If We’re Mean To Be (Partner In Crime)
One Shot Story Part of “Sunshine In The Midnight Rain”
WhyIf We’re Mean To Be (Partner In Crime)
One Shot Story Part of “Sunshine In The Midnight Rain”

“Aoula Thanaboon dan Bumtaran Tornjara terlihat telah memasuki ruang konferensi.”
Begitulah bunyi tulisan yang sekarang tengah menjadi headline news di berbagai artikel surat kabar digital dan live stream news.
Kabar perceraian dari dua pesohor ini tampaknya sudah menjadi konsumsi publik dan tak dapat di bendung lagi. Aku lihat sendiri bagaimana atasanku, Nyonya Papang Thanaboon sampai sering memijit-mijit kepala dan tengkuknya. Tampaknya pemberitaan kali ini telah membuat kepalanya sampai sakit dibuatnya.
“Apa-apaan ini?!” Bentaknya begitu melihat koran pagi yang biasa jadi langganan Kami pagi ini. Sudah ada 3 koran besar di kota yang sudah memberitakan perihal tersebut. Dan seperti yang sudah diharapkan dari asisten Tuan Besar Plapodd Thanaboon, Mark-Prince langsung bergerak cepat mengurus semuanya dengan tuntas dan rapi.
“Louis! Bagaimana kabar anak-anak itu sekarang?” Dan kali ini, Nyonya Besar memanggilku lagi ke ruang kerjanya untuk melapor. Aku yang hanya seorang asisten cuma bisa melaporkan apa yang aku tahu sesuai dengan apa yang aku lihat.
Kedua anak muda di rumah sayap kiri itu memang selalu terlibat masalah. Tapi ini maksudnya bukan masalah serius yang seperti di pemberitaan yang kriminal-kriminal itu, ya~ bukaaan, tapi masalah rumah tangga.
Tuan muda — yang sekarang tidak muda lagi karena statusnya sudah setara dengan Tuan Plapodd yang adalah seorang kepala rumah tangga — memang terkenal memiliki kepribadian buruk sejak kecil. Dia yang meledak -ledak itu sering memperlakukan pasangannya yang Alpa dari ‘Tornjara’ dengan ketus dan memiliki perangai yang terkesan judes, jadi banyak yang salah paham jika Tuan ‘itu’ tidak menyukai pasangannya. Bahkan tidak sedikit yang berpikiran kalau Tuan Aou terkesan membencinya! Tapi untung saja si Nyonya Alpa memiliki kepribadian yang lemah lembut dan menanggapi beragam rumor dengan saaangat elegan. Jadi Dia bisa mengimbangi kekontrasan sifatnya dengan si Tuan yang “itu”.
Tapi beberapa hari yang lalu, ada kejadian luar biasa! Dimana pada akhirnya, si Nyonya Alpa atau Bumtaran itu kehabisan batas kesabarannya. Dia meledak! Dan BOOOOOMMM! Dia sampai pergi dari rumah dengan memesan taksi.
Dari situlah masalah ini berasal. Tampaknya, perselisihan mengenai kedua pasangan ini telah sampai ke telinga para wartawan dan disinilah semua pemberitaan omong kosong itu dimulai. Lalu semuanya terpampang di setiap headline news koran dan media cetak. Aku sampai bosan melihatnya, aarghhh!
Dan berdasarkan mandat dari Nyonya, Aku ditugaskan untuk sering-sering berkunjung ke rumah sayap kiri demi memastikan keadaan dan “membantu” pekerjaan si Tuan-Sayap-Kiri itu dengan alasan, karena Dia masih belum memiliki asisten pribadinya. Oh iya! Aku beri tahu alasannya kenapa Dia seakan tidak mau untuk memiliki asistennya sendiri, karena SEBENARNYA MEMANG DIA TIDAK MAU~!
Jadi sekitaran jam 10 ini, Aku berencana ingin berkunjung melalui pintu utama, jadinya Aku melewati lorong umum sampai ke area gerbang pembatas dan OH TUHAN! APA YANG AKU LIHAT INI?
MEREKA BERCIUMAN???!!
