← Back to list

Kesiapannya telah tiba

Pulanglah Ayah... Kembali lah pada Allah dengan hati yang ridha dan diridhai oleh-Nya.

haya ⨾༊󠀺 · 2026-08-16 06:54 · 24 claps · 4.3 min read
#family #grief #writing #fatherhood
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting 🧠 · Mental Wellness

Kesiapannya telah tiba

Pulanglah Ayah... Kembali lah pada Allah dengan hati yang ridha dan diridhai oleh-Nya.

pict by pinterest

pict by pinterest

Darimana aku harus memulainya? Aku tidak tau harus menuliskan apa disini. Pikiran ku lebih sering kosong daripada terisi oleh hal hal yang berarti. Namun, aku rasa aku harus tetap datang kesini dan menuliskan sesuatu. Agar hati ku lebih ringan, agar kepala ku tidak lagi penuh oleh hal hal yang berisik.

Dua minggu sudah berlalu sejak kepergian Ayah. Di hari kepergiannya, ibu ku menangis meraung-raung. Suaranya, terdengar sangat menyakitkan. Aku belum pernah melihat dan mendengar ibu ku menangis dengan cara yang seperti itu. Aku ingat, kami cuma bertiga hari itu. Kami tidur bertiga di ruang tengah. Dengan kasur yang digelar di lantai. Ayah tidur paling ujung. Ibu ku ada diantara kami.

Entah sudah ada firasat atau bagaimana, ayah ku yang tadinya terbiasa tidur di depan televisi tiba tiba meminta tidur di sebelah ibu ku. Dan itu lah yang aku syukuri. Kami sempat tidur bertiga malam itu.

Aku tidak tau. Aku benar benar tidak tau. Aku tidak tau kalau hari itu adalah hari terakhir ayah. Aku fikir perjalanan kami masih panjang. Obat minumnya masih banyak. Baru diminum beberapa kali. Jadwal kontrol pasca operasi pun belum terlaksana. Tapi ayah sudah lebih dulu pulang.

Saat itu dini hari. Aku ingat, aku berlari di jalanan yang sepi. Mengetuk satu persatu pintu rumah milik tetangga kami. Aku ingat dengan jelas apa yang aku katakan,

"Tolong... Tolong Ayah ku..."

Tidak berhenti di satu pintu. Aku terus berlari. Mengetuk pintu milik orang lain. Sebenarnya, saat dimana aku keluar dari rumah dan berlari meminta pertolongan, aku tau kalau Ayah ku sudah pergi. Nadinya sudah tidak teraba, perutnya tidak lagi bergerak naik turun. Aku tau kalau aku sudah kehilangannya. Tapi aku tetap meminta pertolongan, aku tetap berlari dengan kaki telanjang ku. Di setiap langkah itu, aku memegang sedikit harapan bahwa mereka yang aku ketuk pintunya bisa menolong hidup ayah ku.

Dini hari itu, tidak ada kata pamit. Ayah ku pergi dengan begitu mudahnya. Aku tidak sempat membisikkan apapun. Yang aku lakukan hanyalah terus menerus mencium keningnya. Matanya perlahan memejam dan di ujung mata sebelah kanan, aku dapati satu bulir air mata.

Aku pernah dengar, jika air mata jatuh terlebih dahulu di mata sebelah kanan, maka itu diartikan sebagai kebahagiaan.

Kalau begitu, bolehkah aku menganggap kalau ayah ku juga sedang bahagia di akhir hidupnya?

Waktu berhenti sejenak saat itu. Ibuku ditenangkan oleh beberapa orang. Aku, cuma diam. Menatap tubuh ayah ku yang sudah tidak bernyawa. Aku tidak sempat menangis hingga meraung raung. Tidak sempat sampai saat ini. Aku tidak tau. Ada rasa tenang yang aku temukan saat itu. Ada rasa damai yang diam diam merayap dan memeluk hati ku.

Kepergian ayah begitu damai. Begitu mudah. Begitu indah. Begitu cepat. Tubuhnya bersih dan berisi. Tidak lagi kurus seperti terakhir kali. Dan tentu saja, tampan. Sangat tampan.

Ayah ku selalu tampan btw :v

Mungkin karena itu, aku tenang. Dan perlahan lahan, aku akan belajar untuk ikhlas. Sebelum pergi pun, segalanya sudah siap. Rumah sudah bersih, rumput di halaman yang tumbuh tinggi sudah dibabat habis. Tubuhnya pun sudah diseka untuk terakhir kali. Ini jelas bukan kebetulan. Lalu apa lagi yang harus aku permasalahkan?

