Ketika Empati Digantikan oleh Asumsi
Dea Sari Amalia
Ketika Empati Digantikan oleh Asumsi
Dea Sari Amalia

Sumber Gambar : Resah itu Wajar
Di era media sosial, informasi tidak lagi hadir dalam bentuk yang utuh. Kita sering kali hanya melihat potongan kejadian: sebuah video singkat, satu foto, atau satu kalimat yang viral. Dari potongan kecil inilah, banyak orang merasa cukup percaya diri untuk menarik kesimpulan bahkan menjatuhkan penilaian.
Masalahnya, potongan informasi tidak pernah bisa mewakili keseluruhan cerita.
Fenomena inilah yang perlahan menggeser posisi empati menjadi asumsi
Dari Empati ke Asumsi
Empati adalah kemampuan untuk memahami perspektif orang lain sebelum memberikan penilaian. Namun di ruang digital, empati sering kalah cepat dibanding asumsi.
Ketika seseorang melihat sebuah video tanpa konteks, otak langsung mengisi “celah cerita” berdasarkan pengalaman pribadi, opini umum, atau komentar orang lain. Di sinilah asumsi bekerja cepat, spontan, tetapi tidak selalu akurat.
Lebih jauh lagi.
Komentar yang Tidak Selalu Mewakili Kebenaran
Kolom komentar sering kali menjadi ruang di mana empati paling mudah hilang. Orang merasa aman untuk menilai karena tidak berhadapan langsung dengan subjek yang dibicarakan.
Fenomena ini dikenal dalam studi komunikasi sebagai online disinhibition effect, yaitu kondisi ketika seseorang lebih berani bersikap ekstrem, termasuk menghakimi, karena anonimitas dan jarak sosial di internet (Suler, 2004).
Padahal, di balik setiap kejadian, selalu ada cerita yang tidak terlihat: latar belakang, tekanan, atau keadaan yang tidak kita ketahui.
Dampak Sosial: Ketika Manusia Lebih Cepat Menghakimi
Ketika asumsi lebih dominan daripada empati, yang terjadi bukan hanya kesalahpahaman individu, tetapi juga perubahan cara kita berinteraksi sebagai masyarakat.
Orang menjadi lebih mudah tersinggung, lebih cepat menghakimi, dan lebih sulit memberi ruang untuk penjelasan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menciptakan budaya digital yang dingin di mana seseorang dinilai bukan dari keseluruhan dirinya, tetapi dari satu momen yang viral.
Mengembalikan Ruang untuk Memahami
Mengurangi asumsi bukan berarti kita harus diam terhadap semua hal, tetapi belajar memberi jeda sebelum bereaksi. Jeda kecil untuk bertanya: “Apakah saya sudah memahami konteksnya?”
Empati tidak selalu berarti setuju, tetapi bersedia melihat lebih jauh sebelum menarik kesimpulan.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan ini menjadi semakin penting. Karena tidak semua yang terlihat adalah seluruh kebenaran, dan tidak semua yang viral adalah sesuatu yang benar-benar kita pahami.
Pada akhirnya, dunia digital tidak hanya membutuhkan orang yang cepat berkomentar, tetapi juga orang yang mau berhenti sejenak untuk memahami.
Referensi
- Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
- Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.
- Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321–326.
- Boyd, D. (2014). It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens. Yale University Press.
메타데이터
- post_id
- 22d09d87b43c
- slug
- ketika-empati-digantikan-oleh-asumsi-22d09d87b43c
- url
- https://medium.com/@resahituwajar/ketika-empati-digantikan-oleh-asumsi-22d09d87b43c
- canonical_url
- https://medium.com/@resahituwajar/ketika-empati-digantikan-oleh-asumsi-22d09d87b43c
- author_url
- https://medium.com/@resahituwajar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 03:40:04