Cerpen: Pisau Cukur
Kanes ingat bagaimana ia bertemu dengan laki laki itu. Di sudut ruangan perpustakaan kampus yang AC nya tidak dingin. Rambutnya sedikit…
Cerpen: Pisau Cukur
Kanes ingat bagaimana ia bertemu dengan laki laki itu. Di sudut ruangan perpustakaan kampus yang AC nya tidak dingin. Rambutnya sedikit gondrong dengan kemeja kotak kotak melekat di tubuh kurusnya. Pria itu mengambil beberapa buku untuk kemudian dibawanya ke meja diujung ruangan. Kanes ingat pernah melihatnya, namun tak tahu siapa namanya. Dan seperti perempuan pada umumnya yang melihat pria tampan, Kanes tentu hanya berani melihatnya dari jauh. Anehnya pria itu memiliki berewok tipis di sekitar wajahnya. Kanes hampir tak pernah melihat mahasiswa di kampus ini berewok.
“Dia tuh keturunan orang arab ya?” celetuk Kanes secara tiba tiba membuat Nadia yang duduk di sebelah Kanes menengok lalu mengikuti arah pandang Kanes.
“Keturunan orang gila kali” jawab Nadia asal namun Kanes tak peduli. Nadia meneruskan, “Dia anak manajemen juga. Satu Angkatan sama kita, tapi pendiam anaknya. Gue aja bahkan nggak tau namanya siapa”
Pantas saja Kanes merasa familiar. Kanes semakin ingin kenalan. Kanes terus menatap pria itu dari kejauhan berusaha mengingat siapa namanya. Merasa di amati, pria itu menegok ke arah kanes membuat perempuan itu salah tingkah. Kanes menatap laptopnya kembali, dan mulai mengerjakan kembali tugas tugasnya. Hingga tanpa sadar, pria itu sudah tidak ada di ujung ruangan.
Kejadian itu berlalu begitu saja.
Namun takdir memang suka bercanda.
Hari itu berjalan begitu cepat. Angin muson barat sepertinya membawa hujan lebih cepat. Sore itu, awan gelap, angin kencang, daun daun berterbangan, udara dingin, dan hujan deras menjadi satu kesatuan. Kanes membayangkan betapa nyamannya di cuaca dingin ini menikmati secangkir teh dengan selimut tebal, dan Netflix di kamarnya. Namun sekarang, ia terjebak di kampus, tak bisa pulang. Kanes terpaksa menunggu hujan reda bersama beberapa orang, yang sama sama terjebak hujan.
Merasa kedinginan di luar, Kanes melipir masuk ke lobby kampus. Ia Kembali melihat pria yang pernah di lihatnya di perpustakaan. Pria itu duduk di ruang tunggu menatap hujan melalui jendela. Rambutnya masih sama, sedang berewoknya sedikit menebal seolah tak pernah di cukurnya. Kulit nya yang putih nampak kusam, matanya hitam cekung, namun wajahnya tetap tampan sesuai dengan tipe Kanes. Kanes penasaran, siapa dia. Tak pernah Kanes sepenasaran ini. Kebetulan! Nampaknya dewi fortuna sedang berpihak pada Kanes karena tiba tiba seorang perempuan pergi beranjak meninggalkan kursi disebelah laki laki itu.
Kanes buru buru duduk.
“Hai. Aku Kanes, kita pernah ketemu di perpustakaan” kata Kanes tersenyum riang. Kanes mengulurkan tangannya. Laki laki itu menegok bingung, namun tetap mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Kanes.
Tangannya dingin.
“Bima” jawabnya pelan. Kanes tersenyum, untuk pertama kali akhirnya laki laki di ujung perpustakaan itu mempunyai nama.
“Kebetulan banget ya kita ketemu dua kali?”
“Dua kali?”
“Iya, waktu itu aku lihat kamu di perpustakaan. Kita satu angkatan tapi kok.. aku nggak pernah lihat kamu ya?” Ucap Kanes sedang Bima Nampak kebingungan menjawab. Mungkin ia seperti mahasiswa lain yang punya berbagai kesibukan di luar kampus. “Kamu… keturunan orang arab?” tanya Kanes.
Bima lagi lagi menegok heran, “Enggak. Emang, aku kaya orang arab?”
