Mengejar Target Buku atau Menikmati Setiap Halaman?
Apa preferensi gaya membacamu?
Mengejar Target Buku atau Menikmati Setiap Halaman?

Gambar oleh AI
Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba kepikiran soal target buku bacaan tahunan yang biasa aku set di Goodreads pribadiku. Karena nggak mau galau sendirian, dan entah kenapa aku kepikiran apa semua orang yang baca juga punya target sejenis, akhirnya aku bikin posting di Threads soal ini. Tahu nggak, ternyata responsnya beragam; ada yang narget, ada yang santai, ada yang wow banget pokoknya.
Kembali ke pemikiran awal: aku pikir semua orang baca itu pakai target: misalnya satu bulan satu buku atau harus selesai dalam waktu tertentu. Ternyata buktinya banyak juga yang membaca tanpa target. Mereka menikmati proses membaca, memilih buku berdasarkan mood, atau sekadar membolak-balik halaman tanpa buru-buru menyelesaikannya; karena berbagai macam alasan. Bahkan ada yang mengatakan ada yang butuh menetralkan hati dan pikiran selepas membaca sebuah buku.
Belum jadi anggota? Baca kelanjutannya di sini.

dokumentasi pribadi
Dari hasil dari beragam respon pengguna Threads ini sangat membuka mataku; bagaimana teman-teman pembaca memiliki preferensi gaya dan ritmenya masing-masing.
- Berbeda itu sah-sah saja: ternyata mau kita punya target ataupun tidak itu dua-duanya oke kok. Ini benar-benar preferensi pribadi
- Motivasi membaca itu beragam sekali: ada yang ingin belajar, ada yang ingin hiburan, ada yang dipaksa membaca karena target dari klub baca mingguan, atau ada yang cuma iseng.
- Kecepatan membaca orang berbeda: misalnya, ada yang baca satu halaman tiap hari, ada juga yang langsung serap banyak halaman di satu waktu.
Intermezzo sejenak yuk. Pernah denger bookshaming, nggak? Belakangan ini sedang ramai topik bahasan bookshaming. Walau aku nggak terlalu mengikuti perbincangannya secara mendalam, tapi aku kaget dan sedih sih kenapa sampai ada fenomena semacam itu. Aku rasa sebenarnya membaca itu proses yang akan dinikmati oleh kita pribadi sih, jadi ya sebenarnya nggak ada salahnya mau apapun selera bacaan kita. Tapi ya ternyata ada aja manusia yang mungkin baru akan merasa ‘tinggi’ dengan menginjak orang lain. Pokoknya, sehat-sehat deh orang sehat!
Pro dan Kontra Membaca dengan Target
Pilihan tentu datang dengan berbagai konsekuensinya, termasuk dengan memilih membaca dengan target. Keuntungan:
- Disiplin dan teratur: memasang target bikin kita konsisten membaca, enggak keburu lupa atau bahkan males.
- Hasil yang nyata dan terukur: kita bisa merasakan progres lebih dengan terpampang nyata, semisal, ‘wah di pertengahan tahun ini aku sudah baca 12 buku dari 50 target bacaanku tahun ini.’ Bahkan kita juga bisa mengukur dan mengatur ulang kembali target bacaan kita loh.
- Tujuan jelas: bikin kita bisa mengejar topik tertentu dengan lebih fokus.
Kekurangan:
- Stres dan tertekan: kalau enggak sesuai target, adanya target justru bikin kita baca terburu-buru dan enggak menikmati isi buku.
- Fleksibilitas berkurang: kita bisa jadi enggak punya waktu untuk insight baru dari buku tak terduga. Ini kasus yang terjadi kalau sedari awal menentukan daftar buku yang akan kita baca, eh tau-tau ternyata ada buku baru yang lebih menarik.
- Minder dan kecewa: ini kasusnya kalau menggunakan tolok ukura orang lain dalam menentukan target bacaan, kalau kita kurang dari itu dan kita nggak siap, bikin kita jadi merasa ‘kurang’.
Setelah menyadari banyaknya pendekatan orang dalam membaca, aku jadi makin tertarik menggali sisi lain dari hal ini: gimana sih sebenarnya rasanya baca pakai target dibandingkan baca suka-suka? Di satu sisi, punya target itu jelas bisa bantu banget buat yang butuh struktur. Rasanya puas aja gitu kalau bisa mencentang satu buku dari daftar bacaan, apalagi kalau kita punya tujuan tertentu; semisal pengen lebih banyak baca buku nonfiksi, atau menamatkan semua karya penulis favorit. Adanya target bikin kita lebih disiplin, bikin waktu membaca jadi prioritas, bukan sisa-sisa energi di akhir hari.
