Apa, Bagaimana, dan Kenapa? Materi Dekonstruksi Pengantar Filsafat
Kajian dasar filsafat klasik tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Nggak cocok buat yang males ribet.
Apa, Bagaimana, dan Kenapa ? Materi Dekonstruksi Pengantar Filsafat
Kajian dasar filsafat klasik tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Nggak cocok buat yang males ribet.

Intinya bahas yang ada di gambar ini. (Doc. Pribadi)
Disclaimer:
- Tulisan ini bisa bikin mual, pusing, insomnia, dan melamun panjang.
- Berhentilah membaca kalau muncul banyak bisikan di kepala.
- Hanya untuk pembaca 21+ ke atas, yang berani menguliti pikiran sendiri.
- Baca, renungkan dan hindari distraksi.
Baca versi gratis di sini
- Tidak disarankan bagi pembaca yang memiliki gangguan kesehatan mental.
- Jangan lanjut kalau dikira cuma retorika doang.
- Apapun yang terjadi setelah membaca bukan tanggung jawab saya.
- Mari buka ruang diskusi lintas nalar, apapun bisa ditanyakan di kolom komentar.
Mengapa Kita Harus Bertanya?
Entah kenapa, kehidupan sekarang membuat kita terlalu cepat menjawab. Belum juga rampung merumuskan masalah, kita udah buru‑buru jawab. Ada yang ganjel, tapi bingung mesti ngapain. Rasanya kayak keringetan nahan kentut di KRL Tanah Abang pas lagi padet-padetnya, “Duuh gimana ya?”
Kita memang diajari cekatan, punya opini, punya rencana, punya target. Seolah jawaban itu segalanya, dan sayangnya kita malah jumawa kalau udah kasih jawaban. Bahkan sebelum sempat mikir, “Pertanyaannya bener nggak ya? Jawaban ini emang dibutuhin?”
Lihat aja kebiasaan sehari-hari, hidup kita kayak buku manual — kerja biar dapet duit, belajar biar pinter, pensiun biar tenang. Dan banyak lagi kausalitas di kanan kiri, yang seolah hanya cukup dari A menuju B. Kedengaranya umum, rapi, lumrah, sama dan biasa. Padahal hidup ini banyak pilihan, banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi, siapa sangka tukang mebel pun bisa jadi presiden, kan?
Sekarang bayangin kata “ada” sebagai sesuatu yang kita kejar dan harapkan, misalnya pekerjaan idaman, pasangan ideal, harta bergelimang dan apapun saja yang kita dambakan. Sedikit sekali kesempatan untuk kita sadar, membelalakkan mata, dan bertanya, “apakah ‘ada’ itu bakal tetap ada meski nggak kita kejar? Apa pentingnya rutinitas A, B, C? Apakah ‘ada’ yang kita kejar itu beneran baik? Buat apa, dan gimana cara dapetinnya?”
Kita terlanjur bertaruh dengan pola hidup instan, tidak cukup untuk berani menggugat pertanyaan kita sendiri, dan itulah masalahnya. Di dunia nyata, pertanyaan yang salah nggak bisa ditebus, bahkan sama jawaban profesor sekalipun.
Betul sekali, pertanyaan itu tidak ada gunanya. Jawabannya sudah jelas di benak kita, apapun itu yang terpintas ketika kita membaca tulisan ini, “Apasih? Nggak jelas, ribet ah, skip.” Itu pun juga bentuk semalas-malasnya jawaban, se-instan-instan-nya bernalar, dan maujud dari hilangnya kemauan untuk menggugat batas berpikir.
Filsafat dengan reputasinya memang dianggap membosankan, menyesatkan, tidak praktis, tidak dibutuhkan di dunia kerja. Atau seringnya justru berdiri di sisi yang berlawanan dengan kebiasaan. Benar, itu semua benar! Filsafat memang seperti itu, terlalu gaduh untuk hidup yang harusnya simpel.
Tapi, filsafat ngajarin kita buat tahan sebentar di tengah ketidakpastian. Lebih peduli sama pertanyaan daripada buru‑buru ngasih jawaban. Malahan terkadang masalahnya bukan saat kita nggak punya jawaban — tapi ya memang pertanyaannya aja udah salah dari awal.
