Ketika Sains Tak Mampu Menerjemahkan Luka
Mengulik Luka Lama Melalui Karya Keigo Higashino
Ketika Sains Tak Mampu Menerjemahkan Luka

Salvation of A Saint karya Keigo Higashino, Dokumentasi Pribadi
Mengulik Luka Lampau melalui Karya Keigo Higashino
Kapan sebuah kejahatan dimulai?
Ketika sebuah tindak kejahatan terjadi, sains membantu menjawab banyak pertanyaan. Kapan korban meninggal. Apa penyebab utama kematian. Bagaimana racun itu bekerja. Melalui bukti-bukti yang mulai terkumpul, sains dapat menghubungkan korban dan pelaku. Namun Keigo Higashino mengajukan pertanyaan yang jauh lebih rumit melalui karyanya yang berjudul The Salvation of a Saint. Kapan sebuah kejahatan sebenarnya dimulai? Bagaimana jika ternyata sebuah kejahatan dimulai dari waktu yang sangat lampau. Jauh dari sebelum korban meninggal. Bahkan jauh dari sebelum bertemu dengan korban.
Klik di sini untuk membaca melalui link pertemanan
The Salvation of a Saint mengisahkan proses penyelidikan atas kasus kematian Yoshitaka Mashiba yang ditemukan tewas akibat racun di dalam kopi yang diminumnya. Istrinya, Ayane Mashiba, diketahui sedang tidak berada di rumah saat kejadian tersebut. Sehingga muncul dugaan menarik dan berkembang menjadi sebuah kasus yang nyaris mustahil dijelaskan. Kasus ini kembali mempertemukan pembaca dengan Yukawa Manabu, seorang Fisikawan yang sudah sering terlibat dalam pemecahan kunci dari kasus-kasus kepolisian terutama dalam proses pembuktian secara sains.
Keigo Higashino sendiri meramu novel ini bukan hanya berbicara tentang bagaimana sebuah kejahatan dilakukan. Di balik misteri yang perlahan terungkap, pembaca diajak untuk melihat sesuatu yang seringkali luput dari pembuktian ilmiah: luka lama yang tidak pernah sembuh dalam diri seseorang.
Sains mencari Cara, Manusia menyimpan Luka
Jika dilihat dari sudut pandang forensik, kejahatan dimulai saat racun diberikan kepada korban. Melalui penyelidikan ilmiah, polisi dan Yukawa berusaha menjelaskan bagaimana racun tersebut diberikan dan bagaimana racun tersebut akhirnya terminum oleh korban.
Namun bagian paling menariknya bukan bagaimana kejahatan itu dilakukan. Melainkan apa yang membuat pelaku akhirnya memutuskan melakukan itu semua. Jawabannya adalah luka yang disimpan bertahun-tahun pada hati seorang manusia. Luka tersebut berawal dari kematian tidak wajar sahabat pelaku. Sebuah kehilangan yang tidak dapat diubah, tidak dapat diperbaiki dan tidak dapat dikembalikan oleh siapapun. Sebelum akhirnya bertemu dengan Yoshitaka, pelaku memahami bahwa sahabatnya tidak akan pernah kembali. Namun pemahaman itu tidak membuat lukanya sembuh.
Kesedihan itu disimpan, dipendam, bahkan dibawa bertahun-tahun hingga perlahan mengubah tujuan hidup. Sains menjelaskan bagaimana sebuah rencana dan tindak kejahatan bekerja. Namun dari sudut pandang manusia, kejahatan dimulai sejak duka tersebut menggores hatinya, sejak seseorang kehilangan orang yang dicintainya dengan cara yang dianggap tidak adil.
Di sinilah Keigo Higashino menunjukkan batas kemampuan sains. Sains dapat menjelaskan cara racun bekerja dan bagaimana sebuah pembunuhan dilakukan. Namun sains tidak dapat mengukur seberapa dalam kehilangan yang dirasakan seseorang atau berapa lama kesedihan mampu mengubah tujuan hidup manusia. Pelaku tidak digerakkan oleh kemarahan sesaat, melainkan oleh kesedihan yang bertahan terlalu lama.
Ketika Kehilangan menjadi Proyek Jangka Panjang
Pelaku tidak bereaksi secara impulsif. Pelaku menunggu, merencanakan, membangun kehidupan yang mengarah pada tujuan tertentu. Dalam ketenangan yang nyaris tidak mencurigakan, pelaku mampu menahan diri agar tidak merusak rencana yang telah ia susun bertahun-tahun.
Hal yang menarik bukanlah dari cerdiknya rencana tersebut, melainkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mempertahankan luka tersebut. Kehilangan sahabat bukan hanya meninggalkan kesedihan, namun membentuk tujuan hidup baru. Sebuah arah yang bermula dari duka dan berkembang menjadi sebuah tekad untuk menunggu waktu yang tepat.
Kesedihan tersebut bukan lagi hadir menjadi emosi sesaat. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih besar : sebuah rencana, sebuah tindakan, yang dilakukan dengan sabar selama bertahun-tahun. Tidak ada ledakan amarah, tidak ada tindakan tergesa-gesa. Yang ada hanyalah seseorang yang hidup berdampingan dengan duka, di mana duka tersebut seringkali mengambil alih keputusan yang ia pilih.
Hal yang Tidak Dapat Diukur oleh Sains
Bagi sains, kejahatan adalah rangkaian sebab-akibat yang dapat ditelusuri. Namun bagi manusia, kejahatan acap kali lahir dari emosi yang mengakar jauh sebelum tindakan dilakukan. Sains dapat menentukan waktu kematian korban, namun tidak dapat menentukan kapan kebencian mulai tumbuh.
Dalam novel ini, Keigo Higashino menyajikan pertanyaan menarik secara implisit : apakah balas dendam membutuhkan kebencian? Apakah seseorang harus terus membenci untuk melakukan balas dendam?
Novel ini menunjukkan bahwa luka tidak selalu hadir sebagai amarah yang meledak-ledak. Ia muncul dalam bentuk kesedihan yang diam, tenang, rasional dan sabar. Jenis luka seperti itu tidak akan pernah terlihat di laboratorium, tidak muncul dalam hasil autopsi dan tidak dapat diukur oleh metode ilmiah.
Sains memang berhasil mengungkap bagaimana kejahatan dilakukan. Namun novel ini mengingatkan bahwa kejahatan sering kali dimulai jauh sebelum tindakan kriminal itu sendiri. Ia dimulai dari luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Pada akhirnya pelaku tidak digerakkan oleh kemarahan sesaat, melainkan kesedihan yang mengendap terlalu lama.
Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!
[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com
메타데이터
- post_id
- 1f217d5673e2
- slug
- ketika-sains-tak-mampu-menerjemahkan-luka-1f217d5673e2
- url
- https://medium.com/booknotations/ketika-sains-tak-mampu-menerjemahkan-luka-1f217d5673e2
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/ketika-sains-tak-mampu-menerjemahkan-luka-1f217d5673e2
- author_url
- https://medium.com/@thea24
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 18:46:00