← Back to list

Antara Immanuel Kant dan Friedrich Hegel, kesadaran dan dinamika manusia dalam Zeitgeist masa kini.

oleh : Pangeran Siregar

Pangeran siregar · 2026-03-30 17:43 · 1 claps · 6.1 min read
#wolrd #philosophy #self-improvement #life-lessons #writing
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy PSY · Psychology 🚀 · Self Improvement 🥊 · Combat Sports

Antara Immanuel Kant dan Friedrich Hegel, kesadaran dan dinamika manusia dalam Zeitgeist masa kini.

oleh : Pangeran Siregar

Photo by Europeana on Unsplash

Photo by Europeana on Unsplash

Tulisan kali ini membahas sesuatu hal yang sebenarnya sangat dekat dengan kita sehari-hari namun sering menjadi pertanyaan “apa” dan “bagaimana” cara kita memahami ini semua.

Pertarungan geopolitik di dunia internasional antara negara besar, melihat kondisi realita kelas pekerja, hambatan ekonomi, kesadaran sosial yang berkembang namun terasa kosong, pandangan materialistis yang menyebar karna dinamika zaman, cinta yang tidak lagi terasa murni, tidur nyenyak yang kita dambakan dari waktu ke waktu, pergaulan yang berkembang dengan berbagai macam, dan rasa kehilangan arah serta eksistensial, merupakan gambaran betapa besar dan kompleksnya apa yang dihadapi oleh manusia sekarang, bahkan hal ini justru lebih luas dari apa yang hanya disebutkan oleh penulis, tentu saja karna keterbatasan kita dalam memahami.

Di sisi lain pemahaman kita pada dunia dan isinya yang begitu kompleks membentuk manusia yang kita kenal saat ini, entah aku, kamu, kita semuanya, dalam memahami pentingnya mengetahui apa yang menjadi pembentuk dasar bahwa kita menjadi seperti sekarang ini.

Kondisi yang kita hadapi ini disebut dengan nama “Zeitgeist” yang berarti Zeit Adalah “waktu” dan geist adalah “roh”, apa yang dimaksud oleh zeisgeist adalah semangat jiwa atau kondisi bagaimana sebuah zaman berada dan bagaimana udara intelektual yang hadir disana, secara mudah bagaimana sebuah kelompok manusia menghadapi dan merasakan kondisi dihadapkan tanpa disadari oleh diri kita pribadi dan ini sifatnya halus, dan kondisi yang kita hadapi pada saat ini adalah zeitgeist yang berada pada “zaman fragmentasi, efisensi, dan post truth modern”, memang benar bahwa zeitgeist adalah bentuk kesinambungan dari sebuah siklus peradaban dan dinamika manusia itu sendiri, maka hal ini sangat penting membedah zeitgeist yang dihadapi oleh masa kini dan apa yang ditimbulkan olehnya.

Sebelum membahas zeitgeist yang ada disini penulis menyinggung dua tokoh filsafat yang mempunyai dasar pemikiran yang sama namun pada letak subjek-objek yang berbeda dalam memahami manusia, hal ini sangat penting menjadi pisau bedah analisis pada zeitgeist kali ini, yaitu Immanuel Kant dengan pemikiran Idealisme Transendental dan Friedrich Hegel dengan pemikiran Ideologi Absolutnya, secara umum mereka mempunya pemikiran yang berbeda dalam meletakkan bagaimana manusia memahami dunianya seperti Idealisme Transendental yang menanggap bahwa akal dan kesadaran manusia merupakan subjek dan sebagai alat atau media untuk memahami suatu objek/hal, dimana berlaku keterhubungan antara akal dan objek yang menghasilkan sebuah informasi yang kita sebut sebagai pengetahuan, sedangkan pada pemikiran idealisme absolut pada Friedrich Hegel menekankan bahwa akal dan kesadaran manusia merupakan bagian ekosistem yang lebih luas dan menjadi satu sehingga manusia dan dunianya bukan suatu hal yang terpisah melainkan satu kesatuan.

