Ita Martadinata yang Terbungkam
TOTOXL Gue inget banget momen itu. Jakarta kayak neraka. Api di mana-mana. Teriakan dan Tangisan menyesakkan jiwa. Dan yang paling bikin…
Ita Martadinata yang Terbungkam
TOTOXL Gue inget banget momen itu. Jakarta kayak neraka. Api di mana-mana. Teriakan dan Tangisan menyesakkan jiwa. Dan yang paling bikin dada gue sesak, tubuh-tubuh perempuan jadi alat pelampiasan amarah dan kebencian yang gak masuk akal dari orang orang yang menggila.
Salah satu nama yang terus terngiang sampai hari ini adalah Ita Martadinata Haryono.

sumber: Google.com
Siapa Ita dan Kenapa Dia Harus Mati?
Ita bukan aktivis, bukan pula politikus. Dia cuma siswi 18 tahun asal Bandung yang sialnya adalah orang Tionghoa pada era itu. Tapi Ita punya nyali lebih besar dari banyak orang dewasa waktu itu.
Setelah tragedi Mei 1998, Ita berdiri. Dia bantu para perempuan Tionghoa korban kekerasan seksual. Dia ngumpulin data, catat kesaksian, dan siap kasih suara untuk mereka yang udah gak sanggup bicara.
Rencananya, dia akan berangkat ke PBB bareng Komnas Perempuan buat nyampein apa yang sebenernya terjadi. Tapi… dia keburu dibungkam.
Ita ditemukan tewas di kamarnya. Disayat dan Berdarah-darah. Polisi bilang itu perampokan. Tapi kita semua tau, itu bukan perampokan biasa. Itu pembungkaman.
Kenapa Perempuan Tionghoa yang Jadi Sasaran?
Lo mungkin mikir, kenapa sih mereka disiksa? Apa salah mereka? Jawaban jujurnya adalah mereka gak salah apa-apa. Mereka cuma lahir sebagai perempuan Dan Tionghoa.
Waktu itu, banyak warga marah sama krisis. Harga naik, pekerjaan hilang, masa depan suram. Dan karena selama Orde Baru etnis Tionghoa dikaitkan dengan elite ekonomi, mereka dijadiin kambing hitam. Padahal yang pegang kuasa mah ya yang duduk di istana, bukan emak-emak penjual mi ayam di Glodok.
Tragisnya, amarah itu dilampiaskan ke tubuh perempuan. Mereka diperkosa, disiksa, dijemput paksa dari rumah. Ada yang diseret ke jalan, dipermalukan. Ada yang dilecehkan depan keluarganya.
Lo bayangin, bro. Cewek-cewek yang bahkan gak ngerti politik, cuma pengen hidup tenang, harus ngerasain neraka itu.
Dan negara? Diam.

sumber: Google.com
Perempuan-Perempuan Hebat yang Gak Tinggal Diam
Tapi, seperti kata pepatah: “kalau negara gak bisa lindungi, maka rakyat akan jaga sesama”.
Ada banyak perempuan luar biasa yang angkat suara, yang berdiri di tengah kekacauan itu. Salah satunya adalah Ita Fatia Nadia.
Dia aktivis, peneliti, dan salah satu pendiri Komnas Perempuan. Waktu negara sibuk cari alibi, Ita Fatia turun ke lapangan. Dengerin cerita korban. Pelan-pelan, satu demi satu. Dia dokumentasikan, lindungi, advokasi.
Bareng tim Komnas, dia ngelawan sistem yang mau nutupin semuanya. Dia dan banyak aktivis perempuan lainnya kayak Gadis Arivia, Karlina Leksono, Maria Ulfah, mereka semua jadi pagar hidup buat para korban yang nyaris putus asa.
Luka Itu Masih Ada
Gue sebagai mantan aktivis 1998 masih sering mimpi buruk. Tapi bayangin gimana rasanya jadi para penyintas perempuan yang dilecehkan saat itu. Mereka harus hadapi trauma, stigma, dan… diam. Karena negara gak pernah kasih pengakuan yang utuh.
Banyak dari mereka memilih tutup mulut, karena takut, karena malu, karena trauma. Dan itu adalah bentuk luka yang paling menyakitkan, luka yang gak bisa lo teriakin.
🕊 Kenapa Kita Harus Ingat? 🕊
Lo sekarang bisa ngerayain Imlek tanpa takut. Bisa buka bisnis Tionghoa, bisa belajar Mandarin, bisa denger lagu Mandarin di kafe. Tapi dulu? Nama aja harus di-Indonesiakan, Agama lo dibatasi, Budaya lo dianggap asing. Dan kalau lo perempuan? Bahkan tubuh lo bisa jadi sasaran kebencian.
Makanya, kita gak boleh lupa.
Biar gak kejadian lagi. Biar generasi lo gak mikir: “Ah, itu masa lalu.” Karena sejarah yang diabaikan akan berulang.
Untuk Ita, dan Semua Perempuan Hebat Itu
Gue tulis ini sebagai penghormatan. Buat Ita Martadinata, yang harusnya hari ini mungkin udah jadi pengacara, dokter, atau penulis. Tapi hidupnya direnggut karena dia terlalu berani untuk seorang anak SMA.
Untuk Ita Fatia Nadia dan para perempuan aktivis lain yang gak tidur demi jagain korban. Untuk ibu-ibu Tionghoa yang berjuang diam-diam.
Dan untuk lo semua yang baca ini, jangan anggap kisah mereka sebagai cerita horor masa lalu. Tapi jadikan itu bahan bakar. Untuk lebih adil. Lebih peduli. Dan jangan pernah diam kalau ada yang dizalimi.
Karena kadang, suara paling keras bukan dari mereka yang berteriak, tapi dari mereka yang berani tetap hidup, tetap bicara, dan tetap melawan.
메타데이터
- post_id
- 1faef255495e
- slug
- ita-martadinata-yang-terbungkam-1faef255495e
- url
- https://medium.com/@tehbotoltoto/ita-martadinata-yang-terbungkam-1faef255495e
- canonical_url
- https://medium.com/@tehbotoltoto/ita-martadinata-yang-terbungkam-1faef255495e
- author_url
- https://medium.com/@tehbotoltoto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 12:43:27