASH SING~~~
OMKEGAS OMKEGAS~~
HANCUR HANCUR HATIKU, HANCUR HANCUR HATIKU~
HATIKU HANCUR!
Di tengah lapangan yang semestinya dikosongi penonton, yang sengaja disediakan sebagai area pertempuran gelombang bass GLER, yang biasanya dipakai untuk menaruh tumpukan botol biar kalau kena dentum botol-botolnya mental, ada seseorang berpakaian jas nekat joged-joged di sana. Dia menggila. Kayaknya mabuk. Meski begitu, orang-orang tak ada yang berniat untuk menyingkirkan. Mereka asyik melihat dua master operator bertarung jedag-jedug.
FUCKTHESYSTEM FUCKTHESYSTEM~
DIEEEEE DIEEEEEE~~
LAY LAY LAY LAY LAY LAY PANGIL AKU SI~~
BOOM!
BOOM!
BOOM!
BOOM!
BOOM!
BOOM!
BOOM!
JEGEDERR!
Jeda.
Hening.
Senyap sebelum ledakan nuklir. Oppenheimer pun pening.
Larutan dentum masih menggantung di udara. Pekat. Para penonton mencengkeram dada. Mereka meringis. Menanti dalam suspensi. Telinga ditutup erat-erat.
JEGEDER!
Itu datang bukan dari sound horeg, tapi guntur di langit.
Sekilat, semuanya gelap. Sekilat, kembali terang.
Orang berpakaian jas yang menggila ambruk di tanah.
Butuh sekian lama sampai orang-orang sadar apa yang sebenarnya terjadi. Karmadi dan lawannya menyunggingkan senyum dan saling mengacungkan tangan tanda sportif. Orang-orang mulai membebaskan telinga mereka lagi dan sibuk memborong jajanan.
Musik diputar lagi, pelan tapi tetap terasa dentum bassnya menggasak ulu hati. Tim Horeg Master Zeus dan Prabu Horeg mulai beratraksi dengan permainan panel led dan koreo lampu sokle mereka.
Sampai kemudian terdengar jeritan seorang wanita. Dia yang pertama kali mendapati laki-laki berjas itu sudah mati.
Karmadi yang lagi turun dari gajahan sound systemnya segera menghampiri. Seketika dia membeliak.
Orang-orang berkerumun. “Gegar otak?”
“Bukan.”
“Innalillahi! Matanya pecah. Luber!”
“Ada cairan keluar dari telinganya.”
“Otaknya meledak?”
Karmadi geleng-geleng. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Ini bukan karena battle sound horeg.
“Ini santet,” gumamnya.
Demi menghindari hal yang tak diinginkan kemudian hari, sementara petugas yang berwenang menentukan penyebab kematian laki-laki berjas itu, Kepala Kampung melarang Festival Sound Horeg dilanjutkan. Bagi siapa yang nekat melanggar, akan dijebloskan ke penjara.
“Asu tenan! Itu orang kena santet, og!” kata Karmadi ke tim Master Zeus.
“Iyo, cak. Percaya aku,” kata Samin, yang mengurusi hiasan sound horeg.
“Itu orang anggota DPRD, pasti ada yang dengki sama belio,” kata supir pickup, namanya Dogel.
“Terus piye, cak?” tanya Miul, yang mengurusi lagu remix.
“Sumpal mulut Kepala Kampung pakai jembut,” tegas Karmadi.
Kegemaran Karmadi terhadap sound system berakar sejak dirinya kecil. Waktu itu dia suka main ke bengkel elektronik milik Mas Topo. Dia paling senang melihat jalur-jalur pada papan sirkuit. Komponen-komponen elektriknya bersusun, menyerupai sebuah miniatur kota futuristik. Dari Mas Topo, Karmadi belajar menyolder dan hapal warna cincin resistor.
“Hicomeokuhibiuapu,” ulang Karmadi kecil.
Waktu SMP, Karmadi paling menunggu mapel elektronik. Bila mata pelajaran lain nilainya antara 50–60, di mapel ini dia dapat 100.
Selain membetulkan perkakas elektronik, Mas Topo juga meladeni sewa sound system. Dari sini obsesi Karmadi terhadap dentum bass dimulai. Pernah di suatu hajatan, Karmadi merasa pesta itu kurang meriah. Menurutnya, momen sakral pernikahan harus menggetarkan jiwa, baik mempelainya, maupun tetamunya. Nekat, Karmadi menyetel lagu Pangeran Cinta dari Dewa 19 dengan volume keras.
