Kupang wasn’t the plan, but it became everything
Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah saya rencanakan, tapi justru menjadi cerita yang paling ingin saya ulang.
Kupang wasn’t the plan, but it became everything
Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah saya rencanakan, tapi justru menjadi cerita yang paling ingin saya ulang.
Selama 12 tahun sekolah, bahkan hingga 16 tahun saya menjalani hidup, saya tidak pernah membayangkan akan berakhir di sini—di sebuah kota yang dulu mungkin hanya sekadar titik kecil di peta. Begitu juga dengan jurusan yang saya pilih: Teknologi Laboratorium Medis. It was never part of my dreams, never written in any version of my future.
Namun, hidup seringkali bergerak dengan caranya sendiri—quietly, unpredictably, yet precisely.
Awalnya terasa asing. Kota ini, dengan panasnya yang tegas, ritmenya yang berbeda, dan orang-orang yang belum saya kenal—semuanya seperti dunia baru yang menuntut untuk saya pahami. Jurusan ini pun sama. Istilah yang rumit, praktikum yang melelahkan, dan malam-malam penuh tanya: is this really where I belong? Lalu, perlahan, tanpa saya sadari—sesuatu berubah.
Kupang tidak lagi sekadar tempat. It became a feeling. A quiet kind of home I never knew I needed. Dan di kota ini, saya menemukan versi diri yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Menjadi versi diri saya yang paling “liar”—bukan dalam arti kehilangan arah, tetapi justru menemukan arah dengan cara yang tidak biasa. Sisi yang tidak pernah saya tunjukkan sebelumnya, sisi yang berani mencoba hal-hal yang dulu terasa aneh, canggung, bahkan mustahil. Saya belajar menjadi versi terbaik, terabsurd, dan terkocak dalam hidup saya sendiri. Saya mulai mengikuti berbagai aktivitas, membuka diri pada banyak ruang yang dulu tidak pernah saya bayangkan akan saya masuki. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk terlibat dalam kepanitiaan voli dengan cakupan sebesar itu—namun di sana, saya bertemu dengan orang-orang yang tulus. Saya menjadi koordinator kerohanian di himpunan mahasiswa, bahkan dipercaya lebih dari itu. Kepercayaan diri yang dulu bersembunyi, tiba-tiba muncul dan berdiri di panggung hidup saya sendiri—louder, braver, unapologetically alive. Saya ikut kepanitiaan ospek mahasiswa baru, bertemu tanggung jawab baru, dinamika baru, dan cerita-cerita yang tidak pernah saya miliki sebelumnya. Dan di satu titik, saya sadar—I feel alive here.
Untuk semua cerita yang pernah sampai ke telinga saya—cerita dari orang-orang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan mampu menanggung beban seberat itu—terima kasih. Terima kasih telah memilih saya menjadi tempat untuk berkeluh kesah, menangis, dan percaya bahwa saya akan menjaga semua itu dengan baik. Kalian membuat saya merasa bahwa keberadaan saya memiliki arti.
Dan untuk kalian—nama-nama yang mungkin terlihat sederhana, tapi menyimpan begitu banyak cerita— Terima kasih untuk Yuni dan Rico Misa, yang memulai semuanya dari gerbang yang sama. Untuk Kak Ani dan Lala, yang mengisi sela-sela drama ospek dengan cerita yang akan selalu saya ingat. Untuk Ryon, tebengan pertama saya di tanah rantau—sebuah perjalanan kecil yang terasa besar. Juga Zadewa, Pindhy, dan semua teman yang pernah mengantar saya pulang—kalian adalah rasa aman yang tidak pernah saya minta, tapi selalu saya syukuri. Terima kasih Keti Wego (mewakili Umbu), yang rela direpotkan di pagi hari hanya untuk membantu motor yang kehabisan bensin—dan juga menjadi partner konser dengan energi yang luar biasa. Love your energy, always. Untuk Ka Stifen, terima kasih untuk malam-malam yang tidak sederhana—mendorong motor dengan ban pecah, dan kesabaran tanpa batas saat saya terus meminta bantuan untuk hal-hal kecil seperti sampul buku. Vunan dan Keti Bhara—tidak ada kata yang cukup untuk menjelaskan kalian berdua. Love you guys, beyond words. Dioo, partner wireless dengan energi yang seakan tidak pernah habis—terima kasih telah menjadi bagian dari cerita yang penuh tawa. Untuk partner penelitian dan bimbingan saya, satu-satunya Agy yang sudah ber-NIP—terima kasih untuk kesabaran, kebersamaan, dan