Tafsir Surat Al-Ikhlas dengan Pendekatan Adabul Ijtima’i
Surat Al-Ikhlas dipilih karena rata-rata masyarakat beragama tetapi tidak kenal dengan Tuhannya, oleh karena itu saya memilih surat…
Tafsir Surat Al-Ikhlas dengan Pendekatan Adabul Ijtima’i
Surat Al-Ikhlas dipilih karena rata-rata masyarakat beragama tetapi tidak kenal dengan Tuhannya, oleh karena itu saya memilih surat al-ikhlas karena surat ini berhubungan dengan ketauhidan dan ma’rifatullah. sehingga sangat cocok dibaca dengan pendekatan adabul ijtima’i yang berorientasi pada konteks sosial-kemasyarakatan. Beberapa penelitian sebelumnya mendukung pemilihan ini:
Penelitian dalam jurnal Ikhlas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam (2025)
memadukan corak adabi ijtima’i (dari Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka) dengan corak lughawi (dari Tafsir al-Kasysyaf karya Al-Zamakhsyari) untuk mengurai dimensi konteks sosial-budaya dan makna sastra suatu ayat, sekaligus aspek etimologis dan morfologisnya, menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif untuk menjembatani makna tekstual dengan relevansi kontemporer.
Saladin (2020) dalam jurnal Sophist membahas urgensi reaktualisasi corak tafsir adab al-ijtima’i dalam menjawab realitas sosial kemasyarakatan dan perkembangan zaman, menegaskan bahwa corak ini memang dirancang untuk menjawab problem aktual umat, bukan sekadar kajian kebahasaan.
Tanjung, dalam artikelnya tentang corak tafsir al-adaby al-ijtima’i, menjelaskan bahwa tujuan Muhammad Abduh mengembangkan corak ini adalah untuk menghindari kecenderungan ulama sebelumnya yang seolah melepaskan Al-Qur’an dari akar kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, sehingga ruh dan tujuan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup tidak terlantarkan.
Dengan demikian, Al-Ikhlas relevan dikaji secara adabul ijtima’i karena ia bukan hanya doktrin teologis abstrak, tetapi jawaban konkret terhadap pertanyaan sosial pada masanya (sebagaimana tercermin dalam asbabun nuzul-nya) dan terus relevan menjawab persoalan pluralisme ketuhanan, kesalahpahaman tentang sifat Allah, serta penyimpangan akidah di tengah masyarakat modern.
Teks dan Terjemah قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Surat ini terdiri dari 4 ayat, tergolong surat pendek, dan sebagian besar ulama menggolongkannya sebagai Makkiyah, meski ada riwayat yang menyebutnya Madaniyah , perbedaan inilah yang juga tercermin dalam ragam riwayat asbabun nuzul di bawah.
Asbabun Nuzul
Karena ayat ini tidak turun di tengah peristiwa hukum atau sosial yang kompleks, riwayat asbabun nuzul-nya lebih berbentuk dialog/pertanyaan dari pihak luar kepada Nabi ﷺ. Beberapa riwayat yang dicatat dalam kitab-kitab asbabun nuzul (termasuk yang dikutip dari karya As-Suyuthi, baik dalam Asbabun Nuzul maupun Lubabun Nuqul, serta Tafsir Jalalain):
Riwayat pertama : dari jalur Abul Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab: kaum musyrikin Quraisy mendatangi Rasulullah ﷺ dan meminta beliau menjelaskan sifat-sifat Tuhan yang beliau sembah. Maka turunlah ayat pertama surat ini sebagai jawaban. Riwayat ini disebutkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah.
Riwayat kedua : dari jalur Jabir bin Abdillah, diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan Ibnu Jarir, dengan kandungan serupa, dan riwayat ini dijadikan dasar bahwa surat ini Makkiyah.