Saya sendiri nggak setuju bahwa kajian filsafat cuma dijadiin badut di tengah keilmuan atau pengetahuan yang lainnya. Filsafat ngajarin kita buat ngeludahin jawaban‑jawaban palsu yang pernah kita hafalkan. Menggugat apa-apa saja berlagak bener di hadapan kita.
Proses awalnya berangkat dari pertanyaan paling dasar, “Apa yang ada? Siapa kita? Bagaimana kita tahu itu? Untuk apa semua pengetahuan itu?” Pertanyaan, yang sejak lama menjadi dasar cara kita memahami garis kontur kehidupan — hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia.
Dalam kajian filsafat, ketiganya disebut ontologi (hakikat), epistemologi (ilmu pengetahuan) dan aksiologi (nilai). Tiga cabang dasar filsafat klasik yang mengawali falsafah-falsafah yang lainnya. Subordinat mengenai keberadaan, pengetahuan, dan tujuan.
Pertanyaan tentang Hakikat (Ontologi)
Coba lihat KTP kita! Nama, tanggal lahir, alamat, pekerjaan, status kawin. Belum lagi di media sosial, kita bisa tambah label atau embel-embel lainnya, lengkap sudah. Tapi pas ditanya, “Anda siapa?” Saya malah menjawab, “Saya Denni Setyawan.” Itu kan nama, bukan anda! hah? Akhirnya ribut tiga hari tiga malam.
Rasa penasaran mengenai “siapa kita sebenarnya” itu sudah ada sejak manusia pertama ada. Hidup ini sebenarnya apa? Semua yang kita lihat ini nyata atau mimpi? Atau cuma batas pikiran kita? Jangan-jangan hidup ini cuma prank panjang yang nggak kelar-kelar.
Itu sebabnya di dalam filsafat, pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat keberadaan disebut ontologi — dari kata Yunani ontos (ada) dan logos (ilmu). Isinya muter-muter mengenai, “Apa yang sebenarnya ada?” Apakah KTP? Username Instagram? Atau gelar sarjana yang cuma bikin kita keliatan keren? Sementara yang benar-benar “ada” malah nggak pernah kita kenal.
Kenapa penting? Ya karena kalau nggak ngerti apa yang benar-benar ada, gampang dimanipulasi, disesatkan, salah arah, tertipu, terjebak sama bayangan yang kita buat sendiri. Kita sibuk ngejar ini itu, padahal yang dikejar sebenarnya nggak pernah ada. Naasnya, kita baru sadar pas udah ngos-ngosan, kayak takut telat ngejar jam kerja, sampai di kantor eh ternyata hari libur.
Coba bayangkan ada botol air mineral di depan kita. Benda itu bisa dibayangkan? Ada itu maksudnya gimana? Apanya yang ada? Airnya? Plastik botolnya? Label merknya? Kalau airnya diminum, botolnya masih ada, tapi apa masih pantas disebut air mineral? Kalau botolnya leleh karena api, plastiknya jadi cair, terus kemana adanya?
Kadang kita terlalu gampang percaya sama semua yang kasat mata, seolah itu sudah cukup jadi bukti untuk “ada”. Padahal kenyataannya banyak hal yang nggak kelihatan pun sebenernya juga ada. Hal-hal demikianlah yang bisa menentukan arah hidup kita.
Coba deh, mana pernah kita lihat “cinta” jalan‑jalan di trotoar? Atau “bahagia” duduk di kursi tunggu Puskesmas? Tapi kita bisa mati‑matian ngejar itu. Ontologi ngajarin kita buat berhenti sebentar dan bertanya, “Yang kita kejar ini beneran ada atau cuma khayalan kolektif belaka?”
Ontologi juga bikin kita jengah sama asumsi‑asumsi yang udah keburu dianggap waras, meskipun ontologi dianggap gila. Kayak orang yang ngotot bilang, “Uang itu nyata.” Padahal ya uang itu cuma kertas atau nominal susunan digit angka. Yang nyata itu, ya orang yang percaya kalau itu bernilai. Kalau semua orang mendadak berhenti percaya, uangmu nggak lebih berharga dari tisu toilet. Jadi, jangan terlalu percaya sama realitas yang belum kamu uji coba sendiri.
