Parashat Bo: Memahami Makna Kegelapan, Kesendirian, dan Dua Peran Sang Mesias
Di khotbahkan oleh Gmb. Benyamin Obadyah, MURP Gereja Kehilat Mesianik Indonesia (GKMI)
Parashat Bo: Memahami Makna Kegelapan, Kesendirian, dan Dua Peran Sang Mesias
*Di khotbahkan oleh Gmb. Benyamin Obadyah, MURP Gereja Kehilat Mesianik Indonesia (GKMI)*
Bacaan Torah: Keluaran 10:1–13:16 Haftarah: Yeremia 46:13–28 Brit Chadashah: Yohanes 19:31–37
Pembacaan Torah minggu ini membawa kita sampai pada Parashat Bo, yang secara khusus membahas tulah ke-9 yang menimpa bangsa Mesir, yaitu tulah kegelapan (Keluaran 10:21–23). Frasa Ibrani untuk “gelap” adalah חֹשֶׁךְ (Khoshekh).
Mengapa Adonai Elohim memberikan tulah yang sedemikian dahsyat atas bangsa Mesir? Dalam Parashat ini, kita diingatkan bahwa keputusan seorang pemimpin yang keras kepala tidak hanya membawa konsekuensi bagi dirinya sendiri, tetapi juga menyebabkan penderitaan bagi seluruh rakyatnya. Sepuluh tulah yang menimpa Mesir terjadi karena kekerasan hati Firaun.
Prinsip yang sama masih relevan pada masa kini. Sebagaimana terlihat dalam konflik modern, seperti serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di festival musik Supernova di Israel, yang pada akhirnya berdampak besar pada penderitaan dua juta warga Gaza. Namun, perlu ditekankan bahwa pemimpin dipilih oleh rakyatnya. Sehingga, pemimpin yang terpilih adalah cerminan sekaligus tanggung jawab dari rakyat yang memilihnya.
Lebih dari sekadar kisah historis, Torah tidak hanya berbicara tentang hukuman. Melalui tulah kesembilan (Khoshekh), kita juga dapat memahami makna rohani yang jauh lebih dalam tentang kesepian, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, dan menemukan terang sejati.
Kegelapan Sebagai Kutuk Kesepian (Perspektif Gehenna)
Kegelapan yang melanda Mesir bukan sekadar malam tanpa matahari, melainkan kegelapan supranatural yang membuat orang tidak dapat saling melihat dan tidak dapat bergerak selama tiga hari (Keluaran 10:23).
Dari mana sumber kegelapan ini? Para rabi Israel menilai bahwa kegelapan yang menyelimuti Mesir selama tiga hari bersumber dari Gehenna (neraka/tempat penghukuman). Pandangan ini sejalan dengan Mazmur 105:28 yang menggunakan kata yang sama, yaitu Khoshekh (gelap), serta Ayub 10:22 yang menggambarkan Gehenna sebagai tempat yang gelap, kelam, dan kacau balau.
Rabi Nehemia juga memberikan komentar yang mendukung hal ini. Ia menyatakan bahwa kegelapan yang turun atas Mesir berasal dari Gei Hinnom (dunia bawah), tempat yang kacau secara rohani, tempat hukuman, dan tempat terisolasi yang melahirkan keputusasaan. Kegelapan supranatural ini menyebabkan terputusnya komunikasi antarmanusia. Orang-orang Mesir menjadi terisolasi dan mengalami keadaan yang sangat tidak nyaman. Kegelapan tersebut membuat orang menjadi kesepian, dan kesepian tanpa Tuhan adalah suatu kutuk.
Kegelapan Sebagai Berkat Kesendirian (Perspektif Shamayim)
Di sisi lain, kegelapan juga dapat menjadi berkat. Dalam kegelapan, seseorang sering mengalami kesendirian. Sebagai anak Tuhan, ketika kita berada dalam kesendirian, momen tersebut justru dapat menjadi kesempatan yang indah untuk membangun komunikasi pribadi dengan Tuhan.