“Hehehe, brewokan” Kanes nyengir sembari menunjuk brewok Bima. Bima tersenyum. “Aku jarang lihat orang berewokan di kampus ini. Mentok mentok kumis doang. Susah nggak sih numbuhin berewok? Nggak risih?”
Bima tertawa pelan mendengar pertanyaan Kanes. Cara kenalan yang unik. Mulut blak blakan Kanes membuat Bima tertawa. “Obrolan ini kayaknya terlalu personal untuk orang yang baru kenal” kata Bima. Lalu ia tersenyum.
Ucapan Bima berhasil membuat Kanes semakin penasaran. Untuk topik lain selain brewok, ternyata Bima cukup terbuka. Kanes baru tahu Bima kerja part time di sebuah toko baju bekas. Cukup menarik karena disana bima bertugas untuk menyortir baju layak pakai, memilah dan memilihnya. Kadang kadang ia juga menjadi kasir. Dalam sehari, selama 4–6 jam Bima akan di toko baju atau di Gudang sortir untuk bekerja. Mungkin itu sebabnya Kanes jarang melihat Bima di kampus. Kanes pun bercerita sedikit banyak tentang dirinya yang saat ini ikut berbagai kegiatan kampus, bersosialisasi, mengerjakan berbagai event, dan kehabisan uang karenanya. Berbanding terbalik dengan kehidupan Bima yang rajin bekerja, sedang Kanes rajin mengahambur hamburkan uang. Maklum, sudah terkena virus kapitalis tik tok.
“Kalau ada job, kasih tau aku juga ya” itu adalah kalimat terakhir Kanes sebelum akhirnya mereka bertukar nomor telepon. Bima beranjak pergi dari kampus setelah hujan reda, untuk bekerja. Sedangkan Kanes kembali melanjutkan aktivitasnya untuk kembali tidur di kasur kosnya yang nyaman dengan secangkir teh hangat, dan serial netflix kesukaanya.
—
Memang awalnya Kanes hanya penasaran dengan Bima.
Namun setelah satu tahun mengenal Bima, Kanes merasa lebih dekat. Kanes sering mengajak Bima makan siang, atau mengerjakan tugas bersama, terlebih Ketika Bima sedang tidak bekerja. Sejak punya nomor telepon Bima, Kanes jadi lebih mudah menemui pria itu. Perbedaan kelas, dan perbedaan jadwal tak menghalangi Kanes dan Bima untuk berteman.
Semester ini adalah semester penjurusan. Kanes dan Bima memutuskan untuk memilih penjurusan yang sama. “Biar ngerasain satu kelas Bim. Kan gampang kalau makan siang bareng” begitu kata Kanes pada Bima yang masih bingung memilih penjurusan.
Dan betul, di awal semester 5 Kanes dan Bima akhirnya satu kelas. Selesainya kelas pagi itu, Kanes mengajak Bima sarapan sebelum Bima berangkat bekerja.
Hari pertama semester awal ini, kantin begitu ramai dipenuhi mahasiswa baru maupun mahasiswa lama. Kanes memesan seporsi soto ayam, sedang Bima memesan nasi pecel. Bima masih sibuk menghabiskan nasi pecel di hadapannya. Nampak enak, Kanes sesekali meminta nasi pecel Bima. Sembari menunggu Bima makan, Kanes melihat Bima. Mengamati wajah Bima yang semakin kusam. Rambut bima semakin gondroong setiap harinya. Kini rambutnya sudah se bahu, berewoknya hampir melebat dan kukunya pun sedikit lebih panjang menghitam. Kanes membatin, “ini anak mandi nggak sih sebenarnya?”
Namun Kanes tak kuasa untuk melontarkan pertanyaan itu. Itu bukan haknya. Bagaimanapun Bima sudah berbaik hati mau menjadi temannya, mau mendengarkannya, mau menemaninya mengerjaakan tugasnya atau hanya sekedar jalan jalan. Kanes hanya miris. Selain pekerjaan, Kanes tau Bima berjuang dengan kondisi ekonominya. Orangtuanya sudah meninggal waktu bima SMA. Kini ia tinggal dengan nenek dan adiknya di Lembang. Ah, karena kuliah di Jogja mau tak mau Bima harus mencari tambahan uang saku sendiri, dengan kerja part time. Kanes menyentuk rambut panjang Bima yang sedikit berminyak, untung saja tak berbau.