“Ini baru mantab!”
Tapi Karmadi kena tampol Mas Topo. “Musik dobol!”
Sakit hati, Karmadi memulai bisnis sound systemnya sendiri, kecil-kecilan. Dia mengumpulkan uang dari jualan musik remix di internet. Selain itu, dia juga memanfaatkan Live Tiktok untuk jejogetan ala Sadbor. Dari saweran yang dia peroleh, pelan-pelan Karmadi punya belasan sound system.
Dan merebaklah tren sound horeg. Karmadi mengidolakan mas Thomas Alva Edisound, sebab mereka sama-sama otodidak. Salah satu cita-citanya yaitu ingin battle sound horeg melawan beliau suatu saat nanti.
Sempat ada penolakan dari warga Ajagijig terhadap kegiatan sound horeg Karmadi. Terutama dari mushola setempat. “Kami lagi pengajian, tolong kegiatan sampean ditunda dulu, atau sama sekali tidak perlu dilakukan,” begitu kata salah satu ustazah. “Banyak mudaratnya.”
Karmadi tak mengindahkan permintaan ustazah itu. Dia malah menggelar karnaval dadakan. Dia mengajak teman-temannya untuk jejogetan di jalan, membuat koreografi yang dia sebut Aduh Puyeng Dance. Orang-orang mushola kalah sama antusiasme anak muda menyambut sound horeg milik Karmadi.
Mendadak Karmadi jadi bintang kampung. Dia dicinta sekaligus dibenci.
Di luar popularitasnya, Karmadi paham betul bahwa sound horeg jadi kontroversi nasional. Dia melihat berita tim sound horeg merusak jembatan dan gapura hanya untuk lewat. Karmadi tak melakukan itu. Sebelum tampil, Karmadi terlebih dahulu meninjau jalur yang akan dia lewati. Kalau muat, dia akan berangkat dengan set lengkap. Kalau tidak muat, dia tak masalah untuk bongkar pasang di tujuan. Langkah-langkah mitigasi lain juga dia lakukan. Misalnya; dia akan membiayai penginapan untuk keluarga yang punya bayi, dia akan turun tangan membetulkan genting yang copot, dia juga akan membagikan earplug sebelum karnaval dimulai.
Kalau masih ada yang memarahi, Karmadi akan membungkam suara orang yang mengomelinya pakai remix stecu-stecu, atau kopi dangdut juga bisa.
Selama Karmadi mengadakan karnaval di jalan dan di alun-alun, belum pernah kejadian yang aneh-aneh. Jadi, kejadian pejabat DPRD mati dengan otak encer itu bukan salah sound horegnya. Dia menolak dibungkam. Kreatifitas tak boleh dibendung.
Selama tiga hari Karmadi merunduk, orang mushola kampungnya pernah bertandang. “Kami mau pinjam sound systemnya buat pengajian akbar.”
“EMOOHHH!” Karmadi menolak mereka mentah-mentah. Tak peduli kalau mereka siap membayar mahal.
Adalah Dogel yang menyimpulkan bahwa anggota DPRD itu mati kena santet. Konsultasinya dengan Dukun yang membenarkan itu.
“Nama santetnya: Wedhang Utek,” kata Dukun.
“Kepala Kampung klien sampean juga, toh?” tanya Karmadi.
“Nggih.”
“Nah, kan!”
“NAH, KAN!”
Dukun, Karmadi, dan Dogel tertawa.
Karmadi punya teori kalau Kepala Kampung memang kemarin lagi mencari alasan buat menyetop sound horeg miliknya. Itu bukan tanpa alasan. Waktu awal-awal Karmadi tenar dan sound horegnya ramai disewa untuk hajatan, Kepala Kampung memberi sinyalemen semestinya Karmadi memberinya persenan.
“Enak aja, kita yang kerja, dia ikutan dapet duitnya. Kecuali dia mau modalin, ya kan, ya kan?” kata Karmadi ke tim sound horegnya.
Sekarang, tiga hari setelah tragedi anggota DPRD meledak otaknya, Karmadi dan timnya bertamu ke rumah Kepala Kampung. Set Master Zeus dibawa ikut menghadap.
“Asu tenan, og!” kata Karmadi begitu menginjakkan kaki ke halaman rumah Kepala Kampung.
Terpampang di hadapannya, set-set sound system baru.
Dugaan Karmadi terbukti benar. Tanpa babibu, dia melantangkan protesnya lewat Master Zeus.
Gelegar murka Master Zeus merusak set-set sound system milik Kepala Kampung.