Kalau mau lebih deket ke hidup sehari‑hari, lihat cara kita ngejar validasi. Punya barang branded baru biar dikira berhasil. Posting liburan biar dibilang hidupnya gaul. Padahal yang kita kejar itu cuma bayangan tipis yang diciptain orang lain. Benda, status, predikat — semuanya tampak nyata, padahal sebenernya cuma tempelan persepsi. Persis kayak hologram, kelihatan ada, tapi nggak bisa digenggam.
Banyak orang takut mikirin ini karena bikin nggak karuan. Gimana nggak? Kalau semua yang kita anggap nyata ternyata semu, berarti semua perjuangan kita sia‑sia dong? Ya nggak juga. Justru di situlah seninya, kita jadi bisa milih mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cuma fatamorgana.
Hidup nggak harus semuanya terbukti empiris di depan mata, tapi paling nggak, kita sadar bahwa semua yang kita lihat atau tidak adalah “ada”.
Pertanyaan ontologi nggak bakal bikin kita gila. Nggak juga bikin keliatan pinter kalau nongkrong di coffee shop. Pertanyaan-pertanyaan seputar hakikat itu penting, supaya kita tahu apa itu “ada”? Supaya kita bisa bilang ke diri sendiri, “Oke, yang ini nyata buat saya.” Dan ya, berani ngaku kalau banyak yang kita pahami ternyata palsu — itu udah langkah gede.
Akhirnya yang paling serem dari pertanyaan tentang hakikat bukanlah jawabannya, tapi kenyataan bahwa kita sering nggak mau jujur sama diri sendiri. Kita pura‑pura percaya semuanya nyata biar nggak pusing. Padahal dengan berani bertanya, “Apa yang benar‑benar ada?” Itu adalah satu‑satunya cara buat bener‑bener ada di hidup kita sendiri.
Pertanyaan tentang Pengetahuan (Epistemologi)
Apakah kita yakin kita tahu? Serius? Kita yakin berita yang kita baca itu benar? Kita yakin ingatan soal masa kecil itu nyata? Kita yakin orang yang bilang “sayang” itu sungguh‑sungguh? Atau cuma kita yang terlalu percaya?
Manusia itu makhluk paling pede soal pengetahuannya. Nggak heran tiap hari kita dengan enteng nge‑judge orang lain “bodoh” cuma karena mereka nggak sependapat. Kita belajar dari siapa? Guru? Guru belajar dari guru? Yakin mereka semua nggak salah? Yakin mata kita nggak keliru?
Ambil contoh paling receh, sebotol air mineral di depan kita. Kita bilang, “Ini air mineral, dingin, bisa diminum.” Yakin? Dari mana kita tahu itu air? Karena labelnya? Karena bentuknya bening? Karena rasanya nggak manis?
Semua yang kita pakai buat bilang, “Saya tahu ini air,” ternyata nggak lebih dari sekumpulan asumsi yang kita percayai sejak kecil. Bisa aja itu air beracun yang dibungkus ulang. Bisa aja itu cuma bensin yang kita kira air. Kita nggak benar-benar tahu, kita cuma percaya apa yang terlihat dan terbiasakan.
Di situlah epistemologi bekerja, berasal dari kata Yunani “episteme” (pengetahuan) dan “logos” (ilmu). Isinya tentang gimana caranya kita bisa yakin bahwa yang kita tahu itu benar? Bisa nggak pengetahuan kita diuji? Bisa nggak pancaindra kita dipercaya? Dari mana kita tahu sesuatu itu?
Makanya epistemologi punya peran untuk mencari tahu, biar kita nggak jadi orang yang buta tapi merasa melek. Biar kita nggak sembarangan nuduh orang lain salah padahal diri sendiri buta arah. Justru itulah yang bikin kita nggak gampang dipermainkan sama berita palsu, tipu-tipu orang pinter, atau imajinasi kita sendiri.
Dan ya, kadang epistemologi bikin frustrasi, karena bikin kita sadar, ternyata banyak hal yang kita kira kita tahu, sebenarnya cuma kita terlanjur percaya. Lebih parahnya kita lebih sering yakin karena udah nyaman, bukan karena benar, itu berbahaya.