Ini yang kalian bilang pasangan yang mau bercerai?? Bagaimana pasangan yang dikabarkan saling membenci satu sama lain bisa mencium dengan penuh gairah begitu? Seperti itu??
Dengan tangan yang saling bertautan di leher? Dan satunya lagi sibuk sekali untuk menyingkirkan poni pasangannya?? INI GILA! AKU TIDAK TAHAAAAN!
OOOWH!! Seperti ada sensasi rasa geli dari listrik statis yang tiba-tiba menyambar ke badanku, Aku berusaha menutupi wajahku dengan buku catatan tebal yang kubawa. Sungguh, pemandangan yang tak senonoh di pagi hari telah Ku saksikan dengan kedua mataku!
[embed]
“Enaknya semua reporter berita hoax ini diapakan, ya?”
“Bunuh aja kali, ya~” Buk Boom? Anda serius? Ngomong begitu dengan santainya???
“Eh! Pamali ngomong begitu buat orang hamil!”
Hah?! Hamil? “Tunggu Tuan dan Nyonya……… Siapa yang hamil?”
“Ya Istriku, lah! Masak Aku?” Celetukan yang pedas nan tajam dari anak tunggal keluarga Thanaboon memang selalu-sangat-luar biasa.
“Eh~ jangan kasar-kasar begitu! Inget habis ini bakal jadi Daddy. Masak anaknya mau diajari jadi tidak beradab?” Nice counter Nyonya Alpa dari Tornjara! Tapi tunggu….
“Daddy? Nanti Tuan Aou mau dipanggil Daddy?”
“Yaiyalah!” Tuhankuuu, apakah Tuan satu ini sangat benci melihat wajahku? Atau punya dendam terpendam padaku? Beri hamba clue ya Tuhan…
“Trus si Boom maunya dipanggil Papa. Kenapa? Mau protes?!” Aku hanya bisa menggeleng dan tersenyum dalam kepahitan. Louis, kamu harus bersabar atau gajimu tidak akan dapat bonus. Fighting!
“Tapi ada yang dengar kalau Nyonya Boom pergi ke pengadilan untuk mengurus…… perceraian?”
Aku sedang berusaha agar tidak memancing amarah Tuan Aou yang sudah bersiap seakan ingin menerkamku kapanpun, dan……. Nyonya Boom?! Astagaaa, kenapa Beliau melihatku sampai sebegitunya?? Seperti Aku ini semacam tikus pembawa penyakit, hikz. Aku benar-benar menangis dalam hati, sungguh Aku tak bohong.
“Itu kesalahpahaman.” Pungkas Nyonya Boom sambil membenarkan posisi duduknya yang selalu elegan.
“Ya! Itu kesalahpahaman.” Tuan Aou? Tunggu, ini terlalu mencurigakan.
“Kalian? Apa sebenarnya akan benar-benar bercerai, tapi tidak jadi karena-” BRAK!!! Beluuuuum sempat selesai bicara, sebuah bantal sudah mendarat headshot ke wajahku.
“Berisik!” Excuse me, Nyonya?
Tampaknya Dia sudah terkena mantra Tuan Aou. Tingkahnya sudah agak mirip! Berbeda dengan Alpa Tornjara yang Ku temui saat perundingan acara pertunangan di kediamannya dahulu. Ah~ Aku merindukan masa-masa itu.
“Jadi…” Tuan Aou mulai membuka pembicaraan lagi, jadi Aku berusaha untuk meluruskan kembali niat dan kefokusanku, “Kapan konferensinya akan dilaksanakan?”
“Berdasarkan informasi terbaru yang Saya dapatkan dari Mark-Prince, konferensi ini akan dilaksanakan bersamaan dengan angket kerjasama perusahaan.”
“Ohooo~ bukan hanya terfokus ke Kami saja rupanya.” Timpal Nyonya Boom yang melihatku dengan tatapan sinisnya dan berhasil membuatku langsung meringsut untuk tetap dalam kewaspadaan.
“I-iya.” Jawabku tergagap.
