Keraton Surosowan — Singgasana yang Tertimbun Waktu
Episode 2 dari seri “ Jejak Waktu di Banten Lama “
Keraton Surosowan — Singgasana yang Tertimbun Waktu
Episode 2 dari seri “ Jejak Waktu di Banten Lama “

Taman Kolam Surosowan
Tak jauh dari Mesjid Agung Banten Lama, berdiri sisa — sisa dinding bata dan batu karang yang kini dilingkupi rerumputan liar.
Tempat itu dulu bukan sekedar bangunan, tapi simbol kekuasaan — Keraton Surosowan, istana megah milik para Sultan Banten. Kini, yang tersisa hanya puing. Tapi di antara runtuhnya tembok dan lengangnya halaman, waktu seolah masih berbisik pelan.
Singgasana di Tengah Kemegahan
Keraton Surosowan di Bangun sekitar tahun 1552 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten.
Dahulu, bangunan ini berdiri megah dengan parit keliling, benteng batu karang, dan taman ditengahnya.
Dari sinilah para sultan memimpin kerajaan maritim yang disegani hingga ke mancanegara.
Para utusan asing, pedagang Gujarat, Tionghoa, hingga Belanda pernah melangkah di pelataran yang kini hanya tersisa bayangan.
Arsitekturnya adalah cerminan kejayaan Banten — perpaduan gaya lokal dan pengaruh asing yang datang lewat jalur perdagangan.
Namun yang lebih menarik, Surosowan juga menjadi pusat ilmu dan budaya.
Di masa Sultan Ageng Tirtayasa, keraton ini hidup bukan hanya dengan upacara dan politik, tapi juga dengan musik, sastra, dan ajaran islam yang berkembang pesat.
Api dan Abu dari Masa Lalu
Namun sejarah tak selalu ramah.
Pada tahun 1680-an, konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya, Sultan Haji — yang mendapat dukungan Belanda — menjadi awal kehancuran.
Keraton ini sempat hancur, dibangun ulang, lalu kembali runtuh akibat serangan Belanda di awal abad ke-19.
Sejak saat itu, Surosowan tinggal nama.
Yang tersisa hanyalah fondasi dan tembok batu karang, berdiri diam di antara waktu yang terus berjalan.
Menelusuri Reruntuhan
Saat lu berjalan di antara puingnya, cuy, lu bakal nemuin sisa struktur yang masih bisa dikenal: gerbang utama, kolam pemandian, sisa ruang pertemuan, dan beberapa jalur batu yang dulu mungkin dilewati para pengawal istana.
Reruntuhan ini gak cuma benda mati — mereka semacam saksi yang diam, tapi tahu segalanya.
Setiap lekuk tembok yang retak seperti menyimpan gema langkah dari abad ke-16.
Angin di tempat ini terasa beda. Kadang sunyi, kadang berdesir pelan solah membawa cerita lama.
Kalau lu diem sejenak, mungkin bisa kebayang: suara air di parit istana, denting gamelan dari kejauhan, atau aroma dupa saat upacara berlangsung di aula keraton.
Waktu disini gak hilang — cuma bersembunyi di antara batu — batu karang.
Tentang Kejayaan yang Pernah Ada
Keraton Surosowan mengajarkan satu hal penting — bahwa kekuasaan, betapapun megahnya, tak pernah abadi. Yang abadi justru jejaknya, dan cara manusia mengingatnya.
Ruang — ruang kosong dan puing yang tersisa justru menghidupkan imajinasi kita: bagaimana para sultan berdiri di balkon istana, menatap laut dan Pelabuhan yang dulu jadi pintu dunia bagi Banten.
Barangkali di sinilah nilai sejati dari sejarah: ia bukan sekedar tentang siapa yang menang, tapi tentang apa yang tertinggal setelah semuanya runtuh.
Dari Istana ke Reruntuhan yang Penuh Doa
Dari Surosowan, langkah Ruang Kala beranjak menuju tempat berikutnya — Keraton Kaibon, istana indah yang dibangun untuk sang ibunda, tapi akhirnya berakhir dengan kisah pilu dan pembakaran.
Dari kejayaan ke kehancuran, dari singgasana ke sunyi, Ruang Kala akan terus menelusuri jejak waktu yang tertinggal di tanah Banten.
메타데이터
- post_id
- 226dfb7f340f
- slug
- keraton-surosowan-singgasana-yang-tertimbun-waktu-226dfb7f340f
- url
- https://medium.com/@GKinos/keraton-surosowan-singgasana-yang-tertimbun-waktu-226dfb7f340f
- canonical_url
- https://medium.com/@GKinos/keraton-surosowan-singgasana-yang-tertimbun-waktu-226dfb7f340f
- author_url
- https://medium.com/@GKinos
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 19:38:28