← Back to list

06 — Orang yang Familiar Itu #NextChapter

Lebih baik meminta izin atau meminta maaf?

Estellavea · 2026-03-15 01:36 · 0 claps · 9.9 min read
#high-school #fiksi-indonesia #sma #teen-fiction #teenlit
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

06 — Orang yang Familiar Itu #NextChapter

Lebih baik meminta izin atau meminta maaf?

Ah, persetan dengan itu!

Atzu sudah sering kali meminta izin kepada sang ibu negara untuk melakukan hal-hal yang ingin dia lakukan selama ini, tetapi jawabannya selalu tidak dan Atzu selalu mematuhinya.

Contohnya saja tahun lalu, ketika Atzu ingin mendaftar kepanitiaan pentas seni SMANEJ*ONE: The First Chapter, sang ibu negara langsung menolak mentah-mentah. Alasannya tidak jauh-jauh, sang ibu negara hanya tidak mau Atzu kelayapan di luar saja dan hanya ingin Atzu pulang cepat ke rumah untuk membantu pekerjaan rumah ataupun untuk menjadi pendengar segala omelan sang ibu negara (lebih tepat menjadi pelampiasannya). Padahal, sekali pun Atzu dibolehkan menjadi panitia pensi itu, Atzu juga tidak akan pulang malam-malam dan dia tentunya akan tetap mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak bisa dikerjakan Winata sebagaimana mestinya.

Namun, untuk kali ini, Atzu harus nekat jika dia sungguh-sungguh ingin ikut kepanitiaan The Next Chapter. Untuk kasus yang satu ini, lebih baik meminta maaf karena telah melakukan hal yang dia inginkan atas keputusannya sendiri dibandingkan meminta izin dan berakhir impiannya gagal untuk yang kedua kali.

Atzu mengangguk mantap, lantas dia mengambil ponselnya dari atas nakas untuk menghubungi Kak Yurika seperti instruksi yang Ghina bilang tadi siang. Dia akan mengikuti kepanitiaan Next Chapter, dengan atau tanpa izin dari sang ibu negara.

Jarinya mengetik cepat di atas layar benda pipih hitam itu dan mengirim pesannya semenit kemudian. Atzu menghela napas lega begitu menyelesaikannya meski jantung di dadanya itu malah berdebar semakin kencang selagi menunggu balasan dari Kak Yurika. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, sesaat sebelum pintu kamarnya dibuka dengan kasar disusul suara tangis Winata.

Atzu refleks bangun. Dilihatnya Winata dengan mata sembab dan hidung memerah berlari melemparkan dirinya ke arah kasur di sebelah kasur Atzu, kasur milik kakaknya yang merantau.

Tanpa perlu bertanya pada adiknya itu, Atzu sudah bisa menebak-nebak apa yang terjadi di ruangan luar dari suara berisik Ema Darmawangsa yang mengumpat tak ada habisnya … dan tak butuh waktu lama-lama, kalau sang ibu negara sudah begini, nama Atzu pasti akan diseret kemudian.

“Azura! Ke sini, lu, jangan mendem di kamar aja. Bantuin gua!”

Atzu membuang napasnya dengan kasar. Entah apa yang tadi Winata lakukan, bocah kecil itu pasti mencari gara-gara ketika sang ibu negara sedang naik pitam sehingga emosinya semakin menjadi-jadi.

Atzu bergegas menyeret dirinya keluar dari kamar, meninggalkan kasur paling nyaman dan tempat paling damai di rumah itu. Atzu mendapati Ema Darmawangsa sedang menelepon seseorang dengan nada gusar sambil mengepel tumpahan susu cokelat milik Winata di ruang keluarga.

Pantas saja ibu negara ini marah setengah edan!

“Gak tahu diri itu bocah. Tolol. Minum gitu doang kagak bisa. Udah tahu orang tua capek.”

Atzu mengepalkan tangan hingga dia bisa merasakan kuku-kukunya seperti menancap di kulit telapak tangan.

Enam belas tahun hidup bersama sang ibu negara bukan berarti dia sudah terbiasa dan baik-baik saja dengan kata-kata kasar yang selalu terucap dari mulutnya itu. Atzu juga muak. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun selain membungkam dan menulikan telinga selama beberapa menit kedepan. Karena jika tidak, dia

“Sini, Atzu aja yang pel, Bun.”