Riwayat ketiga : disebutkan bahwa sejumlah pemuka Yahudi, di antaranya Ka’b bin Al-Asyraf dan Huyay bin Akhthab, datang kepada Nabi ﷺ dan meminta beliau melukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusnya. Karena riwayat ini melibatkan tokoh-tokoh Yahudi Madinah, sebagian ulama menjadikannya dasar bahwa surat ini Madaniyah.
Berikut Tafsir Adabul Ijtima’i per Ayat
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Perintah "katakanlah" menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar keyakinan privat, melainkan pesan yang harus disampaikan secara terbuka ke tengah masyarakat — fungsi sosial dari deklarasi iman. Kata ahad (Yang Maha Esa) menegaskan keesaan absolut, menolak segala bentuk politeisme yang waktu itu menjadi struktur sosial-keagamaan masyarakat Arab.
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
Ash-Shamad berarti Allah adalah tempat bergantung segala makhluk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan. Dari sisi adabul ijtima’i, ayat ini mengoreksi pola masyarakat yang menggantungkan harapan pada berhala, dukun, atau kekuatan-kekuatan selain Allah — sebuah kritik sosial terhadap ketergantungan keliru yang masih relevan hari ini dalam bentuk materialisme atau pemujaan terhadap kekuasaan duniawi.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
Menolak konsep Allah beranak atau diperanakkan, sebuah koreksi langsung terhadap kepercayaan sosial-keagamaan tertentu pada masa itu (baik mitologi Arab maupun ajaran sebagian Ahli Kitab). Ini menunjukkan fungsi Al-Qur’an sebagai penengah dialog antar-keyakinan, bukan sekadar pernyataan dogmatis tertutup.
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌࣖ
Menegaskan tidak ada yang setara dengan Allah. Dari sisi sosial, ayat ini membangun fondasi kesetaraan antarmanusia — karena jika tidak ada makhluk yang layak disetarakan dengan Allah, maka tidak ada pula manusia yang berhak mengklaim kedudukan ketuhanan atas manusia lain (penolakan terhadap despotisme/penyembahan terhadap penguasa).
Referensi:
As-Suyuthi, Jalaluddin. Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul. As-Suyuthi, Jalaluddin. Asbabun Nuzul: Sebab-sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an (terj. Indonesia).
Al-Mahalli, Jalaluddin & As-Suyuthi, Jalaluddin. Tafsir Jalalain, Jilid 4 (dari Surat az-Zumar sampai an-Nas), terj. Bahrun Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Algensindo. Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir (keterangan tentang makna ahad pada Q.S. Al-Ikhlas).
Saladin, Bustami. (2020). "Reaktualisasi Corak Tafsir Adab al-Ijtima’i dalam Menjawab Realitas Sosial Kemasyarakatan dan Perkembangan Zaman." Sophist: Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir, 2(2), 301–326.
Tanjung, Abdurrahman Rusli. "Analisis Terhadap Corak Tafsir Al-Adaby Al-Ijtima’i." Analytica Islamica, UIN Sumatera Utara. (2025). "Analisis Komprehensif Tafsir Surah Al-Ikhlas: Pendekatan Linguistik dan Teologis." Jurnal Pendidikan Integratif.
(2025). Ikhlas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Vol. 2, No. 3, Juli 2025 — kajian integrasi corak adabi ijtima’i (Tafsir Al-Azhar) dan corak lughawi (Tafsir Al-Kasysyaf).
메타데이터
- post_id
- 1f53d77ffd7b
- slug
- tafsir-surat-al-ikhlas-dengan-pendekatan-adabul-ijtimai-1f53d77ffd7b
- url
- https://medium.com/@susenofajar679/tafsir-surat-al-ikhlas-dengan-pendekatan-adabul-ijtimai-1f53d77ffd7b
- canonical_url
- https://medium.com/@susenofajar679/tafsir-surat-al-ikhlas-dengan-pendekatan-adabul-ijtimai-1f53d77ffd7b
- author_url
- https://medium.com/@susenofajar679
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 16:06:22