“Apa sih, Nes lihat lihat? Aku tau aku tampangku ganteng” kata Bima, membuat Kanes mendengus.
“Bim, rambutmu udah panjang banget. Nggak mau di potong aja?” kata Kanes.
“Ini namanya style” balas Bima begitu songongnya sambil menyesap es teh manis.
“Style apaan? Kamu kaya Rhoma Irama tau, brewokan gitu. Udah satu tahun, masa stlenya gitu gitu aja”
“Nes, fashion itu tak mengenal usia. Asal ganteng kaya aku ya.. cocok cocok aja” celetuk Bima. Kanes tak habis pikir ternyata Bima se asal bunyi itu. Berbeda dengan kesan pertamanya yang kelihatannya pendiam.
“Bim Bim.. lihat nih kukumu udah panjang tau. Jaman ayahku dulu kuku kayak gini di potong se tangan tangannya sama” kata Kanes melebih lebihkan. Kanes megang tangan Bima. Bima tak menghiraukannya. Tangannya halus.
Kulit Bima sebenarnya bersih. Bajunya bersih. Hanya saja entah kenapa Bima selalu kelihatan berantakan berkat brewok dan rambutnya. Di tambah lagi kukunya kini juga telah sedikit hitam memanjang. Merasa miris, Kanes berbaik hati mengeluarkan gunting kuku dari dalam tasnya. Ia pun meraih tangan Bima, “Aku potongin kukumu ya Bim?” kata Kanes, meraih tangan Bima dengan gunting kuku yang siap di tangannya.
Bima terkejut bukan main. Ia menarik tangannya kuat kuat sambil berteriak histeris hingga jatuh dari kursinya sendiri. Bima memegang tanggannya ketakutan melihat Kanes. Tak pernah Kanes melihat Bima seperti itu. Kanes terkejut dan berdiri melihat Bima, mencari tahu apa yang membuat Bima begitu histeris. Kini seluruh mata kantin, melihat Bima ketakutan. Tak berteriak lagi, namun tubuh Bima bergetar hebat. Kanes menunduk mencoba duduk di dekat bima. Gunting kuku masih di genggaman Kanes.
“Bim…” ucap Kanes, tenggorokannya tercekat melihat Bima. Wajah bima tertutup rambutnya yang gondrong, Kanes tak tau apa yang terjadi, ia panik Bima begitu ketakutan. Kanes bingung. Kanes segera mengumpulkan sisa sisa kewarasannya untuk kemudian memasukan gunting kuku ke sakunya. “Bim..” panggil Kanes sekali lagi, kedua tangannya berusaha meraih tubuh Bima yang bergetar hebat. Bima menunduk masih memegang kedua tangannya sendiri.
Bima ketakutan, sungguh takut. Hingga tak lama matanya melihat mata Kanes, namun penglihatannya buram. Suara suara memenuhi kepala bima. Wajah orang orang berputar dainatara Bima.
Bima pingsan. Laki laki itu dibawa ke UKS kampus. Kanes menolong Bima dengan sedikit bersalah, sehingga Kanes menghubungi tempat kerja Bima, dan mengatakan bahwa Bima tak bisa datang karena sakit.
“Bim!” suara Kanes menyambut Bima. Kepalanya sakit, matanya masih berkunang kunang. Namun ia dapat melihat dengan jelas wajah Kanes di hadapannya. “Kamu nggak apa apa?”
Bima masih diam.
“Bim?”
“Nggak apa apa Nes, cuma pusing aja” kata Bima. “Maaf ya, kamu pasti kaget”
“Nggak apa apa kok Bim. Mau minum?” tanya Kanes buru buru mencari air, namun Bima menggeleng, meraih lengan Kanes.
“Sekarang jam berapa?”
“Udah jam 2. Kamu pingsan lama banget. 1 jam. Hampir aja aku bawa kamu ke rumah sakit” kata Kanes bernapas lega. Akhirnya Bima bisa bicara lebih panjang.
“Kerjaanku? Aku belum izin”
“Udah.. tadi udah ku izinin. Kata Bang Jatra, semoga cepet sembuh” Kanes memegang tangan Bima, menggenggam, dan mengusapnya lembut.
