← Back to list

Kejutan untuk Eyang

Pagi ini, setelah membuka mata, Aiko menyadari kalau langit di luar masih gelap. Dia keluar dari kamarnya. Di ruang tengah, Eyang Kung dan…

Lutfiana Sari Ariestien · 2023-02-25 15:02 · 0 claps · 3.8 min read
#cerita-anak #eyang #jepang #30dwc #30dwcjilid41
Open on Medium ↗

Kejutan untuk Eyang

Pagi ini, setelah membuka mata, Aiko menyadari kalau langit di luar masih gelap. Dia keluar dari kamarnya. Di ruang tengah, Eyang Kung dan Eyang Ti sedang bersiap salat subuh.

“Eyang …!” ucap Aiko pertama kali.

“Aiko, ayo ikut salat sini,” sambut Eyang Kung.

“Salat di sebelah Eyang Ti sini, yo!” tambah Eyang Ti.

“Tapi, Aiko belum wudu!” jawab Aiko sambil menguap dan mengucek kedua matanya.

Eyang Kung kemudian menemani Aiko wudu di kamar mandi. Baru saja Aiko memegang air, Aiko merasa ingin pipis.

“Pipis dulu ya, Kung! He … he … he ….”

Eyang Kung hanya berkata, “iyaaa!”

Aiko melirik Eyang Kung setelah duduk di toilet. Sepertinya, Eyang Kung menunjukkan senyumnya sedikit. Aiko ikut senyum sendiri melihat Eyang Kung.

Selesai berwudu, Aiko, Eyang Kung, dan Eyang Ti salat bersama. Eyang Kung menjadi imam salat. Salat subuh berlangsung sangat khusyuk, walaupun Aiko beberapa kali menguap lagi.

Salat selesai. Aiko berpindah tempat duduk di belakang Eyang Kung. Sepertinya, punggung Eyang Kung adalah tempat yang nyaman sekali. Aiko suka bersandar di sana. Aiko pun tidak melupakan pertanyaan yang sama kepada Eyang Ti.

“Eyang Ti, Ibu pulangnya kurang berapa hari?”

“Delapan belas hari!” jawab Eyang Ti.

Eyang Ti tetap tersenyum kepada cucunya. Berapa kalipun Aiko bertanya kepadanya, Eyang Ti tidak bosan untuk menjawab dengan sabar.

“Nanti mau masak apa buat sarapan, Eyang Ti?” tanya Eyang Kung tiba-tiba.

“Aku sedang kepingin makan sup tahu, Kung! Tapi, tahunya habis!” jawab Eyang Ti.

“Kalo Ai, Ai kepingin telur gulung, Eyang Ti!” sahut Aiko juga.

“Aduh, telur juga sedang habis! Minyak juga!” ujar Eyang Ti.

Eyang Kung bertanya-tanya, “Wah, kita bisa belanja ke mana, ya?”

Aiko tidak mau kalah ikut menjawab lagi, “Di supermarket aja, Eyang Kung! Aiko tahu tempatnya!”

“Eyang Kung belanjanya ditemani Aiko, gimana? Eyang Ti khawatir, Eyang Kung belum pernah belanja di Jepang!” ucap Eyang Ti.

Kekhawatiran Eyang Ti betul juga. Eyang Kung tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali. Walaupun Aiko masih lima tahun, mungkin Aiko bisa membantu sedikit-sedikit.

Waktu masih menunjukkan pukul 7. Setelah minum susu saja, Aiko sudah siap pergi berbelanja bersama Eyang Kung.

Akan tetapi, sepuluh menit setelah berjalan dari rumah, ternyata … supermarket belum buka. Aiko tidak ingat supermarket lain selain yang itu.

“Aduh, gimana ini? Dari tadi kita berjalan, yang buka hanya minimarket, Aiko! Pasar biasa enggak ada, ya?” ujar Eyang Kung.

“Pasar biasa itu apa, Eyang?” tanya Aiko kembali karena malah tidak mengerti arti pasar.

“Ya … pasar!”

Tiba-tiba Aiko teringat sesuatu dan berujar, “Eyang Kung, di minimarket ada coklat Anpanman kesukaanku. Beli itu boleh, enggak? He … he ….”

Eyang Kung bukannya menjawab permohonan Aiko. Ia malah terpikir hal lain.

“Eh, sepertinya beli telur dan yang lain di minimarket juga bisa!” ungkap Eyang Kung

Eyang Kung baru menyadari beberapa hal. Mungkin Jepang terlalu maju. Dia tidak bisa mendapati pasar tradisional seperti di Indonesia. Apalagi, rumah Aiko ada di dekat pusat kota. Namun, ternyata minimarket buka 24 jam.

Di minimarket, Aiko merajuk ingin dibelikan coklat yang dia suka. Eyang Kung tidak bisa menolak keinginan Aiko. Selain membelikan pesanan Eyang Ti, Eyang Kung juga membeli puding yang sangat menggoda selera.