Sekeluarga Kepala Kampung yang tak mengantisipasi ini sama sekali, kena serangan jantung mendadak.
Kalau di rumah itu jantungnya pada semaput, lain hal di area kuburan kampung.
Di sana, jantung-jantung yang sempat lebur ke tanah, digerakkan oleh dentuman GLER sound horeg dari alun-alun waktu itu, mewujud dan berdenyut kembali. Kini, dentuman yang disajikan Karmadi dalam rangka perlawanan, membuat jasad-jasad di bawah tanah benar-benar bangkit, benar-benar mendamba hidup lagi.
Nisan pecah.
Gundukan tanah makam merekah.
Pocong-pocong mencelat keluar.
Sore itu ditutup dengan sirine ambulans dan mobil polisi meraung-raung menggantikan gelegar Master Zeus. Keluarga Kepala Kampung dilarikan ke IGD. Karmadi ditahan polisi. Set Master Zeus disita orang mushola.
“Yahhh, sayang sekali,” kata Miul.
“Ini namanya pembungkaman,” kata Dogel, kesal.
“Kita kerahkan Umat Zeus?” tanya Samin. Umat Zeus adalah sebutan simpatisan sound horegnya Karmadi.
“Kita jenguk Karmadi dulu pas situasi sudah mulai tenang,” kata Dogel.
Tapi, situasi tenang yang diharap Dogel tak pernah terjadi.
Semalaman bengkel sound horeg milik Karmadi ramai ditongkrongi anak muda. Mereka adalah Umat Zeus. Di situ Dogel jadi semacam moderator untuk membicarakan apa langkah mereka selanjutnya. Tapi obrolan jadi lebih sering membicarakan pahlawan sound bernama Karmadi.
“Kita tidak bisa gegabah merebut kembali Master Zeus dari orang mushola. Duh gila, mereka bawa-bawa orang koramil buat jaga-jaga,” kata Dogel.
“Karmadi posisinya sulit dibela. Gila, sepanjang karirnya, baru kali ini ada yang beneran kena serangan jantung,” kata salah satu simpatisan.
Malam semakin beranjak menuju dini hari, satu per satu pemuda memutuskan pulang. Tinggal selusin di sana, menetap untuk minum-minum bersama Miul dan Samin. Dogel menjaga diri supaya tetap waras.
Dini hari, Dogel terantuk-antuk kepalanya mengantuk.
HOREG HOREG HOREG…
Dogel terjaga.
Kerumunan sudah pada ambruk di tanah. Mabuk semua.
Situasi gelap, pandangan Dogel buram. Meski begitu dia mampu merasakan ada yang janggal. Ada kerumunan baru yang datang. Putih-putih. Semua berjajar mengelilingi orang-orang mabuk.
HOREG HOREG HOREG…
Dogel mengucek mata.
Kini dia melihat secara nyata.
“Po-Po-POCONG!”
HOREG HOREG HOREG…
Geger!
Anak-anak kecil di kampung Ajagijig yang doyan nonton film zombie tak pernah menyangka kampung mereka kedatangan zombie tapi dalam versi pocong.
HOREG HOREG HOREG…
Ribuan pocong menginvasi kampung dan hanya itu yang mereka ucapkan. Mereka datang tak kenal siang dan malam.
Ketika Dogel menjerit sampai terkencing-kencing melihat pocong, pemuda-pemuda yang mabuk sontak bangun dan lari terbirit-birit dan bahkan ada yang cepirit. Dogel kakinya lemas, tak sanggup dia kabur. Dia pikir pocong-pocong itu akan menyerang dirinya, tapi ternyata mereka hanya berkerumun dan menggumamkan… HOREG HOREG HOREG…
Salah satu dari mereka masuk ke bengkel elektronik, yang sudah menyerupai altar bagi Karmadi, dan menjedotkan kepala ke salah satu sound system yang belum selesai dirakit. Kawanan pocong lain mengikutinya.
Dogel menelan ludah, menyaksikan bagaimana pocong-pocong itu menghancurkan perkakas elektronik. “Gawat ini kalau Karmadi sampai tahu.”
“Mereka tidak berbahaya,” kata Miul, paginya ketika datang ke markas.
“Tapi tetap saja meresahkan, edan!” kata Samin.
Pagi-pagi itu simpatisan Master Zeus menyantap sarapan nasi pecel sembari menyaksikan vandalisme yang dilakukan pocong-pocong.
“Pocong Horeg,” sebut Samin.
