← Back to list

Lain kali, cukup datang seperti ini. Tidak perlu menghilang.

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Halaman rumah Satya masih basah oleh sisa hujan sore. Lampu teras menyala temaram ketika Aruna…

꒰ ꔫ ⸼ Bubble's · 2026-05-08 06:07 · 0 claps · 3.7 min read
#fiksi-remaja
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Lain kali, cukup datang seperti ini. Tidak perlu menghilang.

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Halaman rumah Satya masih basah oleh sisa hujan sore. Lampu teras menyala temaram ketika Aruna berdiri di depan pintu, jemarinya saling menggenggam, seolah menahan sesuatu yang sejak satu hari, ah ralat hampir dua hari terakhir terus menyesakkan dadanya.

Ia menarik napas panjang, rasa ragu mulai menyerang dirinya. Aruna mencoba menenangkan dirinya untuk langsung masuk ke dalam rumah Satya, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya Aruna menekan bel rumah Satya. Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka.

Satya berdiri di sana — masih dengan kemeja yang sedikit kusut, lengan kemeja yang digulung sampai siku, seolah baru saja tiba dan belum sempat beristirahat. Wajahnya tenang, tetapi garis lelah di matanya tidak bisa disembunyikan. Tatapannya langsung tertuju pada Aruna, tajam namun penuh kekhawatiran.

“Masuk,” ucapnya singkat, menyingkir memberi jalan. Aruna melangkah masuk dengan ragu. Suasana di dalam rumah itu terasa asing malam ini, padahal biasanya selalu memberinya rasa aman. Pintu tertutup. Sunyi.

Satya tidak langsung berbicara. Ia berjalan lebih dulu ke ruang tengah, lalu berhenti, membelakangi Aruna sejenak sebelum akhirnya berbalik.

“Kamu menghilang hampir dua hari,” katanya pelan, tetapi jelas. “Satu pesan gak ada. Cuman ceklis, gak ada kabar, gak ada penjelasan.”

Aruna menunduk. Suaranya tertahan di tenggorokan. “Saya… tahu.” Satya menatapnya dalam. “Saya pulang lebih cepat karena itu. Saya khawatir sama kamu, Aruna.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menyalahkan, tetapi justru membuat dada Aruna terasa semakin berat.

“Saya tidak bisa menghubungimu, Aruna,” lanjut Satya. “Dan satu-satunya hal yang saya tahu hanya masa lalumu kembali.”

Aruna mengangkat wajahnya perlahan. Ada sesuatu yang rapuh di sana. “Saya gak bermaksud membuat om khawatir.”

“Namun kamu melakukannya,” potong Satya lembut, bukan untuk menyudutkan, melainkan menegaskan.

Hening kembali turun. Aruna menggigit bibir bawahnya, berusaha menyusun kata-kata yang sejak kemarin tidak pernah berhasil ia ucapkan kepada siapa pun.

“Saya hanya…” ia berhenti sejenak, menarik napas panjang. “Saya hanya tidak siap.”

Satya tidak menyela. Ia memberi ruang.

“Saya pikir semuanya sudah selesai,” lanjut Aruna, suaranya lebih pelan.

“Saya pikir saya sudah cukup kuat untuk tidak terpengaruh lagi. Tetapi ketika semuanya benar-benar datang, ketika saya mendengar penjelasan itu, rasanya seperti ditarik kembali ke titik yang sama.” Tatapannya jatuh ke lantai.

“Saya bingung harus bagaimana. Saya tidak ingin melibatkan om dalam keadaan itu, jadi Saya lebih memilih diam.”

Satya menghela napas perlahan. Ia melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan.

“Aruna,” panggilnya, lebih lembut dari sebelumnya. “Diam bukan berarti melindungi.”

Aruna terdiam.

“Itu justru membuat orang lain bertanya-tanya lebih jauh,” lanjut Satya. “Terutama orang yang peduli sama kamu, termasuk saya.” Kata terakhir itu diucapkan tanpa tekanan, tetapi cukup jelas untuk sampai.

Aruna menatapnya kembali. “Saya hanya tidak ingin om melihat sisi itu dari diri saya.”

“Sisi apa?”

“Sisi yang… lemah. Yang masih terikat pada hal-hal yang seharusnya sudah selesai.”