“Makasih ya Nes” kata Bima. Laki laki itu kemudian berusaha beranjak dari Kasur UKS.
“Aku antar ya Bim. Hari ini aku bawa mobil” kata Kanes berhasil membuat Bima mengagguk. Berkat rasa bersalahnya, Kanes berusaha mengantar Bima. Kanes tak berani bertanya pada Bima, apa yang terjadi mengapa laki laki itu begitu ketakutan. Kanes bahkan tak berani menerka nerka kenapa Bima begitu ketakutan.
— -
Ini pertama kalinya Kanes masuk ke kos Bima. Kos bima begitu berantakan. Meski tak banyak barang, namun kosnya berantakan sekali. Baju tersebar di sudut ruangan, tak rapi. Botol bekas minum berceceran. Kanes lumayan terkejut. Sekarang kanes mengerti kenapa Bima begitu berantakan dengan rambut, brewok, bahkan kukunya yang tak segera di potong. Orangnya memang berantakan. Melihat reaksi Kanes, Bima pun buru buru merapikan kamarnya sendiri.
Kanes pun turut turun tangan melihat Bima buru buru merapikan. Tak banyak bicara akhirnya Kanes malah membantu Bima bersih bersih kos. Selama beberapa jam, berukuran 4x5 itu Kembali bersih. Bima berterimakasih dan berjanji menraktir makan Kanes minggu depan setelah gajian.
Kanes sadar setelah kos Bima kembali rapi, ternyata kos ini begitu kosong. Tak ada cermin, tak gunting, tak ada pisau cukur, apalagi gunting kuku. Pantas saja, Bima begitu berantakan. Kaca saja tidak punya, pasti dia tak tahu seberantakan apa wajahnya. “Ah, coba besok ku bantu bima merapikan rambutnya.” pikir Kanes. Sebenarnya Kanes tak masalah mau berteman dengan Bima dengan tampang bagaimana pun. Namun Kanes merasa risih saja, Bima tak peduli akan penampilannya.
“Bim, kamu ke tukang cukur deh coba” Ucap Kanes berhati hati pada Bima.
“Nggak ah Nes, aku takut”
“Takut apa?”
“Takut setan kilau”
“Hah?” Kanes mengernyit heran. Ini pertama kalinya Kanes mendengar alasan konyol Bima, “setan kilau apaan?” tanya nya tak percaya.
“Kamu sadar nggak, nggak ada benda benda berkilau di kamarku?” tanya Bima benar benar menatap Kanes, tepat di matanya. “Aku percaya benda benda berkilau itu ada setannya. Aku takut setan kilau Nes. Aku takut dia marah padaku. Aku pernah berantem sama setan kilau”
“Terus, siapa yang menang”
“Aku” bima menjawab lantang tanpa keraguan, sedang Kanes tertawa terbahak bahak. “Aku nggak mau berantem sama setan kilau lagi. Dia tuh jahat”
“Bim, percaya aku. Setan kilau itu nggak ada. Benda benda itu nggak ada penunggunya. Itu Cuma takhayul aja” kini Kanes menatap penuh mata bima. Tangan kanes di pundak bima berusaha menenangkan laki laki itu. “Ibarat keris yang suka di mandiin pakai kembang 7 rupa ya Bim, percaya, hal hal ghaib itu nggak ada. Itu akal akalan orang tradisional aja yang masih percaya hantu” Kanes masih berusaha meyakinkan. “aku tau itu tradisi, tapi soal setan setan itu. Aku nggak percaya bim. Ini udah jaman modern. Jaman kpop, handphone, bahkan AI Bim. Dan kamu masih percaya hal mistis seperti setan berkilau Bim?” Kanes tertawa renyah seolah temannya telah melakukan hal yang konyol. Malam itu berakhir dengan Kanes menertawakan Bima, begitupun juga Bima menertawakan celetukan celetukan Kanes tentang setan kilau.
