Pernikahan, sebuah bentuk perbudakan baru berkedok cinta
Pernikahan, sebuah bentuk perbudakan baru berkedok cinta

Pasti sering mendengar banyak orang yang berkata :
"Puas-puasin dulu mainnya. Nanti kalau udah nikah, gabisa kemana-mana lagi."
"Mumpung masih muda, buruan main ke banyak tempat. Kalau udah punya anak, susah mau kemana-mana."
Saya sendiri bukannya termasuk dalam golongan kaum selibat, tapi untuk urusan pernikahan, tidak bisa memutuskan dengan sebegitu mudahnya. Pertimbangan dari segala aspek yang mendasar hingga mendalam tentu menjadi faktor utamanya.
Bagi saya pribadi, terjadinya pernikahan bukan hanya semata jika pasangan saling tertarik dan jatuh cinta satu sama lain. Lebih dari itu. Lamanya suatu hubungan yang terjalin juga tidak bisa dijadikan tolak ukur suksesi untuk melakukan pernikahan.
I’m not gonna talking about that topics, right now. I’m gonna have another part to talk about my POV, actually 🙈👀
Sesuai topik di awal, perbudakan yang saya maksud bukanlah budak seperti pada jaman dahulu ketika perang besar terjadi. Sosok yang lebih superior (suami) merasa jika sudah menikah, keputusan terbesar ada di tangannya. Sedangkan dari pihak inferior (istri) merasa jika dirinya tidak bisa berbuat banyak karena status barunya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga yang mana diharuskan bersikap patuh dan tunduk dengan segala perintah sang suami.
Ada seorang istri yang tidak berani keluar rumah jika sang suami sudah berpulang dari pekerjaan. Entah apa yang mendasari sang istri hingga melakukan hal tersebut.
Seorang istri yang lain, melakukan hal yang sama. Sehari-harinya selalu bekerja, begitupun dengan sang suami. Di hari minggu, mereka akan libur dari pekerjaan. Tapi hal yang sama juga berlaku bagi pasangan tersebut. Sang istri takut untuk keluar hanya karena sang suami berada di rumah.
Hal lain yang mendasari terciptanya part ini adalah, tugas dasar bagi istri untuk melayani suaminya. Melayani dalam hal apapun.
Seorang wanita A bercerita, jika sudah memasuki waktu makan (baik sarapan, maupun makan malam), dia harus menyiapkan makanan untuk anak dan suaminya. Bahkan sang suami akan marah dengan cara mogok makan jika makanannya tidak segera disiapkan bila sudah waktunya. Terdengar sederhana memang. Tapi bagi saya, itu merupakan contoh perbudakan di era moderen.
Saya dibesarkan dalam keluarga yang serba mandiri. Sedari kecil, saya melihat ibu dan ayah saya adalah seorang figur yang sangat mandiri dengan kegiatan sehari-hari. Seperti halnya makan, ibu saya tidak pernah menyiapkan makanan untuk ayah saya. Begitupun dengan ayah saya yang tidak pernah menuntut ibu saya untuk menyiapkan makanannya. Saya suka dengan aturan dan prinsip mereka yang seperti itu.
Berbeda lagi dengan wanita B. Dia akan rela menukar waktu bekerjanya hanya untuk mendapatkan sehari libur dan bermain bersama teman-teman karibnya semasa sekolah. Sang suami tidak suka jika dirinya kedapatan bermain bersama orang lain.
Bagi saya, bermain bersama teman yang sudah dikenal akrab bukanlah sesuatu hal yang jahat ataupun menyeleweng. Mereka sama-sama perempuan. Sang suami juga sudah mengenal dekat sahabat sang istri.
Barang sehari bermain dengan tempat tujuan dan kapan waktu pulang yang jelas sudah cukup bagi sang suami untuk memberi ijin bagi sang istri untuk menikmati waktunya sendiri.
Sekarang mari kita putar balik kondisinya. Suami, sudah bekerja selama enam hari dari total tujuh hari dalam seminggu. Seorang pria A, akan berangkat memancing di pagi buta hingga sore hari saat matahari tenggelam di ufuk barat. Kulit yang sudah kecoklatan semakin menghitam karena sinar matahari yang terus diserap oleh kulitnya selama seharian memancing.
Pernahkah si suami mendapatkan teguran dari sang istri untuk tidak pergi memancing? Tentu tidak akan. Istri takut akak dimarahi. Sedangkan suami akan beralasan jika memancing adalah pelepasan penatnya setelah selama seminggu penuh bekerja mencari nafkah.
That's it.
Salah satu dari contoh perbandingannya. Tentunya ada banyak perbandingan di luar sana.
Lantas, mengapa wanita harus selalu mengalah dalam hal ini? Apa karena status sebagai wanita dan istri yang membuat para wanita itu menjadi tidak merasa adidaya akan hubungan dengan pasangannya. Atau karena mereka merasa sudah kodrat mereka untuk tidak membantah setiap perintah dan larangan suaminya.
메타데이터
- post_id
- 1eff62c2ba07
- slug
- pernikahan-sebuah-bentuk-perbudakan-baru-berkedok-cinta-1eff62c2ba07
- url
- https://medium.com/@avianurindah/pernikahan-sebuah-bentuk-perbudakan-baru-berkedok-cinta-1eff62c2ba07
- canonical_url
- https://medium.com/@avianurindah/pernikahan-sebuah-bentuk-perbudakan-baru-berkedok-cinta-1eff62c2ba07
- author_url
- https://medium.com/@avianurindah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 01:02:39