Ah, tolong! Aku tidak mau lagi ditugaskan disini!! Aku yang bersusah payah ini, menepis semua kemalasanku untuk sampai datang kemari hanya untuk mendengarkan percakapan tidak masuk akal mereka? Ohhh Nyonya Papang, Aku lebih memilih berada di bawah pengawasanmu sajaaaa! Ambil Aku lagi! Kumohooonnnn…..

“Bagaimana pertemuannya dengan Tuan dan Nyonya di rumah sayap kiri?”
Mark-Prince, sopankah bertanya seperti itu begitu Kau kembali dan melihat wajahku?
“Lumayan.” Aku meminum air putihku dulu, “Sangat menguras energi.”
“Pfft!”
“Eh! Bahlul! Malah diketawain??” Aku marah. SANGAT MARAH! Bisa-bisanya teman sejawatku ini tertawa diatas kepedihanku??
“Kamu tahu tidak? Tidak ada yang mau jadi asisten pribadi-nya Tuan Muda. Tapi karena kamu asistennya Nyonya, jadi mau tidak mau~”
Si Bahlul itu menggodaku dan berlalu pergi. Dia memang lebih lama bekerja dengan keluarga ini dibandingkan denganku. Dan 1 alasan lagi, karena Aku sebenarnya memang dilatih bukan untuk sebagai asisten, melainkan sebagai bodyguard!
Ahhh…. kalau orang-orang di divisi “Weilong” tahu apa yang sedang Aku kerjakan sekarang, pasti mereka akan tertawa terbahak-bahak melihatku. Tapi ngomong-ngomong, Nyonya masih ada kontakan dengan Mr. Moss tidak, ya? Sejak menikah, Nyonya memang sudah tidak aktif untuk kegiatan mata-mata, tapi untuk urusan “keamanan” ringan, Beliau masih ikut andil dan tampaknya si anak semata wayangnya itu juga mewarisi sifat ini dari Nyonya dan Tuan Besar. Bengis, kejam dan tanpa ampun. Ditambah lagi, pasangannya adalah seorang ‘Tornjara’! Bagaimana bisa Aku melupakan anak siapa si Alpa itu??!
“Halo, Loius.” Tiba-tiba walkie talkie-ku berbunyi, “Copy!”
“Standby, 10 menit, jaguar hitam.”
“Roger!” Tampaknya para Tuan muda sudah siap dan akan segera menuju ke kendaraannya. Aku juga harus bersiap. Ku tinggalkan area dapur ini dan pergi menuju ke area tempat parkir utama bersama buku dan tempat dokumen-dokumenku.
Dalam beberapa hari ini, memang banyak kejadian yang terjadi. Dari pertengkaran hebat Tuan dan Nyonya dari sayap kiri yang menggelegar di sepanjang lorong halaman rumah. Kabar perselingkuhan hingga belum tuntasnya hubungan asmara Tuan Aou dengan masa lalunya dan kali ini, perceraian. Seperti tidak ada habisnya.
Tapi semua itu ditepis begitu saja oleh kedua pasangan muda-mudi ini. Pasangan yang terlihat biasa saja. Tidak romantis, tapi tidak bisa pula dibilang mengabaikan satu sama lain. Kalau bisa dikatakan, mereka itu….. tsundere?
Entahlah! Yang jelas, kini Kami semua akan pergi menuju ke tempat konferensi berlangsung. Seperti yang sudah diduga, Tuan Aou dan Boom selalu tampak serasi dengan setelah jasnya. Percaya atau tidak, mereka selalu dan seakan terlihat memakai baju couple yang selaras. Dari warna, gaya berpakaian dan tipikal mode-nya. Semua sama!
Inilah yang Aku yakini, jika anak muda keluarga Thanaboon ini lowkey sangat mencintai pasangannya. Bahkan seniorku di “Weilong” saja sampai mau memberikan anak Alpa-nya kepada keluarga ini. Yaaa, siapa lagi kalau bukan Kepala keluarga ‘Tornjara’ itu.
[embed]
Aou dan Boom kini berjalan beriringan menuju ke atas panggung. Tampak Aou yang berjalan duluan ke arah anak tangga itu beberapa kali menengok kebelakang untuk mengecek posisi Istrinya dan setelah Ia sudah sampai diatas, Pria itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Boom yang berjalan perlahan dengan bantuan Aou. Boom tersenyum di sepanjang langkahnya menitih anak tangga tersebut dan Aou berkali-kali “mengingatkan” Boom untuk berhati-hati dan jangan terburu-buru.
