Tak Ada Piala Dunia Seharga Antrean Pertamina
Piala Dunia, kiranya, tak lebih penting daripada antrean pom bensin.
Tak Ada Piala Dunia Seharga Antrean Pertamina

Pria berumur 28 tahun itu terbangun sekitar pukul tujuh pagi. Dan sepakbola tidak ada di dalam kepalanya.
Sarungnya masih melingkar di bagian atas tubuhnya dan selimut pada bagian bawahnya. Angin malam khas musim kemarau berhasil membuatnya kedinginan. Ramalan cuaca mengatakan bahwa kemarau tahun ini akan lebih lama dari tahun kemarin. Hal pertama yang ia lakukan setelah terbangun yaitu mencari gawainya. Ia sadar bahwa bangunnya sudah kesiangan dan ia memang terbiasa dengan situasi seperti ini, meskipun selalu menimbulkan kerepotan baginya, ia tidak juga segera beranjak. Dalam dirinya, ia sudah memegang pedoman sebagai pekerja, bahwa hal yang pantang ia langgar ialah datang terlambat ke tempat kerja. Dan selama setahun lebih bekerja di tempatnya sekarang, ia membuktikan tidak pernah terlambat, meskipun ia kerap bangun kesiangan. Dengan waktu yang terus berjalan ia malah mengecek status WA kontak-kontaknya.
Setelah beberapa kali menyapu status sampailah pada status milik bengkel motor langganannya. Ia memberi nama pemilik bengkel itu “Zatno Bengkel”. Zatno ternyata mengeluh atas apa yang terjadi hari itu.
“Listrik naik, bensin naik. Oli naik. Komplit!” tulis Zatno Bengkel.
Ia merasa senasib dengan si Zatno. Saat ini, kondisi serba sulit dan semakin sulit dengan kenaikan harga bensin. Dalam semalam dan tanpa himbauan, Pertamax yang sebelumnya di harga Rp12.300 menjadi Rp16.250. Kenaikan yang benar ugal-ugalan.
Kenaikan itu terjadi pada Rabu dini hari, yang mana pada Selasa malamnya, ia baru saja bertemu dengan temannya di sebuah warung kopi sekitaran Pemda Sleman, membincangkan hal-hal sehari-hari. Dari keluhan ingin resign, membahas ikan bakar, targetan kerja yang tidak terpenuhi, menyumpah-serapahi rezim, dan sebagainya. Jikalau ia tahu harga bensin Pertamax akan naik malam itu, ia akan menyarankan temannya itu agar saat pulang memenuhi isi tangki motornya. Ia penasaran dan ingin tahu apa yang membuat hal ini terjadi. Tetapi ia kepikiran hal lain, sesuatu hal yang langsung terjawab: kehidupan esok akan semakin sulit.
Namun, selain kepastian hidup yang akan sulit, ia sama sekali tidak ingat dengan kepastian lain: bahwa hari itu ternyata hari pertama Piala Dunia.
Kemuraman pikirannya sekarang beralih pada lapar. Dan karena itu, ia beranjak dari kasurnya untuk mencari sarapan. Semalam, ibunya berpesan agar ia mencari sarapan sendiri. Ibunya sedang sakit dan perlu istirahat. Saat perjalanan mencari sarapan, ia melewati dua pom bensin. Pom bensin bertama, tepatnya di stasiun Pertalite motor, ia melihat selembar kardus yang digantung bertuliskan “HABIS!”. Pada pom bensin kedua, ia melihat dua stasiun Pertalite motor yang antreannya mengular sangat panjang tidak seperti pagi-pagi biasanya. Ia membatin, pasti ada pekerja-pekerja yang terlambat dalam antrean itu, yang mungkin saja akan terkena potong gaji atau pun debat dengan atasan gara-gara alasan yang sangat mudah untuk disanggah: mengantre bensin.
Pagi terus berjalan. Dan sepakbola masih tenggelam di bawah alam sadarnya.
Waktu menunjukkan sembilan kurang sepuluh menit, ia sekarang sudah sampai di tempat kerjanya. Tidak sampai tiga menit kemudian, seorang kawan yang juga masuk sif pagi sepertinya tiba, seorang bapak-bapak bertopi yang suka bercerita ini dan itu. Beliau adalah Pak H. Seperti biasa, ia dan Pak H melakukan tos sebelum membuka toko. Saat sedang memutar kunci gembok toko, Pak H sudah membuka topik pembicaraan dengan menggunjing pemerintah.
“Prabowo dan Bahlil memang tidak bisa mengatur negara,” ucapnya kesal. Ia mendengar keluhan itu dan ia sudah dapat menebak apa yang terjadi. Ia menanyakan apakah ini soal bensin. Dan ya, memang itu terkait bahan bakar fosil sialan itu.
