Rabu, di Antara Hiruk-Piruk Dunia
Menjadi manusia terkadang sering buat kita lupa, bahwa semua pancaindera yang kita miliki itu adalah berkah dan anugerah dari Yang Maha…
Rabu, di Antara Hiruk-Piruk Dunia
Menjadi manusia terkadang sering buat kita lupa, bahwa semua pancaindera yang kita miliki itu adalah berkah dan anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Kadang, menjadi manusia juga buat kita lupa, bahwasanya berkah itu bisa Tuhan beri dengan cara yang berbeda.
Malam ini, di dalam bus kota, kami semua duduk dengan hening, tenang, bahkan beberapa terlelap karena kantuk yang berontak. Tidak ditemani alunan melodi ataupun imbauan otomatis yang mungkin sudah mati. Senyap.
Namun, seketika terdengar suara perempuan berontak di depan sana. Tanpa ragu kami melihat.
Terkejut? Tentu saja. Siapa yang tidak?
Aku… terpaku sejenak.
Detik itu aku sadar. Ternyata, dunia ini terlampau hening untuk dengar suara-suara yang wanita itu anggap bising. Entah perdebatan apa yang sedang terjadi, entah pertikaian apa yang sedang dialami, tapi satu hal yang pasti, Ia sedang menciptakan bisingnya sendiri.
Lewat gerakan tangan yang terlampau cepat sampai aku tak mampu tangkap. Lewat sorot mata tajam yang mampu buat bungkam. Lewat luapan amarah yang Ia coba sampaikan ke lawan bicara daring di seberang.
Teruntuk perempuan manis yang duduk di depan, aku harap semoga bahagia dapat menyertaimu, selalu. Aku juga berharap, semoga kehidupan dapat sedikit lebih baik, untukmu.
Mungkin aku dan kamu tidak bertegur sapa atau bersua, tapi semoga kita dapat bertemu di persimpangan garis kehidupan lainnya.
— di dalam bus kota, 27 Agustus 2025
메타데이터
- post_id
- 20fa516dfde2
- slug
- rabu-di-antara-hiruk-piruk-dunia-20fa516dfde2
- url
- https://medium.com/@if.ifat/rabu-di-antara-hiruk-piruk-dunia-20fa516dfde2
- canonical_url
- https://medium.com/@if.ifat/rabu-di-antara-hiruk-piruk-dunia-20fa516dfde2
- author_url
- https://medium.com/@if.ifat
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31