Ema melirik ke arah Atzu dan membuang napas lega walau air mukanya masih segalak preman pasar. Ema melemparkan kain pel pada anak keduanya itu yang, untungnya, ditangkap Atzu dengan sigap.

Wanita paruh baya itu memindahkan ponselnya yang terjepit di antara kepala dan leher, lalu dia menarik salah satu bangku untuk duduk dan lanjut menelepon seseorang di seberang sana sementara Atzu mulai mengepel.

“Sialan emang si Ajeng, anjing! Iya …, iya, itu makanya, si Jaya sekarang tinggal rumah bini mudanya gara-gara bunting lagi itu cewek! Udah mana bulan ini kagak ngasih duit bulanan gara-gara duitnya buat si Anjing. Dikira anak-anaknya makan pakai daun! Tolol, emang ….”

Atzu mempercepat gerakan mengepelnya agar dia bisa menyudahi apa yang dia dengar ini.

Wijaya Rachmadi, ayahnya itu, memang sudah tidak tinggal di rumah Atzu semenjak pandemi virus Covid-19 tahun lalu dan pria itu kini tinggal bersama dengan istri keduanya, Ajeng — wanita yang akan selalu dibenci Ema Darmawangsa sejak enam belas tahun terakhir.

Atzu pun tidak menyukai tingkah Wijaya sama seperti ibunya, bahkan Atzu membenci fakta bahwa Wijaya adalah suami dari dua wanita, Ema dan Ajeng. Akan tetapi, di sisi yang berlawanan, hubungan antara Atzu dengan Wijaya sebagai ayah juga baik-baik saja. Wijaya tidak pernah berkata kasar pada Atzu, pun dia sering kali memberikan apa yang Atzu inginkan — walau kata Ema itu memang sudah menjadi hak Atzu sebagai anaknya. Atzu berada di tengah-tengah mereka berdua.

Terkadang, Atzu hanya menyesalkan mengapa kedua orang tuanya itu tidak bisa memilih jalan tengah yang terbaik untuk mereka sendiri, seperti bercerai misalnya.

Bukankah akan lebih baik begitu daripada terus-menerus berpura-pura begini yang pada kenyataannya malah menyakiti semua orang?

“Apa gua racunin aja kali, ya, kalau besok-besok dia datang? Biar mampus sekalian!”

Atzu memeras kain pelnya dengan begitu keras sampai-sampai tangannya memerah, tetapi dia tidak peduli.

Bukan sekali-dua kali, Ema Darmawangsa berkata sembarangan seperti itu. Atzu mungkin berada di pihaknya, tetapi bukan berarti dia bisa diam saja mendengar kalimat buruk yang dilontarkan pada Wijaya.

Bagaimana pun juga, Atzu bukan hanya anak Ema, melainkan juga tetap anak Wijaya. Terlepas apa yang dilakukan Wijaya kepada Ema dan keluarga pertamanya selama bertahun-tahun, Atzu tidak akan bisa membenci Wijaya sepenuhnya … apalagi sampai menyumpahinya begitu.

Atzu melempar kain pelnya ke dalam ember dengan masygul, lantas mengangkat embernya ke halaman belakang.

“Mau ke mana?” Ema menatap Atzu dengan dahi berkerut. Ponselnya masih menempel di telinga.

Atzu mengangkat dagunya, menunjuk lantai yang semula lengket karema susu cokelat Winata. “Udah bersih. Aku mau balik ke kamar.”

Tanpa perlu menunggu jawaban Ema, Atzu mempercepat langkahnya menuju halaman belakang agar dia bisa terbebas dari sang ibu negara dan segala macam ucapan buruknya.

Atzu rasa, keputusannya beberapa menit silam untuk mengikuti kepanitiaan sekolah sudah tepat … karena pada akhirnya, dia memiliki alasan untuk menghindar dari rumah ini kapan pun dia mau.

?

Bel pulang sekolah di hari Jumat ini sudah berbunyi pukul 14.00, tepatnya setengah jam yang lalu. Seharusnya, sesuai dengan pesan yang diberikan oleh Kak Yurika semalam, seluruh anggota divisi kesehatan Next Chapter berkumpul hari ini sepulang sekolah sebagai rapat perdana mereka. Namun, tidak ada satupun orang yang berada di ruang UKS maupun ruang PMR sekolah saat ini.

