Menguji Hipotesis Eksistensi Tuhan

Menguji Hipotesis Eksistensi Tuhan
Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.
Berangkat dari titel tulisan yang mungkin sedikit terdengar paradoksial, hingga kutipan hadis Qudsi yang jika dibaca sekilas, akan terasa seperti sebuah pesan — bahwa Tuhan itu dekat, responsif, dan menyambut setiap manusia yang dibekali akal untuk mencari-Nya (read — 96:1–5).
Tetapi semakin dibawa akal ini untuk berpikir, semakin terbuka ruang-ruang untuk bertanya:
Apa arti “mendekat” kepada sesuatu yang tidak memiliki ruang?
Apa arti “bersama” bagi sesuatu yang tidak terikat oleh waktu?
Pertanyaan-pertanyaan ini menarik saya untuk masuk lebih dalam lagi dan tidak mudah untuk dijawab dengan pendekatan yang biasa kita gunakan dalam memahami dunia fisik. Ia tidak bisa diukur, tidak bisa diuji secara eksperimen, dan mungkin tidak mutlak untuk bisa diselesaikan oleh logika formal. Tulisan ini berangkat dari titik ini — bukan untuk membuktikan atau menyangkal, tetapi untuk melihat sejauh mana konsep “eksistensi Tuhan” dapat dipahami melalui cara berpikir yang selama ini digunakan untuk memahami realitas.
Pendahuluan
Dubito, ergo cogito, ergo sum
Untuk mendekat pada makna eksistensi Tuhan, saya musti berangkat dari kesadaran terhadap eksistensi diri terlebih dahulu dan bahwasanya dengan saya ragu, oleh karena itu saya berpikir, oleh karena itu saya ada — begitulah makna dari kalimat yang dikutip oleh Rene Descartes. Kemudian, kita akan bergerak pada upaya-upaya untuk menyelami keenam pilar dalam Islam, salah satunya adalah dengan berbekal ‘percaya kepada-Nya.’
Jika iman itu saya asumsikan sebagai suatu hal yang dinamis, maka setiap manusia yang diberi akal sudah semestinya memiliki hak dan keabsahan untuk membuka semua ruang tanya, bahkan berbekal pertanyaan-pertanyaan ontologi yang sangat sederhana sekalipun. Bukan untuk menyangkal ataupun ragu, tapi dalam rangka menjaga dinamika iman itu sendiri agar tetap tumbuh di atas pondasi yang ideal (read — 2:152).
Berbagai ajaran agama pun menjadi terkesan begitu dogmatis karena tidak dibukanya ruang-ruang bagi jiwa maupun akal untuk bertanya. Dari sini Islam juga sepakat untuk melarang sebuah fenomena ikut-ikutan tanpa dasar (read — taklid) atau FOMO. Oleh karena itu, dengan sebuah keyakinan bahwasanya sifat Tuhan adalah Tak Terbatas, dan manusia adalah makhluk yang terbatas — ‘Menemukan Tuhan’ akan menjadi sebuah perjalanan seumur hidup bagi saya untuk memahami sifat-sifat-Nya yang tanpa batas
Kesenjangan berpikir dan beriman
Kunci untuk memahami eksistensi, bahkan untuk menangkap kehadiran yang transenden, dimulai dari satu titik bernama kesadaran. Filsuf eksistensialis Martin Heidegger menggunakan istilah khusus untuk menggambarkan manusia: Dasein, yang berarti ‘berada di sana’. Oleh karena itu, manusia adalah satu-satunya makhluk di alam semesta yang sadar akan keberadaannya sendiri (read — 95:4). Kesadaran yang sederhana ini pada akhirnya melahirkan banyak pertanyaan mengenai eksistensi Tuhan itu sendiri atau yang sering kita kenal dengan istilah filsafat (mother of science — ibu dari segala ilmu pengetahuan).
Immanuel Kant berargumen bahwasanya Tuhan tidak bisa ditemukan melalui sebuah eksperimen di laboratorium, ilmu-ilmu empiris, ataupun rumus matematika objektif. Di sisi lain, banyak filsuf dan pemikir yang kurang sepakat dengan pernyataan-pernyataan sejenis seperti itu. Keberagaman pemikiran ini sering kita temukan juga pada aliran ateis, agnostik, maupun sejenisnya.