— -
Seperti hari hari biasanya, Bima melakukan kegiatannya. Pergi ke kampus, makan siang, dan bekerja. Bima sudah di toko sejak pukul 11 siang tadi. Kini jam menunjukan pukul 6 sore. Bima pulang setelah berpamitan dengan Bang Jatra, kawan kerjanya. Ia telah membuat janji dengan Kanes untuk mengerjakan tugas di kosnya. Sehingga ia sengaja membeli makan dan beberapa cemilan untuk Kanes. Bima sampai di kosnya 15 menit setelahnya. Begitu masukl ia sudah melihat Kanes tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Namun Bima tak membalas senyuman Kanes. Pria itu segera mengetahui bahwa Kanes membawa gunting dan pisau cukur di tangannya. Raut wajah Bima berubah, Bima segera keluar mengindari Kanes.
“Bim, dengerin aku ini Cuma gunting sama cukur. Kamu nggak akan kenapa napa dengan benda ini. Nggak ada setannya percaya sama aku” Kanes menahan Bima sebelum pria itu keluar dari kamar kosnya sendiri.
“Aku takut Nes!”
“Aku cuma mau bantu kamu, aku bantu kamu rapiin rambutmu biar rapi. Bim, bentar lagi kalau kita sidang, harus rapi. Nggak mungkin kamu berpenampilan seperti ini kan?” Kanes berusaha membujuk Bima. “Bim, percaya aku. Setan kilau nggak akan menyakiti kamu selama ada aku. Aku bantu potongin rambutmu, ya?” bujuk Kanes sekali lagi.
Bima luluh. Ada kanes disini. Ia tak perlu takut setan kilau menyakitinya, menculiknya, atau menghantuinya.
“Tapi aku mau benda benda itu keluar dari kamarku kalau nanti sudah selesai”
“Iya bim, aku janji. Sekarang kamu duduk dulu, ya. Aku bantu rapiin rambutmu”
Bima menurut, ia duduk di kursi. Selama proses pemotongan rambut dan brewoknya Bima memejamkan mata. Takut takut setan kilau tiba tiba datang menyerangnya. Setan kilau tak menyukainya. Bima tak ingin melihatnya. Sedang Kanes memulai operasi pemotongan rambut kepala bima. Setidaknya di rapikannya. Rambut sebahu bima, kini telah tapi. Tak ada lagi rambut sebahu, tak ada lagi brewok. Setan kilau sedang berbaik hati pada bima. Bima tersenyum melihat pantulan wajahnya dari cermin yang dibawa kanes. “rapi kan?” tanya kanes berbangga diri, melihat wajah bima yang tak tertutup brewok apapun.
“Aini ku fotoin” kata Kanes menggoda Bima
“Nggak usah lah, ngapain” kata Bima, namun Kanes tak menghiraukannya. Kanes memotret wajah bima beberapa kali.
“Enak kan? Jadi lebih rapi. Nggak gerah. Kalau sampoan nggak harus beli banyak banyak. Jadi lebih hemat deh” kata Kanes membuat Bima tertawa renyah.
“Iya. Makasih ya Nes.”
Malam itu Bima dan Kanes berhasil membuat beberapa progres tugas kelompoknya. Tanpa sadar, jam sudah menunjukan pukul 10 malam yang artinya Kanes harus segera pulang. Kanes kemudian membereskan barang barangnya. Ia berpamitan pada Bima dan melaju dengan mobilnya sendiri. Kanes begitu senang melihat Bima kini rapi. Wajah tampannya begitu kelihatan. Tak ada lagi rambut gondrong, ataupun brewok yang membuat bima mirip orang arab. Kanes tersenyum berbangga diri bisa memotong rambut gondrong Bima tanpa pitak sedikitpun. Memang teknologi tiktok sangat membantu, setidaknya itu bisa jadi portofolio Kanes untuk mendaftarkan diri di barber shop kalau kalau nanti Kanes tak dapat kerja in this economy. Kanes tertawa geli dengan pemikirannya sendiri. Namun begitu sampai gerbang kosnya sendiri, Kanes kaget. Baru ingat dan baru sadar ia lupa membawa pisau cukur yang dibersihkannya di kamar mandi kos Bima. Ah sudahlah, di ambil besok pagi pagi saja, sebelum Bima bangun.
Sepulang Kanes dari kosnya. Bima begitu lelah. Tak mengapa ia hari ini berbaikan dengan setan kilau berkat kanes. Rambutnya rapi. Brewoknya pun tak ada. Kukunya kini bersih. Bima tersenyum merasakan rambutnya yang pendek tak akan lagi membuatnya kegerahannya. Namun perasaan senang Bima, menciut begitu melihat pisau cukur. Dan setan kilau itu masih ada di kamar mandi. Kanes berbohong setan kilau taka da. Nyatanya ia benar benar ada. Di hadapannya.