“Jarang-jarang liat yang kayak begini,” kata salah satu simpatisan.
Mereka tampaknya terlalu tenang untuk situasi yang seperti ini. Nah, mereka baru kocar-kacir ketika salah satu pocong ternyata anggota DPRD yang otaknya lumer itu.
HOREG HOREG HOREG…
Pocong DPRD itu menghampiri mereka dan melibas sisa nasi pecel yang ditinggalkan.
Teror pocong mengudara di seantero kampung. Orang-orang bingung dan takut. Orang-orang galau harus berbuat apa. Kebanyakan pocong menyatroni rumah warga dan terus saja menggumam… HOREG HOREG HOREG…
Tim orang mushola mencoba mengusir pocong pakai ayat-ayat suci tapi tidak mempan. Akhirnya, mereka mengerahkan orang-orang koramil yang kekar-kekar untuk menghadang.
Gila. Pagar betis orang-orang koramil rupanya kalah sama betis-betis pocong horeg ini. Jam-jam berlalu, jumlah mereka semakin banyak yang datang. Warga memutuskan mengunci diri di dalam rumah. Pintu dipalang dari dalam.
HOREG HOREG HOREG…
Orang-orang koramil kembali ke barak dan mengambil senjata. Peluru mereka habis untuk memberondong ribuan pocong horeg. Habis sia-sia. Mubazir sebab pocong tumbang, lalu bangkit lagi. Tak ada matinya… hah?
HOREG HOREG HOREG…
Orang mushola berembug. “Mereka bilang horeg terus. Apa mungkin mereka minta diputarkan sound horeg?”
“Mereka bangkit gara-gara sound horeg. Karmadi harus tanggung jawab.”
“Karmadi lagi dipenjara.”
“Sudah bisa nyalain sound horegnya Karmadi belum?”
“Belum. Ribet. Kayak udah dikunci DNA sama Karmadi.”
“Aduh. Gawat ini.”
Akhirnya Master Zeus mangkrak saja di pelataran mushola. Orang-orang mushola memasang pagar besi tinggi. Sejauh ini pocong-pocong belum sampai menyatroni mushola. Sejauh ini semestinya mereka aman.
HOREG HOREG HOREG…
HOREG HOREG HOREG…
HOREG HOREG HOREG…
Samin, Miul, dan Dogel bukannya tidak kepikiran kalau pocong-pocong yang datang itu inginnya cuma satu: disetelin musik pakai sound horeg, tapi niat mereka untuk merebut pickup Master Zeus kalah oleh ketakutan bakal ditangkap aparat.
HOREG HOREG HOREG…
HOREG HOREG HOREG…
Meski ngeri dengan muka-muka bopeng pocong, akhirnya warga Ajagijig berdamai dengan situasi. Sejauh ini gangguan pocong horeg itu sebatas mengetuk pintu di kala Subuh dan menjelang Maghrib. HOREG HOREG HOREG. Warga mulai beraktifitas normal, tapi dengan berhati-hati agar tidak sampai berpapasan dengan busuknya pocong horeg. Toh, kalau siang mereka cuma diam terhuyung-huyung di satu titik. HOREG HOREG HOREG…
Anak-anak kecil yang takut sama zombie kini sudah mulai berani melempari pocong horeg dengan kerikil. Bahkan ada yang nekat menyiram bensin dan menyulut api.
“Itu buyutmu, edan!” anak-anak kena sambit sandal.
“Ini semua pocong dari makam umum kampung kita. Saya kenal sebagian besar,” kata si dukun. Dia melaporkan situasi kepada Kepala Kampung yang akhirnya sudah bisa pulang dari rumah sakit. “Gara-gara sound horeg, jantung mereka aktif lagi.”
Kepala Kampung dan keluarganya mendengarkan dengan heran. “Bisa gitu, ya?”
“Semesta punya misterinya sendiri, Pak. Kebanyakan memang sesinting ini. Lihat saja itu yang di istana.”
Kepala Kampung manggut-manggut. “Lalu bagaimana? Mereka berbahaya?”
“Sejauh ini belum. Bahkan ada yang diajak cangkrukan. Ditawari rokok sama vape. Mau, tuh.”
“Wah. Malah jadi akrab begitu. Tapi apa tidak pada risih?”
“Risih pasti, Pak. Kita harus cari cara untuk mengusir mereka. Saya khawatir kalau dibiarkan lama-lama, akan ada hal yang tak diinginkan terjadi.”
Kepala Kampung kelamaan berpikir.