Satya menggeleng pelan. “Kami tidak menjadi lemah hanya karena belum sepenuhnya pulih,” ujarnya.

Kalimat itu membuat Aruna terdiam lebih lama.

“Saya tidak membutuhkan kamu untuk selalu baik-baik saja,” lanjut Satya.

“Saya hanya membutuhkan kamu untuk jujur — setidaknya kepada saya.”

Suasana menjadi lebih tenang, meskipun emosi di dalamnya masih terasa. Aruna menghela napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban yang sejak tadi ia genggam.

“Saya minta maaf,” katanya akhirnya. “Seharusnya saya memberi kabar ke om duda.”

Satya mengangguk pelan. “Ya. Memang seharusnya seperti itu.” Beberapa detik berlalu dalam diam.

“Kamu sudah lebih baik sekarang?” tanya Satya kemudian. Aruna berpikir sejenak sebelum menjawab. “…Belum sepenuhnya. Tetapi saya mencoba.”

Satya menatapnya, lalu mengangguk sekali lagi. “Itu cukup.”

Ia kemudian berjalan menuju meja, mengambil segelas air, lalu menyerahkannya kepada Aruna.

“Tidak perlu terburu-buru menyelesaikan semuanya malam ini,” ucapnya. “Namun lain kali, jangan menghilang. Saya khawatir sama kamu, Aruna.”

Aruna menerima gelas itu, jemarinya sedikit bergetar. “Iya.”

Satya menatapnya sejenak lebih lama, seolah mempertimbangkan sesuatu. Tatapannya tidak lagi sekadar tegas — ada kekhawatiran yang belum sepenuhnya reda.

“Saya tidak ingin mencari kamu dengan perasaan seperti tadi lagi,” ucapnya pelan.

Kalimat itu membuat Aruna terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, pertahanannya benar-benar runtuh. Ia menunduk, bahunya sedikit bergetar.

“Maaf…” suaranya hampir tidak terdengar.

Satya melihat itu. Tanpa banyak kata, ia melangkah lebih dekat. Awalnya hanya satu langkah, lalu satu lagi — hingga jarak di antara mereka hampir tidak ada.

Aruna masih menunduk ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat. Satya menariknya ke dalam pelukan.

Gerakannya tidak tergesa, tidak pula ragu — seolah itu adalah hal paling wajar yang bisa ia lakukan saat ini. Aruna sempat membeku. Namun hanya sesaat.

Perlahan, tangannya terangkat, mencengkeram bagian belakang kemeja Satya. Kepalanya bersandar di dada pria itu, dan untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir, ia benar-benar membiarkan dirinya rapuh.

(Hanya Ilustrasi)

(Hanya Ilustrasi)

“Tidak apa-apa,” suara Satya terdengar rendah di atas kepalanya. “Kamu tidak harus menanggung semuanya sendiri.”

Aruna tidak menjawab. Tetapi genggamannya menguat. Pelukan itu tidak singkat. Tidak pula berlebihan. Cukup lama untuk membuat napas Aruna yang semula berantakan, perlahan menjadi lebih teratur.

Satya tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya tetap di sana, menenangkan, tanpa memaksa. Beberapa saat kemudian, Aruna menarik diri perlahan. Matanya masih basah, tetapi ekspresinya jauh lebih tenang.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

Satya menatapnya, lalu mengangguk pelan.

“Lain kali, cukup datang seperti ini. Tidak perlu menghilang.”

Aruna mengangguk dan tidak membantah ucapan Satya. Satya yang melihat air mata Aruna, berinisiatif untuk mengusapnya dengan ibu jarinya. Malam itu tidak sepenuhnya menyembuhkan apa pun. Namun dalam pelukan singkat itu, ada sesuatu yang akhirnya retak — bukan kepercayaan, melainkan dinding yang selama ini Aruna bangun sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan seseorang berada di dalamnya.


메타데이터
post_id
237cda00a213
slug
lain-kali-cukup-datang-seperti-ini-tidak-perlu-menghilang-237cda00a213
url
https://medium.com/@astrqphile/lain-kali-cukup-datang-seperti-ini-tidak-perlu-menghilang-237cda00a213
canonical_url
https://medium.com/@astrqphile/lain-kali-cukup-datang-seperti-ini-tidak-perlu-menghilang-237cda00a213
author_url
https://medium.com/@astrqphile
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13