Apakah Atzu salah ruangan? Akan tetapi, bukankah biasanya anak-anak PMR juga selalu mekakukan rapat di ruang PMR?

Semalam, Kak Yurika memang tidak memberikan detail lokasinya, sih. Ditambah, Atzu baru bergabung dengan grup chat sehingga ada kemungkinan dia ketinggalan informasi.

Atzu membuka ponselnya sekali lagi. Beberapa menit lalu, Atzu sudah menge-chat Kak Yurika, tetapi belum ada balasan dari kakak kelasnya itu. Centang dua, tanpa warna. Atau … dia memang mematikan warna birunya? Entahlah.

Atzu juga sudah mencoba menge-chat beberapa orang yang dia kenal, seperti Ghina, tetapi sama saja, tidak ada balasan. Apa semua gadis cantik nan populer seperti Ghina dan Kak Yurika selalu seperti itu? Huh!

Mendadak, pikiran buruk Atzu meracau ke mana-mana. Dia benar-benar sebal. Semua orang mendadak tidak bisa dihubungi, slow response, dan menghilang entah kemana setiap kali Atzu membutuhkan mereka.

Kurang ajar! Ini sudah kelima kalinya Atzu bolak-balik UKS-Ruang PMR, tetapi tetap tidak ada siapa pun di sana. Atzu bahkan sampai diam-diam berharap seseorang anggota divisi kesehatan sama sepertinya muncul dari bilik UKS. Atzu merapalkan doa dalam hati, berharap keajaiban muncul berupa informasi ke mana dia harus pergi agar dia tidak terus-menerus berdiri di depan ruangan seperti orang bodoh begini. Karena jika dalam lima menit tidak ada informasi apa-apa, Atzu akan balik ke rumahnya saja.

Atzu mengembuskan napasnya kesal dan melangkah keluar dari ruangan, berjalan menuju kursi terdekat yang berada di depan kelas 10 untuk duduk sejenak. Suasana sekolah siang menjelang sore begini tidak terlalu ramai. Hanya diisi oleh para murid yang ikut kegiatan ekstrakurikuler, sekumpulan anak laki-laki yang iseng bermain futsal, dan seorang anak hilang seperti dirinya.

Atzu membuka ponselnya sekali lagi.

“Lho, Atzu? Belum pulang?”

Suara yang begitu familiar menyapanya. Atzu mendongak dan dia begitu bersyukur mendapati Laskar masih ada di sini dengan tubuh yang dibalut hoodie hitam dan sepatu yang terpasang rapi seolah dia sudah bersiap untuk pulang.

Atzu berdiri saat lelaki itu menghampirinya. “Belum, nih. Gue harusnya ikut rapat perdana divkes, tapi gue gak tahu pada ngumpul di mana. Gue chat orang-orang, tapi gak ada yang balas,” curah gadis itu lesu.

Laskar ikut bercelingak-celinguk, ingin membantu Atzu. “Nama koornya siapa, Tzu? Gue coba bantu cari.”

“Kak Yurika. Gue gak tahu lagi siapa koor 2 dan 3-nya.”

Tatapan Laskar berhenti pada seseorang yang berada di belakang Atzu. “Ah, itu Kak Ezra. Kalau gak salah, dia koor 2 divisi kesehatan,” tuturnya. “Kak Ezra!”

Atzu mengikuti arah tatapan Laskar dan dia membeku. Butuh tiga detik untuk mengenali bahwa pemilik nama Ezra, yang sedang berjalan ke arah mereka karena Laskar memanggilnya, adalah orang yang sama dengan sang kasir dan sang pramusaji yang Atzu temui di Kafelate dua hari silam. Yang membedakan, lelaki bertubuh tinggi dan berbadan atletis itu kini menggunakan kacamata, tidak seperti pertemuan pertama mereka.

What a coincidence!

Kak Ezra juga memiliki reaksi serupa ketika kedua matanya menjumpai Atzu dengan seragam sekolah yang sama dengan miliknya.

“Halo, Kak!” Laskar bersalaman dengan Ezra, membuat kakak kelasnya itu memutus tatapannya dengan Atzu. “Saya mau tanya, Kak. Kak Ezra ini koor 2 divisi kesehatan untuk Next Chapter, benar?”

“Benar sekali, Laskar. Ada apa, nih?” Ezra menatap Laskar dan Atzu bergantian.