Saat memutuskan untuk membuka lembaran buku Sapiens yang dimana saya belum mencari tahu tentang latar belakang sang penulis, saya sempat bertanya-tanya dan berada di persimpangan garis ragu, ada bagian dari pikiran saya yang tanpa sadar memvalidasi pernyataan demi pernyataan tentang bagaimana manusia mengonstruksi mitos dan agama. Sama halnya dengan argumentasi Nietzsche yang menyatakan bahwa konsep Tuhan hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kesadaran manusia untuk melarikan diri dari kerasanya realitas. Di sisi lain, berkembang pula sebuah sudut pandang dari ekonomi-politik dan kelas sosial, dimana Karl Marx dengan argumentasi populer dalam sebuah buku yang ditulisnya:
“Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, melainkan keberadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka”
dan sebuah kalimat yang cukup paradoksial:
“Religion is the opium of people”
Dari sini, saya melihat sebuah kesenjangan yang lebar antara kapasitas berpikir (rasio) dan rasa percaya (spiritualitas). Kesenjangan dalam berpikir dan mengadakan makna ini lah yang secara historis melahirkan ribuan aliran filsafat dan spektrum keyakinan (read: 2:170)
Sebagai seseorang yang dibesarkan dengan kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan dan kebenaran Islam, hal itu menjadi sebuah momen guncangan intelektual bagi saya. Dari sedikit hal yang saya ketahui ini, saya sadar bahwa untuk benar-benar memahami keberadaan Tuhan, kesadaran kita justru harus berani diuji oleh pertanyaan-pertanyaan paling skeptis dan terbuka sekalipun. Hal ini juga menjadi sebuah permulaan yang mengantarkan saya pada untaian benang-benang merah yang barangkali akan saya urai dalam jangka waktu seumur hidup saya nanti.
Pendekatan ini sedikitnya juga menjadi salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk lebih melebarkan sayap-sayap keingintahuan dalam ilmu sains maupun dunia kedokteran. Dan mungkin sedikit mengambil dari potongan-potongan historis sebagai bentuk refleksi.
Benang merah pertama: Matematika dan batas pengetahuan
Matematika sering dianggap sebagai bahasa paling konkret dalam memahami realitas. Melalui teorema Gödel, dapat disimpulkan bahwa dalam sebuah sistem yang cukup kompleks, akan selalu ada pernyataan yang benar, meskipun tidak sepenuhnya dapat dibuktikan dari dalam sistem itu sendiri. Hal ini dikenal dengan istilah a priori, yang bermakna mutlak sebab kebenarannya tidak terbantahkan karena logis; dan universal, di mana sifatnya dapat berlaku di mana saja tanpa memandang waktu dan situasi.
Sebagai contoh sederhana,
1+1 =2
Untuk mengetahui kebenarannya, kita tidak perlu melakukan survei, eksperimen, dan semacamnya. Kita cukup memahaminya secara murni melalui nalar dan logika. Bahkan nilai ini akan berlaku sama — baik di lingkup semesta maupun zaman yang berbeda.
Keteraturan dalam Kekacauan
Ketika melihat dunia dengan kasat mata, kita akan mendapati keabstrakan bentuk dari pola-pola geografis maupun biologis. Sebagai contoh sederhana, sebuah gunung yang menjulang tinggi memiliki pola yang sama dengan piramida walaupun dalam level yang berbeda. Pola yang serupa juga muncul di tempat yang tampak tidak berkaitan. Percabangan ranting pohon memiliki kemiripan dengan struktur paru-paru manusia. Kita dapat juga melihat pola yang identik antara kornea yang membentuk struktur mata dengan galaksi yang melayang-layang dalam sistem makrokosmos. Bahkan, sistem pembuluh darah dalam tubuh kita memperlihatkan pola-pola identik lainnya yang dapat secara mudah kita amati di alam, seperti pola percabangan akar pohon maupun petir yang menyala di langit malam.
Dari fenomena alam tadi, seorang matematikawan, Benoit Mandelbrot mempopulerkan sebuah konsep fraktal dengan memanfaatkan komputer IBM dan didapatkan sebuah kesimpulan yang apik:
Pola yang sangat kompleks dapat muncul dari aturan yang sederhana. Ketika diperbesar, pola tersebut tidak pernah benar-benar habis, melainkan terus menampilkan variasi dalam bentuk yang sama.