HOREG HOREG HOREG…
Di markas sound horeg Karmadi; Miul, Samin, dan Dogel berembug. “Kalau memang mereka maunya disetelin sound horeg, kita bisa minta bantuan tetua Thomas Alva Edisound untuk kemari, tapi, bagaimana kalau pocong-pocong itu malah betah?”
“Ya nggak enak juga, sih.”
“Makanya.”
HOREG HOREG HOREG…
Makin hari kelakuan warga terhadap pocong horeg makin beragam dan aneh-aneh. Ada yang percaya dengan ilmu hitam dan berniat memilikinya dengan membiarkan dirinya dilompati pocong. Segelintir pemuda itu merebahkan badan di jalur yang dilewati pocong horeg. Konyol. Ada pedagang yang menadahkan mangkok di mulut pocong, berharap ludahnya bisa dia pakai untuk menyedapkan bakso. Edan. Yang lebih edan, ada pemuda birahi yang mengejar pocong dari almarhumah kembang desa puluhan tahun lalu untuk disetubuhi. Kalau makin gila seperti ini, bisa-bisa pocong horeg yang harusnya khawatir sama tingkah manusia, bukan sebaliknya. Di penghujung sore, pemuda birahi hilang akal itu digebuki warga.
HOREG HOREG HOREG…
HOREG HOREG HOREG…
HOREG HOREG HOREG…
Sekarang gumaman mereka terdengar seperti tuntutan.
Suatu hari orang mushola menyetel sholawatan dari sound system jelek mushola. Mereka pikir itu akan membuat pocong horeg kepanasan, tapi yang terjadi justru membuat tuntutan pocong horeg makin menggila.
Semenit sholawatan itu diputar, pocong-pocong pada melolong, ya, seperti serigala tengah malam. Kemudian mereka lompat-lompat di tempat. Tanah sampai berguncang.
HOREG HOREG HOREG…
HOREG HOREG HOREG…
Kegilaan mereka berlanjut pasca sholawatan terpaksa dimatikan. Kini, mereka tak lagi mengetuk pintu waktu Subuh dan Maghrib. Mereka mendobrak pintu di waktu Isya. Mereka memaksa masuk dan duduk di sofa rumah warga. Tidur di kasur warga. Menindihi warga tidur. Meludahi makanan warga sampai tak layak makan. Memaksa warga pakai kain kafan seperti mereka.
HOREG HOREG HOREG…
“Kita harus bertindak,” kata Dogel.
“Cuma Karmadi yang bisa mengusir mereka. Dia yang membangkitkan, dia juga yang bisa mematikan,” kata Dukun.
Di ruang tahanannya Karmadi merutuk. Sejak menginjakkan kaki di sini, dia kebanyakan disuruh-suruh oleh polisi. Betulin TV-lah, betulin radiolah, betulin cctv-lah, betulin speakerlah, betulin cukur jenggotlah, cukur jembutlah, semua yang ada listriknya diminta untuk betulkan, meskipun beberapa ada yang tak lagi bermasalah. Bukannya menjalani hukuman, dia justru diperalat. Nggak dikasih upah pula.
Dulu tiada hari tanpa bersama sound horeg, kini Karmadi kerap sakau. Dia sering menggumam… HOREG HOREG HOREG sambil meringkuk kayak lagi demam.
“Aku tak bisa dipisahkan dari cinta sejatiku.”
Malam-malam Karmadi gelisah. Dadanya bergetar. Rasanya tak komplit. Seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Harusnya getarannya beriringan antara jantung dan glerr speakernya.
Di siang hari telinga Karmadi berdenging panjang. Dia sudah coba tiup kanan dan kiri, tapi dengingnya bandel tak mau pergi. Ini jadi perkara buatnya sebab apa yang diinstruksikan oleh oknum petugas tak dia dengar. Karmadi kena gebuk dan tampol, disangka tidak menghormati.
Di waktu yang sama saat kampung Ajagijig diserbu pocong horeg, Karmadi halusinasi. Dia melihat para petugas dan tahanan lain pada lompat seperti pocong. Baju mereka satu per satu tanggal, lalu berganti kain kafan, membungkus mereka seperti sugus.
HOREG HOREG HOREG…
Karmadi terhuyung-huyung. Kepalanya mau pecah, rasanya lagi dikocok-kocok seperti toples arisan. Dengingnya kini bermuatan…
HOREG HOREG HOREG…
Tak tahan, Karmadi menjedotkan kepala ke tembok. Para petugas masuk dan membekuknya. Karmadi meronta-ronta. Akhirnya dia kena tinju telak, membuatnya pingsan seketika.
