← Back to list

Disini, Langit Tak Pernah Berhenti

Dari semua yang terangkai sedemikian rupa, hari ini ia seakan menemui titik temunya.

Salsabila · 2024-12-18 10:01 · 0 claps · 2.1 min read
#bahasa-indonesia #cerpen #emosional #bukit #langit
Open on Medium ↗

Disini, Langit Tak Pernah Berhenti

Dari semua yang terangkai sedemikian rupa, hari ini ia seakan menemui titik temunya.

“Mbak Sahara, saya mau pulang. Mbak gapapa disini sendiri?”

Perkataan pak Surya — pemilik warung kopi, membuyarkan lamunan panjangku. Aku membuka tas, mencari keberadaan ponselku. Ponsel dengan wallpaper yang masih sama, masih tentang kita. Disana, tertera pukul satu lewat sepuluh menit. Ternyata sudah hampir dua jam aku membiarkan pikiranku kosong, hampa begitu saja.

Bulan malam ini sepi, memantulkan cahaya lembut di permukaan tanah yang berdebu. Dari atas sini, aku melihat kota dengan ribuan lampu yang berkedip. Seperti mata tertidur, yang tidak pernah benar-benar terjaga. Aku merasakan hembusan angin yang semakin menderu, dengan keras menyentuh kulitku.

Dulu, kamu yang mengenalkanku pada tempat ini. Kamu bilang, hanya di sini kita bisa benar-benar merasa bebas, seolah dunia yang dibawah sana tidak ada artinya. Tapi malam ini, aku hanya duduk sendiri dengan angin yang berbisik di telinga dan pemandangan yang sama. Tidak ada obrolan ringan atau tawa akibat celetukanmu yang sebenarnya tidak lucu itu. Kamu pergi begitu saja tanpa memberi peringatan, meninggalkan aku disini dengan ribuan pertanyaan.

“Aku cuma butuh ruang dan entah kapan harus kembali.” Aku kembali mengingat kata-kata yang kamu lontarkan tepat satu tahun lalu. Kata-kata itu, yang dulu terasa berat, kini seolah ikut hilang. Terasa seperti angin lewat — mendengung tanpa berarti apapun.

Aku berdiri dan melangkah ke tepi bukit, melihat lebih dekat ke kota yang masih menyala. Di sana, diantara lampu-lampu itu, aku mencoba mencari sosokmu. Entah bagaimana, berharap kamu masih ada di sana — di dunia yang terus berjalan meski kamu telah menghilang.

“Sahara, kamu di sini?” suara itu memecah keheningan malamku.

Aku menoleh, melihat kamu hadir. Berdiri disana, dengan siluetmu yang familiar di bawah cahaya rembulan. Kamu mengenakan jaket yang sama, dengan tatapan yang sama. Namun, aku melihat kamu sedikit berbeda dengan kacamata barumu — meski demikian, kamu masih terlihat menawan, seperti kali pertama aku mengenalmu di trotoar depan kampus tiga tahun lalu.

Mulutku terdiam, seolah kata-kata itu hanyalah debu yang berterbangan di angkasa. Tak lagi memiliki arti, tak lagi bisa ku rangkai untuk menjelaskan apa yang kini tengah kurasakan. Semua perasaan yang dulu ingin aku ungkapkan terasa seperti terkunci, terjebak dalam diam yang kita buat sendiri.

“Kamu kemana aja, Kak?” tanyaku dengan suara terputus-putus, seolah tiap kata yang ingin ku keluarkan tersangkut di tenggorokan, bergelora dengan emosi yang ingin ku tumpahkan.

Belum sempat jawabmu menyentuh telingaku, langkahku sudah berlari, meraih tubuhmu dalam pelukan yang seolah menjawab segala keraguan. Membuktikan bahwa hadirmu di sini bukan hanya ilusi, bukan hanya sekadar bayangan dalam mimpi.

Dalam pelukanmu yang hangat, aku membenamkan diri, menghirup dalam-dalam aroma khas tubuhmu. Seperti wangi yang mengalir ke dalam jiwa, membawa kedamaian yang tak pernah kutemui sebelumnya.

Kurasakan pelukmu semakin mengerat, menyatu dengan setiap hela nafasku yang bergetar. Saat itu juga, aku mendengar isakan lembut yang keluar dari mulutmu, seolah tangismu adalah puisi yang tak mampu lagi kamu sembunyikan. Dalam pelukan itu, aku merasakan setiap perasaan yang kita pendam, saling beradu dengan keheningan malam.

“Maaf, Ra.”


메타데이터
post_id
204bcbf63b6f
slug
disini-langit-tak-pernah-berhenti-204bcbf63b6f
url
https://medium.com/@slsbilaff8121/disini-langit-tak-pernah-berhenti-204bcbf63b6f
canonical_url
https://medium.com/@slsbilaff8121/disini-langit-tak-pernah-berhenti-204bcbf63b6f
author_url
https://medium.com/@slsbilaff8121
status
ok
fetched_at
2026-06-26 21:52:29