Filsafat nggak terlalu suka orang yang terlalu yakin. Filsafat ngajarin kita buat curiga dulu sebelum bilang, “Saya tahu.” Secara terminologis, epistemologi adalah kajian tentang ilmu pengetahuan — bagaimana kita tahu, apa syarat sesuatu disebut “benar,” batas pengetahuan kita ini sejauh mana.
Orang yang nggak pernah mikirin epistemologi biasanya sombong banget sama pikirannya sendiri. Orang yang mikirin epistemologi terlalu dalam biasanya malah jadi skeptis banget, ragu sama segalanya. Kuncinya bukan dua‑duanya. Kuncinya adalah sadar diri, bahwa pemikiran kita bisa salah, mata kita bisa keliru, keyakinan kita bisa rapuh.
Biar kita nggak terlalu gampang percaya sama semua yang keliatan canggih. Biar kita nggak terlalu gampang ngejek orang cuma karena mereka nggak tahu yang kita tahu. Dan biar kita bisa bilang, “Aku tahu,” dengan nada yang lebih rendah hati — karena sadar, kita juga bisa salah kapan aja.
Yang saya maksud epistemologi di sini, bukanlah pengetahuan seperti isi dari paper seminar. Epistemologi itu membuat kita berhenti sok tahu, berhenti jadi juri yang yakin paling bener di dunia, yang bahkan kita sendiri nggak ngerti betul cara kerjanya.
Pertanyaan tentang Nilai (Aksiologi)
Belakangan saya perhatikan orang-orang suka sok sibuk, tak terkecuali saya sendiri. Kerja dari pagi sampai tengah malam, nyari duit sampai lupa tidur, berjuang kayak kuda balap di lintasan, yang bahkan kita pun nggak ngerti ujungnya di mana. Terus ditanya, “Buat apa semua ini?” Biasanya jawabannya cuma, “Ya biar hidup enak.” Padahal dalam hati sendiri juga nggak yakin, kalau itu bener‑bener enak kayak mie ayam. Kecuali udah keburu laper banget dan nggak sempet mikir rasa yang sebenarnya.
Kita gampang banget percaya bahwa semua yang “banyak” itu baik. Banyak uang, banyak sertifikat prestasi, banyak relasi, banyak followers. Kapan terakhir kali kita beneran duduk lalu bertanya, “Apakah semua itu bermanfaat? Apa sukses itu selalu berarti hidup lebih punya arti? Apa jadi “berguna” selalu sama dengan jadi “baik”? Apakah nilai hidup kita cuma angka gaji dan status di bio medsos?”
Filsafat sejak awal udah curiga sama semua yang kita anggap “baik” itu. Dan untuk itu, salah satu cabang filsafat klasik untuk menggugat, adalah aksiologi. Berasal dari kata Yunani axios (nilai) dan logos (ilmu). Secara istilah, aksiologi adalah kajian tentang nilai, tentang baik buruk, tentang tujuan dan arti semua yang kita kejar.
Masalahnya, banyak orang berpikir nilai itu universal dan jelas, padahal nggak! Ada orang rela korupsi demi keluarganya, lalu bilang, “Alasan mereka itu baik.” Ada orang rela menjilat bos demi jabatan, lalu bilang, “Ya demi masa depan yang baik.” Ada orang bantu orang lain cuma buat dijadiin konten, lalu bilang, “Biar menginspirasi, dan itu baik.” Bahkan yang katanya baik pun sering penuh motif busuk.
Dan kalau kita nggak pernah bertanya, kita bakal terus jadi budak nilai‑nilai yang kita warisi tanpa pernah tahu siapa yang naroh di kepala kita. Kita bakal terus ngejar “baik” versi siapa pun yang kebetulan lebih keras suaranya, lebih banyak likes‑nya, lebih tinggi jabatannya. Padahal siapa yang bilang baik itu selalu bener? Siapa yang bilang tujuan hidup kita harus selalu ngikutin peta yang orang lain gambar?
Aksiologi ngajarin kita buat menyelidiki motif di balik semua “baik” yang dijual ke kita. Baik itu buat siapa? Buat kita? Buat mereka? Malah terkadang yang katanya “baik dan bermanfaat” pun bisa mencelakai kita.