Dan hari itu, aku fikir aku akan baik baik saja. Namun, selepas ayah disemayamkan, semua orang sibuk di ruang tamu untuk menemui para pelayat. Dan aku, lagi lagi cuma diam di dalam rumah. Aku duduk sendirian di ruang jahit milik Ayah. Begitu sunyi. Mesin jahit itu sudah tidak ada tuannya. Baju baju yang digantung sudah diambil oleh pemiliknya. Deretan beras, gula, dan mie dari pelayat ditata dengan rapih di depan ku.

Kami punya banyak hal hari ini, namun Ayah... Aku tidak berhasil menemukannya dimana pun.

Hatiku tiba tiba terasa sesak. Aku berdiri dengan sisa tenaga yang aku miliki. Berjalan menuju gantungan baju milik ayah. Ada satu baju yang tersisa. Baju batik lengan panjang berwarna ungu yang selalu digunakan ketika aku wisuda. Dengan tangan ku yang bergetar, aku ambil baju itu. Aku cium, aku hirup aromanya. Awalnya, aku tersenyum.

"Ini aromanya Ayah." Ucap ku.

Aku hirup lagi. Masih tersenyum Hirup lagi. Bibir ku mulai bergetar Hirup lagi. Masih mencoba untuk tegar.

Hirup lagi.

Dan akhirnya, Aku luruh. Aku runtuh. Aku peluk baju itu, aku cium terus menerus sembari terisak. Aku hirup aromanya kuat kuat. Aku ingat ingat. Karena aku takut. Aku takut lupa aromanya ayah. Karena ini bukan perihal pergi sehari dua hari, seminggu dua minggu. Ayah pergi untuk waktu yang lama. Sangat lama.

Maka hari itu, aku biarkan diriku terisak sendirian. Di depan gantungan baju milik ayah. Memeluk dan mengais sisa aroma milik ayah yang tertinggal di bajunya.

Kini, gantungan baju itu terlihat kosong. Tidak ada satu pun baju yang tergantung. Hanya ada sebuah tasbih. Kopyah milik ayah pun tergantung rapi. Lemari bajunya, tidak ada yang menyentuh. Kami biarkan isinya sebagaimana mestinya.

Sejak ayah pergi, aku jadi tau satu hal. Bahwa perasaan duka memang seaneh ini. Aku bahkan tidak tau bahwa perasaan semacam ini ada.

Untuk sepanjang hari, aku merasa bahwa aku baik baik saja. Aku merasa hati ku sudah seringan kapas, aku merasa aku sudah mampu hidup bersisihan dengan duka ini.

Namun di akhir hari, lukanya tiba tiba datang lagi. Menguar dengan tidak tahu diri. Memenuhi dada ku dengan rasa sesak dan berakhir meninggalkan sepi.

Maksud ku, untuk sepanjang hari aku baik baik saja. Bagaimana mungkin perasaan itu tiba tiba datang dan menghancurkan ku layaknya luka baru yang muncul di hari kepergian ayah?

Maybe that's why.. People called grief is so weird. You have'nt cry about it in a whole day and then one random time the pain feels as fresh as the day it happened.

Ayah, it's still hurt and hard. But i promise i'll survive this with a cool way. Jadi,

Pulanglah ayah... Kembali lah pada Allah dengan hati yang ridha dan diridhai oleh-Nya.

Kami akan hidup dengan baik dan rukun. Kami akan jaga Ibu. Aku akan hidup mandiri. Jadi ayah tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Ayah boleh pergi. Ayah boleh pulang. Segalanya sudah cukup. Kewajibannya sudah terlaksana. Tanggung jawabnya sudah usai. Dan kesiapannya pun sudah tiba.

Ayah never left us. He still live... In our heart... In our dua... In every good things that we do.. In every phrase of Qur'an that we read... And he will always lived through my writes.

i love you always... all... ways...

written with so much much much love for my great first love,

your youngest daughter, Ndayur.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي


메타데이터
post_id
20a3d7df4af8
slug
kesiapannya-telah-tiba-20a3d7df4af8
url
https://medium.com/@ndanazee_93260/kesiapannya-telah-tiba-20a3d7df4af8
canonical_url
https://medium.com/@ndanazee_93260/kesiapannya-telah-tiba-20a3d7df4af8
author_url
https://medium.com/@ndanazee_93260
status
ok
fetched_at
2026-08-17 01:03:51