← Back to list

Selamat Jalan, Separuh Jiwa.

M · 2026-03-19 02:16 · 7 claps · 2.0 min read
#queer #broken-strings #wlw #selamat-tinggal #writing
Open on Medium ↗

Selamat Jalan, Separuh Jiwa.

Selamat Jalan, Separuh Jiwa.

"Kita tak bisa mengulang semua ini lagi, ya? Kita benar-benar usai?" ‎ Aku bertanya, padahal aku tahu jawabannya. Ia baru saja memutuskan untuk pergi—dan dari sorot matanya yang sayu, aku tahu ia tak tega. Tapi ia tetap mencoba kuat di depanku. Karena ia tahu, aku lebih rapuh dari yang terlihat. ‎ Ia diam cukup lama. Lalu menatapku, dalam dan lekat. Seperti ingin mengabadikan wajahku sebelum semuanya benar-benar menjadi kenangan. ‎ "Maafin aku," ucapnya lirih, suaranya yang memberat, yang seolah menyimpan seribu patah yang tak sempat diujarkan. "Aku paham... aku kini telah menjadi sesuatu yang paling kau benci. Sesuatu yang tak lagi dapat kau banggakan, yang tak lagi sanggup memperjuangkan apa pun. Mereka benci kita, Sayang. Dan aku nggak sanggup lihat kamu terpuruk hanya karena memilih bertahan di sampingku." ‎ Napasnya memburu. Tangannya menggenggam tanganku erat, lalu melepasnya perlahan—seperti melepas sesuatu yang paling berharga tapi tak lagi bisa dipertahankan. ‎ "Kumohon... relakan aku. Relakan aku pergi, ya sayang?" ‎ Aku hanya bisa diam membeku mendengarnya. Tak percaya bahwa hari yang paling aku takuti selama ini benar-benar datang. Isakku tertahan di dada, perih. Aku tak sanggup menerima bahwa seseorang yang kucinta sepenuh hati harus benar-benar aku lepas. ‎ Dia diam menatap raut wajahku yang berubah. Dia sadar—aku takkan pernah benar-benar bisa melepaskannya. Tapi apa daya kami jika dunia sudah terlanjur membenci? Bagi mereka, kita hanya sampah yang layak dibuang. ‎ "Sayang..." panggilnya lirih, suara yang biasa menenangkanku kini bergetar. "Kalau nanti... kalau memang benar ada kehidupan setelah ini, aku janji. Di kehidupan itu kita lebih bahagia dari sekarang. Maaf... maaf aku belum bisa mewujudkan mimpi yang kita ukir bersama." ‎ Aku ingin memeluknya. Tapi tubuhku tak bisa bergerak. ‎ "Aku selalu sayang kamu. Sampai detik ini pun masih ada rasa itu." Ia menekan dadanya pelan. "Tapi jiwaku sudah tak sanggup lagi, Sayang. Aku sudah bukan diriku yang dulu. Dan aku... aku tidak mau lihat kamu hancur bersamaku. Aku tidak kuat." ‎ Mendengarnya berkata begitu, air mataku hampir tumpah. Namun kutahan. Aku tak boleh menangis di depannya. Aku tak bisa. Kalau aku menangis, dia akan semakin tersiksa. ‎ "Aku relakan kita," ucapku pelan, nyaris seperti bisikan yang putus. "Aku merelakanmu." ‎ Itu kata terakhirku untuknya. ‎ Dan memang benar adanya. ‎ Aku tak pernah lagi melihatnya. Dirimu yang dulu bersamaku, kini hanya tinggal nama yang kusebut dalam doa. Dia pergi. Benar-benar pergi. Membawa serta kenangan kita—tawa yang pernah kita bagi, hangat yang pernah kita rajut, mimpi yang pernah kita ukir. ‎ Dan aku di sini, hanya bisa berharap. Berharap kau sekarang benar-benar bisa hidup tanpa tekanan. Tanpa beban. Tanpa caci maki yang dulu terus menghantui. ‎ Aku berharap, di kehidupan selanjutnya—di dunia yang lebih adil—aku dan kamu bisa menjadi versi kita yang utuh. Yang tak harus mendengarkan cercaan mereka. Yang tak akan pernah terpisahkan. Dan yang lebih bahagia dari kita di kehidupan ini. ‎ Karena cinta kita tidak salah. Dunia ini saja yang belum siap menerima.


메타데이터
post_id
1e2756178ea0
slug
selamat-jalan-separuh-jiwa-1e2756178ea0
url
https://medium.com/@Staargazing/selamat-jalan-separuh-jiwa-1e2756178ea0
canonical_url
https://medium.com/@Staargazing/selamat-jalan-separuh-jiwa-1e2756178ea0
author_url
https://medium.com/@Staargazing
status
ok
fetched_at
2026-08-10 23:13:24