“Teman saya, Arnata, baru mendaftar kepanitiaan dan saya dengar darinya kalau ada rapat perdana divkes diadakan hari ini. Namun, Arnata tidak mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai lokasi rapatnya, Kak. Mohon bantuannya,” tutur Laskar yang sukses membuat Atzu terpukau akan kesopanan lelaki manis di sampingnya ini.

Ezra mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Rapatnya dimulai lima belas menit lagi karena Yurika ada pertemuan cheers dulu. Tempatnya di ruang PMR kok.”

“Tapi dari tadi ruang PMR sepi banget …, saya kira gak jadi.” Atzu nyaris saja akan memanggilnya Mas, tetapi dia berhasil menyamarkan kata itu.

“Iya, kah? Sebentar, ya.” Ezra mengambil ponsel dari sakunya dan membaca pesan-pesan di sana. “Oh, maaf, ternyata rapatnya di kelas 12 MIPA 6, di lantai 2, yang paling pojok.”

Atzu menoleh ke arah Laskar.

“Mau gue anterin, Tzu?” tawar lelaki itu tanpa basa-basi.

Atzu tersenyum lebar. “Gak usah, Kar. Tadi lo udah mau pulang, tapi malah gak jadi gara-gara gue,” ucapnya. “Sekarang, lo pulang aja. Gue bisa sendiri kok. Makasih banyak, ya, udah direpotin.”

“Nevermind. Ya sudah, kalau gitu, saya pamit duluan, ya, Kak, Atzu!” Laskar melambai dan berbalik meninggalkan koridor lantai satu.

Menyisakan Atzu dan Ezra.

Ezra kembali mengarahkan tatapannya pada gadis itu. “Boleh saya antar kamu ke sana? Supaya kalau ruang 12 MIPA 6 ternyata masih kosong juga, kamu gak sendirian lagi kayak gini,” tawar lelaki itu, tetapi dia buru-buru menambahkan, “Tapi kalau kamu mau tunggu ramai aja, juga gak apa-apa. Saya ke lantai 2 duluan, nanti kalau udah ramai, saya balik lagi ke sini buat kasih tahu kamu.”

Ibu negara mungkin pernah bilang, “Jangan menerima apa pun dari orang asing!” Namun, tawaran lelaki ini patut dipertimbangkan.

Kalau Atzu tetap di sini sembari menunggu Ezra kembali, dia hanya akan terlihat seperti orang dungu untuk kesekian kalinya. Ditambah, menyuruh lelaki yang baru dikenalnya ini bolak-balik demi dirinya sungguh tidak tahu diri. Atzu tidak menyukai pilihan itu meski harus dia akui itu pilihan yang paling aman.

Akan tetapi, jika dia memilih mengikuti Ezra ke lantai 3, hanya ada dua kemungkinan. Dia akan berada di sana hidup-hidup dan baik-baik saja … atau dia mungkin tidak akan baik-baik saja jika orang ini ternyata berniat buruk.

Baiklah, Atzu memutuskan pilihan kedua dengan catatan akan terus menyalakan ponselnya sampai di lantai 3 nanti untuk berjaga-jaga. Toh, dia juga bosan kalau berdiam diri di sana terus.

“Boleh, Kak. Ayo, coba kita ke lantai 3 dulu. Siapa tahu memang udah ramai.” Atzu tersenyum.

?

“Kita sepertinya belum benar-benar berkenalan, ya, padahal kemarin kita udah bertemu duluan,” ujar Ezra ketika mereka menaiki anak tangga bersamaan.

Atzu terkekeh. “Pantas aja waktu di kafe kemarin, saya ngerasa gak asing waktu lihat kakak tahu. Ternyata satu sekolah,” ujarnya. “Nama saya Arnata Azura, Kak. Panggilannya Arnatazu, atau kalau mau lebih gampang, panggil Atzu aja.”

“Oke, Atzu.” Ezra mengangguk-angguk. “Kamu dari kelas berapa?”

“11 MIPA 2, Kak.”

“Yang wali kelasnya Pak Suheri?”

“Betul.” Atzu memberikan jempol. “Kalau Kakak?”

“Saya dari kelas 12 MIPA 1. Oh, ya, nama lengkap saya, Ezra Rahadian.” Ezra tertawa kecil saat Atzu tiba-tiba menoleh padanya dengan mata melebar. “Iya, nama saya memang mirip sama aktor yang mungkin ada di pikiran kamu itu.”

