From the Small Part of Surabaya: Reading the City as Palimpsest
Akhirnya setelah cukup lama menyimpan keinginan belaka, saya mengunjungi Kota Surabaya yang disebut juga kota metropolitan setelah Jakarta…
From the Small Part of Surabaya: Reading the City as Palimpsest
Akhirnya setelah cukup lama menyimpan keinginan belaka, saya mengunjungi Kota Surabaya yang disebut juga kota metropolitan setelah Jakarta. Setelah merasa cukup mengenal Jakarta (maaf kalau agak sok kenal juga), memang kemudian saya menjadi cukup penasaran dengan Surabaya. Sekedar menyimpan ingin untuk belajar juga dari kota yang mungkin memiliki kesamaan dengan Jakarta, meskipun setiap kota pasti punya karakteristiknya masing-masing.

Visit my personal page on instagram @too.fail
Saya berkesempatan untuk mengunjungi Surabaya dalam rangka Workshop Re-Use:Re-Value yang diadakan oleh IAI Jatim bekerja sama dengan Universitas Kristen Petra. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi yang bertujuan untuk mendiskusikan rencana revitalisasi obyek heritage Stasiun Semut Surabaya. Saya diundang bergabung sebagai mentor untuk peserta workshop yang terdiri dari mahasiswa S2, Profesi, dan S1 dari beberapa daerah lain juga.
Dalam waktu yang cukup singkat, saya berusaha untuk skimming dengan kapasitas dan kesempatan yang saya miliki karena tidak banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk betul-betul berkeliling Surabaya. Namun, berdasarkan diskusi dalam beberapa forum dengan berbagai topik, sedikit jalan-jalan inisiatif, jogging pagi di sekitar penginapan, dan workshop lapangan di sekitar Stasiun Semut — Surabaya Kota — Pasar Atom saya berhasil membangun sedikit impresi terhadap Surabaya.
Dalam studi urban morfologi, kota merupakan sebuah entitas yang terbentuk dari lapisan-lapisan yang saling menumpuk. Lapisan ini merujuk pada sejarah, perubahan fisik, sosial, dan berbagai elemen lain yang seiring berjalannya waktu tidak akan pernah hilang meskipun secara fisik tidak terlihat — disebut juga dengan palimpsest. Mungkin hampir sama seperti ketika menilai manusia, ketika kita melihat beberapa tanda-tanda kecil seperti logat, tindak-tanduk atau unggah-ungguh, atau bahkan fitur kecil dalam penampilan terkadang kita menangkap identitas yang tidak nampak secara fisik tapi merupakan bagian dari orang tersebut. Sama juga halnya dengan kota, ia adalah sebuah arsip yang hidup.