Dari sini, dapat dimengerti bahwasanya keteraturan ini tidak secara otomatis menghilangkan kompleksitas, melainkan merangkainya seperti potongan puzzle yang membentuk struktur unik. Namun, hal seperti ini tidak secara konkret dapat mengantarkan kita pada asal-usul pola itu sendiri, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kompleksitas yang kita lihat di alam tidak selalu berdiri sendiri— melainkan terdapat entitas yang mendasarinya (read — Zat Yang Maha Dahsyat)
Benang merah kedua: Fisika Gelombang Elektromagnetik
Merujuk pada (read — 24:35), di mana disebutkan bahwasanya ‘Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar’

Dapat kita temui juga pola yang sama pada hirarki spektrum gelombang elektromagnetik. Dalam konteks ini, cahaya yang nampak oleh indera manusia hanyalah sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik (read — mejikuhibiniu). Di luar rentang tersebut, masih terdapat berbagai bentuk cahaya yang tidak kasat oleh mata manusia itu sendiri dan diperlukan energi yang cukup besar untuk menangkapnya. Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pengamatan manusia itu memiliki batasannya tersendiri dan bukan berarti cahaya yang tidak nampak itu tiada.
Hal menarik juga dijelaskan dalam sebuah hubungan resonansi dalam kondisi konstan.
y (t) = Amaks sin (ωt — φ)
Bagaimana jika saya menarik sebuah kesimpulan bahwasanya Amplitudo (A) adalah besarnya upaya kita untuk mendekat kepada eksistensi-Nya, Frekuensi (ω) adalah tolak ukur dari konsistensi kita dalam mengingat maupun merenungkan kuasa-Nya (read — ibadah, zikr), dan Fase (φ) adalah hati pikiran yang selaras dan selalu berprasangka baik kepada-Nya. Ditambah dengan gaya rendam minimum, di mana hal ini dapat dianalogikan sebagai peredaman ego (noise) atau pelepasan diri dari hasrat yang kurang perlu.
Dari sini, sistem akan merespons secara optimal ketika ketiganya berada dalam kondisi yang selaras — hingga melahirkan sebuah resonansi (getaran) yang coba saya analogikan sebagai metafora dari iman itu sendiri.
dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.
Benang merah ketiga: AKAL
Dan, barangkali yang membuat saya tertegun sejauh dalam penulisan ini adalah, pola yang membentuk akal manusia bersama kesadaran itu sendiri. Dari sini, berbekal rasa percaya yang ada, saya yakin bahwasanya akal tidaklah pasti berdiri sendiri (read — 32:9). Perihal ini yang membedakan kita selaku manusia dengan hewan maupun tumbuhan. Bahkan teknologi buatan manusia (AI) secanggih apapun tidak dapat mencapai taraf kesadaran subjektif seperti halnya manusia.
sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
Kesimpulan
Hasil pengamatan-pengamatan di atas mungkin tidak cukup untuk membuktikan bahwasanya ‘Tuhan ada’ secara empiris.
Namun, satu hal yang perlu untuk terus diupayakan adalah: Untuk menjadi sepenuhnya jujur, selalu terbuka pada ruang-ruang pertanyaan yang ada, dan menjadi sadar akan keterbatasan upaya-upaya manusia dalam membuktikan eksistensi Tuhan itu sendiri.
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin, maka
Apakah kamu tidak berpikir?
Sumber:
- A study of Mandelbrot and Julia Sets via Picard–Thakur iteration with s-convexity
- Reconstructing Gödel’s Proof of God’s Existence: Positivity as Rational Perfection
- The Hard Problem of Consciousness
- Quran & Al-Hadits
메타데이터
- post_id
- 23a2b89f85eb
- slug
- menguji-hipotesis-eksistensi-tuhan-23a2b89f85eb
- url
- https://medium.com/@zhafiranajwa/menguji-hipotesis-eksistensi-tuhan-23a2b89f85eb
- canonical_url
- https://medium.com/@zhafiranajwa/menguji-hipotesis-eksistensi-tuhan-23a2b89f85eb
- author_url
- https://medium.com/@zhafiranajwa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30