Hal ini yang menjadi pembeda pada dua pemikiran, Kant menganggap bahwa informasi dari suatu benda tidak akan bisa didapatkan tanpa proses yg kita sebut sebagai pemikiran dari objek mentah yang kita sebut benda/suatu hal sehingga benda atau objek tersebut merupakan sebuah misteri atau hal yg asli sebelum kita masukkan ke dalam akal itu apa (Ding an Sich) karna bagi Kant semua yang kita ketahui itu adalah kita yang mengaturnya, sehingga bagi Kant manusia tidak akan pernah tahu terhadap sesuatu hal secara benar karna secara alami fitrah manusia sudah termasuk ke dalam ini sejak lahir, sehingga apa yang kita ketahui itu sejatinya adalah misteri, seperti mudahnya kita mengetahui apa itu apel, tentu terbayang secara visual serta rasanya kita bisa mengukurnya berat, kandungan, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana sejatinya hakikat apel yg original diluar dari sudut pandang pemahaman kita, dalam hal ini kebuntuan tersebut dimasukkan ke dalam Kant sebagai keterbatasan manusia dalam memahami suatu hal, utama nya terkait dengan metafisika. Namun hal ini berbanding dengan Hegel yang mempunyai pemikiran bahwa sejatinya apa yang kita ketahui adalah itu informasi dan perwujudan sebenarnya serta manusia itu lahir dari proses apa yang menjadi pengetahuan dan pemahaman manusia itu sendiri sehingga hal ini menjadi bagian bahwa manusia itu bukan subjek atau objek melainkan dari suatu hal yang besar dalam satu kesatuan dan ekosistem, jika kita belum tahu sesuatu itu bukan karna terbatas tapi kita belum sampai pada pemahaman di tingkat tersebut.

Dalam hal ini kita melihat dua pemikiran yang ada pada diri manusia, pertama yaitu akal yang bersifat fitrahyang menjadi kacamata kita berpikir namun terbatas karna kita tidak akan pernah tahu yang sebenarnya (objek/hal) jika kita melepas pada konteks akal, serta yang kedua akal manusia dan realitasnya merupakan sebuah proses untuk memahami suatu hal yang membentuk sebuah hal lain, yang kita kenal proses dialektika yang terdiri dari Tesa (suatu ide/hal pertama), Antitesa (ide/hal yang menentang tesa) dan berakhir dengan sintesa (munculnya pemahaman baru pada pertentangan kondisi kedua ide/hal tersebut).

Sekarang kita masuk pada pembahasan zeisgeist masa kini setelah mengetahui apa itu Zeitgeist dan pemikiran kedua tokoh tersebut mempegaruhinya, bagaimana cara kita melihatnya, harus mempunyai kesadaran seperti apa, dan apa yang harus dilakukan, tentu Zeisgeist abad ke-21 kita memasuki pada Zeisgeist zaman sekarang Adalah Zeisgeist Fragmentasi Identitas, Efisien, Krisis Makna yang dalam hal ini dirangkum yaitu :

  1. Fragmentasi Identitas

Dalam konteks ini Fragmentasi Identitas yang terjadi adalah bagaimana sebuah nilai-nilai universal dipahami oleh dunia namun nilai nilai tersebut membuat tidak cukup sehingga mencari nilai yang dimiliki oleh individu sesuai dengan kecocokan masing-masing sehingga banyaknya fragmentasi tersebut membuat nilai-nilai yang banyak dan bersifat relatif hal ini menimbulkan kebingungan nilai yang dimiliki dalam tiap diri manusia, sehingga seringkali kehilangan pijakan universal pada nilai bersama dalam pandangan Kant hal ini terjadi karena kegagalan atau keterbatasan manusia dalam menerjemahkan nilai secara kolektif dengan nilai yang bersifat subjektif, bagi Hegel hal ini memang bagian dari perkembangan kesadaran manusia hasil dari reflektif (tesa, antitesa, sintesa) yang telah dilewati berbagai masa serta kondisi kritis untuk menemukan sintesa yang baru.

  1. Kecepatan dan efisiensi berlebihan

Pada dunia yang serba cepat dalam hal ini mempunyai tujuan agar mencapai efisiensi yang kita targetkan, sebagai individu mengalami kondisi yang memungkinkan mencari cara secepat mungkin selain itu tuntutan yang serba cepat memaksa manusia untuk berorientasi hasil instan dan hal ini seringkali memaksa manusia direduksi sebagai fungsi bukan subjek, kita bisa ambil contoh seperti media sosial yang memiliki dampak nyata banyaknya informasi dikonsumsi sekaligus yang sebenarnya diri kita membuat pemahaman terhadap suatu hal menjadi dangkal serta menginginkan hasil yang instan walau tidak diketahui kredibilitasnya, selain itu turunnya span attention dan lemahnya menahan dalam melihat suatu hal dengan mencari informasi lainnya, yang mana dalam pandangan Kant hal ini sangatlah bertentangan karna manusia merupakan subjek yang mempunyai kehidupan, belajar hanya cepat jadi, bekerja hanya untuk output, perkembangan diri menjadi target bukan proses, hal ini membuat manusia berdiri tanpa refleksi rasional dan menghilangkan otonomi moral karna semua berdasarkan tekanan sistem, namun bagi Hegel ini adalah proses sejarah karna manusia berada pada masa modernitas dan perkembangan teknologi sehingga hal ini masih menjadi proses dialektika dalam menemukan proses sintesa yang baru.