“Kamu tahu pom bensin yang terletak di sebelah utara tugu? Antreannya sudah sampai ke jalan! Dan aku juga tadi hendak mengisi di pom bensin yang dekat rumahnya sang juragan, tapi nggak jadi. Antreannya panjang juga dan pasti akan terlambat. Rasanya aku ingin mengisi di stasiun Pertamax tapi aku merasa eman dengan uangku. Akhirnya aku ngide untuk membeli bensin eceran, ternyata masih ada. Aku langsung membeli dua botol.”
Ia mendengarkan sambil mencoblos air minum gelasan yang berada di tangannya.
“Dan saat aku mengisi bensin, ada pengendara Maxride (semacam kendaraan bajaj masa kini) yang ternyata menyusulku. Aku ingat dia sudah antre juga di pom. Dia membeli tiga botol. Aku sempat mengajak ngobrol si pengendara Maxride itu, dan ia pun mengeluh bahwa sekarang makin tidak sebanding upah yag diperoleh dan kebutuhan bensin tarikan hariannya. Aku tidak masalah kalau harus membayar dua ribu lebih mahal daripada harus membeli Pertamax. Dan yang lebih penting lagi, jangan membeli di pom mini warung madura. Banyak ngawurnya, itungannya. Mending beli ecer botolan.”
Ia pun menanggapi bahwa tidak semua warung madura seperti itu, tapi sepertinya tanggapannya tidak didengar. Selang beberapa menit hening, Pak H melanjutkan ceritanya.
“Dulu kalau antrean Pertalite ramai dan sedang diburu waktu, aku berani keluar antrean dan putar balik ke stasiun Pertamax. Sekarang kalau tidak kepepet plus ada kondisi darurat sekali, aku mending cari botolan daripada nekat ngisi Pertamax. Coba kamu hitung, misal kamu beli empat liter Pertamax harga baru dengan botolan Pertalite ecer yang lebih mahal dua ribu, kamu milih yang mana?”
Ia pun menjawab milih Pertalite karena kalau yang Pertamax bisa ditukar dengan seporsi mie ayam seporsi plus minum. Pak H langsung menyambung kembali ceritanya.
“Sempat aku bertanya pada pemilik eceran apakah masih sempat buat menyetok Pertalite. Pemilik itu berkata masih, tapi syarat yang perlu dia lakukan adalah mengantre jam dua dini hari. Katanya lumayan lengang kalau jam segitu mengantre bensin.”
Batinnya ingin sekali menyahut “kalau jam segitu sih pasti banyak pom SPBU lengang!” tetapi ia tidak sampai mengutarakannya. Jam menunjukkan pukul sepuluh, Arma, rekan lain yang sif siang datang. Arma masih sakit, tapi tetap masuk kerja. Setelah memasukkan jaket dan tasnya ke loker, dia pun langsung mengeluh bahwa baru saja ia mengisi bensin fulltank motor Beat-nya dengan selembar lima puluh ribu dan hanya dikasih kembalian dua ribu.
“Sekarang selembar lima puluh ribu seperti tidak ada nilainya,” timpal Pak H.
Ia pun hanya mendengarkan percakapan antara Arma yang baru datang dengan Pak H sambil bermain gawai. Keluhan-keluhan yang sudah tadi diceritakan kembali berulang. Ia mengecek status WA-nya lagi. Zatno Bengkel kembali membuat status dengan foto rak-rak oli kosong di dealer onderdil motor yang ditambahi kepsyen “Harga pada naik tapi barang kosong” dengan akhiran emotikon senyum dengan lingkaran malaikat di kepala. Arma tiba-tiba menyapanya, kemudian menyodorkan gawai iPhone-nya untuk menanyakan sesuatu: “Mas, kamu tahu tidak tabel ini?”
Arma bercerita dia diminta tolong seorang kenalan untuk mencetak fail tabel tersebut. Ia lalu menengoknya. Tak perlu waktu lama, ia merasa familier dengan tabel itu. Tapi sebelum ia menjawab pertanyaan dari Arma, Pak H langsung menyahut dengan nada seperti seorang yang kaget dibuat-buat, “Itu tabel togel mas. Toto gelap.” Arma pun kaget.
Mereka bertiga pun bekerja sampai jam pulang. Ia dan Pak H pulang duluan, sedangkan Arma tetap di toko sampai malam karena masuknya siang. Dan selama itu, tidak ada obrolan terkait Piala Dunia atau sepakbola.
