Putus-Nyambung
Jangan sampai ada putus yang ketujuh, apalagi kesembilan.
LOVE AND LETTERS
Putus-Nyambung
Jangan sampai ada putus yang ketujuh, apalagi kesembilan.

Source image: Pinterest/@em
“Dalam setahun mereka putus tujuh kali dan mengancam akan putus lagi sembilan kali.”
Begitulah satu baris yang terus tertinggal di kepala setelah tanpa sengaja menemukan *“When a Woman Loves a Man” *milik David Lehman. Puisi yang sungguh menggemaskan, sebab dari sini kita tahu: dua kekasih itu pada dasarnya lucu. Mereka tak kan bisa dimengerti, tapi sering memberi pemahaman baru tentang cinta dan hidup bersama.
Saya pernah membacakan itu untuknya.
Entah saat itu membahas apa, sayangnya bincang-bincang yang semestinya biasa berakhir menjadi tidak enak. Begitulah. Sebagaimana hubungan antara dua orang, ada masa-masa ketika semuanya berjalan baik-baik saja, dan masa-masa ketika tidak. Mungkin memang itulah arti menjadi kekasih.
Saya butuh sesuatu untuk meredakan situasi panas ini. Tapi bagaimana, dengan apa? Lalu saya teringat puisi itu. Puisi tentang kami.
“Mau dengar?”
Boleh, katanya.
Ketika ia berkata margarita, yang ia maksud sebenarnya daiquri.
Ketika ia berkata quixotic, yang ia maksud sebenarnya mercurial.
Dan ketika ia berkata, “Aku tidak mau bicara denganmu lagi,”
yang ia maksud, “Peluk aku dari belakang saat aku berdiri murung di dekat jendela.”
Lelaki itu seharusnya tahu.
Saya terkekeh. Saya memberitahunya mengapa pembuka ini sukses memikat hati dan menjadi favorit. Saya memberitahu alasannya.
Saya memberitahunya bukankah itu sungguh jenaka dan cerdas untuk mengatakan tentang bagaimana kami yang suka mengatakan “ya”, padahal sebetulnya “tidak”. Dan mengatakan “tidak”, padahal sebenarnya “ya”. Saya memberitahunya ia begitu saat berkata “aman” dan “nggak apa-apa”.
Tapi saya tidak jadi memberitahunya jika puisi itu mengajari dalam kemurungan ternyata satu pelukan bisa menyelamatkan.
Ketika ia berkata “besok”, yang ia maksud tiga atau empat minggu lagi.
Ketika ia berkata, “Kita sedang membicarakan diriku sekarang,”
Lelaki itu langsung diam. Sahabat perempuan itu datang dan bertanya,
“Apa ada yang meninggal?”
Masuk pada bait ini, saya terhenti. Lagi-lagi saya terkekeh. Saya tak bisa tak membayangkannya menjadi adegan. Bukankah itu persisnya yang biasa terjadi?
Kami berbicara mengenai hal yang sangat penting. Sangat dalam. Tentang saya atau dia. Sehingga membuat teman-teman kami yang kebetulan mampir menggaruk belakang kepalanya. Kemudian mereka buru-buru pamit karena mengira sedang terjadi suatu yang serius.
O, ya, saya juga bingung. Saya bilang padanya saya tidak paham apa yang penyair coba sampaikan pada baris pertama. Saya mendengar penjelasannya. Namun itu tidak cukup. Untungnya baru-baru ini saya rasa telah menemukan jawaban.
Banyak hal yang ingin dilakukan bersama. Saya mau ini dan kamu mau itu. Dan sama-sama kita berkata “ayo besok”. Tapi besok di sini artinya kapan-kapan. Tidak punya tenggat waktu jelas: bisa jadi minggu depan, dua minggu, atau sebulan lagi. Kami belajar untuk tidak kecewa jika akhirnya tidak jadi.
Dalam setahun mereka putus tujuh kali dan mengancam akan putus lagi sembilan kali.
“Ini benar-benar kita,” ucap saya dengan sedikit terkekeh.
Dulu, kami selalu bertengkar. Rasanya menyenangkan. Namun tidak semua pertengkaran selalu menyenangkan dan perlu dilakukan. Saya menyadari itu. Saya menyadarinya saat mengatakan minta putus untuk yang kesekian kali. Kemudian menyadari itu salah, saya pun menyesal. Bukan dengan begini saya harus kehilangannya. Maka saya bertekad untuk tak lebih dari tiga. Jangan sampai ada putus yang ketujuh, apalagi kesembilan. Saya ingin cinta ini stabil dan aman.
Karena dengan cinta seperti itu membuat sepasang kekasih diam-diam saling bergantian memperhatikan yang sedang tidur – malam ini dia, esok malamnya giliran saya. Sembari membatinkan akhir puisi itu:
Seperti tengah malam bagi bulan, begitulah tidur bagi sang kekasih.
Seribu kunang-kunang mengerling ke arahnya.
Katak-katak bersuara seperti sekelompok alat musik gesek orkestra yang sedang pemanasan.
Bintang-bintang bergelantungan bagai anting-anting berbentuk buah anggur.
메타데이터
- post_id
- 21d8048129fc
- slug
- putus-nyambung-21d8048129fc
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/putus-nyambung-21d8048129fc
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/putus-nyambung-21d8048129fc
- author_url
- https://medium.com/@justjeki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 17:12:49