Kini keduanya sudah ada di depan podium, dimana ada begitu banyak micropone dari masing-masing media berita dan surat kabar. Boom tampak sangat gugup. Berkali-kali Dia menghela nafasnya dan menghembuskannya terburu-buru. Aou dengan tampang seriusnya melihat ke arah Boom lalu menggenggam tangan lentiknya yang sudah basah oleh keringat dan sedikit bergetar itu. Pria cantik itupun langsung menoleh ke arah Suaminya yang sejak awal berwajah datar namun tiba-tiba dengan ajaibnya, wajah datar itu berubah! Menyungging senyum hingga memperlihatkan gigi putihnya yang saling berjejer rapi. Boom sangat terharu melihatnya, hingga Dia tak bisa menyembunyikan gurat keharuan di balik nanar matanya yang kini telah berkaca-kaca. Tapi para reporter itu berpikiran lain. Mereka langsung menyorotkan kamera dengan beribu flash menyala ke arah mereka. Baik Louis, Mark-Prince dan kedua orang tua dari kedua belah pihak juga semua tamu yang datang sangat terkejut dan bereaksi sama terkejutnya! Tak terkecuali untuk Aou yang langsung menutupi Boom yang tengah bersusah payah berusaha menghindari sorotan lampu kamera dengan kedua tangan dan badannya.
“Aouuuu, Aku takuuuut…” Kata Boom gemetar. Aou hanya diam dan berusaha untuk mengatur nafasnya sendiri.
Sementara Louis, Mark-Prince, Manajer Boom hingga Gie dan beberapa teman dari keduanya berusaha untuk menenangkan suasana dengan berkali-kali meminta para reporter untuk menghormati orang-orang yang ada di atas podium.
“Apakah Anda berdua benar-benar akan melakukan perceraian?!”
Tiba-tiba salah satu reporter yang jaraknya paling dekat dengan mereka semua melontarkan pertanyaan yang membuat Aou langsung memfokuskan pandangan kearahnya tajam. Bagai ada sinar laser keluar dari kedua bola matanya, reporter itu sedikit bergeming hingga Dia memundurkan posisinya dan tak berani lagi menatap wajah Aou.
“Jadi Aku dan pasanganku bediri disini,” Aou mulai berbicara dengan tangan kirinya yang sedikit mendorong tubuh Boom untuk pergi ke arah belakangnya, “Untuk menegaskan, jika berita tentang perceraian Kami adalah sebuah kesalahan!”
Kamera semakin cepat menyorot dengan suara slite dan flash yang datang silih berganti.
“Kami tidak akan pernah bercerai. Apalagi dengan Boom yang sedang mengandung buah hati Kami.” Akhirnya para reporter itu berhenti sejenak dan tampak roman kebingungan menghiasi wajah mereka semua.
“Jadi tolong, bagi kalian yang saat ini menghidupkan flash, HENTIKAN!”
Para reporter yang merasa menghidupkan lampu pada kameranya itupun langsung kaget seketika hingga menelan ludahnya.
“CEPAT!…… SEGERA!!”
Semua reporter itu spontan langsung menurunkan semua peralatan potretnya dan terlihat sibuk mengotak-atik benda tersebut. Louis, Mark-Prince, Gie dan semua orang yang berdiri di depan langsung tersenyum simpul. Kali ini mereka benar-benar mengakui akan kekuatan “Enigma” yang berbeda level dengan mereka semua. Bahkan Gie yang seorang Alpa Dominan itu sampai melihat ke arah Aou dan memberikan isyarat jempol sambil tertawa padanya.
“Nong Yin? Apa pasukan cyber sudah waktunya ‘lepas landas’?” Kata seorang wanita yang tampak mendekati orang tua dari pihak ‘Tornjara’ itu setengah berbisik.
“Belum. Tapi sepertinya…… sudah tidak perlu, Phi Soul.” Pria yang dipanggil “Yin” itu melihat ke arah panggung, “Karena menantuku sudah lebih dari cukup untuk meng-handle mereka semua.”