Atzu kembali terkekeh. “Tapi keren, lho, namanya. Pasti orang tua Kakak suka nonton filmnya Reza Rahadian, ya? Atau jangan-jangan, cita-cita Kakak mau jadi pemain film juga?” tebaknya asal.

“Waduh, saya gak ada bakat akting sih. Dan kayaknya, di tahun 2004, Reza Rahadian belum debut film deh, masih jadi anak SMA seumuran kita. Jadi, nama saya dan nama dia murni mirip aja,” tutur Ezra. “Omong-omong, rumah kamu juga di Perumahan Ganggang Biru, Tzu?”

Atzu mengangguk. “Tepatnya di Jalan Aster Hijau, Kak. Makanya buat ke Kafelate itu dekat banget dari rumah saya, tinggal jalan kaki sebentar keluar kompleks, udah ada di seberang jalan. Rumah kakak di Ganggang Biru juga?”

“Iya, cuma kita beda gang. Rumah saya di Jalan Aster Kuning.”

“Wuih, itu mah kita kayak tetanggaan! Dekat banget!”

Ezra tertawa ringan menanggapinya. “Menurut kamu, Atzu, kroisan dan kopi yang kemarin kamu coba di Kafelate rasanya gimana? Suka gak?”

“Suka! Chocolate croissant-nya kayak di Ikea, enak! Apalagi kopinya. Saya suka banget, manis tapi gak kemanisan. Kayaknya, besok-besok, saya bakal pesan hazelnut coffee lagi deh.”

Ezra mengangguk-angguk seraya tersenyum lebar. “Kalau kafenya sendiri gimana?”

Atzu memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat. “Kafenya bagus kok. Konsepnya kekinian dan … oh! Aku ingat, waktu itu, aku senang banget pas tahu kalau di Kafelate ada perpustakaan kecil di bawah tangga dan ternyata ada banyak buku yang pengen aku baca di sana. Biasanya, kan, kafe-kafe pada umumnya cuma nyediain board game buat para pengunjungnya, tapi yang ini beda sama kafe yang biasa aku temuin. Jadi, kayaknya aku bakal datang lagi ke sana buat nongkrong sekalian baca buku.”

“Senang deh, kalau ternyata pengunjung Kafelate suka sama kafenya.” Ezra melempar senyum ke arah Atzu yang membuat gadis itu mendadak jadi tersipu.

“Kakak kerja part-time di sana?” tanya Atzu.

Ezra menjawab dengan anggukan. “Sebenarnya sih, Kafelate itu punya ayah saya, tapi saya mau bantu-bantu aja di sana. Lumayan juga, buat nambah uang jajan.” Lelaki bertubuh tegap itu terkekeh.

Mereka lantas sampai di depan kelas 12 MIPA 6, ruang kelas yang terletak di paling pojok lantai 2. Terdengar suara orang-orang yang cukup ramai dari dalamnya. Kemungkinan besar dari anak-anak divisi kesehatan.

Ezra membuka pintu ruangan lebih dahulu dan memastikan bahwa orang-orang yang berada di dalam sana memang panitia divisi kesehatan.

“Nah, itu Ezra! Sini, gabung, Ez. Bentar lagi kita mulai.” Yurika menyapa dari kursinya.

Ezra mengode Atzu untuk ikut masuk. “Kapan-kapan, kita lanjut lagi obrolan kita, ya, Atzu. Nice to meet you!” Lelaki itu mengulurkan kepalan tangannya yang dibalas oleh Atzu dengan tinjuan, fist bump.

“Nice to meet you too, Kak Ezra!”

Atzu pergi mencari kursi di deretan bangku kosong di belakang sementara Ezra bergabung dengan Yurika di depan kelas.

“Kita mulai aja rapat perdananya sekarang, ya. Selamat siang, semuanya!” []


메타데이터
post_id
202ea90be3e3
slug
06-orang-yang-familiar-itu-nextchapter-202ea90be3e3
url
https://medium.com/@laveanderz/06-orang-yang-familiar-itu-nextchapter-202ea90be3e3
canonical_url
https://medium.com/@laveanderz/06-orang-yang-familiar-itu-nextchapter-202ea90be3e3
author_url
https://medium.com/@laveanderz
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08