Baca Tanpa Target yang Santai dan Fleksibel
Tapi ya, hidup nggak melulu tentang checklist juga, kan? Kadang target malah bikin stres. Baru mulai baca, udah kepikiran target atau rasa bersalah karena masih jauh dari target. Padahal bisa jadi, bukunya butuh waktu buat dicerna. Atau mood kita lagi nggak ke situ. Dan dari sinilah aku mulai ngerti kenapa banyak juga yang lebih memilih membaca tanpa target. Mereka baca pas pengen aja, berhenti pas capek, dan balik lagi kalau sempat. Ada kebebasan yang menyenangkan di situ.
Yang menarik, dua pendekatan ini bukan berarti saling bertentangan. Justru menurutku, bisa banget digabungin. Ada masa di mana kita pengen kejar target karena butuh tantangan dan ada juga saat di mana kita cuma pengen baca sambil selonjoran tanpa mikir progres. Fleksibel aja, sesuai fase hidup dan energi kita saat itu.
Ada banyak alasan kenapa orang memilih cara ini
- Mengeksplorasi topik tanpa beban
- Menikmati isi buku sesuai tempo sendiri
- Membaca sambil ngopi atau santai, bukan tuntutan
Cara ini cocok buat kita yang mungkin baru belajar baca atau enggak ingin terikat waktu, atau pun ingin mencoba buku dari genre berbeda tanpa batasan.
Dan buat yang memilih jalur ini, bukan berarti malas atau nggak punya arah. Justru ada keindahan tersendiri dari membiarkan diri hanyut dalam buku tanpa keharusan. Buku dibuka karena ingin, bukan karena harus. Dan kadang justru dari situ muncul momen-momen reflektif yang nggak terjadwal; kayak tiba-tiba nemu kalimat yang bikin mikir panjang di tengah sore yang tenang.
Jadi cara baca yang benar itu gimana?
Berdasarkan sebuah survei rata-rata orang membaca sekitar 12–16 buku per tahun, tapi ini tentu sangat bervariasi tergantung kebiasaan dan ritme masing-masing. Ada yang memasang target ambisius, misalnya 52 buku setahun alias satu buku per minggu, atau 1 buku untuk 1 bulan, dan ada juga yang santai, memilih hanya beberapa buku yang benar-benar menarik hati. Perkembangan teknologi juga memengaruhi cara kita menikmati bacaan; e-book dan audiobook semakin populer, terutama buat yang punya gaya hidup sibuk dan butuh fleksibilitas.
Nah, buat kita yang pengen punya target tapi takut stres, atau yang santai tapi pengin lebih konsisten, ada beberapa tips kecil yang bisa dicoba:
- Menetapkan tujuan kecil dulu. Senyaman kita, sebahagia kita. Boleh terpacu semangat karena orang lain, tapi tak perlu juga membanding-bandingkan. Hal itu yang justru bikin kita nggak bahagia.
- Mencatat progresmu. Bisa lewat jurnal, Goodreads, atau aplikasi bacaan, supaya kita bisa lihat seberapa jauh perjalanan membaca kita. Di akhir tahun kita bisa senyum-senyum dan mencatat kemenangan kecil dengan puk-puk diri sendiri, mungkin.
- Mencampur gaya membaca. Kadang target, kadang santai. Misalnya satu buku yang serius dan satu buku ringan yang santai dibaca.
- Bergabung klub baca atau diskusi. Ini bisa bikin kita tetap semangat tanpa tekanan, plus dapat insight baru dari teman-teman pembaca.
Membaca itu sebuah proses yang sangat personal
Intinya, membaca itu kebiasaan personal. Ada yang memilih memacu semangat dengan target, ada yang menikmati kelonggaran. Yang penting: kita menikmati proses membacanya — enggak stres, enggak buru-buru — sehingga terus ingin membaca.
Kalau kamu gimana nih, apa kamu tipe pasang target biar bersemangat atau lebih memilih untuk membaca tanpa beban?
메타데이터
- post_id
- 23a0b3dcedba
- slug
- mengejar-target-buku-atau-menikmati-setiap-halaman-23a0b3dcedba
- url
- https://medium.com/@skvyvox/mengejar-target-buku-atau-menikmati-setiap-halaman-23a0b3dcedba
- canonical_url
- https://medium.com/@skvyvox/mengejar-target-buku-atau-menikmati-setiap-halaman-23a0b3dcedba
- author_url
- https://medium.com/@skvyvox
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01