  1. Post Truth

Post Truth adalah kondisi dimana semua kebenaran bersifat relatif bahkan seringkali tercampur dengan kondisi yang berbeda dengan sebenarnya hal ini terjadi karna banyaknya informasi, pemahaman yang kurang bijak, menguatnya pemahaman emosi dibanding fakta, hal ini benar benar mengubah manusia dalam memahami apa yang bisa menjadi pegangan kebenaran,tentu saja pandangan Kant terkait ini sangatlah berkaitan karna manusia tidak lagi bisa berpikir secara kritis dengan mengikuti emosi, prefensi, dan bias sehingga bertentangan dengan yang semestinya yaitu otonomi rasional tetapi makhluk yang dikendalikan oleh dorongan subjektif, sedangkan Hegel sedangkan Hegel melihat bahwa kebenaran ini sebagai proses dan akan selalu berkembang melewati Sejarah dan dialektika, dan hal ini akan berdampak pada manusia yang berdiri tergantung situasi serta mudah terpengaruh dan identitas berbasis persepsi.

  1. Krisis Makna

Ini adalah hasil akhir dari poin-poin sebelumnya yang menjadi dampak dari kondisi yang terjadi saat ini, fragmentasi identitas, kecepatan dan efisiensi berlebihan, serta post truth modern membuat manusia menjadi kehilangan arah dan bertanya sebenarnya apa yang dijalankannya, dan tujuannya apa dan mengapa hal ini semua tidak memberikan rasa puas, bukan sebagai sesuatu atau seseorang tetapi sebagai manusia, pada perspektif Kant melihat hal ini terjadi ketika manusia tidak lagi bersandar pada nilai universal dan otonomi rasional sehingga segala hal yang terjadi selain itu menjadi dorongan berdasarkan sistem eksternal, tekanan sosial dan keinginan instan sehingga hilangnya rasa tersebut merupakan bentuk dari apa yang telah dilakukan, lalu berdasarkan Hegel masih mempunyai pandangan yang sama bahwa ini adalah bagian dari proses perkembangan kesadaran dan pengetahuan itu sendiri, banyaknya informasi peluang dan keterbukaan menimbulkan kebingungan pada manusia dalam pengambilan keputusan, selain itu individu yang merasa terpisah dari dirinya, makna hidupnya dan realitas sosial merupakan suatu hal yang wajar dari proses zeisgeist suatu zaman.

Tentu saja hal ini menjadi kesimpulan karna apa yang terjadi seperti krisis makna bukan karena manusia tidak memiliki tujuan tetapi karna tujuan-tujuan tersebut kehilangan keterhubungan dengan nilai yang lebih dalam.

Apa yang harus kita lakukan dengan dan bagaimana cara menghadapinya tentu saja kita harus mempunyai kesadaran akan apa yang dihadapi sekarang dalam hal ini melalui kacamata pemikiran Kant bahwa manusia mempunyai alat yaitu akal dan rasionalitas otonom yang bisa digunakan untuk menimbang dan memutuskan tujuan, makna serta nilai yang kita miliki, dan melalui Hegel bahwa sejatinya kita berada pada kondisi yang tidak bisa terlepas dari zaman yang dibentuk melalui algoritma, lingkungan sosial, dan struktur tertentu, lalu apa hal secara praksis nya tidak ada solusi sempurna, yaitu dengan berhenti sejenak dan menyadari bahwa kita mempunyai itu semua, dengan membiasakan berpikir secara kant dan menyadari hidup secara hegel akan mencapai pada pemikiran yang ideal dan menjadi manusia yang sadar dan bernilai.

Kesadaran dan refleksi merupakan bentuk kebebasan yang realistis yang bisa dimiliki manusia hari ini


메타데이터
post_id
20f055b3ec79
slug
antara-immanuel-kant-dan-friedrich-hegel-kesadaran-dan-dinamika-manusia-dalam-zeitgeist-masa-kini-20f055b3ec79
url
https://medium.com/@pangeransiregar57/antara-immanuel-kant-dan-friedrich-hegel-kesadaran-dan-dinamika-manusia-dalam-zeitgeist-masa-kini-20f055b3ec79
canonical_url
https://medium.com/@pangeransiregar57/antara-immanuel-kant-dan-friedrich-hegel-kesadaran-dan-dinamika-manusia-dalam-zeitgeist-masa-kini-20f055b3ec79
author_url
https://medium.com/@pangeransiregar57
status
ok
fetched_at
2026-07-13 15:35:31