“Mau apa kau disini? tetap disitu!” Bima membentak setan kilau. Badannya gemetar. Setan kilau itu mendekat ke arah bima. Matanya merah menatap bima tajam, rambutnya terurai panjang, badannya merah memegang pisau cukur.
“Bima! Kau penakut. Sini mendekat maka aku akan berbaik hati menghilangkan diri dari hadapanmu” suaranya menyeramkan, gigi taringnya keluar. Matanya melotot kepada Bima. Setan kilau semakin mendekat. Bima semakin mundur, badannya semakun bergetar. Tak ada kanes tak ada yang menolongnya. Pihannya hanya 2, kabur atau berdamai dengan setan kilau.
Setan kilau itu membesar badannya tinggi memenuhi kos bima. Bima merasa sesak. “Kenapa kau datang?”
“Kau yang memusuhiku seolah aku yang jahat” setan kilau mendekatkan wajahnya pada Bima. Bima bergetar ketakutan. “Kau yang tak pernah mengaggapku ada”
“Aku minta maaf” Bima berkata parau. Wajahnya memucat.
“Kau tak pernah berkata apapun Bima. Sedang aku menunggumu disini. Namun kau membuang benda benda berkilau. Kau membuangku. Kau tak ingin berteman atau bertarung denganku. Kau membuangku. Aku hanya mau kita berteman Bima” setan kilau itu meraih wajah Bima, dan mengusapnya berusaha menenangkan Bima. Bima menarik nafasnya. Setan kilau tak sejahat itu, setan kilau benar. Benar kata Kanes semua itu takhayul sebab di hadapan Bima saat ini, setan kilau tak jahat. Bima yang jahat telah membuangnya. Untung saja mala mini kanes meninggalkan pisau cukur. Kini Bima bisa melihat sisi lain setan kilau yang baik. Setan kilau tersenyum pada bima. Begitupun Bima. Nyatanya prasangkanya tentang setan kilau tak seburuk itu. Malam ini, Bima tidur di temani setan kilau yang baik. Bima bersyukur kanes membuatnya berbaikan dengan setan kila. Bima tersenyum dalam tidurnya ditemani setan kilau.
—
Pagi pagi sekali kanes datang ke kos Bima. Ia bersiap dimarahi Bima seandainya Bima sadar kalau kanes meninggalkan pisau cukur di kamar mandi. Sepanjang jalan menuju Kos Bima, Kanes hanya berharap Bima belum bangun, dan belum ke kamar mandi. Kanes sudah menyiapkan 1000 alasan dan pembelaan kalau kalau Bima marah soal pisau cukur ketinggalan itu. Bahkan Kanes juga sudah membawa makanan kesukaan Bima sebagai bentuk permintaan maaf.
Kanes menghembuskan nafasnya, harap harap bima belum bangun. Tak pernah Kanes setakut ini pada Bima. Bagaimanapun, Bima akan marah kalau sampai setan kilau datang kerumahnya gara gara pisau cukur itu. Kanes mengetuk pintu kos Bima.
Tak ada jawaban.
Kanes kemudian membuka pintu kos Bima. Tak di kunci rupanya.
Kanes mengendap masuk. Namun sungguh terkejut kanes melihat bima. Setan kilau memeluk bima. Kanes menangis sejadi jadinya, setan kilau membawa Bima dalam tidurnya. Histeris Kanes berteriak menyebut nama Bima. ia menggila mencari setan kilau. Kanes berteriak memaki Setan kilaau biadap. Kanes marah, setan kilau tak mengatakan apapun kalau ia akan datang ke kamar bima semalam. Kanes marah, melihat Bima. Tangannya penuh darah, dan pisau cukur di genggamannya.
Setan kilau memang jahat. Biadap.
메타데이터
- post_id
- 20af7ed81e55
- slug
- cerpen-pisau-cukur-20af7ed81e55
- url
- https://medium.com/@goodside/cerpen-pisau-cukur-20af7ed81e55
- canonical_url
- https://medium.com/@goodside/cerpen-pisau-cukur-20af7ed81e55
- author_url
- https://medium.com/@goodside
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16