Menjadi Ismail hari ini tidaklah mudah
sedikit cerita tentang kurban
Menjadi Ismail hari ini tidaklah mudah

daging dari KMM tahun ini 🤭
Berbicara soal kurban, maka tak patut rasanya bila kita tak tahu sejarah dibalik syariat yang agung ini.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Wa lillahil hamd
Bila kita telisik lebih dalam mengenai kurban, maka kita akan tahu esensi dari kurban sesungguhnya.
Esensi kurban sebagai cinta
Meski ada ikhtilaf mengenai sosok yang akan dikurbankan antara Ismail dan Ishaq, kurban menjadi salah satu bukti cintanya Allah kepada kita. Seperti cinta Allah kepada kekasih-Nya, Ibrahim alaihissalam dan putranya, Ismail alaihissalam.
Saya lebih condong kepada pendapat yang menyatakan Ismail as. yang akan disembilih berdasarkan hadits Rasul Saw. “Ana ibnu dzabihain”
Meski hadits ini derajatnya ikhtilaf fihi ulama, riwayat ini masyhur dalam kitab² sirah
Tatkala Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk mengurbankan putranya, Ibrahim patuh dan taat. Tak terlintas dalam hatinya untuk menentang perintah tersebut.
Akan tetapi, sebagai ayah yang bijaksana, beliau juga menanyakan pendapat anaknya, Ismail. Maka sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Ismail memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan patuh terhadap ayahnya. Percakapan ini diabadikan Allah dalam firmannya ;
{ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ } [Surat Ash-Shaffat: 102]
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyā Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Cinta itu selalu ada pengorbanan dibaliknya. Misal ketika kita mencintai seseorang, minimal, hati kita korbankan agar selalu bertaut. Agar tidak hilang barang sejenak saja.
Atau kehendak kita menjadi selaras dengan kehendak orang yang kita cintai sebagaimana perkataan Duraid bin Shimmah, penyair Arab
وَمَا أَنَا إِلَّا مِنْ غَزِيَّةَ إِنْ غَوَثَ **
غَوَيْتُ وَإِنْ تَرْشَدْ غَزِيةُ أَرْشَدِ
"Aku tidak lain hanyalah bagian dari Ghazyah (kekasihku),
Jika ia sesat, aku pun ikut sesat.
Dan jika ia mendapat petunjuk, aku pun mendapat petunjuk."
Maka, ketika Ibrahim dan anaknya menerima kehendak Allah, maka hal ini menjadi bukti besarnya cinta bapak-anak itu kepada Allah Ta’ala.
Mereka ridha kepada Allah dan Allah-pun ridha kepada keduanya. Allah-pun menjadikan domba/kambing sebagai pengganti Ismail yang akan disembilih.
Menjadi seorang “Ismail” hari ini
Ismail adalah bukti nyata bagaimana keadilan Allah sesungguhnya. Andai Allah tak mengabarkan dalam firman-Nya, kita akan mengira bahwa Allah tidak adil kepada hambanya. Mengingat betapa beratnya cobaan seorang Ismail yang akan disembilih oleh ayah yang seharusnya melindunginya.
Keadilan Allah tidaklah sama dengan adilnya manusia. Maka ketika hidup merasa slalu diwarnai masalah, maka yakinlah Allah selalu adil terhadap hamba-Nya.
Memang, menjadi seorang “Ismail” tidaklah mudah, terlebih pada hari ini. Hasrat untuk selalu memiliki adalah sababnya. Lupa bahwa semua hanyalah titipan bahkan diri kita sendiri. Seakan dunia itu abadi, padahal fana belaka.
Mungkin, menjadi Ismail hari ini hanya akan mendapat cacian, makian bahkan pukulan orang ramai. Minimal cemoohan “si paling shaleh” akan menjadi buah bibirnya lisan orang² dengki.
Maka, menjadi Ismail bukanlah berarti menjadi sempurna. Karna Allah takkan membebankan kepada seorang hamba diluar kesanggupannya. Allah berfirman,
{ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ }
[Surat Al-Baqarah: 286]
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.
(Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.
Maka, pertanyaan bagi kita, akankah kita temukan Ismail itu hari ini?
Bahkan menjadi Ismail itu sendiri?
Atau justru hidup sebagai orang yang dengki?
메타데이터
- post_id
- 215cceacf6ec
- slug
- menjadi-ismail-hari-ini-tidaklah-mudah-215cceacf6ec
- url
- https://medium.com/@ahsanulfikhri/menjadi-ismail-hari-ini-tidaklah-mudah-215cceacf6ec
- canonical_url
- https://medium.com/@ahsanulfikhri/menjadi-ismail-hari-ini-tidaklah-mudah-215cceacf6ec
- author_url
- https://medium.com/@ahsanulfikhri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 02:08:05