Kacau!
Hanya butuh satu pemicu untuk warga benar-benar bereaksi. Salah satu pocong, waktu hidup dikenal sebagai pemuda penuh birahi yang suka mengintip cewek mandi dan mencuri pakaian dalam. Kadang dia merancap dan meninggalkan cairan renjananya di jemuran orang. Nah, pocong satu ini muncul bergelantungan di langit-langit kamar mandi, meneteskan air liur sembari menonton kembang desa berjoget sembari menggosok badan pakai sabun.
“Pocong horeg cabul!” si kembang desa lari cuma pakai handuk. Para pemuda yang naksir padanya saling berlomba menjadi yang terdepan untuk membela.
Pocong horeg cabul itu panik lompat ke atap rumah warga, lalu menggelinding cepat. Dia menubruk kawanan lainnya seperti bola bowling merubuhkan pin.
“Seraaang!” para pemuda mengacungkan palu dan arit.
Dan terjadilah….
Perang saudara. Antara yang hidup dan yang pernah hidup.
HOREG HOREG HOREG…
Laki-laki yang gagah pada turun, membawa apa pun senjata yang bisa dipakai. HOREG HOREG HOREG. Tapi, meski mereka menyerang membabibuta, pocong-pocong yang sempat terpenggal kepala dan buntung tangan beserta kakinya, pada kembali utuh lagi.
“Hati-hati ludah pocong!”
Warga mundur, berlindung dari ludah bersifat asamnya pasukan pocong horeg.
Sementara itu, Dogel, Miul, Samin, Dukun, dan Kepala Kampung bertolak ke kantor polisi. Mereka mau menjemput Karmadi. Naik mobil jeep milik Kepala Kampung, mereka mengebut mengejar waktu, soalnya di belakang ada pasukan pocong horeg yang mengejar dengan berguling cepat di aspal seperti kayu gelondongan menuruni landainya gunung.
Sesampainya di kantor polisi mereka segera menutup pagar gerbang. Gelondongan lusinan pocong horeg menggetarkan tanah.
“Itu… pocong?” satu polisi heran mengundang yang lain ikut heran.
“Berlindung!” seru Kepala Kampung, berlari diikuti Dogel, Miul, Dukun dan Samin yang lompat dari jeep.
Begitu melihat gerudukan kepulan asap dari pocong horeg menggelundung semakin dekat, para polisi kelabakan lari masuk ke dalam. Karena kebanyakan dari mereka perutnya buncit, mereka terlalu lamban, bahkan tersandung kaki sendiri.
HOREG HOREG HOREG…
GUBRAKKK!!
Pasukan pocong horeg merobohkan pagar besi kantor polisi. Mereka menggelinding melindas polisi-polisi perut buncit.
Kepala Kampung, Miul, Samin, Dukun dan Dogel berhasil masuk ke dalam. Pintu dan jendela segera ditahan pakai meja dan lemari.
“Karmadi!” seru Kepala Kampung, berjalan masuk ke area tahanan.
“Astaga, Karmadi!” Dogel melihat sobat idolanya itu diborgol memeluk tiang.
Kepala Kampung segera berbicara kepada kepala kantor polisi situ. “Lepaskan anak muda ini. Dia dibutuhkan warga.”
Kepala kantor polisi bingung. Suara gerudukan di luar membuatnya tak fokus. Orang-orang di dalam, baik para petugas dan juga para tahanan semuanya khawatir. Mereka mengintip ke luar.
“Pocong siang-siang?! Itu pocong beneran?”
Daripada lama, Miul merebut set kunci dari sabuk kepala kantor polisi. Orang itu malah melesat kabur masuk ke ruangannya sendiri. Terdengar cklek pintu dikunci rapat dan diselot. Melihat ketua mereka bersembunyi, petugas yang lain juga ikut kabur lewat pintu belakang.
Para tahanan lain panik dan bertingkah seperti monyet mau tawuran di balik jeruji. “Pocong! Pocong!”
Kepala Kampung segera melepas borgol Karmadi. “Hai pemuda, selamatkan kami.”
Tapi Karmadi linglung, seperti orang kena gendam. HOREG HOREG HOREG… gumamnya.
“Astaga, Karmadi kena karmanya sendiri,” kata Dukun.
“Waduh,” kata Samin.
“Minggir.” Dogel mengeluarkan sesuatu dari tas cangklongnya. Sebuah headset dan iPod model lama. Dia pasangkan ke kepala Karmadi.