Piala Dunia 2026, dari bangun tidur sampai ia pulang kerja pun tidak hinggap dalam pikirannya. Sedangkan bensin, siasat-siasat bertahan hidup untuk mengakali kesulitan yang terjadi, dan menggunjing pemerintah selalu menjadi bahan obrolan yang dipikirkan tiada habisnya. Perihal tentang jadwal tim Piala Dunia mana yang musti ditonton, ia pun belum menentukan pilihan. Ia, saat itu, lebih memikirkan kira-kira harus semalam apa untuk dia mengisi bensin motornya agar sekiranya tidak mengantre lama.
Begitu berhasilnya sepakbola untuk menarik seseorang keluar dari kehidupan nyatanya yang papa, menuju kepada kebahagiaan fana, bahkan sampai memberi nyala harapan. Tapi kesulitan-kesulitan hidup yang material tidak mustahil untuk membuat seseorang pecinta bola meninggalkan atau ditinggalkan cintanya, untuk sementara ataupun selamanya.
Sebelum pulang, ia mendapat info dari grup WA RT-nya bahwa akan ada pemadaman listrik. Ini kali kedua selama dua hari tempatnya mengalami pemadaman listrik. Desas-desus PLN kewalahan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Jawa sehingga perlu melaksanakan pemadaman bergilir. Dia berpikir semakin runyam saja situasi sekarang di negaranya.
Sesampainya di rumah, yang nampak hanya gelap gulita. Semburat sisa-sisa senja masih menimpa tembok rumahnya, tapi sama sekali tidak membantu menerangi. Di ruang keluarga, ibunya sudah menyalakan lilin. Saat berada di dalam kamarnya, ia pun mengide untuk menerangi ruangan pribadinya menggunakan senter kecil plus sebotol air mineral. Dengan begitu, cahaya yang menyebar setelah menembus botol membuat kamarnya sedikit tersinari.
Setelah bebersih, dia kembali bermain gawai. Ia mengecek grup pecinta sepakbolanya. Sedikit ramai rupanya. Kawannya, seorang wartawan ibu kota, mengawali obrolan.
“Malam ini udah mulai pildun, tapi lingkunganku kayak nggak ada apa-apa.”
Ia kaget. Ia yang mendaku dirinya sebagai penyenang sepakbola merasa bersalah. Mengapa ia tidak tahu akan informasi ini sedari tadi. Pikirnya, Piala Dunia masih seminggu lagi, ternyata bukan. Ia pun mencoba melempar pertanyaan.
“Apakah masih dapat merayakan sepakbola dalam kondisi awur-awuran seperti ini?”
“Entahlah, apalagi yang bisa dinikmati?” balas kawan wartawan itu.
Malam semakin larut. Obrolan di grup itu sudah berjam-jam lalu berhenti. Pikirannya bimbang apakah akan begadang menonton seremoni pembukaan dan laga pertama Piala Dunia.
Jujur, begadang adalah hal yang kemungkinan gagalnya besar baginya. Ia akan berhasil begadang kalau ia sendiri menginginkannya atau karena tuntutan. Menonton sepakbola adalah salah satu kebahagiaan baginya. Dia menginginkannya. Tapi Piala Dunia tidak menuntutnya untuk menonton. Yang pasti menuntutnya adalah sang juragan tempatnya bekerja yang berharap agar ia masuk kerja tepat waktu.
Ia bahkan belum tahu kapan Jerman, timnas kesayangannya, akan bermain dan siapa saja lawannya di fase grup. Apakah Neuer, yang sudah jadi andalan sejak empat edisi Piala Dunia terakhir itu, akan tetap dimainkan sebagai kiper utama timnas ataukah saatnya bagi Oliver Baumann bersinar? Adakah nama penyerang baru yang dapat menyaingi kerinduannya akan kehebatan seorang Miroslav Klose? Apakah Musiala akan tampil sebagus saat Euro terakhir?
Semua pertanyaan itu tak lagi hinggap dalam kepalanya, tidak seperti hiruk-pikuk jelang turnamen-turnamen mayor tahun-tahun sebelumnya. Piala Dunia, kiranya, tak lebih penting ketimbang antrean pom bensin.
Dan ia pun memutuskan tidur, sambil membawa beban.
Penulis: Airlangga Wibisono
메타데이터
- post_id
- 203d4efb6b28
- slug
- tak-ada-piala-dunia-seharga-antrean-pertamina-203d4efb6b28
- url
- https://medium.com/@sepakanpena/tak-ada-piala-dunia-seharga-antrean-pertamina-203d4efb6b28
- canonical_url
- https://medium.com/@sepakanpena/tak-ada-piala-dunia-seharga-antrean-pertamina-203d4efb6b28
- author_url
- https://medium.com/@sepakanpena
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 22:18:54