Documentation of Workshoop Reuse:Revalue with UK Petra, IAI Jatim, and PT KAI
Karena terbiasa melihat gambar secara makro, tentu saja saya memperhatikan dulu secara dua dimensi seperti apa kota Surabaya ini. Meskipun bisa saja saya tinggal mencari melalui search bar “sejarah kota surabaya” atau “surabaya kota metropolitan” tapi karena saya cukup tradisional dan malas bertanya maka jadilah saya sok tahu terlebih dulu baru mencari klarifikasi. Satu hal yang saya tangkap pertama adalah ternyata secara morfologinya Surabaya dan Jakarta benar-benar mirip. Ya mungkin karena sama-sama berada di pinggir utara Jawa dan menjadi salah satu gerbang menuju Jawa pada masa kerajaan hingga pelayaran Hindia Belanda, sehingga bentuk kotanya sama-sama dipengaruhi oleh sejarah aktivitas perdagangan dan pelabuhan.
Kesamaan yang paling terlihat adalah bagaimana perilaku dan pola aktivitas kota pelabuhan di Jakarta dan Surabaya memberikan identitas awal yang cukup kuat dalam penataan kota yang berorientasi pada air (laut, sungai, dll.) yang kemudian mengalami ekspansi modern. Dari orientasi terhadap aktivitas di pelabuhan, bahkan letak pusat kota lama antara Jakarta (Sunda Kelapa) dengan Surabaya (Kali Mas) juga identik. Hal ini tentu dipengaruhi oleh tata kota masa kolonialisme sehingga morfologi kota lama Jakarta dan Surabaya cukup serupa. Misalnya bagaimana pecinan selalu berdampingan dengan pusat kota lama karena politik agregasi serta transisi jaringan ekonomi perdagangan.
Terlepas dari kesamaan latar belakang pada bagaimana awalnya kedua kota terbentuk, sebetulnya banyak juga perbedaan yang cukup terbaca di masa kini yang bisa saya identifikasi. Meskipun keduanya sama-sama kota Metropolitan yang artinya keduanya memiliki sistem aglomerasi kota satelit, pola suplai keduanya berbeda. Yang awalnya saya kira hanya berbeda secara skala, ternyata perbedaan juga terdapat hingga ke struktural. Pola suplai yang saya maksud adalah bagaimana kota inti dalam hal ini Jakarta dan Surabaya didukung oleh wilayah disekitarnya — baik dalam bentuk hunian, sumber daya, maupun ekspansi ruang.
Meskipun awalnya Bodetabek memang memiliki peran masing-masing dalam menyuplai Jakarta, saat ini pola urbanisasinya cenderung polisentris dimana semakin banyak pusat-pusat baru di kota-kota satelit sehingga Jakarta bukan lagi menjadi pusat utama. Sehingga orientasi saat ini adalah bagaimana menciptakan jaringan antara Jakarta dengan Bodetabek. Pola polisentris ini yang membuat perkembangan kota di Jakarta terkesan fragmented dan kompetitif satu sama lain, menyebabkan beberapa area yang tidak tersentuh semakin menurun kualitasnya (urban decay).
Sedangkan Surabaya sepertinya masih cukup monosentris, yang mana Surabaya masih memiliki posisi dominan dalam jaringan perkotaannya. Terlihat bahwa aktivitas ekonomi makro masih berpusat di Surabaya dan wilayah disekitarnya seperti Gresik, Sidoarjo, Malang, dll. masih menjadi perpanjangan kota utama dengan memenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditampung. Misalnya yaitu industri besar yang terpusat di Gresik, kemudian hunian residensial berkembang menuju ke Sidoarjo, dan kemudian urbanisasi masih berusaha untuk terpusat pada Surabaya sebagai core city.
Kembali ke topik bahwa sebuah kota adalah entitas yang hidup dan memiliki keterbacaan, inilah mengapa saya selalu gemar menegaskan bahwa dalam merancang terutama kawasan perkotaan, konteks adalah hal yang sangat kuat yang harus mempengaruhi pertimbangan desain. Hal ini tentu karena morfologi kota bukan sebuah hasil tunggal tetapi proses dari dinamika perkotaan yang terus menerus berkembang. Seluruh elemen kota mempengaruhi bagaimana morfologi kota berubah dan berkembang, sehingga dalam merancang apalagi dalam konteks heritage, kita tidak bisa hanya berbicara secara mikro saja.


Pieces of Surabaya: (1) Gang in Kampung, (2) Stasiun Semut Facade
Dalam mendampingi mahasiswa merancang gagasan untuk revitalisasi Stasiun Semut dan kawasan sekitarnya, saya jadi belajar juga bahwa kepekaan terhadap konteks itu perlu dilatih dan dipahami dalam berbagai skala; mikro, meso, dan makro. Dan karena tema workshop yang diangkat merupakan Adaptive Reuse, gagasan desain yang diusulkan juga harus merepresentasikan posisi dan peran revitalisasi Stasiun Semut terhadap kawasan di sekitarnya. Tantangan ini mendorong mahasiswa untuk mengusulkan visi kawasan yang tidak hanya menyelesaikan permasalahan pelestarian tetapi juga mengkoneksikan gagasan terhadap isu kontekstual di sekitarnya.
Konteks berperan penting dalam dinamika perancangan, terutama dalam Adaptive Reuse karena dalam beberapa kasus yang terjadi beberapa gagasan yang ditawarkan dalam revitalisasi tidak bertahan cukup lama atau tidak berkelanjutan. Pendekatan pelestarian yang mengabaikan logika urbanisasi biasanya akan menghasilkan intervensi yang terputus dari jaringan kota, sehingga kehilangan relevansi yang kemudian berdampak pada nilai keberlanjutannya. Oleh karena itu, pentingnya bagi perancang untuk bisa membaca dan memahami bahwa kota merupakan palimpsest yang terdiri dari lapisan-lapisan yang saling beririsan satu sama lain.
Dari usaha ‘membaca’ Kota Surabaya dalam waktu sesingkat-singkatnya ini, saya merenungkan bahwa setiap kota punya lapisan-lapisan berharganya masing-masing. Setiap lembar dapat dibaca, dipahami, dan tidak akan pernah hilang jejaknya ditelan masa meskipun kota telah mengalami begitu banyak perubahan. Mungkin fisiknya bisa hilang, tetapi jejaknya bisa terbaca dari berbagai lapisan lain dalam jaringan kota.
메타데이터
- post_id
- 20acdaaf22c8
- slug
- from-the-small-part-of-surabaya-reading-the-city-as-palimpsest-20acdaaf22c8
- url
- https://medium.com/@lintangaysh/from-the-small-part-of-surabaya-reading-the-city-as-palimpsest-20acdaaf22c8
- canonical_url
- https://medium.com/@lintangaysh/from-the-small-part-of-surabaya-reading-the-city-as-palimpsest-20acdaaf22c8
- author_url
- https://medium.com/@lintangaysh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30