Transpuan yang dipanggil “Phi Soul” itu mengerucutkan bibirnya sambil tersenyum meledek, Dia berkali-kali menyenggol lengan Yin jahil dan dibalas dengan senyum bangga khas seorang Ayah.
“Sekali lagi…” Aou meletakkan kedua tanggannya ke depan meja podium,
“Kami, Aou Thanaboon dan Bumtaran Tornjara, tidak pernah sekalipun mengumumkan TENTANG adanya perceraian dan sedang menyambut buah hati pertama Kami. Terima kasih.”
Boom yang sudah berdiri di samping Aou sejak para reporter itu sibuk mengotak-atik kameranya langsung memberikan high five kepadanya dan Aou pun membalas dengan wajah sengitnya sambil tetap melihat lurus ke arah para reporter. Semua orang disana tidak berkutik sampai Aou turun dari podium diikutin Boom yang dituntun tangannya oleh sang Suami.
[embed]
Boom duduk di kursi penumpang di samping Suaminya yang sedang sibuk memasang mode bersandar di kursinya. Lalu sang Suami dengan cekatan memasang seatbelt padanya dengan lembut.
“Nanti ada mau mampir kemana atau mau makan apa, gitu?”
Boom cuma menggeleng dan itu membuat Aou sedikit kawatir. Di ceknya dahi Boom. Dilihat apakah pasangannya ini terjangkit demam yang menyebabkan Dia tidak enak badan, tapi suhu badannya biasa saja?
“Kamu ngantuk, kah?” Dan dijawab anggukan pelan oleh Boom. Dengan sigap Aou mengambil blanket di kursi belakang yang telah dipersiapkan oleh Mark-Prince sebelumnya. Mobil itu sebenarnya adalah mobil yang mengantar mereka berdua ke acara yang sebelumnya disupiri oleh Louis. Tapi karena suasana hati Boom yang tiba-tiba menurun, Aou mengajaknya untuk pulang duluan dan melewatkan jadwal acara selanjutnya. Tak lupa Mark langsung memberikan tas kertas berwarna coklat berisi selimut wol dan syal untuk Aou bawa yang sekarang dipakai oleh Boom untuk menghangatkan badannya.
“Kamu tidur aja, nanti kalo sampe Aku gendong-”
“Nggak mau!” Aou yang sedang memasang sabuk pengamannya sendiri itu pun langsung berhenti.
“Bangunin aja, nanti Aku jalan sendiri.” Dan tiba-tiba Aou sudah berada tepat di hadapan Boom dan wajah mereka hampir menempel satu sama lain. Waktu seakan terhenti diantara mereka berdua dan Boom hanya bisa menahan nafasnya sejenak.
“Kaget, ya?” Kata Aou, lalu menjulurkan lidahnya. Setelah itu Dia kembali lagi ke tempat duduknya dan memasang kembali seatbelt-nya, baru Boom bisa menghembuskan nafasnya dengan keras sampai terdengar Aou yang langsung menoleh kearahnya sebelum Ia menghidupkan mesin mobil tersebut.
Boom benar-benar kesal dengan kelakuan usil Suaminya itu sehingga Dia melihat Pria tersebut dengan pandangan gemas.
“Loh? Nggak jadi tidur?”
“Enggak! Kamu resek! Jadi ngantukku ilang!”
“Lah? Malah ngamok~” Aou tertawa yang langsung dibalas dengan dorongan lembut oleh Boom.
Mobil hitam yang ditumpangi oleh pasutri itu pun melaju pergi meninggalkan area parkir lokasi konferensi tersebut.

Fin.
메타데이터
- post_id
- 1e4e2cb937a8
- slug
- if-were-mean-to-be-partner-in-crime-1e4e2cb937a8
- url
- https://medium.com/@ekayuuki/if-were-mean-to-be-partner-in-crime-1e4e2cb937a8
- canonical_url
- https://medium.com/@ekayuuki/if-were-mean-to-be-partner-in-crime-1e4e2cb937a8
- author_url
- https://medium.com/@ekayuuki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 15:07:53