Sesampainya di rumah, Eyang Ti terlihat sedang berbicara melalui ponsel dengan riang. Eyang Ti memberdirikan ponselnya di meja. Lalu, adik pun ikut diperlihatkan ke ponsel. Rupanya, Eyang Ti sedang melakukan video call dengan seseorang.

Segera setelah mencuci tangan, Aiko menghampiri Eyang Ti.

“Eyang Ti bicara sama siapa?”

“Eh, Aiko, ini Ibu! Ada Ayah juga! Ayo sini ikut ngomong!”

Dengan serta merta, raut muka Aiko ceria. Dia melompat-lompat, lalu berlari memutari Eyang Ti.

“Ibuuu! Ayaaah! Aiko baru belanja sama Eyang Kung!”

“Aduh, senangnya! Beli apa aja, Ai?” tanya Ibu dari tempatnya berada.

Eyang Kung menjawab, “Aduh, Aiko minta coklat! Tapi, tadi dia sudah janji, makan coklat kalau sudah sarapan. Iya, kan?”

“Iyaaa! He … he …,” timpal Aiko.

Eyang Kung menunjukkan barang belanjaan satu persatu ke depan kamera ponsel. Dia menjelaskan kalau minyak habis, telur habis, dan tahu juga habis. Eyang Kung tersenyum senang sambil bercerita pengalaman pagi ini. Dia bangga karena bisa membayar di kasir, walaupun tidak bisa berbahasa Jepang.

“Itu sepertinya puding yang kita tanyakan dulu, Bu” kata Ayah tiba-tiba kepada Ibu.

“Oh, iya!” jawab Ibu.

Ibu menambahkan, “Eyang Kung, kenapa beli puding yang itu? Dulu kan aku sudah bilang, jangan jajan sembarangan! Aku takut Eyang Kung tidak paham bahan-bahan di dalamnya.”

“Eh, masak puding mengandung babi?”

“Iya! Puding yang itu mengandung gelatin! Aku dan Mas Agus pernah menanyakan ke pabriknya, gelatinnya berasal dari babi,” jelas Ibu.

“Aduh!” sentak Eyang Kung kaget.

“Untung belum dimakan!” ujar Eyang Ti.

“Kalau coklat Aiko, gimana?”

“Ini kan yang Ibu sering beli, Eyang Kung! Enggak apa-apa!” tukas Aiko tidak terima.

“Iya, yang itu tidak apa-apa!” kata Ibu.

Sambil membereskan dapur, Eyang Ti bergumam, “Eyang Kung! Hati-hati, dong!”

“Iya, maaf!” kata Eyang Kung.

Dari layar ponsel, ternyata Ibu mengamati apa yang dilakukan oleh Eyang Ti.

“Eyang Ti! Itu botol minyak yang kosong, ya? Mau dibuang ke mana?” tanya Ibu cepat-cepat.

“Ini? Iya ini botol minyak kosong! Botol masuknya ke tempat sampah botol, kan? Eyang Ti ingat, kok!” jawab Eyang Ti dengan santai.

“Eh, bukan! Botol minyak itu plastiknya berbeda dengan botol PET! Di Fukuoka, cara buangnya dicampur dengan sampah terbakar, di tempat sampah warna merah!”

“Aduh!” sentak Eyang Ti.

“Susah juga hidup di Jepang! Banyak aturan! Mana Eyang tahu ini plastik apa??” tambah Eyang Ti kebingungan.

“Kalau itu, Aiko tahu, lo! Aiko pernah baca di ensiklopedia!” sela Aiko.

Aiko lalu menjelaskan tentang logo yang ada di bagian bawah botol. Kalau ada logo “PET”, berarti sampah itu termasuk ke dalam sampah botol PET. Akan tetapi, kalu logonya bertuliskan “Pla”, sampah itu termasuk sampah terbakar. Paling tidak, begitu aturan di kota Fukuoka. Kota lain bisa berbeda.

Pagi ini, Eyang Ti dan Eyang Kung banyak belajar. Mereka terkejut dengan pengalaman yang baru saja mereka alami. Di sisi lain, Aiko sangat senang. Aiko akhirnya bisa berbicara dengan Ayah dan Ibu! Setelah sarapan pun, ada coklat kesukaannya yang menanti. Aiko dan orang-orang di rumah membuka hari ini dengan hal-hal yang tidak terlupakan.


메타데이터
post_id
22b96acdf894
slug
kejutan-untuk-eyang-22b96acdf894
url
https://medium.com/@lutefnyew/kejutan-untuk-eyang-22b96acdf894
canonical_url
https://medium.com/@lutefnyew/kejutan-untuk-eyang-22b96acdf894
author_url
https://medium.com/@lutefnyew
status
ok
fetched_at
2026-07-26 02:27:45