Itulah sebabnya, aksiologi menelanjangi cara berpikir kita. Menghempaskan kalimat seperti, “Oh, yang ini baik, yang itu buruk.” Lebih penting dari itu, aksiologi ngajarin kita buat ngomong, “Baik buat siapa? Buruk buat siapa? Buat apa? Kenapa harus itu?” Karena seringkali kita nggak butuh nilai baru — kita cuma butuh keberanian untuk menggugat nilai yang lama.
Dan di situlah seni hidupnya, berani bilang enggak di tengah semua orang yang bilang iya. Berani bilang “nggak perlu” waktu semua orang bilang “harus”. Dan berani bilang, “baik versiku nggak harus sama kayak baik versimu.” Karena ujungnya, nilai itu bukan paket turunan dari langit. Nilai itu kita sendiri yang pilih, kita yang hidupin, dan kita juga yang tanggung.
Kalau kita masih ngejar nilai‑nilai yang nggak pernah kita tanya sendiri, jangan kaget kalau suatu hari berhenti di persimpangan hidup sambil garuk‑garuk kepala, “Sebenernya ngejar apa sih? Buat apa?”
Dan ya, kadang jawabannya, “Nggak ada.” Dari situ kita bisa mulai membuat jawabannya sendiri. Biar hidup kita nggak cuma keliatan sibuk dan penuh belaka. Biar kita bisa bilang ke diri sendiri, “Oke, ini bukan cuma soal kaya atau miskin.” Ini soal apakah yang kita kejar benar‑benar pantas buat jadi alasan kita tetap bernilai. Biar kita berhenti pura‑pura bahwa semua baik‑baik aja.
Kesimpulan Tiga Cabang Filsafat Klasik
Beberapa orang mengira filsafat itu semacam koleksi jawaban retoris yang gaul, padahal nggak! Inti filsafat sebenarnya ngajarin cara menganalisis. Dan itu jauh lebih penting daripada hafalan jawaban mana pun.
Percuma kita hafal seluruh jawaban textbook, percuma kita tahu jawaban dari Artificial Intelligence, kalau sudah salah pertanyaannya dari awal. Orang sibuk bertanya, “Cara cepat kaya gimana,” padahal nggak pernah bertanya dulu, “Kenapa aku harus kaya?” Orang sibuk cari cara biar pintar, tapi sama sekali nggak ngerti, “Apa arti pintar kalau nggak tahu buat apa dipakai?” Dan orang sibuk bilang, “Aku mau hidup baik,” padahal nggak pernah repot mikir, “Baik itu yang mana?”
Tiga cabang filsafat klasik dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi itu memaksa kita untuk menguji diri. Apa yang sebenarnya ada? Bagaimana kita bisa yakin tahu? Untuk apa semua yang kita jalani ini?
Mungkin jawabannya nggak akan pernah jelas, malah bikin kita tambah gelisah. Dan ya, memang begitu, justru gelisah itu pertanda akal kita masih sehat. Karena yang benar‑benar berbahaya adalah ketika kita berhenti bertanya. Ketika kita sudah nyaman dengan jawaban yang diwariskan begitu saja.
Lebih baik hidup dengan pertanyaan yang bikin tidur kita gelisah, daripada jadi bangkai hidup yang puas dengan semua jawaban instan yang dijual murah.
Rekomendasi Bacaan Lanjutan:
Masih pengen baca? Silakan lanjut baca buku orang bule yang juga ribet ini: 🔗 Elements of Philosophy karya Louis O. Kattsoff
- Ontologi, p. 177.
- Epistemologi, p. 126.
- Aksiologi, p. 295.
Baca pelan-pelan aja, jangan buru-buru kayak ngejar KRL Tanah Abang.
메타데이터
- post_id
- 20164058090d
- slug
- apa-bagaimana-dan-kenapa-materi-pengantar-dekonstruksi-20164058090d
- url
- https://medium.com/channel-filsafat/apa-bagaimana-dan-kenapa-materi-pengantar-dekonstruksi-20164058090d
- canonical_url
- https://medium.com/channel-filsafat/apa-bagaimana-dan-kenapa-materi-pengantar-dekonstruksi-20164058090d
- author_url
- https://medium.com/@dennisetyawan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-22 16:50:40