GRUDUK GRUDUK GRUDUK! Pintu kantor polisi berguncang-guncang. HOREG HOREG HOREG…
Kaca pintunya mau pecah dan rangkanya mulai penyok.
HOREG HOREG HOREG…
Dogel memilih lagu Pangeran Cinta dari Dewa 19. Dia putar dan maksimalkan volumenya. Mereka menunggu reaksi Karmadi yang masih bengong.
“Duh, sudah gila dia,” keluh Dukun.
“Tunggu sampai reff,” kata Dogel.
Dan benar…
“Semua ini pasti akan musnah!” Karmadi waras, dia mengacungkan tangan dan berlagak seperti Once di video klip Pangeran Cinta. Satu reff selesai, dia langsung sadar. Dia melepas headsetnya. “Ini ada apa?” tanyanya pada semua yang hadir.
“World War P. P-nya Pocong,” jawab Miul. Karmadi mengernyit.
PRANNGGG!! Kaca jendela dan pintu pada pecah. Gerombolan pocong nggelundung berhasil masuk. Itu sudah cukup memberi penjelasan buat Karmadi.
“Masuk berlindung!” seru Kepala Kampung mengajak Dukun, Miul, Samin, Dogel, dan Karmadi ke sel tahanan. Setidaknya ada jeruji besi yang membendung mereka dari pocong.
HOREG HOREG HOREG…
Pocong-pocong berhenti menggelinding, mereka berdiri miring. Gerak huyung-huyung. HOREG HOREG HOREG… mata mereka yang bocel menyorot ke satu orang: Karmadi.
“Nak Karmadi, keselamatan kami ada di tanganmu seorang. Hanya kamu yang bisa mengalahkan mereka, pakai sound horeg,” kata Kepala Kampung. “Setelah ini, saya tidak akan mengganggu Master Zeus lagi.”
“Mereka semua bangkit dari kubur karena kedahsyatan sound horegmu, anak muda,” kata Dukun.
Karmadi menatap ke teman-temannya. Semua memberinya anggukan.
“Kami akan menahan mereka semua di sini, kamu pergilah,” kata Dukun. Samin melempar kunci jeep ke Karmadi.
“Kamu tahu yang harus kamu lakukan, ketua Karmadi,” kata Samin.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Karmadi dengan kedipan satu mata.
Miul, Samin, dan Dogel menjawab bersama-sama. “Battle Sound Horeg!”
Karmadi mau pergi, tapi di depan jeruji dia sudah langsung berhadapan dengan satu pocong. “Lha, sampean si anggota DPRD waktu itu?” Rongga matanya bolong, meluberkan cairan otak yang kental.
HOREG HOREG HOREG…
“Nyuwun sewu,” Karmadi memasangkan headset dan memutar Pangeran Cinta. Si pocong DPRD itu mundur, lalu joget seperti ulat bulu. Pocong-pocong lain mengikutinya.
Karmadi hati-hati menerobos kerumunan pocong. Sampai di jeep, dia segera tancap gas.
Fokus utama Karmadi adalah mushola tempat pickup Master Zeusnya disekap. Dia melewati kampungnya, melihat perang antara manusia dan pocong masih berlangsung. Ibu-ibu ikut turun dan melemparkan tabung gas 3kg. Anak-anak muda melempari pocong pakai kencing mereka yang diplastiki.
Pagar mushola terkunci rapat. Orang-orang mushola pada berdiri di balkon, menontoni perang. Karmadi menginjak gas lebih dalam dan bersiap menyambut benturan keras saat mobil jeep menerobos pagar mushola. BRAKKK!!
Karmadi loncat dan berguling-guling di tanah. Tak butuh waktu lama dia segera bangkit dan mengacungkan jari tengah ke arah balkon. Dia berlari ke mobil pickup kesayangannya. Perhentian berikutnya: Kuburan!
Karmadi susah payah membawa mobil pickupnya menuju ke sana. Untuk pertama kalinya dia merusak fasilitas umum demi Master Zeus masuk ke pekarangan makam. Dia melihat sendiri semua makam pada kebongkar. “Mereka betulan bangkit. Astaga.”
Master Zeus sudah terparkir di tempat aman. Karmadi langsung menyalakan panel utama set sound horegnya. Dia mengeluarkan laptop yang tersembunyi di dalam dasbor. Ada semacam panel rahasia yang hanya bisa dibuka oleh sidik jari dan kunci biometrik dirinya. “Sayangku, aku kangen,” kata Karmadi. Dia siapkan playlist, lalu tekan tombol GLERR!!