Komentar Rabi Yehuda dalam Midrash Rabbah Bo 14:2 menyatakan bahwa sumber kegelapan juga dapat berasal dari שָׁמַיִם (Shamayim/Surga). Sebagaimana tertulis dalam Mazmur 18:12, “Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya.”
Ketika kita terpisah dari kegaduhan dunia sekitar dan memilih untuk datang kepada Tuhan dalam doa, kita sedang membangun hubungan pribadi yang intim dengan-Nya. Hubungan ini menjadi sebuah privasi rohani yang luar biasa dan penuh makna. Yeshua mengajarkan prinsip ini dalam Matius 6:6: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”
Saat berada dalam kegelapan — kesendirian dan rasa terisolasi — kita justru dapat memandang keadaan tersebut dari perspektif Ilahi. Dalam keheningan, kita diberi ruang untuk melihat kembali hidup kita: siapa diri kita, bagaimana arah perjalanan kita, serta keputusan-keputusan yang telah dan akan kita ambil.
Hal ini sering kali sulit dilakukan dalam keseharian yang selalu ramai oleh berbagai masukan baru, informasi yang terus mengalir, dan tuntutan kesibukan. Jika kita terus-menerus terkoneksi dengan dunia luar, kita kehilangan ruang untuk mengenal diri kita secara utuh. Maka, kesendirian dalam hal ini justru menjadi sesuatu yang bermakna. Kesepian menyadarkan kita bahwa kita perlu memiliki hubungan vertikal yang jelas dengan Tuhan.
Rabi Abarbanel menekankan bahwa Moshe menerima Torah melalui kesendirian bersama Tuhan (komentar atas Mishnah Avot 1:1). Selama 40 hari 40 malam di Sinai, Moshe mengisolasi diri dari manusia untuk bersekutu dengan Tuhan. Dari “kegelapan” dan misteri Ilahi itulah lahir Torah yang menjadi berkat besar bagi umat manusia (Keluaran 20:21; Ulangan 5:22). Di Gunung Sinai, seluruh keberadaan Moshe hanya terarah kepada Adonai, belajar menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada Elohim.

Berjalan Dalam Terang Mesias
Aspek lain dalam Parashat ini adalah terang yang ada pada bangsa Israel. Ketika Mesir diliputi oleh kegelapan, bangsa Israel justru mengalami perlindungan Ilahi dengan berjalan dalam terang (Keluaran 10:23). Hal ini bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena Adonai adalah terang dan keselamatan mereka. Terang itu menjadi tanda kehadiran Tuhan yang membedakan umat-Nya dari dunia yang berada dalam kegelapan.
Nabi Yesaya menubuatkan hal ini: “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu…” (Yesaya 60:2–3).
Siapakah Terang Tuhan yang dimaksud dalam nubuat tersebut? Jawabannya dinyatakan oleh Yeshua dalam Yohanes 8:12: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Dengan demikian, nubuat Yesaya 60 menemukan penggenapannya di dalam diri Yeshua.
Pengalaman bangsa Israel mencerminkan perjalanan iman setiap orang percaya. Ada saatnya jalan belum terbuka dan keadaan tampak kelam. Dalam kondisi tersebut, bukan berarti Adonai meninggalkan kita. Justru kegelapan menjadi ruang untuk kita belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bukan pada kekuatan sendiri.
Jasa Mesias (Merit of Messiah): Menyatukan Peran Raja dan Imam
Dalam Parashat ini, kita juga belajar tentang Jasa Mesias (Merit of Messiah). Keluaran 12:1 mencatat: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir…”
Dari ayat tersebut, kita memahami bahwa Kitab Suci mencatat adanya dua fungsi kepemimpinan. Ada saatnya Adonai berbicara hanya kepada Moshe, ada saatnya hanya kepada Aharon, dan ada saatnya kepada keduanya. Mengapa demikian? Bukankah sejak awal Adonai hanya memanggil Moshe untuk membebaskan bangsa Israel?
Pernyataan bahwa Adonai berbicara kepada Moshe dan Aharon mengandung makna teologis yang penting. Hal ini menunjukkan bahwa kehendak Ilahi tidak hanya dinyatakan melalui satu fungsi.
