Mengapa Ingatan Lebih Suka Menyimpan Kecewa?
Entah kenapa seseorang cenderung lebih mengingat saat diperlakukan buruk dari pada saat diperlakukan baik. Pernah dengar pepatah seperti…
Mengapa Ingatan Lebih Suka Menyimpan Kecewa?
Photo by David Werbrouck on Unsplash
Entah kenapa seseorang cenderung lebih mengingat saat diperlakukan buruk dari pada saat diperlakukan baik. Pernah dengar pepatah seperti ini?
“Satu keburukan menutupi seribu kebaikan”
Aku akuin itu benar adanya. Ada satu momen dimana aku lebih mengingat kesalahan pasanganku.
Temanku bilang.
“Mungkin saja karena dia lebih membuatmu sakit daripada membuatmu bahagia”
Aku berpikir.
“Memang benar. Tetapi bukankah aku tetap salah?”
Pertanyaan itu terus berputar putar.
Aku merasa egois. Seolah olah aku menutup mata pada semua hal baik yang pernah dia lakukan.
Tapi di sisi lain, rasa sakit itu ibarat noda kopi di atas kemeja putih.
“Sekecil apa pun nodanya, mata kita pasti akan langsung tertuju ke sana kan?”
Kadang kalau dipikirkan sendirian, kepalaku rasanya berisik sekali.
“Apa aku seburuk itu karena terus mengingat kesalahannya?”
Setelah aku pikir pikir lagi, jawabannya tidak sesederhana benar atau salah.
Mengingat luka itu ternyata bukan berarti kita pendendam.
“Itu cuma alarm peringatan dari dirimu sendiri.”
Semacam bentuk pertahanan diri otomatis. Agar aku tidak jatuh ke lubang yang sama, dan tidak membiarkan diriku terluka untuk kesekian kalinya.
Kebaikan yang dia berikan memang pantas untuk dihargai. Aku sama sekali tidak menampik itu.
Tapi luka yang dia torehkan adalah pelajaran berharga yang harus aku ingat.
Lalu, kalau kita sudah sadar akan hal ini, apa yang harus kita lakukan? Cuma meratapi nasib?
Tentu saja tidak. Dari sini aku belajar beberapa hal penting yang mungkin bisa bermanfaat juga buat kalian yang sedang di posisi yang sama.
Pertama, validasi perasaanmu sendiri.
“Nggak apa apa kok merasa sakit. Nggak apa apa kalau belum bisa lupa.”
Jangan paksa dirimu untuk langsung memaafkan hanya karena tekanan dari luar. Pura pura baik baik saja itu jauh lebih menguras tenaga. Proses pulih setiap orang itu beda beda.
Kedua, perhatikan polanya.
Apakah perlakuan buruknya itu cuma ketidaksengajaan yang terjadi sekali, atau sudah jadi kebiasaan yang terus diulang?
“Kalau diulang berkali kali, itu bukan khilaf. Itu tabiat.”
Ketiga, jadikan rasa sakit itu sebagai batasan pelindung untuk dirimu.
Dari rasa sakit itu, kita jadi tahu perlakuan seperti apa yang bisa kita toleransi, dan mana yang sama sekali tidak bisa dimaafkan. Kita jadi tahu kapan harus bersikap tegas.
Terakhir, maafkan untuk kedamaian dirimu sendiri.
“Memaafkan bukan berarti kamu harus kembali padanya.”
Kamu memaafkan supaya rasa marah itu tidak terus terusan menggerogoti hatimu. Kamu berhak bahagia tanpa bayang bayang luka masa lalu.
Jadi, buat kalian yang mungkin sedang merasakan hal yang sama. Merasa bersalah karena susah sekali melupakan perlakuan buruk dari seseorang.
Kalian tidak sendirian.
“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Kadang, mengingat rasa sakit dengan jelas adalah satu-satunya cara agar kita punya keberanian untuk melangkah pergi. Aku akan menutup tulisan ini dengan satu pengingat kecil:
“Mengingat kecewa bukanlah tanda kamu pendendam, itu tanda kamu akhirnya belajar menghargai kewarasanmu.”
Punya pengalaman serupa atau cara tersendiri buat berdamai dengan ingatan yang mengecewakan? Boleh banget berbagi cerita di bawah.
메타데이터
- post_id
- 22b0b33a3b18
- slug
- mengapa-ingatan-lebih-suka-menyimpan-kecewa-22b0b33a3b18
- url
- https://medium.com/@tiarasepialita/mengapa-ingatan-lebih-suka-menyimpan-kecewa-22b0b33a3b18
- canonical_url
- https://medium.com/@tiarasepialita/mengapa-ingatan-lebih-suka-menyimpan-kecewa-22b0b33a3b18
- author_url
- https://medium.com/@tiarasepialita
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 19:15:58