MENGGELEGAR. MENGGEMPAKAN.
GELEGARRRRR……
BOOM BOOM BOOM AJIGIJIG…
STECU STECUUU….
OH MY GODDDDD… NO PLEASE GOD, NOOOOO!!!
BOOMBAYAAHHH
BLEKI IN YOUR AREA!!
BOOM BOOM BOOM BOMBOMBOMBOOOMMM
Karmadi mengamati dari ruang kemudi. Dia merasakan getaran di dasbor mobilnya. Bukan dari dentuman bass gler sound horegnya, tapi dari gerudukan ribuan pocong horeg yang bermigrasi dari permukiman kampung ke kuburan.
HOREG HOREG HOREG HOREYYY!!!
Sekarang begitu mereka bergumamnya.
SHRIIIIIIKKKKKKNGWUINGNGWUING
DENGAR SUARA OJAN~~
MAKKK UDAH MAKKK~~~
KALAU MEMANG COCOK AYOK GRUDUK KUA~~
OW WOW WO… CUCAKROWOWW~~~
ANT TAKE ANT TAKE ASH SING~~~
OMKEGAS OMKEGAS~~
HANCUR HANCUR HATIKU, HANCUR HANCUR HATIKU~
HATIKU HANCUR!
Dalam waktu singkat, semua pocong sudah berkumpul di pemakaman. Sudah seperti konser saja.
“Nah, terus bagaimana ini? Masa aku harus di sini terus?”
Karmadi lalu melihat sebuah flashdisk tergeletak di lantai mobil. Ada logo mushola di sana. Dia mengambilnya dan mencolokkannya ke laptop. Isinya playlist sholawatan dan rekaman ceramah.
Kerumunan pocong horeg semakin dekat ke Master Zeus. Beberapa ada yang loncat dan bertengger di atas tumpukan gajahan sound system. Mereka lanjut joget di sana.
Makin lama Karmadi tak menentukan langkah selanjutnya, semakin Master Zeus dikerubungi sampai tertutup oleh ribuan pocong horeg. Pemandangannya sudah seperti kue dongkal dikerubungi semut.
“Bismillah!”
Karmadi mengganti lagu remix jadi sholawatan.
Kerubungan mulai mengendur, bubar teratur. Pocong-pocong horeg jogetnya aneh, seperti orang garuk-garuk tapi tak kesampaian.
Karmadi memutar kenob volume utama ke setelan paling maksimal.
Lantas…
BOOM!
BOOM!
BOOM!
BOOM!
JEGEDERR!
Itu bukan bunyi dentum bass pada sound horeg, melainkan bunyi bagaimana setiap kepala pocong meledak satu per satu. Muncrat. Moncrot. Entah darah atau nanah.
“Edan…” Karmadi ngos-ngosan.
Moncrot ribuan kali.
Karmadi bertahan di dalam pickupnya, sementara set Master Zeus berlumuran darah entah nanah.
Dan kali ini, pocong-pocong horeg tak sampai utuh kembali.
Karmadi pernah dicintai sekaligus dibenci. Sekarang, dia adalah pahlawan.
Beberapa bulan setelah kejadian gempar itu, Karmadi membuat satu set sound horeg baru yang dia namakan Pocong HoreX.
Tiga bulan setelahnya, cita-citanya tercapai. Dia akan battle sound horeg melawan Thomas Alva Edisound.
HOREG HOREG HOREG!
**TENTANG PENULIS**
Haditha adalah penulis novel, skenario, yang kini juga tengah belajar membuat ilustrasi. Kegemarannya terhadap genre fantasi dengan napas klenik selalu tertuang di setiap karyanya. Dia pun tak ragu memasukkan unsur-unsur binal bilamana dirasa pas menguatkan nuansa cerita. Karya-karyanya yang pernah terbit sebelumnya adalah Karung Nyawa (Bukune), Dalam Kurung (Bukune), dan Tapak Setan (Elexmedia). Dia bisa disapa di media sosial dengan handle @hahahaditha
Tengok karyanya yang lain di: [bit.ly/m/hahahaditha](http://bit.ly/m/hahahaditha) 메타데이터
- post_id
- 1dd23a8bc021
- slug
- pocong-horeg-1dd23a8bc021
- url
- https://medium.com/@haditha/pocong-horeg-1dd23a8bc021
- canonical_url
- https://medium.com/@haditha/pocong-horeg-1dd23a8bc021
- author_url
- https://medium.com/@haditha
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 17:31:54