- Moshe menjalankan fungsi kepemimpinan sipil/pemerintahan, yaitu sebagai seorang Raja. Ia menerima otoritas langsung untuk memerintah dan menuntun umat keluar dari Mesir.
- Aharon, sebagai Imam Besar (Kohen Gadol), merepresentasikan dimensi liturgis. Ia berfungsi sebagai pemimpin ibadah, penjaga kekudusan Kemah Suci, dan pelaksana korban persembahan.
Pola ini ada karena Adonai Elohim menjadikan bangsa Israel sebagai “Kerajaan Imam” di bumi (Keluaran 19:6). Hal ini juga selaras dengan penglihatan Zakharia tentang “kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan” (Zakharia 4:14), serta penegasan dalam Wahyu 1:6 bahwa kita telah dibuat menjadi “suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Elohim”.
Kedua fungsi tersebut (Raja dan Imam) pada akhirnya menyingkapkan pemahaman tentang dua figur/peran Mesias dalam Kitab Suci: Mesias yang menderita (Mashiach Ben Yosef) dan Mesias yang memerintah sebagai Raja (Mashiach Ben David).
Kedua peran tersebut secara sempurna ada pada Mesias Yeshua: Ia telah datang sebagai Mesias yang menderita (sebagai Imam yang mengorbankan diri-Nya), dan Ia akan datang kembali sebagai Raja dari keturunan Daud.
Talmud Sukkah 52 menjelaskan dua peran Mesias ini secara alegoris. Disebutkan bahwa Mashiach Ben Yosef akan mati terbunuh demi membela bangsa Israel (pada perang Gog dan Magog). Kemudian, ketika Mashiach Ben David datang dan melihat hal itu, Ia memohon kehidupan kepada Yang Kudus, dan Tuhan menjawab bahwa kehidupan kekal telah diberikan kepada-Nya sesuai nubuat David dalam Mazmur 21:5.
Dari gambaran tradisi kerabian (Talmud) dan Brit Chadashah (Injil) ini, kita dapat melihat titik temu dan perbedaannya:
Dalam Talmud, Mashiach Ben Yosef dipahami akan mati pada perang akhir zaman yang belum terjadi, sehingga para rabi melihat bahwa Mesias belum datang. Namun dalam Injil, Mashiach Ben Yosef (Yeshua) sudah mati(disalibkan untuk menebus dosa), dan Ia akan datang untuk kedua kalinya sebagai Mashiach Ben David.
Meski demikian, ada benang merah yang sama. Baik tradisi Yahudi maupun Injil sepakat bahwa: Mashiach Ben Yosef harus datang lebih dahulu, barulah Mashiach Ben David. Mesias Ben Yosef mati untuk menyelamatkan bangsa Israel. Bedanya, Injil menyingkapkan bahwa keselamatan itu tidak hanya bagi Israel, tetapi juga meluas kepada bangsa-bangsa!
Karena karya keselamatan secara global belum sepenuhnya selesai dan Kerajaan Damai belum ditegakkan di bumi, maka Yeshua harus datang kembali sebagai Mashiach Ben David untuk memenuhi seluruh fungsi kemesiasan-Nya.
Tanakh (Perjanjian Lama) telah bernubuat bahwa ada Mesias yang menderita dan Mesias yang memerintah. Semua itu dijelaskan secara utuh dan digenapi di dalam Injil (Brit Chadashah).
Haleluya! Amin.
Artikel ini disadur oleh Elizabeth Sinaga berdasarkan khotbah Parashat Bo yang disampaikan oleh Gmb. Benyamin Obadyah.
메타데이터
- post_id
- 208f54eb047f
- slug
- parashat-bo-memahami-makna-kegelapan-kesendirian-dan-dua-peran-sang-mesias-208f54eb047f
- url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia/parashat-bo-memahami-makna-kegelapan-kesendirian-dan-dua-peran-sang-mesias-208f54eb047f
- canonical_url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia/parashat-bo-memahami-makna-kegelapan-kesendirian-dan-dua-peran-sang-mesias-208f54eb047f
- author_url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 12:20:31