← Back to list

Anak Itu Belum Pulang

Sebuah cerita pada minggu senja

Irma ♡₊˚ · 2025-09-08 12:22 · 0 claps · 1.7 min read
#mahasiswa #seniman #komika #indonesia #journalism
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 📰 · Journalism & News

Anak Itu Belum Pulang

Sebuah cerita pada minggu senja

surat ini merupakan sebuah sajak terbuka, pak… buk…

surat ini merupakan sebuah sajak terbuka, pak… buk…

Minggu kemarin, aku ikut berkumpul bersama komunitas produktif di kampus. Kebetulan aku diajak jadi talent yang membacakan sajak karya Taufik Ismail berjudul “Surat Ini adalah Sebuah Sajak Terbuka.”

Acara ini memang rutin diadakan setiap akhir bulan, dengan tema berbeda-beda. Kali ini temanya adalah “Anak Itu Belum Pulang” — sebuah kalimat sederhana, tapi punya berjuta makna, apalagi di tengah keadaan negara yang sedang tidak baik-baik saja.

Banyak ibu dan bapak yang menunggu dengan hati tegang di rumah, berharap anaknya pulang selamat ke dalam dekapan hangat. Tapi, seperti yang sering terjadi, ada yang berhasil pulang, ada juga yang gagal di tengah perjalanan.

Sebelum aku membacakan puisi, Kak Ali sempat bertanya,

“Irma, kenapa pilih bawain puisi ini?”

Tanpa banyak pikir, aku jawab tegas,

“Karena puisi ini catatan sejarah yang berulang. Gema suara dari masa lampau yang terus mengingatkan kita.”

Sayangnya, jawaban itu nggak terlalu banyak ditanggapi. Mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan segala huru-hara bangsa. Hahaha.

Saat membacakan puisi itu, ada sesak yang mengganjal di dada. Mau menangis tak bisa, mau menjerit takut dikira gila. Lagipula, aku berdiri di pinggir jalan raya — takutnya malah diangkut sama yang berkuasa. Tapi tenang… aku dan kawan-kawan adalah MAHAsiswa. Bukankah seharusnya lebih berkuasa daripada dewan yang hanya lulusan SMA?

Kemarin aku juga sempat berkenalan dengan talent lain. Namanya Isman.

“Mau nampilin apa, Kak?” tanyaku.

“Stand up comedy. Nanti kamu ketawa ya, aku bayar lima ribu,” jawabnya.

Halah, ternyata mau nyuap aku. Mana cukup? Kopi aja 15 ribu. Tapi tetap aku tolak, karena aku bukan dewan berdasi yang bisa dibeli.

Saat dia naik ke panggung, Isman bilang, “Kalau aku berdiri di sini, aku nggak yakin bisa bikin kalian tertawa. Soalnya negara kita sendiri sedang membuat lelucon, dan kita semua jadi badutnya.”

Penampilan yang paling pecah datang dari Kak Wahyu, seniman kebanggaan kita, yang membawakan puisi berjudul “Anjing-anjing Buncit.” Katanya, “Judul dan isi puisi ini bisa kalian tafsirkan sendiri.”

Dan benar saja, puisinya seperti menampar — tajam, getir, tapi indah.

Pulang dari acara itu, aku belajar sesuatu: kadang yang paling lantang bersuara bukanlah mereka yang duduk di kursi empuk, tapi mahasiswa di pinggir jalan, seniman dengan puisinya, atau komika dengan canda getirnya. Tema “Anak Itu Belum Pulang” bukan hanya tajuk acara, tapi pengingat… bahwa rumah yang kita sebut negara ini, belum benar-benar aman untuk ditinggali.


메타데이터
post_id
237ef3fd9eec
slug
anak-itu-belum-pulang-237ef3fd9eec
url
https://medium.com/@irmarlyns/anak-itu-belum-pulang-237ef3fd9eec
canonical_url
https://medium.com/@irmarlyns/anak-itu-belum-pulang-237ef3fd9eec
author_url
https://medium.com/@irmarlyns
status
ok
fetched_at
2026-07-17 16:27:19