semua proses yang kita lewati, termasuk PKM Naibonat bersama Lala. I love you so much. Nanda, Elza, Ka Unang, Terii, Merlin—terima kasih untuk semua jokes receh yang entah kenapa selalu berhasil membuat hari terasa lebih ringan. Emiliana, yang selalu siap mengepang rambut saya saat sudah tidak berbentuk—dan Winni, terima kasih untuk “touch-up” alis yang selalu tepat waktu. Love you. Thesa dan Key—dua manusia random dari kelas sebelah yang tiba-tiba menjadi begitu dekat, melampaui batas yang bahkan tidak kita sadari. Be happy, my loves. Let’s stay this random, together. I love you both so much. Untuk grup BAKARBAN—igooo, sela, ope, izarr, ari, listy, chantika, alvires—you guys are chaos in the best possible way. Dan untuk semua pertemanan tak terduga lainnya—Gerard, Zakii, Aurel, Willy, teman-teman kelas B dan kelas A yang tidak sempat saya sebutkan satu per satu—ketahuilah, kalian tidak pernah benar-benar terlewat. Kalian tersimpan, rapi, hangat, di tempat yang tidak akan mudah dilupakan. Terima kasih Putri dan Fika, juga Ka Ida, untuk bekal-bekal sederhana yang selalu terasa istimewa karena dimakan bersama—it was never just about the food, but the togetherness. Terima kasih juga untuk Dea, yang sudah dengan sabar menemani saya mencari konsumsi sidang skripsi Umbu di tengah teriknya matahari Kupang—perjalanan kecil yang terasa panjang, panas yang terasa ringan karena ditemani.
Terima kasih KELAS B, untuk semua kerja sama dalam segala hal—kerja kelompok, tugas, bahkan “nyontek” sekalipun. Kalian adalah teman kelas terbaik yang pernah saya miliki selama 12 tahun saya sekolah. Untuk my lovely sister Elty, terima kasih untuk ruang curhat yang selalu terbuka, untuk semua hal yang kamu beri tanpa pernah diminta kembali, dan untuk telinga yang tidak pernah lelah mendengarkan keluh kesah saya sebagai mahasiswa. Your life will always find its way to something beautiful—please believe that. Terima kasih Monik, Sania, Anggi, Fidel, Rijay—untuk selalu mengingatkan bahwa saya tidak sendiri di Kupang. Untuk waktu-waktu yang selalu kalian sisihkan, untuk tawa yang selalu paling keras, dan untuk perasaan “dianggap ada” yang begitu berarti. Dan untuk teman-teman terbaik saya di tanah rantau ini—Ka Ani, Lala, Ambuti, Putri, Fika, Ka Ida, Dhea, Anggi—semoga dalam hidup yang hanya sekali ini, kita terus dipertemukan dalam hal-hal baik lainnya.
Terima kasih, Kupang. Untuk semua awal yang tidak saya rencanakan, dan semua akhir yang ternyata terasa baik. Untuk tempat-tempat indah yang diam-diam menyembuhkan. Untuk Pantai Subasuka yang selalu menjadi saksi “cape versi diam”—di mana saya belajar bahwa tidak semua lelah harus diceritakan, kadang cukup ditemani angin dan suara ombak. Dan untuk sunset-nya—yang selalu datang tepat waktu, seolah ingin berkata bahwa setiap hari, seberat apapun, selalu punya cara untuk ditutup dengan indah. Langit yang perlahan berubah warna itu seperti memeluk tanpa menyentuh, mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan, cukup dirasakan.
Pada akhirnya, saya mengerti sesuatu. Bahwa rumah tidak selalu tentang tempat pertama kita berasal. Kadang, rumah adalah tempat di mana kita bertumbuh, jatuh, tertawa, dan menemukan diri kita sendiri—di antara orang-orang yang awalnya asing, tapi kemudian menjadi bagian dari hidup kita.
And if there is another universe, another version of me— saya rasa saya akan tetap memilih jalan yang sama. Kota ini. Jurusan ini. Dan kalian, dengan segala cerita yang kita miliki. Karena ternyata, hal-hal terbaik dalam hidup tidak selalu datang dari rencana.
Some of them arrive quietly—unexpected, uninvited, yet exactly where they are meant to be.
Dan bagi saya, Kupang adalah salah satunya. Dan kalian—adalah alasannya.
메타데이터
- post_id
- 201f64c64e47
- slug
- kupang-wasnt-the-plan-but-it-became-everything-201f64c64e47
- url
- https://medium.com/@adventi.g/kupang-wasnt-the-plan-but-it-became-everything-201f64c64e47
- canonical_url
- https://medium.com/@adventi.g/kupang-wasnt-the-plan-but-it-became-everything-201f64c64e47
- author_url
- https://medium.com/@adventi.g
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 04:18:25